Senyum Soeharto dan Politik Kesenian

Binhad Nurrohmat*
http://www.jawapos.com/

Presiden Soeharto berkata dalam otobiografinya, ”Di depan para seniman dan seniwati itu saya tegaskan, ketahanan sosial budaya tak kalah pentingnya dengan ketahanan militer dan ketahanan ekonomi dalam memperkuat ketahanan nasional” (Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 1989).

Perkataan Soeharto yang membungahkan itu merupakan ”petunjuk” bahwa andil kaum seniman bisa sederajat dengan kiprah kaum tentara dan pedagang. Lain kata, kesenian itu berguna atau sekurangnya tak mubazir bagi ”ketahanan nasional” –bila mengandung pesan atau menyuarakan kritik yang ”membangun”.

Kekuasaan Soeharto gemar ”pembangunan-isme” dengan gaya ”keras” dan yang di kemudian hari mewariskan luka kultural dan sekaligus juga merangsang pergulatan kreativitas kesenian kita.

Pada awal masa Soeharto berkuasa, ada semarak eksperimentasi dan inovasi yang melahirkan keemasan kesenian kita yang pamornya tak pudar hingga kini. Di masa ini terjadi ”bulan madu” kesenian dan kekuasaan, meski pendek saja masanya tapi monumental.

Ketika Soeharto kian berkuasa, merebak hegemoni ”kesenian a-politis”, yaitu kesenian yang bisu pada kenyataan kemasyarakatan dan terselenggara pencekalan terhadap kesenian/seniman yang dianggap mengusik stabilitas sosial-politik. Tudingan subversif kerap ditimpakan kekuasaan pada kesenian/seniman yang (dianggap) menyuarakan kezaliman negara.

Di masa kekuasaan jenderal yang punya senyuman khas itu, menjulang kesenian yang kukuh spirit artistiknya dan yang militan komitmen sosialnya –yang menyembulkan tak sedikit prestasi, heboh, legenda, dan mitos dalam kesenian kita.

Realitas kesenian kita kurang-lebih tiga dasawarsa di masa Soeharto itu merupakan contoh yang kontekstual tentang hubungan kemerdekaan kreativitas dan kekangan kekuasaan, yaitu upaya negara yang hendak menaklukkan kesenian atas nama politik serta politik kesenian kaum seniman untuk menghadapi dan menyikapinya.

Pengekangan dan Pembangkangan
Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Majalah Sastra Horison merupakan situs dan kiblat kesenian kita yang masyhur di masa Soeharto. Keduanya didirikan oleh pemerintah dan atas prakarsa kaum seniman yang pro-Soeharto atau anti-Soekarno. Maka, wajarlah TIM dan Horison tak bebas dari kehendak kekuasaan di masa itu. TIM dan Horison merupakan kaki-tangan kekuasan atau bukan, bisa terjawab dan dimengerti dari kebijakan yang dibikin dan diamalkannya.

Melalui TIM dan Horison, politik kesenian kekuasaan bisa bekerja secara laten ataupun vulgar untuk menaklukkan kesenian atau setidaknya mengarahkan kesenian sesuai hasrat kekuasaan. Keadiluhungan kesenian di masa itu ”ditentukan” di dua tempat itu, dan banyak kaum seniman mengamini.

TIM dan Horison adalah sumber legitimasi tertinggi kesenian dan kesenimanan di masa Soeharto. Setelah bersentuhan dengan keduanya, seniman seakan berhak mendongak kepala. Siapa gerangan seniman terpandang kita yang awal kemunculannya di masa Soeharto yang tanpa sentuhan TIM atau Horison?

Di masa Soeharto, politik kekuasaan cenderung ”sepandangan” dengan politik kesenian yang dijalankan kaum seniman, karena murni sikap seniman sendiri atau lantaran tekanan kekuasaan, dan hal yang terakhir ini memarakkan ”ketundukan kolektif” dan sedikit saja pembangkangan.

Kemerdekaan kreativitas –dalam pengertian ideologi dan sumber penciptaan yang merdeka– jadi urusan rumit di masa Soeharto. Pilihan tema dan estetika kesenian dibatasi ”rambu-rambu” kekuasaan di masa itu. Ada kesenian yang tampak tunduk, ”kucing-kucingan”, atau nekat melawan rambu-rambu itu dengan motif kemerdekaan kreativitas ataupun pembangkangan.

Karya sastra, teater, lukis, musik, film, dan tari yang muncul di masa Soeharto pernah ”berkasus” dengan kekuasaan, meski dipertunjukkan di TIM secara resmi. Tentu, kesenian yang ”berkasus” amat sedikit ketimbang yang ”aman”.

Kesenian kita di masa Soeharto bisa dipandang tak remeh oleh kekuasaan, bahkan dianggap gawat, sehingga pengekangan kesenian terjadi (dan amat ketat), meski tak jarang pengekangan itu semata menggambarkan nafsu kekuasaan untuk mengontrol kesenian secara berlebihan melalui perizinan, sensor, dan pencekalan. Akibatnya, kekuasaan Soeharto menjadi legenda tentang paranoia kekuasaan terhadap kesenian di negeri ini.

Gairah Reformasi dan Seksualitas
Kekuasaan Soeharto resmi berakhir pada 1998 dan dia meninggal sepuluh tahun kemudian, tapi gaya kekuasaan dan birokrasi kekuasaan Soeharto belum sirna sepenuhnya, atau setidaknya jejak atau pengaruhnya masih tampak, meski penentangan terhadapnya kian merebak.

Kesenian kita pasca-Soeharto tak lagi menjadikan TIM dan Horison sebagai satu-satunya kiblat, tapi masih mewarisi ”pola” umum kesenian yang berkembang di masa Soeharto.

Memang, kesenian tak bertugas sebagai pengobral solusi agung dan ampuh terhadap masalah kemasyarakatan. Namun, keterpencilan kesenian dari masalah kemasyarakatan seolah ”dibakukan” di masa Soeharto dan mengakar dalam kesenian kita hingga kini.

Runtuhnya kekuasaan Soeharto bukan tak berpengaruh terhadap politik kesenian kita. Runtuhnya Soeharto dan munculnya gairah Reformasi memang belum menimbulkan ”pelampiasan” yang berarti dalam hal kemerdekaan kreativitas yang ingin menjalankan komitmen sosial sebagaimana yang dulu (di masa Soeharto) ditekan habis-habisan. Namun, bukan berarti kesenian kita kini tak menyembulkan ”kecenderungan baru” komitmen sosial yang berharga.

Sesungguhnya, perbedaan kesenian kita di masa Soeharto dan kini terletak pada bahan penciptaan dan sumber risikonya.

Simbol kemerdekaan kreativitas kesenian kini tak lagi ditandai oleh kekritisan atau perlawanan terhadap kekangan kekuasaan yang memberangus komitmen sosial, yaitu membongkar aib kekuasaan berupa ketakadilan dan penindasan oleh negara. Simbol kemerdekaan kreativitas kesenian kita kini berupa jamahan, potret, atau kritik terbuka terhadap kemunafikan moral, yaitu tabu sosial yang dikukuhi masyarakat, misalnya perkara seksualitas.

Simbol kemerdekaan kreativitas di masa Reformasi itu sangatlah mendasar dan relevan, karena pengekangan kekuasaan Soeharto memiskinkan kehidupan sosial-politik dan juga membangkrutkan nilai kultural seksualitas. Di sinilah letak salah satu dasar yang membuat kehadiran seksualitas bermakna secara artistik dan sosial.

Sesungguhnya, seksualitas dalam kesenian kita kini merupakan simbol kemerdekaan kreativitas dan bentuk politik kesenian yang tak terpencil dari masalah dan gairah kehidupan di sekelilingnya –meski akibatnya ada yang tersenyum dan yang berang! (*)

*) penyair, tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *