Sutardji Calzoum Bachri: Penyair Harus Setia pada Kata dan Estetika!

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

JAKARTA, Pembacaan puisi oleh penyairnya sendiri kerap dilakukan. Walau puisi tak identik dengan pembacaan?melainkan bobot karyanya, beberapa penyair dikenal kuat dengan gaya pembacaannya yang khas dan berkarakter.

Di Indonesia, di antara nama-nama seperti Rendra, Emha Ainun Nadjib, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, Zawawi Imron dan beberapa penyair lain yang terkenal dengan kekhasannya membaca puisi, Sutardji Calzoum Bachri berada di tempat yang khusus hingga orang-orang menggelarinya dengan “Presiden Penyair”.

Begitupun, menurut Sutardji, kualitas puisi tak pernah terkait dengan kekuatan pembacaan para penyairnya. Inti karyalah yang menjadi faktor utama.

“Kalau puisinya udah menarik, pembacaan itu sudah nomor dua. Penyair besar kita Amir Hamzah dan Chairil Anwar kita nggak tahu baca puisinya, bagus kek, jelek kek. Dan bahkan Gunawan (Mohamad) tak pernah baca puisi, konon dia malas dan nggak suka. Sapardi konon kata orang baca puisinya tak bagus. Tapi mereka itu, penyair-penyair terbilang. Ya dari puisinya itu sendiri,” tambahnya.

Saat ditanya oleh SH tentang penyair yang dikenal kuat juga dalam pembacaannya, Rendra, Tardji malah lebih tertarik membicarakan penyair ini dari sisi isi karyanya. Bagi Tardji, seorang Rendra tidak punya konsep kepenyairan. Rendra itu, bagi Tardji, hanya punya bakat. Dalam karyanya, dia tidak punya konsep, pokoknya puisinya asal cantik. Ketika dia bikin pamflet itulah, ketika dia punya konsep, dia membunuh puisi. “Itu yang disayangkan oleh Subagyo (Sastrowardoyo), puisi yang membunuh puisi. Pamflet itu. Ketika seorang penyair tidak puas dengan keadaan, dia bermain di luar aturannya sebagai penyair. Kita harus berani dalam hukum. Nah, Rendra itu orangnya melanggar hukum kepenyairan,” ujarnya.

Baginya konsep itu memang perlu. Di samping itu, penyair pun harus setia dengan kata-kata dan estetika. Dalam keadaan apa pun “seandainya saja orang di depan mata ditempeleng, keadilan dizalimi, hak dirampas” penyair tetaplah sebagai penyair.

“Itu jangan berubah. Jangan lantas kau berteriak: “Oiii, maling kamu!” Ketika kau berteriak “maling!” kau udah keluar dari puisi. Yang terjadi adalah interjeksi biasa. Itu bukan ucapan penyair, itu ucapan masyarakat biasa. Atau itu polisi, kau bukan puisi tapi polisi. Kau udah keluar dari norma puisi, melanggar hukum kau,” ujar Tardji dengan nada yang tinggi.

Itu sebabnya, Tardji tetap pada esensi. Keadaan boleh kacau tetapi isinya sama, bahwa kezaliman itu sejak dari zaman Orde Lama, Orde Baru, bahkan hingga Orde Reformasi. “Nah, semua itu kan ada benang merahnya. Aku penyair yang melihat benang merah, bukan melihat keadaan sehari-hari, yang kecil-kecil itu. Itu bukan pekerjaan aku. Maka aku tetap melihat puisi sebagai suatu norma yang harus di jalur hukum itu, tidak ada kecemasanku yang membuat keluar dari tangan puisi, muncul di tangan realitas. Aku tetap dengan kata-kata,” ujarnya.

Terkadang, seorang penyair terlalu menekankan pada performance, bukan pada puisinya. Tetapi, menurut Tardji, itu semua berpulang pada penyair masing-masing. “Ada juga penyair yang bilang, ?gua mau buat sajak emang buat performance, sajak ini kalau dibaca begini aja jadi kurang wah, tapi jadi menarik kalo dibikin perfomance…,” ujar Tardji.

Untuk sekarang ini, Tardji melihat tak ada penyair yang kuat dalam pembacaan. Sebab, menurutnya belum ada ajang untuk penyair tunggal atau pun sekelompok kecil. “Mestinya ada suatu ajang yang representatif, ada di TUK (Teater Utan Kayu, red) sekali-sekali. Tapi penampilan itu selalu tak dianggap representatif. Mestinya ada di TIM untuk mencari lagilah bakat-bakat baru, yang muda-muda,” ujarnya.

Dia melihat ajang pembacaan “khusus” puisi itu jarang sekali diadakan. “Kalau ajang baca puisi itu, hanya pada acara Kebangkitan Nasional. Pada event seperti itu, tak ada unsur sastra,” sambungnya.

Dulu, di TIM, pada tahun 1980-an sempat muncul beberapa nama penyair yang kuat dalam pembacaannya. Antara lain memunculkan Zawawi Imron, Kriapur (Alm.) atau Sitok Srengenge. “Dari koran-koran nasional atau daerah itu kan juga bisa didapat siapa yang berbakat, diundang tujuh atau delapan orang. Kemudian, dari situ dapat dilihat apakah ada sesuatu dari mereka yang memesona,” katanya.

Selain nama di atas, nama lain yang dia anggap kuat adalah Afrizal Malna yang menurut Tardji agak aneh dan khas dalam pembacaannya, tapi justru itu yang menjadi hal menarik.

Tentang fenomena kelompok-kelompok sastra yang banyak bermunculan, Tardji punya komentar. “Pertama-tama, tentulah kita harus disenangi kelompok. Ini sudah jelas. Tapi, bagaimana kau bisa begitu hebat, sehingga kau seperti air. Seperti air yang dibuat es, kau bisa mengisi kotak ini, kotak itu. Semua kotak bisa terisi olehmu. Itulah kehebatannya kau sebagai penyair. Itu usaha bagaimana melampaui kotak kita.”

Contoh penyair yang melampui kotak adalah Shakespeare. “Orang tak bilan” Ah, dia kan penyair asing, ah dia kan orang Inggris. “Kotak ideologinya telah lepas. Tak peduli apakah ia Islam atau Kristen, yang penting karyanya.”

Kewahyuan

Tarji melihat penyair sekarang pun bagus. Namun, masih banyak yang mencari-cari keindahan. Karena keindahan itu bisa diciptakan. Seperti kata indah di dalam iklan, kata-kata indah di televisi. Sekarang, kata-kata itu bisa diciptakan.

Tinggal, bagaimana kita bisa menciptakan sesuatu, yang terlihat biasa, tetapi di dalam itu, ada suatu berkah dari kata-kata. Kata-kata sama, tapi berkah beda. “Dalam puisi yang kau cari ya itu berkahnya itu. Berkah itu lewat dari langit. Pada langit kebakatan itulah muncul berkah itu, langit kebakatan itu hanya bisa dipertajam dengan pengalaman hidup, dengan pengalaman orang lain, dengan ketulusan, dengan konsentrasi, dengan sentuhan-sentuhan kewahyuan,” ujarnya. Pada akhirnya, tiap pribadi yang menulis itu adalah sebuah kewahyuan.

Ilmu pun pada dasarnya adalah kewahyuan. Setelah itu, baru ada logika, argumentasi logis dan sebagainya. “Sebelumnya datang begitu saja, misalnya bagaimana kau tahu sakit pinggang bisa diobati dengan kumis kucing. Nenek moyang kita tahu dari mana? Dia nggak studi dan nggak ada laboratoriumnya. Ilham datang hanya dengan dipertajam, dengan kepekaan.”

Penyair masa kini, menurutnya, banyak yang bagus. Namun, bagusnya itu hanya dalam tahap ekspresi diri. Ekspresi dirinya bagus, cekatan, spontanitas tinggi, tapi apakah dalam ekspresi diri itu ada kearifan yang terwakilkan? “Itu lagi masalahnya. Tentu dalam hal ini kita tidak boleh bergegas, mereka kan masih muda, mana tahu nanti muncul. Atau memang tidak semua begitu, ada juga yang bagus,” sambungnya.

Bagi Tardji, saat ini, nama-nama seperti Sitok Srengenge, Joko Pinurbo atau pun Afrizal Malna punya kekuatan di dalam pembacaan puisinya. Mereka setidak-tidaknya mulai menemukan karakter kepenyairan dan bentuk pengucapannya.

“Joko Pinurbo kan juga menemukan dengan caranya sendiri, meski kadang-kadang bisa kering. Sitok pun punya caranya, walaupun terlalu banyak ornamen, banyak hiasan. Afrizal, kadang-kadang konsep-konsepnya terlalu abstrak,” jelasnya.

Tinggal bagaimana karakter itu menjadi bagian dari ekspresi diri. “Ketika begini karakterku begini,” tambah Tardji, “tapi karakterku ini akan memberi inspirasi atau tidak bagi orang lain. Adakah visi kearifan, ada berkah atau tidak dari karakter kita,” demikian Tardji menutup pembicaraan.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*