Perempuan (Brahmana) Menggugat Kasta

http://www.balipost.co.id/
Judul: Kenanga
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Grasindo, 2003
Tebal: 294 hal.
Peresensi: Nuryana Asmaudi

DALAM peta sastra nasional, Oka Rusmini — salah seorang sastrawan perempuan dari Bali — telah memiliki nama yang diperhitungkan. Ia tercatat sebagai salah satu dari sastrawan perempuan Indonesia yang dianggap cukup cemerlang dan dikagumi. Tak terlalu penting mempersoalkan istilah “sastrawan perempuan” tersebut, yang jelas kehadiran dan keberadaan Oka Rusmini dalam percaturan sastra nasional sudah menjadi keniscayaan yang tak bisa lagi ditolak. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, novelet, hingga novel terus hadir ke tengah pembaca sastra Indonesia.

Oka Rusmini memang tergolong cukup produktif. Bagi kalangan sastra di luar Bali, karya-karya Oka dinilai berkualitas dan memiliki “warna lain”. Boleh jadi, Oka memang tak terlalu diperhitungkan di Bali. Karya-karyanya mungkin dianggap “biasa” dan kurang dalam. Masih banyak lagi sastrawan perempuan Bali lainnya yang dinilai lebih bagus dan disegani. Tapi tak bisa dipungkiri, kenyataan membuktikan bahwa Oka Rusmini “sangat diperhitungkan” di luar Bali. Selain karena Oka cukup gencar mempublikasikan karya-karyanya keluar Bali sejak lama, juga karena dialah sastrawan perempuan Bali yang lebih dulu mengenalkan warna ke-Bali-annya kepada publik di luar Bali. Warna ke-Bali-an sastrawan perempuan Bali yang lain mungkin lebih berkualitas dan dalam, tetapi pembaca di luar Bali bisa jadi tidak melihat, lantaran tidak (banyak) dipublikasikan keluar.

Maka, seperti tak pernah kehabisan energi dan semangat, seperti tak pernah kering ide dan strategi yang cemerlang dalam publikasi, Oka terus memacu diri untuk berkarya dan mensosialisasikan karyanya secara gencar dan intens. Sehingga, karya-karyanya terus hadir ke publik pembaca dan pecinta sastra Indonesia. Membuat Oka semakin kokoh keberadaannya dalam peta sastra Indonesia. Judul-judul buku sastra yang telah dihasilkan dan sudah beredar di pasaran — di luar puisi atau cerpennya yang berceceran di berbagai media terbitan Jakarta — misalnya “Tarian Bumi” (2000), “Sagra” (2001), dan “Kenanga” (2003).

“Kenanga” memang novel terbaru karya Oka Rusmini. Oleh penulisnya, “Kenanga” dikatakan novel pertama karena ditulis Oka pada tahun 1990-1991 dan dimuat terlebih dulu sebagai cerita bersambung di Koran Tempo akhir 2002.
***

Kenanga adalah nama tokoh utama dalam novel ini. Seorang perempuan muda Bali yang penuh impian dan ambisi, cerdas, juga keras hati. Demi sebuah ilmu dan karir, ia berani mempertaruhkan usia dan segala yang dicintainya. Baginya hidup adalah karir, sehingga orang jadi sering salah sangka — termasuk orang tua dan kalangan keluarganya sendiri — pada dirinya. Hubungan dekat dengan guru besarnya di kampus tempat ia menjadi dosen sastra, misalnya, membuat orang curiga dan berpikir dia seorang perempuan yang menghalalkan segala cara demi karir.

Kenanga adalah perempuan muda keturunan Brahmana — kasta tertinggi dalam tata kehidupan dan adat Bali, yang hidup membujang dan belum pernah menikah walau sampai usia yang matang. Tetapi, ironisnya, dia punya anak kandung, seorang putri bernama Luh Intan yang sangat dia cintai. Kenanga mengasuh Intan dalam griya-nya, tanpa seorang pun mengetahui kecuali dia dan ayah dari anak tersebut — lelaki keturunan Brahmana pula, bernama Bhuana, yang pernah memperkosa Kenanga hingga membuahkan anak itu. Lelaki yang sangat mencintai Kenanga dan juga dicintai Kenanga, tetapi akhirnya justru menjadi suami dari Kencana, adik kandung Kenanga.

Dari latar itulah novel ini kemudian merentang-beberkan banyak hal dan rahasia kehidupan sebagian dari kalangan keturunan Brahmana. Terutama, dalam hal asmara, perkawinan, perselingkuhan, kepura-puraan, kemunafikan, dan banyak hal lain yang tak terduga demi sebuah gengsi, tata krama, dan segala tetek-bengek dalam tatanan adat yang mengikat kehidupan lingkungan kalangan kaum tersebut.

Novel ini memang nampak jelas menggambarkan “pemberontakan” dan “penggugatan” perempuan Bali yang dilakukan atau diwakili oleh tokoh Kenanga terhadap banyak hal. Mulai dari soal adat, kebangsawanan atau kasta, dominasi jender, hingga perjuangan atas peningkatan atau penempatan sosok perempuan ideal dalam kehidupan masyarakat Bali.

Gambaran itu terlihat pada sang tokoh utama yang menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan. Ia bahkan sangat haus dan berambisi dalam pendidikan serta menginginkan anaknya dan para wanita Bali yang lain agar mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, karena dari sanalah harga diri seorang perempuan akan terwujud.

Dia harus belajar, terus belajar. Tak seorangpun boleh menyentuhnya bila dia sedang mereguk ilmu, sebab hanya pada ilmu pengetahuan seluruh impian dan harapannya tertumpahkan. Dengan menguasai ilmu pengetahuan, dia merasa aman, setidaknya dia merasa punya modal untuk dihormati dan dihargai orang karena isi kepalanya, bukan karena kebetulan dia dilahirkan sebagai perempuan brahmana yang kaya raya. (hal. 134).

Gugatan terhadap sikap dan laku diskriminatif pada anak perempuan di bawah anak laki-laki juga gencar disinggung dalam novel ini.

Namun laki-laki berengsek yang menjadi suami adiknya itu tak pernah puas, seperti tak sedikit pun punya rasa syukur. Bagi dia yang selalu merasa sebagai bangsawan Bali paling tulen, seorang anak perempuan tak ada harganya. “Aku memerlukan anak laki-laki. Anak laki-laki akan membuat keluargaku hidup lebih sentosa!” koarnya seringkali. Dia ingin istrinya melahirkan anak lagi dan lagi dan lagi sampai berhasil mendapatkan keturunan laki-laki. Dan kalau tidak berhasil? “Terpaksa aku kawin lagi!” Tanpa peduli istrinya mengidap diabetes, sehingga melahirkan lagi akan sangat berisiko. Tak heran Dayu Putu jadi begitu jijik. (hal. 164).

Kasihan sekali perempuan-perempuan di lingkungan keluarga Griya ini. Mereka harus memikat lelaki yang sekasta. “Perempuan Ida Ayu wajib mendapatkan pasangan Ida Bagus!” Aturan dari manakah itu? Sementara aturan itu tidak berlaku sebaliknya. Para lelaki Griya bebas memilih dengan siapapun dia menikah. Bahkan banyak perempuan Ida Ayu rela dijadikan istri ke-2 atau ke-3 semata-mata agar tak jatuh derajat. Derajat apa pula itu? Harga diri macam apakah yang sesungguhnya sedang diusung? Hidup macam apakah itu? (hal. 2002).

Apa sesungguhnya arti menjadi perempuan bangsawan itu? Kenapa tak satu pun perempuan muda di Griya ini yang memberontak? Kawin dengan sembarang lelaki, kalau perlu dengan lelaki sembarangan! Kenapa mereka semua jadi begitu penurut? (hal. 138). Hyang Jagat, alangkah sulitnya jadi perempuan. Alangkah banyak peraturan dan hukumnya. Karena itu aku tak mau jadi pecundang! (hal. 240).

“Pemberontakan” atau “gugatan” tersebut ternyata tidak hanya dilakukan terhadap laki-laki dan adat yang melindunginya, tetapi juga ditujukan atas kaum perempuan khususnya di lingkungan keluarga Brahmana yang kadang memang ada (atau bahkan banyak) yang sok dan juga bodoh. Gugatan semacam otokritik terhadap kaum penggugat sendiri. Masih terbakar hati Indan bila ingat betapa Galuh selalu minta diagung-agungkan sebagai seorang putri bangsawan, kalau perlu dengan paksa! Perempuan itu tak pernah peduli perasaan orang lain. Tak mau tahu bagaimana rasanya terlahir hanya untuk ditenggelamkan sebagai tumbal untuk gengsi, untuk martabat, untuk secebis harga diri kebangsawanan yang tidak jelas manfaatnya. (hal. 138-139).

Dia (Dayu Kencana) tidak habis pikir, kenapa ada perempuan sebodoh dirinya. Perempuan cantik yang terlalu mengagungkan cintanya sendiri, meletakkannya di atas segala-galanya, dan akhirnya menjadi korbannya. Kenapa dia tidak bisa seperti perempuan lain yang bisa bicara dengan lantang bahwa mereka bisa hidup sendiri. (hal.128).
***

“Pemberontakan” para perempuan dalam novel ini sebagian besar memang baru dilakukan dengan “bahasa ungkap” dengan kalimat, kata-kata, yang kadang terkesan berbuncah-buncah. Belum diungkapkan lewat “bahasa perbuatan”, misalnya lewat perilaku, tindak-tanduk, dan perbuatan konkret yang digambarkan lewat para tokohnya, agar kualitas novel ini memungkinkan bisa lebih dahsyat lagi.

Dalam pemaparan cerita, acapkali juga nampak terlalu bersemangat, hingga kadang berlele-tele. Bahkan ada yang kemudian menjadi rancu — tidak saja membosankan, tetapi juga “berbrancangan”. Lihat misalnya tentang masa lalu tokoh Mahendra, yang semula diceritakan secara naratif dengan masih cukup menarik, tiba-tiba rancu. Sang pencerita menjadi tokoh Mahendra dengan “ber-aku” atau “ber-kami” dan Mahendra menjadi sang pencerita yang sejak awal bukan Mahendra. Pada bagian ini juga nampak nyinyir dan membosankan. (hal. 181-188).

Tetapi, tak bisa dipungkiri, novel ini merupakan karya sastra yang harus diakui keberadaannya. Novel ini telah memberikan sumbangan yang cukup penting dan berarti bagi khazanah sastra Indonesia. Bagi pembaca di luar Bali, tentu saja novel ini telah memberikan banyak informasi dan gambaran tentang kehidupan dan tata-adat masyarakat Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *