Pilkada

Putu Wijaya

http://putuwijaya.wordpress.com/

Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu, dua atau tiga? Amat bimbang. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik.

?Jadi mau nyoblos yang mana?? desak Ami..

?Itu rahasia, Ami.?

?Terus-terang saja, Bapak bingung!?

?Kenapa mesti bingung?!?

?Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai pemilih, Bapak tidak mau salah pilih, kan?!.?

?Betul!?

?Jadi??

?Ya Bapak bingung.?

Ami tersenyum.

?Kalau begitu Bapak akan jadi golput??

?Ya!?

Ami terkejut.

?Jadi bapak tidak akan memilih??

Amat berpikir sebentar lalu menjawab.

?Tidak!?

Ami kontan marah.

?Bapak sadar tidak, dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Dengan mematikan satu suara, berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. Itu berarti tanpa Bapak sadari, Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak, meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!?

?Maksumu apa??

?Golongan putih itu tidak ada. Itu hanya teori. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!?

Amat tertawa.

?Bapak mau jadi orang biasa saja, Ami, ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!?

?Bukan itu maksud Ami. Sebagai warga yang bertanggungjawab, Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. Pilih satu. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami, itu jauh lebih baik, daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan, Pak. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini, tidak mau menentukan sikap, tidak berani mengambil resiko. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! ?

Amat terdiam. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat.

?Anakmu itu menuduh aku ini pengecut.?

Bu Amat terkejut.

?Masak??

?Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada.?

Bu Amat tambah terkejut lagi.

?Masak??

?Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan.?

?Ah masak??

?Lho jelas!?

?Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali, Pak. Pilih yang paling ganteng saja!?

Amat kaget.

?Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu??

?Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya.?

Amat tercengang.

?Wah, itu kebangetan. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua, kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. Jangan begitu, Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita, boleh dipilih. Kalau tidak, meskipun bagus jangan dipilih. Jadi dikacaukan!?

?Itu kan pilihan Bapak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!?

Amat bingung.

?Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu??

?Itu rahasia!?

?Jangan begitu, Bu. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya, tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin, melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. Ibu jangan hanya pakai perasaan, enaknya sendiri, harus pakai pikiran! Kalau salah pilih, berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!?

Bu Amat terkejut.

?Wah kalau begitu, baiknya pilih yang mana??

?Nah kalau sudah begitu, berarti sebelum main coblos akan mikir, jangan asal coblos, apalagi ikut-ikutan. Harus pakai perhitungan!?

Bu Amat terdiam. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami.

?Ami, Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!?

Ami tercengang.

?Lho, memilih itu memang ukurannya bagus. Kalau tidak bagus buat apa dipilih??

?Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna.?

?Yang bagus itu, ya, yang berguna. Dan yang berguna itu, ya, yang bagus!?

?Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga??

?Terserah Ibu.Tapi kalau boleh menyarankan, sebaiknya yang bagus dan berguna. Yang berguna tapi bagus.?

?Yang mana??

Ami tak menjawab. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik.

?Pemilihan itu bebas rahasia, Pak, Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu.?

Amat menatap Ami.

?Bagaimana bisa memilih Ami, kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak, kan??

Ami terseyum.

?Kalau begitu Bapak akan memilih??

?Ya!?

Leave a reply