Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin

http://ahmadmuchlishamrin.multiply.com/
SEPANJANG SUNGAI PEDRA
-untuk Paulo Celho

berjalan sepanjang sungai pedra
kutemukan bayangbayangku di air
menanggalkan ingatan segala muasal
melepas dosa asal
aku melihat air melompatlompat
mirip air kelaminku
mengingatkan awal kejadianmu
air melompat ke jembatan yang langsing
dalam khayalku malam itu

sepanjang sungai pedra
ditumbuhi anak kecil
anak kecil yang belajar melukis
lumut dan air terjun
seperti tubuh berbaring
diantara dua bongkah batu tak berkutang
kamu merabaraba yang ranggas
seusai hujan

sepanjang sungai pedra
aku berjalan

Yogyakarta/Tang Lebun, Februari 2007

PELABUHAN KECIL (1)

dari pelabuhan kecil ini aku berangkat
entah esok singgah di mana
terdampar di atas sampan layar
atau kutemukan tubuh jangkar

kematian berkibar
bagai bendera kampung halaman
tiang panjang yang ditikam angin
kian hari amis pindang

ternyata masih dapat kamu mengerti
larik puisiku di pelabuhan kecil ini
nyawa kata di lambung ikan
tak semuanya kutuangkan

akhirnya
kutemukan kampungku
di kampung orang

Yogyakarta/Tang Lebun-Rumah Lebah, Februari 2007

PELABUHAN KECIL (2)

aku rindu
tembangtembang Ibuku
belai rambut
sampai hilang nyawaku

Yogyakarta/Tang Lebun-Rumah Lebah, Februari 2007.

KABAR LAUT (1)

matahari tenggelam dalam air garam
sinar asin menghitam pekatkan kulitmu
mirip neraka yang kucipta di hari sabtu
selusin warna yang tak bisa kucatat di sini
akan membuatmu tergigil;
lalu kamu menganggapku laut
dengan ribuan gelombang
yang berbeda

tak ada surga di lautmu
hanya tubuh lumut bau bacin di atas batu
batu yang mewakili rinduku pada awan dan hujan;
kamu berteriakteriak di tengah samudera
memanggilku
memanggilku berkalikali dengan umpatan
aku purapura membangun candi dari pasir

badai mengayunkan tubuhnya
mirip dewidewi yang menawarkan perselingkuhan
abadabad laut jadi debur cinta di luar suka cita
mata air mata ditumpahkan camar ketika
mencelupkan sayapnya di puncak ombak menggelora
kamu segera mengirim kabar lewat angin

memang laut yang agung itu
telah menyusun sekian penghianatan
merombak manikam mutiara di dasar
pelautpelaut segera menutup mata
untuk tiba di jangkar

Yogyakarta/Tang Lebun, 2006

KABAR LAUT (2)

: bahkan gendang telingamu pecah dalam laut
mendarahkan gelombang sepanjang kenangan

Yogyakarta/Tang Lebun, 2006

BIAR KULUNASKAN DENDAM

hurufhuruf namamu
berduri
amat ngilu kuucapkan
aku bergeming
selaksa embun
selaksa bening

pada ilalang
yang disabit bulan
kulunaskan dendam
tanah kelahiran
demi getah darah
sumpah serapah

biarlah bunda
mengutuk jadi abu
jadi arang dan sembilu
kadung kulupa
setapak depan rumah,
warna pintu
dan
ruang tamu

aku berdiri disini
bendera di tangan
mata
terang bulan
angin
kugenggam.

Yogyakarta/Tang Lebun, Januari 2007

PEREMPUAN YANG BERCIUMAN DI LUAR TERMINAL

tengah malam di terminal
mataku menangkap warungwarung

asap melindap ke luar pagar
bau wisky menyeruak dari mulut trotoar

pada kulit kacang yang bertabur
kutangkap isyarat bulan

gerhana di mata perempuan
yang berciuman di luar terminal

?perempuan bermain kudakuda-an?
ingin pergi ke langit entah

seperti ada ringkik yang terlupa
seperti ada deguman langit pecah

seperti suara lakilaki menabuh gendang
dari sunyi dan riuh jalan

seperti ada nyanyian
ingin menyesuaikan, ingin diteruskan

perempuan itu terus berciuman
di luar terminal

Yogyakarta-Jombang, Desember 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *