Terpikat Rumi 8 Abad…

Binhad Nurrohmat
http://www.korantempo.com/

Dan bila Dia menutup semua jalan dan celah di hadapanmu – Dia akan menunjuk satu setapak rahasia yang tak seorang pun tahu! (Jalaluddin Rumi, Diwan-Syamsi-Tabriz, 765)

Juru bicara terpenting dan tersohor dari Barat mengenai mistikus-penyair Jalaluddin Rumi, Annemarie Schimmel, pernah menulis: “Tidakkah aneh, mistikus abad ke-13 dari Balkh, yang bekerja di Anatolia dan terpukau kekuatan cinta mistis yang nyaris tak mungkin dibayangkan, bisa relevan dengan manusia modern abad ke-20?” Bagi Schimmel, Rumi telah mencurahkan banyak petunjuk untuk kehidupan kita melalui pancaran filosofis puisinya.

Tulisan Rumi dihimpun dalam sejumlah bunga rampai, di antaranya himpunan puisi Diwan-Syamsyi-Tabriz, Matsnawi-ya-Ma’nawi, dan Rubaiyat. Sedangkan bunga rampai percakapan, surat, dan kotbahnya dihimpun dalam Fihi Ma Fihi, Makatib, dan Majalis-i-Sab’ah.

Gaya puisi bahasa Arab Rumi mengagumkan karena begitu indahnya mengubah ideal dan citraan puisi Persia ke dalam bahasa Arab yang berselang-seling antara larik bahasa Arab dan Turki (bilingual) dengan beragam pola maupun gabungan bahasa Arab, Turki, dan Persia (trilingual).

Puisi Rumi menampakkan teknik penulisan kelas tinggi, antara lain, berupa teknik penanjakan rima yang merupakan gambaran kekhusyukan atau kemabukan dalam proses penciptaannya: Dar jam-i may awikhitam/andisya ra khun rikhtam/ba yar ikhud amikhtam/zira darun-i parda’am (Aku bergelayut di cawan anggur dan dukaku dalam darahnya karam. Aku berpadu dengan kekasih di balik tirai) atau dawran kunun dawiran-iman/gardun kunun hayran-iman/dar la-makan sayran-i man/farman zi qan awurda’am (Kitaran tubuh kini kitaranku; langit berkilau menembusku. Perjalananku kini sampai Negeri Antah Berantah; sebuah perintah Tuhan kubawa sudah).

Keterampilan retorik ini amat canggih dan murni, namun spontan dan alamiah. Gaya bahasanya memainkan rima akustik makna dengan mendayagunakan simbol huruf dan bunyi (konkretisasi fonetik) yang menjelmakan nada mistis.

Puisi Rumi kerap memanfaatkan paradoks: “Orang hendaknya diam lantaran tanda Cinta hadir berkebalikan”, “Orang dipukul kepalanya oleh Cinta”, “daya pikir digantung seperti maling”, maupun “tak hanya haus yang mencari air, air pun mencari dahaga”.

Ungkapan-ungkapan non-logis ini serupa ulta bhansi dalam khazanah mistik India untuk mengungkap ihwal pengalaman mistik yang “terbalik” lantaran melampaui pagar atau batas nalar. Rumi menggubah banyak ungkapan yang nyaris tak bisa diterjemahkan lantaran ekstase meta-logis yang mungkin digubah untuk mengguncang atau menyihir sikap dan pandangan “normal” atau awam tentang kenyataan kasat mata. Bagi Rumi, akal itu belenggu, dan kekuatan yang menghidupkan segala wujud adalah Cinta, suatu perasaan kepayang yang tak masuk akal.

Dalam puisinya, Cinta kerap terdedah dalam kemabukan, kegilaan, dan ketaksadaran. Kemabukan dan anggur menjadi simbolisme sufi tentang jiwa terkekang yang melepaskan belenggu akal atau pikiran rasional. Kegilaan memungkinkan kekuatan puitis memain-(mainkan) kebijaksanaan yang mengekang kebebasan unta mabuk (syotor-e mast) atau unta birahi mencegahnya berkeliaran di gurun pasir atau rasa gandrung Majnun tersesat dalam belantara cinta dalam Diwan.

Paradoks puisi Rumi merupakan cerminan ajaran sufi tentang Kesatuan Wujud visioner yang menyiratkan “penglihatan hati” kaum sufi, “sang pemilik hati”. Kaum sufi menjauhkan diri dari ego dan kepribadian yang fana dan merenung melalui “penglihatan ilahi”. Kesatuan Wujud visioner berbeda dengan Kesatuan Wujud teoritis yang menyembul dari lubuk nalar rasional yang menghampakan kespiritualan atau keruhanian. Bagi kaum sufi, realitas tak dapat diketahui melalui jalan akal. Puisi Rumi menjadi menarik, antara lain, lantaran menampakkan persenyawaan memikat antara nalar dan kepayang, tarik-ulur akal dan khayalan.

Rumi juga mencemooh penyair dengan menyindir dirinya sendiri yang terlibat dalam suatu tradisi puisi yang ditampiknya: “Apalah arti puisi untukku sehingga aku harus mendustainya. Aku punya seni lain yang berbeda dari yang dimiliki penyair. Puisi itu awan gelap, aku di belakang selubung serupa rembulan. Jangan sebut aku awan hitam atau bulan yang bercahaya di angkasa.”

Puisi Rumi merupakan penerus perjalanan panjang tradisi puisi Persia. Puisi Persia terolah dan berkembang di kerajaan dan lingkungan pemerintahan sejak abad ke-9 di Iran bagian timur dan menyebar ke wilayah lain yang berbahasa Persia. Mulanya, tradisi kepenyairan muncul sebagai pertunjukan yang menghadirkan lirik karangan sendiri yang diiringi musik dalam perjamuan resmi kerajaan. Tradisi ini berakar dari masa Iran pra-Islam yang agaknya terpengaruh oleh kasidah Arab.

Prinsip estetika dan norma cita rasa penyair kerajaan berbahasa Persia pun ditetapkan dengan memakai model Arab: puisi merupakan wicara berirama dan bersyair untuk menggugah takjub penonton dengan menerapkan prinsip estetika dan norma cita rasa itu. Tapi, penyair Sana’i dari istana Ghazna melakukan transformasi yang mengubah arah puisi Persia menuju pandangan mistis. Sana’i-lah yang merintis jalan dan menggelorakan kedalaman samudera batin yang diarungi Rumi penuh keberanian artistik dan teologis.

Tak seperti Hafizh yang masih menempatkan sejumlah realitas di bawah standar estetis, Rumi menyentuh secara sepadan semua urusan yang dianggap atau dipercaya sebagai perkara yang agung hingga yang remeh-temeh. Rumi begitu asyik dan santai membincang Tuhan, birahi, bulan, takdir, bawang, makanan, kuda, serangga, hingga kencing, dan pantat keledai. Rumi memandang aspek simbolis setiap benda atau makhluk yang dianggap bernilai rendah atau tinggi, yang dianggap bejat atau bijak, sebab untuk meraih keutuhan dan kesubliman memerlukan kebalikannya. “Cacat adalah cermin dari kesempurnaan, sesuatu dibuktikan melalui kebalikannya,” kata Rumi.

Rumi percaya metafora merupakan jembatan menuju hakikat kenyataan dan ke mana pun dia menemukan beragam wujud atau laku Tuhan yang menuju kesatuan Abadi dan kebenaran tertinggi, seperti “kredo” yang akrab dinyanyikan oleh kaum sufi: Wa fi kulli syai’in lahu syahidun yadulla ‘ala annahu wahidun (Dalam segala sesuatu bersemayam tanda, jejak bukti, yang menegaskan Dia melulu Satu).

Menurut para ahli tentang Rumi, puisi Rumi serupa pohon dengan cabang, daun, bunga, dan buah yang tumbuh dari satu akar yang dalam menghunjam dan membentuk kesatuan utuh yang tak terbagi. Sumber dan struktur pemikiran mistisnya dan hakikat serta proses kreatif puisinya terkait dan tak terceraikan, di dalamnya bersemayam Kebenaran yang merupakan inti yang dicari manusia sepanjang masa.

Pada tingkatan teologis, Rumi suka menggunakan istilah kibriya’ (Kebesaran Ilahi) dalam puisinya, cahaya Tuhan yang bersinar serupa matahari. Muhammad Iqbal kerap menyebut istilah ini saat membincang Rumi. Pada tingkatan praktis, Rumi suka memakai kata bu (bau wangi) yang membangkitkan ingatan masa silam dalam puisi Rumi yang berwarna-warni: “Bulan purba wajahnya, syair dan gazal bau wanginya –bau wangi bagian jelmaan yang tak terikat dengan pandang sejatinya.”

Dalam tradisi Islam, kata bu mengandung konotasi kisah Yusuf (dalam Al-Quran) yang terpisah dari ayahnya yang buta, Yakub, dan sembuh oleh bau wangi pakaian Yusuf. Kibriya’ dan bu merupakan sebagian “kata kunci” puisi Rumi.

Tak ada puisi dari dunia Islam yang dikenal baik di Barat melebihi puisi Rumi. Bahkan, menurut Sayyid Hussein Nashr, Islam tak akan pernah menyebar seluas sekarang ini tanpa meruahnya kehadiran para manusia bijak dan pujangga Persia. Rumi begitu mahir menyisipkan ayat Al-Quran, kutipan hadis, maupun ujaran sufi ke dalam puisinya.

Pada abad ke-15 akhir ada yang menyebut Matsnawi merupakan Al-Quran dalam bahasa Persia. Sejumlah mistikus di sejumlah wilayah yang jauh dari pusat pembelajaran dan arus utama kehidupan sastra dikabarkan menyerahkan seluruh perpustakaannya, kecuali Al-Quran, Diwan Hafiz, dan Matsnawi Rumi.

Puisi Rumi merupakan gabungan kuat bentuk dan makna melalui keterampilan bahasa yang tampil alamiah serta menawarkan kedalaman makna yang memukau dan indah. Puisi Rumi dibangun oleh kesadaran artistik yang bagus sekaligus kedalaman pencarian realitas Ilahiah yang tak terbatas dan tak terlukiskan. Bagi Rumi, “kata-kata itu santapan malaikat”, “bahasa itu kapal”, dan “makna adalah lautan”.

Semua inilah kiranya yang bisa melantari puisi Rumi yang digubah delapan abad yang sudah lewat masih memikat dan relevan hingga kini, dan barangkali masih terus bergema sekian abad kelak guna memenuhi angan Diwan Rumi: “Gubahlah gazal yang bakal tetap dilagukan manusia dalam seratus abad!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *