Estetika Sastra Pascamitos

:MENAMBANG TENAGA GAIB CERITA PANJI (Konsep Estetik dan Artistik Novel TANHA)

S. Jai

“MULA-MULA adalah kata. Jagad tersusun dari kata,” demikian tutur penyair Subagio Sastrowardoyo.

Kalimat itu boleh diungkap oleh yang memilih jalan hidup sebagai penyair. Namun orang lain, sah-sah saja manakala percaya dan menyakini bahwa nenek moyang segala ilmu -juga tentu saja kata- adalah mitos. Berpijak pada pendapat bahwa jauh sebelum kata-kata diperas, diperah sampai apuh beban artinya, mitos telah lebih dulu menyingkap makna sampai akarnya yang purba. Continue reading “Estetika Sastra Pascamitos”

ME-MITOS SEJARAH SASTRA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Memitos, istilah saya untuk menyebut kebalikan dari kata jangka (ramal, meramal). Di Jawa ada pengistilahan ngerogo sukmo, semacam meranggehnya sukma. Maka memitos sejarah, serupa ngeranggeh cerito atau merengkuh cerita lama. Sejenis membongkar ingatan di bawah sadar sejarah bathin-raga kemanusiaan. Ini semoga bukan bentuk kelebihan hormon pengarang. Continue reading “ME-MITOS SEJARAH SASTRA”

TAK SENGAJA JADI SASTRAWAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Jalan hidup seseorang sering kali tidak terduga. Tidak berhasil meraih cita-cita atau harapan di bidang tertentu, tidaklah berarti harus gagal di bidang lain. Itulah yang terjadi pada sosok Titis Basino PI. Masuk Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959, ia malah tak begitu yakin akan pilihannya itu. Entah apa yang mendorongnya memasuki bidang itu. Minat untuk menjadi ahli bahasa, kritikus atau dosen pun, tak terlintas. Maka, setelah ia meraih gelar sarjana muda tahun 1962, Titis memutuskan untuk bekerja sebagai pramugari udara PN Garuda. Continue reading “TAK SENGAJA JADI SASTRAWAN”

Gerilya Penulis Pemberontak

Fahrudin Nasrulloh *
Pontianak Post & jawapos.com

SETIAP penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu, diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka. Continue reading “Gerilya Penulis Pemberontak”

Bahasa »