Sastra dan Nasionalisme

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/

Obyek semua karya sastra adalah realitas. Merupakan hasil kontemplasi dan interpretasi pengarang dengan dunia realitas di sekitarnya, baik berupa realitas sosial ataupun realitas ide. Griffith menegaskan bahwa sastra merupakan ungkapan dari pribadi yang menulisnya. Kepribadian, perasaan, respon, pandangan hidup atau keyakinan pengarang akan selalu mewarnai karya yang diciptakannya.

Ideologi sebagai sebuah sistem berpikir normatif yang diyakini pengarang, secara langsung maupun tak langsung, sadar maupun tak sadar, akan mempengaruhi karya sastra. Sastra dapat menyuarakan ideology yang diyakini pengarangnya.

Ideologi yang muncul dalam teks sastra, tak hanya berupa sikap pandangan ideologis pengarangnya, namun bisa pula melalui teks sastranya tersebut pengarang memunculkan berbagai tafsiran bahkan menawarkan wacana tandingan atas sebuah ideologi. Dalam situasi demikian, pengarang akan memunculkan berbagai tawaran sebagai bentuk counter-ideology terhadap sebuah ideologi tertentu..

Ideologi merupakan hal yang sangat subjektif. Ideologi yang diyakini seorang sastrawan, secara otomatis dan bawah sadar akan menjadi kekuatan internal yang membangunkan kesadaran kritis dalam merespons dunia sekelilingnya.

Nasionalisme merupakan sebuah ideologi yang menyatakan kesetiaan dan pengabdian individu harus diserahkan pada bangsa. Kelahiran nasionalisme bisa dari kesadaran kolektif, bisa pula kesadaran akibat rekayasa oleh yang berkuasa kepada yang direkayasa, atau bisa pula sebagai reproduksi makna.

Contoh nasionalisme yang muncul akibat kesadaran yang dirakayasa dan dikonstruksi oleh kelompok dominan untuk kelompok subordinate, bisa dilihat pada ideologi nasionalisme yang ada di Indonesia. Pidato-pidato Bung Karno pada awal kemerdekaan Indonesia merupakan wujud konstruksi nasionalisme yang dibangunnya demi sebuah bangsa, yang disebut Benecdit Anderson sebagai komunitas imajinasi. Pidato-pidato bung Karno merupakan sebuah konstruksi yang dirancang untuk membangun rasa nasionalisme.

Nasionalisme dalam Sastra Indonesia
Sastra yang menyuarakan ideologi nasionalisme bukan barang baru dalam khazanah kesusastraan dunia. Karya-karya sastra dunia yang membicarakan nasionalisme tak terhitung jumlahnya, sekedar menyebut contoh, adalah Nolimetangere (Yoze Rizal, Philipina), Dr. Chivago (Boris Paternact), The Banished Negroes (Wordsorth, Perancis), Ourika ( Claire de Durass, Perancis), Nyanyian Lawino (Okot P Bitek, Afrika Selatan), A Woman Named Solitude (Andre Schwarz-Bart, Perancis), dan sebagainya.

Persoalan nasionalisme di Indonesia pun merupakan realitas yang merupakan lahan inspirasi yang subur bagi penciptaan karya sastra. Bahkan, identitas kenasionalan karya sastra merupakan isu yang panas dalam menentukan kelahiran sejarah sastra Indonesia. Itu berarti, nasionalisme bukan saja hadir sebagai sumber inspirasi belaka, namun sekaligus hadir sebagai penanda eksistensi terhadap keindonesiaan sebuah karya sastra.

Ajip Rosidi menegaskan bahwa kesadaran kebangsaan itulah yang menjadi pembeda antara kesusastraan Melayu dengan kesusastraan Indonesia. Kesadaran kebangsaan ini sebenarnya merupakan persoalan politis. Hal itu juga menunjukkan bahwa persoalan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari persoalan politik.

Senada dengan pendapat di atas, A Teeuw mengatakan bahwa suatu ciri khusus perkembangan kesusastraan itu sebagian sejalan dengan gerakan nasionalis. Karena bahasa bisa sangat efektif dalam pergerakan nasionalis, maka sastra sebagai seni yang menggunakan media bahasa benar-benar memiliki peran politis dan budaya yang amat besar.

Ideologi nasionalisme menjadi issue penting bagi para sastrawan Indonesia sebenarnya muncul lebih dahulu sebelum ke-Indonesia-an itu sendiri dirumuskan. Cita-cita bangsa yang berdaulat jauh lebih dahulu muncul dibandingkan persoalan batas-batas kewilayahan.

Muhamad Yamin di tahun 1921, melalui puisinya Bahasa, Bangsa merindukan tanah airnya : /?di mana Sumatra, di situ bangsa/di mana perca, di sana bahasa/Andalasku saying, jana benjana?/. Dalam puisi tersebut, M. Yamin mengidentifikasi tanah airnya masih terbatas pada daerah kelahirannya saja. Bangunan imajinasi sebuah bangsa pada diri Yamin adalah masih terbatas pada kedaerahan saja. Namun delapan tahun setelah Yamin menulis puisi itu, rasa nasionalisme dan identifikasinya terhadap tanah air telah bergeser lebih luas, tak lagi sebatas Sumatra, tapi meluas keseluruh nusa, sebagaimana ia ungkapan dalam puisinya Indonesia, Tumpah Darahku.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 makin menghukuhkan persolan nasionalisme dalam konstelasi sastra Indonesia. Majalah Pujangga Baru dengan penuh kesadaran meneriakkan bahwa kesusastraan Indonesia mempunyai tanggung jawab dan kewajiban luhur yaitu menjelmakan semangat baru bangsa Indonesia. Dengan kesadaran akan semangat nasionalisme, majalah Pujangga Baru bersemboyankan ?pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia?.

Sutan Takdir Alisyahbana melalui novelnya Layar Terkembang, jelas-jelas menggambarkan semangat kebangsaan. Melalui tokoh Tuti, cita-cita dan pandangan STA terhadap generasi dan bangsa yang merdeka, bebas, idealis, dan bersemangat dituliskan dengan panjang lebar. Demikian juga dalam Manusia Baru karya Armyn Pane, mencitrakan sosok Indonesia yang diinginkan pengarangnya. Indonesia, diimpikan oleh Armyn Pane sebagai perpaduan Arjuna dan Faust. Perpaduan Timur dan Barat.

17 Agustus 1945 merupakan realisasi nasionalisme Indonesia. Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dimulai pada titik ini. Persoalan nasionalisme dalam sastra Indonesia berkembang tak hanya mempersoalkan persoalan identitas kebangsaan saja, namun bergeser pada persoalan revolusi untuk mempertahankan kemerdekan dari kolonialisme. Pada periodesasi ini, bermunculan karya-karya sastra yang bersetting perang revousi mempertahankan kemerdekaan.

Di Tepi Kali Bekasi dan Keluarga Gerilya karya Pramudya Ananta Toer tak hanya sekadar berkisah pada kepedihan-kepedihan akibat perang saja, namun juga menggambarkan gelora perjuangan fisik bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Juga Royan Revolusi (karya Ramadhan KH), Guru Isa, Tak Ada Esok (karya Mochtar Lubis), Pulang (Toha Mohtar) menampakkan nafas yang sama.

Pada genre puisi, Chairil lewat sajak-sajaknya, misalnya, Aku, Persetujuan dengan Bung Karno, Kerawang Bekasi, Diponegoro dengan lantang meneriakkan semangat patriotisme. Demikian sajak-sajak sastrawan lain seperti Toto Sudarto Bachtiar, Rendra, Subagyo Sastrowardoyo, dan lain-lain, menggambarkan semangat yang sama.

Setelah berhasil mempertahankan kemerdekaan, persoalan nasionalisme di Indonesia tak berhenti begitu saja. Demikian juga dalam sastra Indonesia. Nasionalisme bergeser kembali dalam bentuk wacana. Karena pengaruh perubahan global, nasionalisme mengalami perubahan penafsiran. Dunia global memaksa setiap individu dalam Negara merekonstruksi kembali nasionalisme.

Globalisasi menyebabkan perbenturan nilai-nilai etnis (etnisitas) dengan nilai-nilai global, dan nasionalisme terjepit di antaranya. Cornelis Lay dalam bukunya Nasionalisme Etnisitas:Perubahan Sebuah Wacana Kebangsaan, menyebutnya sebagai terjepit di antara dua kekuatan besar yaitu globalisasi dan etnonasionalisme. Persoalan inilah yang menyebabkan Indonesia sebagai sebuah negara yang baru berkembang, berada dalam konteks kebangsaan yang sulit.

YB. Mangunwijaya sebagai sastrawan memunculkan persoalan-persoalan baru dalam nasionalisme tersebut melalui karya sastra. Dua novelnya, yaitu Burung-Burung Manyar dan Burung-Burung Rantau menawarkan pemikiran-pemikirannya tentang nasionalisme.

Dalam Burung-Burung Manyar, Mangun menyimbolisasikan bahwa Indonesia harus membangun sarang-sarang baru. Merumuskan kembali wujud masyarakat Indonesia dan menafsirkan nilai-nilai yang ada. Nasionalisme bagi Mangun berarti penciptaan identitas Indonesia, penciptaan kembali nation building yang harus menyertakan berbagai kemungkinan, bahkan dari kutub yang paling ekstrem seperti peran ?pembelot? sebagaimana yang tercermin dalam tokoh Teto, tokoh utama Burung-Burung Manyar.

Melalui tokoh Teto ini, Mangunwijaya menafsirkan kembali nasionalisme dalam wilayah yang lebih luas. Teto merupakan simbol generasi Indonesia yang berdiri di dua kutub, lahir dalam kondisi kebudayaan campur, dua latar budaya, dan dua nilai. Merupakan sebuah generasi yang memiliki pribadi yang retak yang mencari jati diri, baik jati diri individual ataupun jati diri kebangsaan.

Burung-Burung Rantau lebih tegas lagi dalam menafsirkan hakekat nasionalisme. Nasionalisme tak lagi dibatasi oleh wilayah negara saja. Bagi Mangun, karena globalisasi generasi Indonesia kelak adalah masyarakat dunia. Bisa Jawa, India, Yunani, dan Barat. Generasi muda Indonesia akan memiliki konflik cultural dalam diri mereka akibat globalisasi.

Dalam novel ini. Mangun dengan tegas membuang unsur-unsur masa lalu yang feodal. Generasi Indonesia kelak haruslah seperti burung-burung rantau kalau ingin berkembang secara spiritual dan material. Harus berani membebaskan dirinya dari sarang untuk berani terbang keluar mencari berbagai alternatif kebenaran untuk membangun jati dirinya.

Dari uraian di atas tampaklah bahwa persoalan nasionalisme sebagai ideologi akan selalu menjadi sumber ide yang menarik bagi terciptanya karya sastra. Selama nasionalisme menjadi paradigma yang terbuka, yang membuka peluang untuk selalu ditafsir dan dikaji, maka para sastrawan akan selalu menarik untuk mengangkatnya dalam karya sastra. Tentu saja, sebagai sastrawan cara ungkap mereka mengenai nasionalisme berbeda dengan para sejarawan, negarawan, atau politikus. Dan pemikiran mereka berikut cara ungkapnya akan menjadi pembanding yang menarik, bahkan bisa sebagai wacana tandingan bagi arus-arus pemikiran yang berkait dengan persoalan nasionalisme.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *