Puisi-Puisi Ragil Suwarno Pragolapati

http://sastrakarta.multiply.com/
Membaca Koran Tempel

Hari-hari memberikan kabar monoton. Isi mirip beda judul
Advertensi pun menerkam semua kolom besar, over membius
“Gadis diperkosa!” teriak seorang bicah, jemu dan kecal
Kau pun menekur. Mahkota perawan dikoyak di kolam sudud
Brahmacorah seksualita jadi siluman di desa-desa dan kota
Hakim, KUHP dan palu pengadilan menabukan opini kecewa
Hokum suka melecehkan kesucian perawan pada vonis ringan
“Hakim itu dilahirkan dari rahim WAnita!” gerutumu marah
“Jika memvonis pemerkosa, bayangkan ibunyalah korbannya!”
Esok, esok, dan esoknya lagi, kabar seruba muncul kembali
Di halaman dua, ada vonis hakim. Ringan! Dicemooh public
Di halaman muka, ada “Seminar Keadilan Hukum” jadi proyek

Jagran, 1988

Sang Brahmancari

Yogya mengirim gerimis pagi bagimu di serambi masjid
Sendumu menyisa pada asap rokok, mengepulkan fantasi
Nasib nglangut. Mandi tidak perlu, berkumur pun cukup
Kambuhan penyakit 1968-1971. kau terbius dingin sudut
Ke timur, membayang Sala. Ke barat, takutkan Purwareja
Menundukmu risaukan Ampel dan Ungaran, baladamu deksura
“Aku grehasta! Punya istri dan anak!” bisikmu menyesal
“Tetapi hidupku brahmancari! Sendirian bagai perjaka!”
Kau pun tengadah. Tuhan dan ayat mengabur pada mendung
Kau menunduk. Nasibmu ruwet menoilak sesal pangkal-ujung
Nah, kau berbenah. Kembali mengembarai rimba raya Yogya
Meredam lapar-dahaga. Mengejami diri malang papa nestapa

Kauman, 1988

Pamitku Padamu

Kau-aku tuntas melewatkan pagi-sore dibuncah kepenatan
Siang-malam kebersamaan pun padat cerita dan kenangan
Kau-aku banyak belajar dari kerja, omongan atau diam
Aneh! Sempat juga hati berbunga dan pikiran mekar
Asyik! Banyak imba-beri manfaat, tahu fungsinya belajar
Kau-aku remaha kembali, sesekali jadi seperti bocah kecil
Telanjang tanpa cadar dan topeng, hilang malu dan minder
Kau-aku tahu tidaklah menarik lagi 1.001 kehebatan diri
Sebaliknya 1.000.000 kelemahan orang tidak selalu jelek
Ajaib! Kasih-sayang sejati tumbuh dari hal-ihwal na?f
Kau-aku menunggal dalam sebuah dunia, di sini, kemarin
Kita suntuk belajar tanpa pandang usia, guru dan murid
Kau=aku tahu, tugas kita seumur hayat: mendidik pribadi
Kok ajaib, hancurlah congkak dan kikuk, risi dan minder
Karena kasih! Hidup ini penuh arti, dalam cinta ugahari
Kau-aku deprogram jadual dan waktu, semua kini berlalu
Di sini, berakhir seluruhnya, biarpun belum puas tuntas
Kau-aku wajib pulang pada jagad kehidupan masing-masing
Kembali pada rutin. Pulang ke rumah tangga kita sendiri
Kini, di sini, pamiutku padamu adalah memutus pilu-pedih
Kau-aku dipertemukan Tuhan, segera kembali berjauhan
“Tidak ada selamat berpisah!” kataku meredam perasaan
“Sampai jumpa kembali!” bisikmu dengan senyum getir
Kau-aku wajib pulang, tidak mengkhianati rumah pribadi
Pamitku padamu adalah beribu memori, abadi dalam nurani

Jakarta 1986, Jember 1987, Klaten 1988

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *