Ketika Pengarang Mempertanyakan Tuhan

K.Y. Karnanta
http://www.jawapos.com/

Dua novel yang banyak disebut dalam sastra Indonesia belakangan ini adalah Hubbu karya Mashuri dan Bilangan Fu karya Ayu Utami. Keduanya memiliki sejumlah keterkaitan unik baik dalam konteks substansi karya maupun perjalanan, atau bahkan persaingan antara keduanya. Pertama, kedua novelis masing-masing pernah menjadi pemuncak sayembara novel Drwan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dianggap sayembara novel paling berwibawa di Indonesia. Kedua, kedua karya tersebut bersaing di penghargaan sastra Katulistiwa Award 2008 yang akhirnya dimenangkan Bilangan Fu.

Ketiga, terlepas dari nuansa persaingan, keduanya memiliki kesamaan isu dalam karyanya: kegelisahan spiritual yang melahirkan suatu perspektif tertentu dalam memahami agama dan Tuhan, khususnya dalam konteks Indonesia. Keempat, momentum kemunculan dua karya tersebut terkait dengan kondisi masyarakat yang masih penuh kontroversi seputar isme-isme dalam konteks keberagaman dan keberagamaan.

Pertanyaannya, sebagai karya sastra, bagaimana spiritualitas itu dimunculkan? Tawaran estetik apa yang hendak disampaikan? Sebagai bagian dari masyarakat, apa yang sebenarnya hendak digemakan kedua novelis di balik perspektif spiritualitas dalam karya tersebut?

Lokalitas
Dalam Kamus Besar Filsafat, spritualitas diartikan sebagai pemikiran filosofis yang mengacu pada nilai-nilai kemanusiaan seperti mental, intelektual, moral, etika, dan estetika, yang mengarah pada keyakinan dan religiusitas. Dalam konteks Hubbu dan Bilangan Fu, salah satu kecenderungan kuat dalam dua novel tersebut adalah hadirnya teks-teks lain khususnya teks mengenai spiritualitas Jawa secara signifikan. Hubbu, misalnya, mengumandangkan teks mengenai Sastra Gendra Hayuningrat sebagai suatu obsesi yang menggerakkan Jarot –tokoh utama novel tersebut yang digambarkan berasal dari lingkungan pesantren desa– dalam proses pencarian eksistensi diri di masyarakat metropolitan Surabaya. Sastra Gendra Hayuningrat merupakan ilmu kesempurnaan atau akhir dari segala akhir ajaran ngelmu (entek-enteking kaweruh, peputoning laku, peputoning makrifat) dalam spiritualitas Jawa (mistik Kejawen). Ajaran yang sering diidentikkan dengan fragmen pewayangan, yakni persetubuhan Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi sebagai representasi kegagalan Wisrawa dalam memahami ajaran tersebut juga tertransformasi dalam teks Hubbu: Jarot terlibat dalam persenggamaan terlarang dengan Agnes, yang kelak hamil dan menjadi istrinya.

Dalam novel tersebut Mashuri tampak sibuk dalam mengelaborasi spiritualitas Jawa dan romantisme percintaan khas prosa Indonesia yang terajut padat dalam bahasa prosa yang puitis. Meskipun banyak memajang konsep-konsep spiritualitas yang tentu membutuhkan energi pembacaan ekstra untuk dipahami, Mashuri berhasil menghindar dari kesan bahwa pemunculan falsafah dan ajaran-ajaran tersebut sebagai atribut teks belaka. Ketiga aspek itu muncul secara proporsional, koheren, dan fungsional, dalam membangun keutuhan dan estetika cerita. Meski begitu, Mashuri tetap tak bisa menangkis pertanyaan bahwa jika dalam mistik Kejawen segala laku selalu melalui dan bertujuan untuk zuhud atau lepas dari nafsu. Bukankah keinginan untuk mencapai kesempurnaan yang dialami Jarot merupakan sebuah nafsu?

Jawaban yang sering terdengar adalah bahwa nafsu duniawi dan nafsu untuk kembali bersatu dengan-Nya (manunggaling kawula gusti) merupakan dua hal berbeda. Yang luput dari jawaban tersebut adalah meskipun nafsu duniawi dan spiritual, katakanlah bisa dibedakan, energi obsesif yang menghidupi suatu nafsu tetap tidak bisa dielakkan. Mistik Kejawen cenderung menjauhi energi obsesif. Sebaliknya, lebih menekankan pencapaian spiritual melalui energi defensif.

Berbeda dengan Hubbu, Bilangan Fu yang terbit lebih akhir menambahkan pemikiran filsafat postmodernisme dalam menggemakan jargon karyanya: ”Kejawan” (bukan Kejawen) Baru. Ayu Utami tampak kenes dalam memadukan konsep, mitos, dan legenda Jawa yang bersumber dari babad seperti silsilah Raja Jawa, Nyi Roro Kidul, konsepsi tentang suwung (Jawa) alias shunya (Sansekerta) alias sunyi (Indonesia), dengan spirit ”penolakan terhadap satu pusat” ala postmodernisme. Melalui tokoh Parangjati, seorang pemanjat tebing asal Watugunung, pesisir selatan Jawa, paduan dua konsep tersebut melahirkan apa yang disebut Ayu Utami sebagai spiritualitas kritis: sikap untuk tidak menerima dengan penuh, dan sebaliknya, tidak menolak mentah-mentah, segala sesuatu terkait dengan agama dan Tuhan.

Selain itu, Ayu Utami secara cerdik membangun teks Bilangan Fu melalui gaya tutur seperti seorang esais, dengan memajang beberapa kliping pemberitaan maupun artikel dari beberapa media massa dalam novelnya. Meskipun tidak begitu meyakinkan apakah kliping tersebut benar adanya, ataukah sengaja dibuat untuk kebutuhan fiksi belaka, cara tersebut cukup efektif dalam membangun keutuhan cerita maupun kerangka argumentasi bagi jargon spiritualitas kritis yang digemakan dalam karyanya.

Secara intrinsik dapat dikatakan, baik Hubbu maupun Bilangan Fu banyak menginternalisasikan teks tentang spiritualitas Jawa yang kemudian ditransformasikan dan diolah sedemikian rupa baik sebagai suatu landasan konsep kreatif maupun sebagai objek kreatif itu sendiri. Meskipun intertekstualitas sebagai strategi literer bukan hal baru dalam sastra Indonesia, pemahaman dan pemanfaatan yang cerdas serta proporsional dalam dua novel tersebut patut diapresiasi. Akan tetapi, mengapa memilih spiritualitas dan kritik pada agama sebagai tema?

Kontekstual
Harus diakui bahwa salah satu problem sosio-kultural Indonesia yang masih menjadi kontroversi adalah agama dan atau praktik keagamaan. Beberapa peristiwa yang dapat dijadikan contoh signifikan antara lain kerusuhan Monas yang melibatkan sedikitnya dua kelompok berbasis agama tertentu; tindak kekerasan yang dialami jamaah Ahmadiyah maupun kelompok-kelompok yang dituduh menganut dan menyebarkan ajaran sesat; serta kontroversi UU Pornografi.

Fenomena tersebut tampak dalam Bilangan Fu. Tokoh Parangjati sebagai pewaris Padepokan Suhubudi sekaligus pemimpin ajaran Kejawan Baru yang menekankan dimensi laku kritik atau spiritualitas kritis, berhadapan dengan tokoh Farisi, seorang pemimpin kelompok fundamentalis yang secara radikal menolak segala mitos dan ritual-ritual Jawa. Persinggungan antara kedua tokoh tersebut bukan hanya pada tataran pemikiran, namun juga fisik, yang berujung pada kematian Parangjati.

“…Farisi bisa menempuh jalan laskar-laskar yang lain. Dengan tuduhan pemurtadan dan penyesatan…mengundang laskar-laskar itu untuk menggempur Padepokan Suhubudi. Seperti laskar-laskar yang lain menggempur pusat-pusat Ahmadiyah..(Bilangan Fu, hlm. 467)”

Berbeda dengan Bilangan Fu yang eksplisit memuat persinggungan antara kelompok-kelompok masyarakat dalam konteks keagamaan sekaligus mengkritisinya, Hubbu lebih menekankan pada ikhtiar personal yang begitu dekat dengan kesendirian dan imaji yang hendak bermuara pada ekstase spiritual.

”…kuterantuk labirin ingatanku: ‘Sastra Gendra’, aku merasa seperti pejalan yang tersesat di belantara. Kadang aku seperti Begawan Wisrawa… memang, aku merasa identik dengan Wisrawa. Aku ingin berbuat kebaikan tapi dengan kebaikanku itu aku malah terhukum… (Hubbu, hlm. 107)”

Pada sebuah fragmen di novel tersebut Jarot dimunculkan bersama Budi Palopo –seorang penggurit asal Gresik– dalam sebuah diskusi kamar antara keduanya. Jarot yang terobsesi dengan Sastra Jendra Hayuningrat tidak hendak mewartakan pencariannya akan kesempurnaan, tidak hendak pula mencari ”massa simpatisan” akan hal yang diyakininya. Jarot justru dimunculkan sebagai manusia yang selalu mencari esensi Sastra Gendra Hayuningrat secara sembunyi dan sengaja mengelak dari ruang debat keramaian.

Jika dicermati, perbedaan strategi literer antara Bilangan Fu dan Hubbu dalam mengemas dan memaknai spiritualitas di atas sejatinya merepresentasikan fenomena masyarakat. Seperti ditegaskan oleh Sigmund Freud dalam buku Musa dan Monoteisme, fenomena keagamaan harus dipahami sebagai sebentuk model tentang gejala-gejala neurotik individu. Artinya, agama merupakan wilayah spiritual yang bersifat personal dan otonom di mana setiap individu berhak menentukan bagaimana ia memahami dan mengamalkan prinsip-prinsip keagamaan yang dianutnya, sejauh individu tersebut tidak berlaku destruktif kepada individu lainnya. Fenomena yang terjadi di Indonesia berjalan sebaliknya: spiritualitas yang bersifat personal dipahami dan diposisikan sebagai persoalan publik, sehingga potensi terjadinya konflik destruktif justru semakin besar.

Fenomena itulah yang agaknya mengilhami kedua novelis dalam menyusun karyanya. Meskipun kedua novel tersebut merupakan karya fiksi, seluruh peristiwa di dalamnya sedang membicarakan dan merepresentasikan problem-problem aktual yang sedang terjadi di Indonesia, melalui cara-cara yang lebih mengedepankan unsur artistik daripada teoritik. Tetapi benarkah setulus dan sesederhana itu?

Negosiasi
Karya sastra bukan sekadar ekspresi estetis seorang pengarang, lebih dari itu, karya sastra merupakan alat efektif dalam menyebarkan suatu pemikiran atau ideologi tertentu. Pengarang sebagai bagian dari masyarakat dan pencipta teks sastra merupakan intelektual yang memiliki motif-motif ideologis tertentu yang disampaikan secara implisit di dalam karyanya, berdasarkan konstelasi ideologi dalam masyarakat.

Terkait dengan Hubbu dan Bilangan Fu, dapat dikatakan Mashuri dan Ayu Utami sebenarnya sedang melakukan upaya kritik dan negosiasi ideologis terhadap praktik keagamaan dan konsep monoteisme (satu Tuhan) yang mendasari tiga agama Semit: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Terdapat tiga poin utama yang dikritik dalam dua novel tersebut. Pertama, monoteisme telah dipahami dengan tidak utuh dan tidak kritis sehingga pada perkembangannya paham tersebut melahirkan eksklusivitas agama dan praktik keagamaan nonkompromis yang tidak memberikan ruang dialogis terhadap nilai-nilai kultural yang telah ada jauh sebelum paham tersebut tiba di Indonesia.

Kedua, praktik keagamaan cenderung bergeser dari aspek religiusitas murni menjadi aspek politik praktis yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya partai politik maupun kelompok masyarakat mengatasnamakan agama tertentu sebagai dasar ideologinya. Ketiga, bentuk esktrem dari paham monoteisme, yakni fundamentalisme, dewasa ini semakin menggejala dan dalam tahap-tahap tertentu rentan mereduksi nilai-nilai lokal.

Dalam hal ini, Hubbu dan Bilangan Fu berdiri pada kutub oposisioner. Kedua karya yang merevitalisasi spiritualitas Jawa tersebut berupaya menghadirkan wacana tandingan dalam hal praktik keagamaan maupun pendekatan dan pemahaman terhadap Tuhan. Nuansa multikulturalisme, kearifan lokal, dan pendekatan kompromis seperti yang tertuang dalam dua novel tersebut merupakan pemikiran-pemikiran yang hendak disampaikan dan dinegosiasikan oleh kedua pengarang. Tujuan dari negosiasi tersebut adalah tercapainya suatu kondisi di mana memayu hayuning bawana (keselamatan, kesejahteraan, perdamaian dunia) dan sangkan paraning dumadi (asal mula pengetahuan) tidak dibangun sekadar dari perspektif teologi monoteistik, namun juga dari perspektif nilai-nilai kearifan lokal. (*)

*) Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Unair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *