FAKTA DAN FIKSI : PERTALIAN SASTRA DAN SEJARAH

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Fakta dan fiksi sering kali dipahami secara serampangan. Akibatnya, pemaknaan atas keduanya terjerumus pada kekeliruan yang fatal. Tidak jarang pula, fakta dianggap sebagai saudara kembar fiksi, atau fiksi diperlakukan sebagai adik kandung fakta. Sebuah kenyataan, segala sesuatu yang pernah ada atau peristiwa yang sungguh terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya, itulah yang disebut fakta. Ia harus ada dan pernah terjadi. Jika kemudian ternyata tak sesuai dengan kenyataan, tak pernah ada, dan peristiwa itu belum terjadi, maka fakta itu harus kita tolak. Fakta itu tidak benar.

Lalu apakah fakta yang tidak benar itu dapat dikategorikan sebagai fiksi? Bergantung dari cara pengolahan fakta itu, bagaimana dan untuk tujuan apa ia menyampaikannya. Jika tujuannya menipu, ngapusi, maka itulah kebohongan. Ia bukan fiksi. Tetapi, jika fakta itu mengalami pengolahan imajinatif, memasukkan intelektualitas, membangun sebuah dunia yang koheren, dan menciptakan sebuah kehidupan imajiner, maka itulah yang disebut fiksi. Ia sangat mungkin sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, tetapi boleh jadi pula sekadar rekaan yang memanfaatkan fakta sebagai bahan dasarnya. Ini artinya, fakta telah mengalami proses rekayasa, sehingga tidak lagi bersifat faktual, melainkan fiksional.

Demikian dalam fiksi sedikitnya mesti terkandung kebenaran faktual dan kecanggihan fiksional. Ia mestinya mewartakan fakta yang pernah atau yang mungkin ada dan menjalinnya dengan kesadaran mengangkat problem kemanusiaan lewat bingkai estetik.Tanpa itu, ia hanya akan jadi karya rekaan murahan yang lebih suka masuk keranjang sampah daripada menjadi karya agung. Dengan kesadaran itu pula, paling sedikit, ia akan menjadi karya yang memberikan kontribusi bagi pemerkayaan intelektualitas, moralitas dan nilai kemanusiaan.
***

Dalam dunia sastra, perbedaan antara fakta dan fiksi sering kali berada dalam batas yang begitu tipis. Sebab, tidak sedikit karya sastra yang secara sadar coba mengangkat fakta atau peristiwa-peristiwa faktual, sehingga ia tampak lebih dekat pada karya sejarah. Oleh karena itulah, dalam beberapa hal, hakikat sastra sering dianggap tidak jauh berbeda dengan hakikat sejarah, betapapun dunia dalam karya sastra tak selalu mengangkat peristiwa masa lalu. Tetapi, mengingat karya sastra dan sejarah, keduanya bersumber dari peristiwa atau pengalaman masa lalu yang sudah terjadi, maka karya sastra dan sejarah menempatkan dirinya sebagai karya yang merekam peristiwa. Ia lalu jadi sebuah dokumen atau catatan tentang seseorang, bangunan, peristiwa, atau apa pun yang berkaitan dengan masa lalu.

Masalahnya begini: bahwa begitu karya itu selesai ditulis, seketika itu pula ia menjadi catatan mengenai peristiwa masa lalu. Ia menjadi sebuah dokumen tentang berbagai hal yang sudah terjadi. Karena catatan itu dilahirkan lewat proses panjang pengamatan, perenungan, penghayatan, dan pengevaluasian pengarang atau sejarawan, maka ia kemudian menjadi sebuah rekaman gagasan pengarangnya yang juga menjadi bagian dari masa lalu itu.

Mengingat dunia dalam karya sastra merupakan tiruan (mimesis) atas peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (imatitation of reality), maka karya sastra merupakan dokumen yang mencatat realitas masa lalu menurut pengamatan, pencermatan dan pemikiran subjektif pengarang. Dalam hal ini, sebagaimana dikatakan Umar Junus (1989: 72?-75) pengertian karya sastra sebagai refleksi realitas, tidak sekadar melaporkan realitas itu sendiri, namun melaporkan realitas yang telah menjadi pemikiran pengarangnya. Dengan demikian, realitas hadir untuk kepentingan pemikiran itu sendiri. Di dalamnya termasuk juga realitas filsafat, psikologi dan sosial (Ann Jefferson dan David Robey, 1982: 15?16) atau catatan mengenai realitas yang oleh Jan van Luxemburg, dkk. (1989: 11-12) disebut teks referensial.

Sesuai dengan anggapan bahwa sebuah karya (sastra) adalah ciptaan pengarang yang tidak terlepas dari kreasi imajinatif, maka pandangan bahwa karya sastra sebagai dokumen realitas, mesti dimaknai sebagai realitas yang telah mengalami proses pengendapan di dalam pemikiran pengarangnya. Dalam hal ini, pengalaman pengarang yang telah melalui proses pengamatan, perenungan, penghayatan dan penilaian itu, kemudian dibaluri sedemikian rupa oleh kekuatan imajinasi. Hasilnya adalah refleksi realitas imajinatif.

Demikianlah, pemikiran yang menguasai penciptaan itu, tidak lain adalah pemahaman pengarang atas kehidupan di sekelilingnya yang lalu direfleksikan melalui karyanya. Dengan begitu, pemikiran itu sekaligus merupakan pantulan pengalaman pengarang dalam kehidupan masa lalunya. Ia berkaitan erat dengan situasi sosial zamannya saat karya itu dilahirkan.

Sungguhpun demikian, mengingat karya sastra tidak terlepas dari kreasi imajinatif pengarangnya, maka sebagai sumber sejarah karya sastra termasuk sumber yang sulit dapat dipertanggungjawabkan secara faktual. “Tak ada kejadian atau peristiwa, sebagai bagian dari mata rantai sejarah yang bisa direkonstruksikan dari novel (baca: sastra),? demikian pendapat yang dikemukakan Taufik Abdullah (1983: 503). Dikatakannya, ada dua hal penting yang dapat disampaikan novel (sastra). Pertama, sastra dapat memberikan pantulan-pantulan tertentu tentang perkembangan pemikiran, perasaan, dan orientasi pengarangnya. Kedua, sastra dapat pula memperlihatkan bagaimana bekerjanya suatu bentuk struktural dari situasi historis tertentu dari lingkungan penciptanya…. (Abdullah, 1983: 503-506).

Dalam konteks itu, pendekatan ekstrinsik atau usaha menggali makna ekstrinsikalitas karya sastra (novel) memberi peluang untuk lebih memahami pemikiran pengarangnya dalam hubungan dengan situasi sosial yang terjadi pada zamannya. Menyitir pendapat Grebstein (1968:160?-165) yang dikutip Sapardi Djoko Damono (1979:3) bahwa pemahaman terhadap karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih lengkap apabila karya itu sendiri tidak dipisahkan dari lingkungan, kebudayaan, atau peradaban yang telah menghasilkannya. Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural. Dalam ha? ini, pendekatan kesejarahan akan sangat penting artinya sebagai salah satu usaha memahami (dan memaknai) pemikiran pengarangnya sesuai dengan situasi zamannya.
***

Dibandingkan sejarawan, sastrawan sebenarnya mempunyai ruang yang lebih leluasa ketika ia hendak menyampaikan refleksi evaluasinya tentang masa lalu. Secara subjektif, ia dapat memaknai dan menafsirkan fakta atau peristiwa sejarah menurut kepentingannya. Ia juga dapat menyampaikan alternatif lain di balik peristiwa-peristiwa sejarah. Jadi, sastrawan bisa saja menjadikan fakta dan peristiwa sejarah sebagai latar belakang karya kreatifnya, tetapi ia juga dapat memanfaatkan fakta dan peristiwa sejarah untuk menyampaikan catatan kritisnya atau untuk mengungkapkan peristiwa yang mungkin terluput dari catatan sejarah. Lantaran ia juga menyodorkan sesuatu, maka apa yang disampaikan pengarang tentang peristiwa sejarah itu, sesungguhnya dalam kerangka melihat kemungkinan yang terjadi di masa mendatang. Jadi, ia juga menempatkan peristiwa sejarah sebagai latar depannya.

Dilihat dari proses, cara dan tujuan mengangkat peristiwa masa lalu, sastrawan juga lebih bebas karena ia tidak terikat tuntutan metodologis, sebagaimana yang harus dijalankan seorang sejarawan. Berbagai peristiwa itu, bisa saja disampaikan secara kronologis, tetapi bisa juga tidak. Rekonstruksi peristiwa masa lalu yang oleh sejarawan mesti disusun secara objektif dan sistematik, taat mengikuti prosedur, menjaga ketertiban dalam menempatkan ruang dan waktu, konsisten terhadap persoalan yang menyangkut topografi dan kronologi peristiwa, maka bagi sastrawan, hal tersebut sama sekali tak mengikat kebebasan kreatifnya.

Masalah tersebut tentu saja berkaitan erat dengan usaha penafsiran dan pemaknaan sastrawan terhadap segala peristiwa itu. Oleh karena itu, hasilnya dapat menjadi sesuatu yang sangat subjektif. Segala peristiwa yang semula dapat diperlakukan objektif dan dapat diverifikasi (objective-verifiable) menjadi subjektif-emosional (subjective-emotional).

Demikian pula dalam soal mengangkat fakta sejarah, sastrawan sekadar berusaha membuat sebuah struktur yang koheren, tanpa harus mempertanggungjawabkan kebenaran fakta dan prosedur (ilmiah) yang digunakannya. Jadi, jika fakta yang disampaikan sejarawan harus dapat diverifikasi kebenarannya, maka hal itu tidak berlaku bagi sastrawan. Di situlah fakta dalam karya sastra bersifat fiktif, karena peristiwa yang semula faktual telah berubah menjadi fiksional. Dengan begitu, ia sama sekali tidak menyodorkan kebohongan faktual, melainkan justru menyajikan kebenaran fiksional.
***

Dengan memperhatikan persamaan dan perbedaan antara fakta dan fiksi yang secara langsung implikasinya memberi garis demarkasi pada posisi sejarawan dan sastrawan, maka peranan keduanya sesungguhnya bersifat komplementer; saling melengkapi. Keduanya berada di kotak yang berbeda, semata-mata karena cara, prosedur, proses, dan tujuan dalam pengolahan faktanya, sejatinya memang berbeda. Tentu saja, karya yang dihasilkannya juga berbeda. Jadi, kelirulah anggapan masyarakat selama ini bahwa sastrawan sebagai penghayal, pembual, dan pekerjaannya sebagai profesi yang tak penting. Sebab, fakta yang direkayasa sastrawan menjadi fiksi bukanlah untuk ngapusi dan melakukan manipulasi, tetapi justru untuk memberi penyadaran atas nilai-nilai kemanusiaan dengan menyuguhkan keindahan estetik. Jadi, profesi apapun, sejauh itu bermaksud mengangkat martabat manusia dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, sejauh itu pula ia mestiu ditempatkan secara proporsional dan dalam kedudukannya yang sederajat.

(Maman S. Mahayana, Staf Pengajar FSUI, Depok)

Perhatikan bagan berikut ini yang memperlihatkan kesamaan dan perbedaan antara karya sastra dan karya sejarah.

SASTRA // SEJARAH
1. Merekam masa lalu, mencatat masa kini, //1. Merekam masa lalu
meramal masa depan
2. Merekonstruksi secara subjektif //2. Merekonstruksi secara objektif
3. Menyusun struktur secara koheren // 3. Menyusun peristiwa secara kronologis
4. Peristiwa yang disampaikan disesuaikan //4. Peristiwa disajikan secara sistematik
dengan kebutuhan cerita sesuai prosedur
5. Fakta dalam sastra bersifat fiksional. //5. Fakta dalam sejarah bersifat faktual
6. Fakta tidak harus dapat diverifikasi //6. Fakta harus dapat diverifikasi
7. Fakta berada dalam keadaan serba // 7. Fakta berada dalam satu kemungkin- mungkin an: benar atau salah.
8. Memanfaatkan imajinasi secara maksimal //8. Memanfaatkan imajinasi untuk me-
untuk membangun koherensi nyusun peristiwa secara sistematik,
koheren, dan logis.
9. Mengangkat peristiwa individual // 9. Mengangkat peristiwa besar.
Peristiwa individual yang berdampak
massal atau berpengaruh besar
10. Pemaknaan di balik peristiwa // 10. Pemaknaan di balik peristiwa dan dampak pengaruh bagi masyarakat
11. Multi-interpretasi (multitafsir) // 11. Mono-interpretasi (tafsir tunggal)
12. Bahasa konotatif (implisit) //12. Bahasa denotatif (eksplisit)

Dengan memperhatikan perbedaan dan persamaan karya sastra dan sejarah, maka kita dapat menempatkan pendekatan kesejarahan atau kritik historis dalam kotaknya sendiri yang berbeda dengan pendekatan-pendekatan lain. Sebagai langkah awal untuk memperoleh gambaran mengenai pendekatan atau kritik historis, berikut ini kita memasuki pembicaraan mengenai hal tersebut.
***

Pendekatan historis dalam kritik sastra (Barat) dalam praktiknya telah mempunyai sejarahnya sendiri dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada abad ke-17, John Dryden (1631–1700), yang oleh banyak kritikus sesudahnya dipandang sebagai Bapak Kritik Sastra Inggris, mengangkat pentingnya pendekatan historis. Dalam esainya yang terkenal An Essay of Dramatic Poesy (Esai tentang Puisi Dramatik, 1668), Dryden mengatakan, ?Keunggulan suatu zaman seyogianya ditinjau dari sudut sejarah, sebab setiap zaman hakikatnya adalah juru bicara bagi zamannya.? Selanjutnya ia menyarankan, bahwa untuk memberi penilaian yang pas untuk masa kini, kita harus membandingkannya dengan masa lalu. Dalam hal itu, Dryden hendak menekankan pentingnya metode kritis yang bersifat historis dan komparatif.

Gagasan Dryden selanjutnya dikembangkan oleh penerusnya, Samuel Johnson (1709-1784). Pengalaman, wawasan, dan pengaruhnya yang luas telah menempatkannya sebagai kritikus Inggris yang sangat berwibawa pada zamannya. Dalam pembicaraannya mengenai ?Riwayat Sang Penyair? (Lives of the Poets), Johnson menekankan bahwa sastra mempunyai riwayat hidupnya sendiri. Dalam hal ini, latar belakang historis sang penyair dan masyarakat yang melingkarinya, sering kali sangat mempengaruhi hasil cipta sastra. ?Karya cipta setiap pengarang, jika dicermati benar, hendaknya dibandingkan dengan keadaan zamannya. Dan ?Riwayat Hidup Penyair? adalah teladan dan contoh yang baik untuk menjelaskan duduk perkara masalah tersebut.? Jadi, untuk mencermati sebuah cipta sastra, tidak dapat lain, peneliti mesti juga mempelajari biografi pengarangnya.

Pendekatan historis mulai memperoleh bentuknya yang lebih jelas sebagai sebuah metode kritik terjadi lewat kritikus Perancis, Charles Augustin Sainte-Beuve (1804–1869). Belakangan, Hippolyte-Adolphe Taine (1828–1893) yang dalam pengertian sebagai murid Sainte-Beuve, mengembangkan metode historis dalam kritik sastra lebih jauh lewat inspirasi yang diperolehnya dari ilmu-ilmu alam.

Pengaruh rasionalisme yang begitu luas dan meningkatnya semangat ilmiah dalam berbagai disiplin pada masa itu, telah ikut membentuk pandangan kedua tokoh tersebut terhadap kesusastraan. Bagi Sainte-Beuve, karya sastra adalah pengucapan jiwa seorang pribadi yang tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan dan sejarahnya. Oleh karena itu, tugas kritik sastra adalah melakukan penyelidikan terhadap pengaruh-pengaruh yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra.

Secara konsisten Sainte-Beuve menerapkan pendekatan biografis. Sastra sama sekali tidak terpisahkan dari manusia dan alamnya. Menurutnya, sastra sebagai pengetahuan orang itu sendiri (pengarangnya). ?Saya cenderung mengatakan,? demikian Sainte-Beuve, ?seperti apa pohonnya, seperti itu pula buahnya? (tel abre, tel fruit).

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*