padangekspres.co.id
PROSESI XXV
tubuh ini adalah bastar di sebuah altar yang dingin
menjumpai hari-hari seperti patung di malam buta
lengking percakapan demi percakapan kaum paria tertelan
gerhana dan malam celaka eksodus ke kampung ingatan
padamkan matamu, padamkan mataku, rilke
aku akan kembali kepada kepekatan hikayat nenek moyang
menyerahkan tubuh kepada bunga-bunga musim di jalannya
memeram reguk-keminyan dan ritual agung di sebuah goa
tanpa borgol dan kunci-kunci keserakahan tengek dunia
gema doa menajamkan kilap batu akik, juga sorot mata kita
menembus dinding batu dan langit yang membuka selangkang
jalan-jalan menawarkan bunga kepada para pelayatnya
sumarah juntai tetangkai bulan-bulan terbuai, aduhai….
nyalakan mataku, nyalakan matamu, rilke
aku akan menjemputmu dengan nyala mata pelangi
mengajakmu kembali kepada masa silam kita sendiri
di sini akan tergali jalan-jalan takdir yang tak terhenti
2007/2008
Lambai Nyiur Teluk Bayur, ii
1/
liuk nyiur berderai
ke simpang lambai
terberai setangkai
jatuh tergadai lebai
2/
jika laut tak lagi mengombak
pasir karang menabung maut
bukan cuma rambut terjambak
ingatan jua lumpuh berlumut
3/
ke rantau jangan bawa pisau
tanah rantau leluhur ibu jua
jika laut kabarkan segala risau
kembali, tanah tak ada dusta
4/
lambai nyiur tersekat diam
di lembar senja yang karam
tubuhmu makin menghitam
apa yang dipasrahkab malam?
2008
Mengejar Senja -sujoyoko
1/
Senja diam di sebuah stasiun
Ataupun di ujung dermaga seberang
Tanpa lambai selain kedip gugur alismu
Senja tak pernah beranjak menunggu
Menguji kesetiaan di jalan yang simpang
Ada aroma keminyan dan rekah kembang
Sesekali peluit dingin meniup gugu
Saat ini, apa yang hendak dirisaukan
Dari akhir matahari menjelang malam
Untuk sesuatu yang menunggu?
2/
Tubuh kita berlarian ke pesisir selatan
Mengejar senja yang akan karam di lautmu
Di sini langit terbakar, bisikmu
Gunung-gunung melepas cadar
Menyaksikan perjumpaan
Melunaskan ingatan
Tak perlu kembali ke pulau ini lagi, pesanmu
Setelah matahari berkubur di mata kita masing-masing
2008
Sumur Kecil di Ngalau Indah
dari balik bukit itu ada bisik rancak
memanggil rinduku kepada hijau semak
sisa gerimis mencair dari julur bibir ilalang
semak membuka selangkang jalan-jalan lapang
di ujung lembah sebuah lereng sawah
bayanganku berkaca-kaca ke dalam lubuk
air sumur kecil yang mengalir sendiri ke bawah
kaki bukit yang mulai ranggas?ke akar-akar
mata air sumur kecil itu dari akar-akar
menjemput laut dari juntai kedipannya
kualirkan darahku ke lubukmu yang entah
menggali palung istirah dari dasar jantung
kepada rukuk dhuhur-ashar yang ku-qashar
tanah merekapku seperti akar-akar
hapus wajah asinku hingga ke pucuk
aku akan kembali kepada kuncup
sumur kecil di sebuah bukit mungil
sumur kecil mencipta sungai
memalung lautan sendiri
gelombangnya berdzikir
sederas darah jantungku
Payakumbuh, April 2008
