PARIT DORBA

Fakhrunnas MA Jabbar
http://jurnalnasional.com/

DORBA memang bukan Kranak. Keduanya pun tak pernah bersua sepanjang hidupnya. Dorba ada di tengah lahan gundul di kawasan pebukitan pedalaman Minas. Sedang Kranak berjuang di pedalaman Amazon. Hanya saja, dua-duanya terbilang suku asli di kawasan masing-masing. Dorba tak banyak tahu soal Kranak, suku Indian yang nasibnya tersudut dalam kepungan perubahan zaman. Itu pun setelah seorang peneliti suku Sakai menceritakan kegigihan Kranak padanya.

Kranak sempat mengejutkan seratus kepala negara se dunia yang sedang mengikuti Kongres Bumi di Rio de Jenairo, 13 Juni 1992. Di saat pertemuan itu akan ditutup, tiba-tiba Kranak berdiri dan membacakan sebuah deklarasi:

we are beginning to think
we are writing the new chapter of history
to demand our right
take on our duties
and define our in identity and our tradition

Keperkasaan Kranak mengungkapkan pernyataan sikap perlunya hak-hak suku asli ditegakkan menjalar pula dalam diri Dorba. Hanya saja, Dorba tidak berada di tengah-tengah pertemuan orang penting. Ia hanya sendiri didukung belasan karib-kerabatnya. Ia mencoba bertahan di sebuah lahan belukar yang kosong setelah rimba lebat di atasnya tumpah-ranah1) ditelan mata gergaji. Ia kebingungan menyaksikan keserakahan orang-orang pandai yang memperjual-belikan tanah ulayat nenek moyang orang Sakai itu.

Orang-orang Sakai di bumi Riau bukan tak pernah menguasai lahan yang begitu luas. Seorang antropolog Jerman, Moszkowski pada tahun 1900 pernah hidup bersama orang-orang Sakai itu di pinggiran sungai Penaso. Di dalam buku Uber Zwei Nich-malayiche Stamme van Oost-Sumatera, Auf Neusen Wegen Durch Sumatera, Moszkowski menceritakan adat-istiadat dan pola kehidupan orang Sakai yang sangat bersebati dengan alam. Setidak-tidaknya, ditemukan sejumlah wilayah perbatinan Sakai yang dipimpin oleh seorang batin di kawasan itu di antaranya perbatinan Sinangan, Bertoa, Semunai, Penaso dan Moruban.

Dorba tentu tak banyak tahu ihwal asal-usul perbatinannya. Sebab, ia terpisah jauh dari generasi awal yang mendiami kawasan rimba yang menjadi tanah ulayat mereka kini. Hampir sepanjang waktu, suara deru buldozer dan chainsaw bernyanyi-nyanyi. Semakin kuat raungan mesin-mesin alat berat itu makin menyentuh kegusaran hati Dorba dan belasan suku Sakai lainnya.
+++

?Kami sudah terkepung?? ucap Dorba dengan kepala merunduk.

Persis di sempadan2) kiri, kanan dan belakang tanah perumahannya yang gundul kekuningan, Dorba menyaksikan alat berat becko menggali parit raksasa. Lebar parit itu mencapai tiga meter dan kedalamnya dua meter lebih. Parit-parit itu sengaja dibuat oleh beberapa perusahaan kehutanan yang menggarap kawasan itu untuk dibangun hutan tanaman atau perkebunan kelapa sawit. Tanah pemukiman Dorba dan suku Sakai lainnya memang sudah kian ciut. Irisannya pun tak petak lurus lagi melainkan bagai irisan kue talam yang mirip trapesium.

Persis di depan rumahnya yang beratap seng bekas itu terbelintang pula pipa raksasa yang berisi aliran minyak bumi milik sebuah perusahaan minyak asing. Dorba mencoba bertahan hidup meraih kembali tanah ulayat peninggalan nenek-moyangnya yang dulu begitu luas. Penyair Ediruslan Pe Amanriza melukiskan luasnya lahan milik orang Sakai itu, seluas ?tiga tahun kuda berlari.? Dari ujung ke ujung dulunya hanya ada rimba raya yang menjadi laman3) bermain para anak Sakai yang hidup bertelanjang diri.

Orang-orang Sakai sangat bersebati 4) dengan rimba. Oleh sebab itu, Rimba bagi mereka laksana super market dan apotik hidup yang menyediakan segala keperluan. Sumber penghidupan sehari-hari dapat dipenuhi dari tanaman rimba yang amat beragam. Mulai dari damar, rotan, sakat dan ubi manggalo 5) yang beracun namun bisa jadi tawar setelah diolah dengan cara mereka yang khas.

Dorba memang tak menemukan lagi kehidupan harmonis nenek-moyangnya di tengah-tengah rimba yang tenang. Apalagi, batang kayu yang mempunyai harga tinggi itu sudah pupus. Pelan-pelan, kawasan gundul itu berubah jadi kebun sawit atau tanaman hutan milik perusahaan-perusahaan besar. Dorba tak pernah tahu, siapa yang memiliki semua itu. Hari-harinya hanya berhadapan dengan petugas atau kurir perusahaan yang menjamah lahan-lahan kosong itu dengan tetap berdalih sudah memiliki izin pengelolaannya.

Dorba bersama isterinya, Suani dan tiga anaknya yang beranjak besar terasa kian asing berada di kepungan parit-parit dan pipa besi raksasa itu. Pemukim Sakai lainnya yang jumlahnya hanya belasan orang, tak bisa berbuat banyak ketika mereka diusir petugas keamanan saat ingin merambah kawasan belukar yang masih kosong.

Rumah Dorba memang sempat menjadi tempat berkumpul orang-orang Sakai di sekitarnya. Ada saja cerita duka yang menyatu dalam pertemuan itu. Memang sejak mereka berusaha untuk merambah kawasan hutan belukar yang tersisa untuk dijadikan kebun, tak kurang tiga orang kerabat mereka harus mendekam di tahanan polisi. Alasannya sederhana saja, merambah kawasan hutan milik negara.

?Manakah yang lebih dulu ada, hutan milik negara atau milik nenek moyang kami. Tapi, siapo yang peduli? Segalonyo sudah habih6)?? kata Dorba dengan bahasa Melayu lama bercampur dialek Sakai yang khas.
+++

Kedatangan sejumlah polisi dan petugas kehutanan petang itu, membuat Dorba agak kecut juga. Apalagi wajah orang-orang yang datang itu terkesan agak sangar. Kurang bersahabat. Namun di dalam hati Dorba sudah bisa menebak-nebak. Tentulah ia bakal diperiksa menyusul tiga orang karib-kerabatnya yang hingga kini masih ditahan.

Pasalnya, sebulan lalu kelompok Dorba ini merambah kawasan hutan belukar tak jauh dari pemukiman mereka.

Suani, isteri Dorba tampak ketakutan sambil berlindung di balik punggung suaminya. Jantungnya berdenyut kencang. Sementara dua anak lelakinya ?Badiu dan Rumsa- yang cukup dewasa namun belum kunjung menikah karena ketiadaan pekerjaan dan duit, tampak berjaga-jaga dari jarak yang agak jauh.

?Kami ingin berjumpa dengan Pak Dorba..? ujar pimpinan rombongan yang datang dengan tekanan suara yang tegas.

?Saya, Pak. Sayalah Dorba.? Dorba langsung menyahut tanpa ragu-ragu. Tampaknya deraan nasib yang keras telah membentuk kepribadian Dorba untuk bersikap lugas dan cergas.

?Pak Dorba kami perlukan sebagai saksi atas kasus perambahan hutan di kawasan ini?Apa yang Bapak lakukan bersama teman-teman telah melanggar aturan pemerintah. Kawasan yang dirambah itu termasuk hutan negara yang perlu dijaga..? tambah pimpinan rombongan itu lagi.

?Tapi, Pak. Kawasan hutan di sini sejak dulu milik nenek moyang orang Sakai. Ini hutan ulayat7) kami..Justru, negaralah yang merampas hak kami.? Dorba masih berdalih dengan dialek Sakai yang khas.

?Kami harapkan Pak Dorba mau bekerjasama demi kelancaran pengusutan perkara ini. Sekarang juga ikut kami ke kantor ..? petugas itu langsung memegangi kedua tangan Dorba dari kiri dan kanan. Dorba langsung dinaikkan ke atas mobil dan dibawa pergi.

Suani dan kedua anaknya hanya bisa melepas kepergian Dorba dengan linangan airmata. Mobil petugas itu kian menjauh melewati jalan tanah yang penuh pendakian dan penurunan. Persis di tengah-tengah kawasan itu, terbentang sungai Tatuaria yang dangkal dengan air lumpur kekuningan. Padahal, di masa lalu, sungai itu tempat orang-orang Sakai memancing ikan atau menangkap ikan dengan belat8) atau jaring.

Dorba tampak berupaya tetap tenang. Darah Sakai yang selama ini biasanya menggelegak, dicobanya bertahan dengan segenap tenaga. Sewaktu belia dulu, Dorba seorang pemberani yang tak takut pada apa atau siapa pun. Tapi Dorba yang bertubuh kecil itu beranjak kian tua. Kearifan Sakai tertera di kerut-kerut dahinya.

Seperti tiga temannya terdahulu, Dorba memang harus mendekam di ruang tahanan kantor polisi. Katanya, sekadar menggali informasi untuk menuntaskan kasus perambahan hutan belukar yang sudah sering terjadi di kawasan itu.
+++

Sebulan berada di ruang tahanan, cukup melelahkan Dorba. Apalagi pikirannya lebih tertuju pada isteri dan ketiga anaknya. Apalagi anak perempuannya yang bungsu ?Huwai- yang sudah jadi anak dara yang sangat dimanjanya selama ini. Abak-anak Dorba sebagaimana anak-anak Sakai lainnya memang tak sempat bersekolah. Selain sekolah yang ada berjarak cukup jauh juga mereka tak punya duit cukup.

Ketika Dorba dilepas untuk sementara waktu, isteri dan anak-anaknya tampak amat lesu dan tak bergairah. Sudah pasti, mereka kesusahan mendapat nasi dan lauk-pauk. Selama ini kehidupan rumah tangga mereka hanya ada di tangan Dorba. Kalaupun Suani, isterinya bercocok-tanam di sekeliling rumah, paling hanya bisa menanam sayur-mayur. Untuk lauk-pauk biasanya harus dibeli di pasar kota yang berjarak sangat jauh.

?Apo kato polisi ?tu selamo mikok9) ditahan?? tanya Suani penuh ingin tahu.

Dorba tampak berat menceritakan apa yang terjadi. Sebab hal itu hanya menambah kegusaran isteri dan anak-anaknya. Tapi, Dorba sudah bisa menebak ada apa dibalik pemeriksaan dirinya dan beberapa orang karib-kerabatnya. Dorba memang tak punya dokumen asli tanah ulayat Sakai itu karena dokumen itu dipegang oleh Batin Liman yang hidupnya sudah lebih nyaman. Sebab di tangan Batin Limanlah banyak lahan-lahan ulayat Sakai itu diperjual-belikan. Godaan duit dan harta membuat Batin Liman tunduk juga pada para pengusaha yang menggarap tanah ulayat mereka.

Andai Dorba mau, sebenarnya ia pun bisa punya rezeki lebih. Tapi, sejak dulu Dorba tak mau mengikuti kehendak Batin Liman. Ia telah bersumpah untuk bertahan di lahan pemukimannya hingga titik darah penghabisan. Meskipun parit demi parit terus digali mengepung tanah miliknya yang kian terjepit.

Seperti Kranak di Amazon, Dorba pun ingin menyuarakan pendiriannya untuk tetap bertahan di tanah tumpah darahnya sebagai warisan nenek moyangnya yang sudah lama terkubur. Tapi Dorba ingin berjuang dengan caranya sendiri. Cara-cara jantan orang Sakai yang dikenal pemberani sejak dulu.

Oleh sebab itu, Dorba bertekad akan menghadapi semua cabaran10) dari siapa atau pihak mana pun. Hutan belukar yang masih diakui Dorba dan kawan-kawan sebagai milik mereka lumayan luas. Terbilang seribu hektare lebih. Di sekeliling lahan itu memang sudah bertumbuhan kelapa sawit milik banyak pengusaha atau pendatang. Dorban pun sebenarnya ingin menjadikan kawasan hutan ulayat yang tersisa itu untuk kebun kelapa sawit pula. Atau lahan itu dijual dengan harga yang pantas untuk mendapat modal usaha berniaga. Tapi Dorba tak berbakat pula jadi peniaga. Baginya, mempertahankan lahan yang dinyatakan sebagai milik kelompok perbatinannya jauh lebih penting dari segalanya. Itulah sisa lahan terakhir yang mereka punya.
+++

Dorba tampak menurut saja ketika beberapa orang berpakaian rapi yang didampingi para centeng mendatanginya malam itu. Apalagi Dorba memang tak sendiri waktu itu. Masih ada tiga orang temannya yang pernah ditahan bersama di kantor polisi beberapa bulan sebelumnya. Sebab, sejak awal pembicaraan, orang-orang yang datang itu mengaku berniat membeli lahan milik Dorba dan kawan-kawan.

Dorba mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang masuk perangkap tipu-helah11) orang-orang itu. Ia memandangi teman-temannya yang lain dengan perasaan tak menentu. Tapi kebersamaan mereka dapatlah memperkuat pertahanan diri mereka masing-masing.

?Kita bersantai saja di tempat ini sambil membicarakan segala sesuatunya,? kata salah seorang di antara orang-orang itu dengan ramah. Dorba dan kawan-kawan memasuki sebuah ruangan gelap dengan lampu kerlap-kerlip dengan dentuman music yang memekakkan telinga. Memang, tempat itu tak lain sebuah diskotik yang dipadati puluhan pengunjung.

Dorba dan kawan-kawan disuguhi minuman arak dan anggur. Boleh jadi juga semakin larut malam dibumbui pula pil ekstasi. Jadilah orang-orang Sakai itu hanyut dalam keceriaan semu sambil ditemani perempuan-perempuan penghibur. Mereka larut dalam pesta minuman alkohol hingga mabuk. Tubuh Dorba tampak berayun-ayun sambil bergoyang dengan telunjuk ke atas.

Di sela-sela situasi mabuk itulah, Dorba dan kawan-kawan disodori beberapa lembar kertas yang harus dicap jari. Orang-orang Sakai itu tak menolak karena tak tahu apa yang diperbuatnya. Padahal, dokumen itu berisi pernyataan Dorba dan kawan-kawan merelakan lahan ulayat yang tersisa untuk dibeli pihak pengusaha dengan harga murah.

Dorba dan kawan-kawan tak kuasa berkata apa-apa, ketika tersadar bahwa lahan seribu hektare itu sudah berpindah tangan dengan mudah pada orang lain. Memang ada sejumlah duit yang dikantonginya namun jumlah tak memadai untuk penghidupan masa depan mereka.

?Ya, ampuuunn!? teriak Dorba beberapa hari kemudian.

Dorba telah berubah pikiran. Pertemuan asyik-maksyuk12) yang dijalaninya pertama kali di diskotek itu ternyata menjadi awal ketergantungannya pada dunia hiburan dan perempuan. Duit yang diperolehnya atas penjualan lahan itu dihambur-hamburkannya untuk kesenangan sesaat.

?Duit pun habih..tandas sudah,? ucap Dorba sepanjang hari.

Lelaki kerempeng itu berubah akal. Pikirannya buntu setelah ditaklukkan pil setan hampir setiap malam. Bolamatanya jadi buram tak bercahaya.

Dorba tertunduk lesu ketika ia harus melepas Huwai, anak gadisnya yang mulai kembang pada seorang tauke. Lilitan hutan Dorba pada Sang Tauke membuat dirinya tak berkutik saat harus dituntut harus melunasi dalam jangka waktu yang singkat. Dorba sudah tak punya apa-apa lagi, termasuk lahan pemukiman yang sudah dikepung parit demi parit.

Dorba tak bisa lagi menangis saat anak gadis kesayangannya, Huwai dibawa pergi begitu saja. Tanpa tahu di bawa ke mana dan akan dijadikan sebagai apa. Dorba sudah dungu sehingga tak kuasa melawan. Isteri dan anak-anak lelakinya juga tak bisa berbuat apa karena bentakan Dorba jauh lebih nyaring.

Dorba pun terpaku di tanah leluhurnya. Sementara parit-parit raksasa itu kian mengepung dan menyudutkannya.
Matahari senja pun menyebatnya. ***

Pangkalan Kerinci, Riau ? September 2008

Catatan:
1) tumpah-ranah = habis tak bersisa
2) sempadan = perbatasan
3) laman = halaman, pekarangan
4) bersebati = menyatu bagai tak terpisahkan
5) ubi manggalo = ubi hutan yang beracun
6) habih = habis
7) hutan ulayat = hutan adat persukuan
8) belat = alat penangkap ikan
9) mikok = kamu, kalian dalam sebutan orang Sakai
10) cabaran = tantangan
11) tipu-helah = tipu muslihat tipu daya
12) asyik-maksyuk = keasyikan tiada tara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *