Prosa-Prosa M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
Lirik Untuk Kiai

Suram sinar tanju di saka surau, berkelit dari angin, berjuang melawan gelap. Cahayanya menguntum. Bila lewat semilir, ia seolah menunggu padam. Dari balik kaca bermandi jelaga, sinarnya membias ke wajahmu. Menyiratkan siluet ketekunan dan garis tepi perjuangan pada air mukamu yang tenang. Sementara aku tak henti dan terus membaca perjuanganmu, bagaimana kauajari aku menikmati perjuangan itu sendiri.

?Bacalah, Nak, mulailah mengeja!?
Aku merunduk. Kening hampir menyentuh buku.
?Aiu, babibu, tatitu.?
Aku barulah batu.
?Hahihu, wawiwu, yayiyu.?

Angin mencari halimbubu.
Jangankan membaca, mengeja pun gagap.
Jangankan mengerti, belajar pun gelap.
Bila hidup banyak memberi pilihan, mengapa jalan ini yang kautempuh, menuju ujung perjalanan yang begitu jauh? Badan letih tak terkira sedangkan panas membakar tanah berdebu. Kaki melepuh, wajah mengeruh, tapi semangatmu menjadikan hidup ini penuh gairah.

Serangkum angin, melalui sela-sela anyaman bambu dinding surau, menyelusup, menambah hati risau. Hari semakin malam. Sekarang lagi purnama. Alangkah asyiknya bermain di pematang, begitu semua anak punya pikiran.

?Kita lanjutkan besok malam. Tutup kitabmu dan berdoalah!?
Dalam hati aku berteriak kegirangan.
* * *

Surau itu masih memancarkan cahaya, meskipun redup bertahan hidup. Aku selalu ingat, kiai masih duduk bersila di mihrab. Barangkali ia menyelesaikan dzikir rutinnya yang panjang. Atau terkantuk-kantuk lalu tertidur karena keletihan. Mungkin, ia sedang mengulang-ulang doa panjang pada bibirnya yang kering. Aku yakin, kiai akan selalu memohon agar Allah sudi melapangkan hati para santrinya sehingga cahaya-Nya masuk ke relung setiap rongga dada, lalu kembali memancar menjadi pesona di jiwa. Bukan kecerdasan yang membuat sombong, juga kepandaian yang bisa menipu, tapi ilmu manfaat yang akan memberi selamat.

Pada ratusan jarak di peta, tapi sejengkal cuma di dada, di antara rentang waktu menahun, masih jelas dalam anganku semua tingkah dan lakunya, sikap dan pituturnya. Dan aku pun bertekad bulat tak akan henti mengingatnya dalam segala suasana. Memang, saat itu telah lalu, tapi aku selalu menghadirkannya di ruang hatiku, setiap waktu.

Angin mendesir, merkuri tetap menyala. Cahayanya nyalang di hadapan apa pun angin. Sementara komputer menggantikannya, mendidikku menjadi guru sekaligus muridnya.

Kiai, pada beberapa masa berikutnya, cahayamu masih kulihat mengerdip di kejauhan, dipisahkan waktu, dalam ruang beratus sekat, hingga ia tampak cuma sepercik tanju menjelang padam, tapi di dadaku, lebih kobar dari nyala api apa pun.

Menara Tertinggi

Engkau adalah menara yang tinggi menjulang. Di bawahnya, orang-orang memandangmu mendongakkan kepala. Di tempat itu, engkaulah yang tertinggi karena hanya engkau yang menjulang sendiri.

Engkau adalah mercu suar tempat pelaut menaruh harap. Engkau adalah mata angin bagi para pengelana. Engkau adalah gedung pencakar langit tempat berkumpul para pelaku bisnis. Engkau adalah menara pemancar yang menyebarkan sinyal dan gelombang.

Engkau bagai seorang alim tempat bertanya, tapi suatu ketika engkau kehabisan kata-kata. Mungkin engkau seperti sumur tempat air ditimba, namun kelak kemarau akan membuatmu tinggal batu-batu saja. Atau, engkau adalah ia yang apa pun dipunya, namun di suatu masa, barangkali orang-orang tidak akan mendatangimu lagi meminta iba, karena engkau telah menjadi seorang miskin papa.

Sesungguhnya, engkau adalah sebuah menara yang menjulang tinggi, tapi di dalam dirimu saja. Ia sendiri, menjadi pentunjuk bagi dirimu saja. Itulah sebuah menara yang kaubangun bertahun-tahun dengan pengetahuan dan pengalaman. Engkau selalu merasakan dirimu menjulang paling tinggi. Tapi, engkau tak tahu, mungkin di lain waktu, di lain tempat, ada menara lain yang menjulang lebih tinggi, hingga puncaknya tidak kelihatan.

Engkau adalah menara yang menjulang tinggi. Ia hanya sendiri di dalam hati. Engkau adalah menara tertinggi, namun di dalam dirimu sendiri.

Hikmah

Rata cahaya lampu merata.
Menebar panas dan silau di mata.
Laron-laron mendekat, menghampirinya. Mereka mencari cahaya yang benar-benar terang, menuntun jalan untuk terbang. Karena kegelapan adalah bentuk segala siksaan tak terhingga.

Satu datang berganti yang lain. Begitulah, satu persatu, kawanan itu mati. Namun, mereka tak jera dan tetap mendekati.

?Aku lahir untuk meraih cahaya. Setelah itu, aku lega melepas nyawa.?
Laron lain datang dan mereka tak sempat membawa berita untuk kawannya. Semua laron datang dan tak pulang kembali. Semua laron lahir, lalu mati.
* * *

Lampu dan cahaya.
Laron dan mati.
Manusia dari jauh melihat, mempelajari teladan yang sungguh mumpuni. Manusia dari jauh melihat, tapi tidak sanggup menghayati. Sudah terlalu banyak mursyid, sufi, kiai, dan para mufti menuturkan hikmah, memberi petuah, namun keangkuhan telah benar-benar membuat hatinya mati.

Laron datang mendekati cahaya lampu, dari gelap mencari terang, meskipun pada akhirnya mati. Manusia juga datang mendekati cahaya hikmah, tapi hikmah tak pernah membakar, hanya menyinari. Akan tetapi, banyak manusia yang tak mau mendekati. Ia berada di kejauhan, melihat saja, atau bahkan berdiri beradu punggung dengannya.

Lampu dan hikmah sama?sama menebarkan cahaya.
Laron mencari cahaya lampu lalu sekarat ketika mendekat. Sementara manusia melihat cahaya hikmah dan mereka melepuh ketika menjauh.

Lirik Cinta

Ucapkan bibirku tasbih setelah tergagap melihat pesona. Gerakkan hatiku tahmid manakala tak silap melihat benda. Allah, getarkan semua anasir kemanusiaanku manakala hendak mengaku kuasa dengan raga tanpa daya.

Cinta yang Engkau letakkan pada kecuraman jiwa, adalah anugerah yang sangat besar. Bias sinarnya terlalu tajam hingga aku tersilau dan aku terbuta. Aku ingin bersuci, membasuh luka dari debu dunia. Mencuci diri dari buaian benda. Terlampau naif menyebut diri seorang kamil sementara masih membanggakan hal-hal yang batil.

Namun, jangan beri aku cinta bila ia akan berakhir benci, karena Engkau menganugerahkannya demi menciptakan damai di bumi. Sementara bila ia telah membutakanku, maka pada akhirnya akan berujung dendam dan dengki. Gusti, tanamkan ia di setiap ruas rusuk, dalam panjang urat nadi, dalam tiap denyut jantung, di pusat energi hati.

Dosa dan kesalahan yang kulakukan, benci dan dendam yang kuperam, telah membuat mata hatiku semakin lamur, tak sanggup membaca petunjuk yang Kauberi. Padahal aku tak henti belajar mencintai seperti orang?orang yang Kaupilih. Mencintai musuh seperti Isa, atau pemaaf seperti Muhammad. Sering aku dicibir karena hal itu dianggap musykil.

Namun, ya Allah!
Aku hanya percaya pada?Mu.
Tak ada yang tak mungkin bila Kaumau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *