Prosa-Prosa M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
Lirik Sareyang

Akulah Sareyang.
Akulah anak kecil dekil yang berjalan sendiri di pinggiran sejarah. Tak ada orang yang menghiraukanku, kecuali dengan sebelah mata memandang.

?Untuk apa berteriak bagi kebenaran, Sareyang??

Tapi, aku tak mau diam. Walau telinga tersumbat, biarpun mata tersilap, aku akan tetap berdiri, sekalipun hanya seorang diri di hadapan kebisingan dunia, walaupun serak suaraku, hanya gumam, bahkan mungkin cuma bisikan yang lenyap terbawa angin.

Akulah Sareyang.
Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu.
Air merta jiwa bagi kemarau seabad lama.

Melalui malam dan sunyi, yang menjadi guru dalam mengajarkan cahaya dan kebisingan, aku menyeberangi kosmis, mencari percik api bernyala matahari.

?Di mana akan kautemukan itu, Sareyang??

Dengan mata menerawang, meradai dan menghilau atas kekalahan, lindap di bawah bayang?bayang ilmu pengetahuan, aku mencari nyanyian di antara deru bising kehidupan.

?Tetapi, masihkah para wali membisik, Sareyang??

Dengan mata nyalang, aku menatap langit, membaca catatan masa silam; sejarah menyajikan tamsil dan teladan, namun mulut masih cedal. Walau hati merangkum rahasia semesta raya, bahkan hingga ke sebalik fisika, tapi kekuatan sepasang mata cuma mampu menangkap gemerlap mayapada.

Akulah Sareyang.
Sebuah lagu bagi hiruk-pikuk sepanjang waktu.
Cerita pelipur lara bagi kemelut sepanjang masa.
* * *

Aku melambung lepas, menembus atmosfer, melampaui batas dunia, lalu melepaskan diri dari hukum bumi, tetapi pada akhirnya hinggap kembali di dasar hati. Memanjatkan doa untuk orang tua, para guru, kawan-kawan, serta mereka yang mungkin telah terlupa; selamatkan kami dan anak cucu kami dari kemarau panjang di dalam dada; kemarau di luar musim, kemarau di dalam batin.

Berjalan tertatih menghitung langkah.
Hati merintih pikiran membuncah.

Manusia sepercik cahaya dari surga. Tersesat di Kota Benda yang gulita. Diberikan untuknya pelita. Namun, ia terpasah senantiasa. Diberikan untuknya air, dan ia tak habis-habis dahaga.

Sareyang.
Sebuah tanju bagi gerhana sepanjang waktu.
Air merta jiwa bagi kemarau seabad lama.

Lirik Untuk Ayah

Ayah..
Bila kulihat engkau tekun bekerja, tangan kotor penuh debu, peluh mengucur dan letih tegas tersurat di wajahmu, dadaku terasa sesak melihat diri yang kukuh tapi malas. Aku malu, tenaga penuh tapi hasrat tiada. Mengapa engkau begitu tekun, padahal asin keringat yang engkau cucurkan justru aku yang merasakan manisnya. Untuk siapa engkau terus bekerja bila tidak untuk anaknya?

Ayah,
Kapankah datang waktunya, aku ingin membanting tulang dan engkau cukup istirahat saja. Biar kutangung semua urusan duniawi dan aku akan mendampingimu menghabiskan hari-hari tua nanti. Namun, cukupkah dengan begitu aku membalas? Memang, balas tidak engkau pinta, tapi pamrih mesti kurasa. Kutahu sejulang gunung engkau berbudi, tapi bisaku hanyalah mendaki.

Ayah,
Habis puja memuja. Habis rasa merasa. Tak ada neraca menakar jasa. Tiada padan membalas cinta. Selama mulut mampu berucap, selama hati masih mendetap, tekadku berbakti dan selalu berdoa, bahkan hingga kelak engkau tiada.

Lirik Untuk Bunda

Bunda,
Seperti angin bertiup, bagai air mengalir, laksana cahaya menelusup, aku mencari lalu menemukan nyala cintamu yang tak pernah kuntum, bahkan terus bergolak. Untuk melukiskan jasamu, aku menyusun puisi, seloka, pantun, dan bentuk bunga kata?kata. Dari zaman dahulu, para penyair dan penganjur kebaikan menyanjungmu dengan berbagai tamsil dan teladan, tentang cintamu yang tak terkira dan kasihmu yang tak tertara. Bahkan bila kutulis madah pujian, tetapi aku merasa itu cuma bualan, meskipun engkau akan menganggapnya tulus karena kasihmu tak bergantung apa pun balas.
Bunda, belas kasihmu tak tepermana, walau balasku sepenggal cinta.

Bunda,
Aku berhutang kepadamu, meskipun lunas tidak kautagih. Engkau telah memberiku nilai yang tidak mungkin aku bayar. Adakah yang layak dipersembahkan untukmu selain mengabdi dan berbakti? Bahkan rasanya tak cukup, karena kasih dan budimu tak mungkin terbalas. Terkadang aku merasa seorang Malin Kundang; lupa bunda mengandung, tak ingat dari mana berasal. Alangkah celaka. Namun, bila itu kuingat kembali, barulah aku menyesal dan menangis. Engkau mengandung, melahirkan, dan membesarkanku dengan air mata.

Bunda,
Kasih sayangmu adalah samudera, langit, daratan bahkan bumi keseluruhan tak terpeta. Cinta kasihmu tak akan cukup bila diwakilkan pada perlambang-perlambang bunyi, konfigurasi gerak ataupun pada puncak keindahan kata-kata. Cintamu pada anak tak mungkin sepadan terbalas, karena bagi ruang hati di dalam dirinya, kasih sayangmu terlampau besar, bahkan berada di luar takar.
Bunda,

Aku, anakmu, juga semua orang yang pernah dilahirkan, hanya dapat melukiskan cintamu seperti malam hendak melukis matahari. Teramat banyak puisi, lagu, dan madah puja?puji yang mengagungkanmu. Aku merasa kelu bahkan bisu untuk melakukannya. Karena apakah guna bila kata?kata yang hendak kususun itu justru lebih dahulu kaubaca di dalam pikiranku? Sebab itulah, pujianku bukanlah kata?kata, tetapi adalah dengan menjadi diri yang engkau restui, serta percaya bahwa untuk anaknya, seorang bunda tak akan pernah berhenti berdoa.

Mulialah engkau, Bunda, dan bahagialah aku, lahir sebagai anakmu.

Aku Datang Padamu

Pada kecemerlanganmu yang maha, aku akan bertamu membawa hina. Karena dengan begitu, engkau akan tampak semakin mulia.

Padamu, aku akan datang dengan redup muka; pengemis buruk meminta iba. Karena dengan begitu, engkau akan tampak semakin agung di puncak pesona.

Padamu, aku akan datang berkunjung membawa kekurangan-kekurangan. Karena dengan begitu, yang tampak padamu hanyalah keistimewaan.

Padamu, aku akan datang membawa gelap. Karena dengan begitu, cahayamu akan tampak makin berkilauan.

Perbani

Hari itu, bagi kedatanganmu, adalah penantianku yang terakhir kali. Bekal kesabaran tinggal sekerat, sementara rindu semakin berkarat. Menunggu sepanjang kemarau. Gelisah dan galau sesuntuk musim. Hari-hari mengalir membawa kekosongan. Hasrat membara susut mengalir.

Kapankah engkau datang?

Bahkan hingga hujan awal tengkujuh tumpah ruah, menguapkan segar aroma tanah, memandikan bumi dari panas dan gerah, mengabarkan berbunganya jagung dan kedelai, engkau tak juga datang. Tapi, aku membatin dengan bangga; adakah yang lebih perkasa daripada seorang penanti setia?

Hujan mengertap. Cahaya lindap. Hariku gelap. Rindu terlumat.

Aku membuka jendela; menangkap musim, meraba cuaca. Engkau tetap tak terjamah. Tersiksa batinku resah. Sementara di luar, aku mendengar tetes air hujan menyajakkan sakit hati.

Luka di dasar hatiku
perih dan pedih dalam menunggu
siang berlalu menyimpan berita
malam lantun bersama sepi
hari-hari menikam tepat ke ulu hati
dalam hal melukai
kesepian lebih tajam daripada belati.

Malam itu, dengan semangat kelaki-lakianku, aku menengadah. Memohon kesabaran dalam menunggu. Biar kapan pun tak akan jemu. Aku berdoa, agar dengan kelemahanku aku mampu berdiri perkasa, dengan kekuatan penuh sebagai penanti setia.
* * *

Di pertengahan bulan, hunjam hujan menghunjam. Deru angin menderu. Sambar petir menyambar. Lampu membeku, pergi cahaya. Rumah pun gelap berlurub gulita. Di luar, angin bertiup menderakkan rumpun bambu. Dan langkisan datang mendahului halimbubu.

Ketika hujan benar?benar deras, ketika halilintar menyambar dan guntur menggelegar susul-menyusul, kukuakkan pintu dan jendela. Menyambutmu dengan rindu kancap di dada.

Di langit yang gelap membentang, dari balik tetes hujan tebal, aku melihatmu datang; perbani yang perawan. Tapi, cahayamu masih seperti di musim lalu, bersinar dalam terang purnama di musim kemarau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *