Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

CATATAN HARIAN SEORANG SULTAN

Sekian purnama kelelawar-kelelawar menyerbu
ke dalam semadiku. Melati kenanga bersengketa
asap dupa tak berbau, keris tombak berdiri
berontak dari genggaman para abdi

Kemudian remang ada pada tiang, mahkota lusuh
membisu di sudut ruang. “Siapakah engkau
jika istana tinggal bayang-bayang
lalat nyamuk menari di pagelaran
burung-burung gereja bersarang di bubungan?”

Sesekali aku berdiri mencari puncak Merapi
sebelum gerbang terkunci. Sesekali meniti buih
laut selatan, menapaki pasir karang
sambil mengaca, “Aku bukan raja?”
Sebab, tikus mulai ada di kamar pusaka
burung malam seperti mengecam
kota dan tembok benteng yang berseberangan

Sekian musim bercermin pada rumput
pada taman yang berlumut, sisa keraton
tinggal bangunan tua dan rindang pohon.
“Jangan panggil aku Gusti?”
Tapi, mereka nekat ngapurancang di depan cepuri
menunduk pada huruf-huruf Jawa yang tak terbaca
oleh lidah yang lama mengembara

1997

ORANG-ORANG BATIK USIA SENJA
BELAKANG KERATON YOGYAKARTA

Masih dengan hati ia memainkan canting
malam yang bening. Meniupnya sesekali
menusuknya dengan ijuk, membuang karat daki
begitu khusyuk. Kadang bersila, atau bersimpuh
seperti luluh (menitiskan ruh)
janji sehidup semati lirik sidamukti
merawat kawung, kiblat tak pernah suwung

Masih dengan sabar ia melukis prasasti
stupa candi, mawar teratai, sampai kijang
dalam dongeng bahari. “Biarlah jika uban
dan keriput sudah mengunci. Akan kusambung
guratan pujangga, kisah suci Mahabharata
menjadi sari sutera, permadani tanah Jawa.”
Maka, ia tersenyum (kendati leher tanpa kalung)
santun dengan nasib yang terus mengapung

Masih dengan bijak ia merangkak
dari hari ke hari, mori demi mori
tanpa sangsi. “Nanti selimuti tubuhku
dengan kain panjang. Ikat daguku dengan selendang
seperti dulu ketika ditimang
lahir ke bumi
dengan telanjang.”

Kini, aku menunduk. Ngapurancang dan takluk.
Disini masih ada cinta. Masih ada jari
meracik pernik cantik, membatik wajah Srikandi
menatahnya sebagai wasiat di atas kening sendiri

1997

SETANGKAI BUNGA BUAT IBU GURU TK

Dengan mulut mawar hati melati, ia mengajak
anak-anak berdiri, berbaris, menggambar
dan menyanyi. Menyelipkan merpati dan kupu-kupu
ke dalam buku, bersama angka-angka
bilangan demi bilangan yang membuat dunia
terbuka. “Bintang memang jauh, anakku.
Tapi, engkau punya kaki untuk berlari
mata untuk mencari dan tangan untuk menggapai.”
Seperti sinar matahari, ia menguak jeruji
menorobos kisi-kisi. Langkahnya seringan angin
dadanya serupa permadani atau padang rumput
(tak ada kabut, lengkung cakrawala berpaut).
Ia tak menjual madu, janji-janji beledu
ia hanya patut disebut ibu. Ibuku ibumu
karena ribuan anak telah melesat ke angkasa
lewat pundaknya. Tapi, ia tetap di sini
seperti jembatan, menunggu jejak-tapak anak
berlari dan menginjak, yang membuat wangi
nama dan kuburnya kelak

2000

MUSIM KETIGA DI TEPI SUNGAI OYA

Sembilan anak laki perempuan, telanjang
menyerupai anggang-anggang, mencari tempat
mandi, karena air tinggal sebatas mata kaki.

Seperti iba dan ingin menjaga
angin dan sepi pun setia menemani
juga derit bambu ori
sehingga hutan
serasa taman Suwelagiri

Ah, akankah sekering lembah ini
hidup mereka nanti, meskipun sungai Oya
konon, tak pernah mati?

Sembilan anak laki perempuan, menghitam
ditelan buih muntahan zaman
ketika lubuk tinggal batu
kurun waktu mustahil kembali
mengalir ke hulu

2002

KETIKA BERUMAH PADA ANGIN DAN MATAHARI

Ketika retak mulai jadi bercak
langit selebar tenda, koran kehabisan cerita
pagi engkau kembali tersenyum dengan sepotong cermin tua
karena selain uban dan keriput, tak ada cacat-cela
atau luka membekas pada alis mata

Jadi, adakah yang patut
kita sebut
hidup ini tercerabut?

Sebab, maut bukan bencana, bisik cicak
sambil berdecak melihat rencana-rencana tertunda
karena pundak tangan terus menunggu
sampai tiang bambu pun tak jadi ditegakkan
karena kehabisan tali dan paku.
Tapi, bukankah sedikit air mata
pantas untuk mengenangnya?
Lantaran di kolong dipan sekarang kami bercinta
di bawah rembulan anak-anak mengaji dan membaca

Ketika rumah kembali tanah
angin dan matahari, baju bekas penuh sidik jari
jadi selimut kelambu penuh berkah
liur ludah pun jadi semanis sepah tebu
ketika sumur parit mengering
ketika hidup terpelanting
ke dalam potongan sejarah yang tercetak miring

2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *