Teluk Hayat

Raudal Tanjung Banua
http://www.suaramerdeka.com/

1.
INI sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak hanya bertenaga seekor kuda poni, dan pemandang?an cantik ini tak satu pun ?kan menghalangi; tetapi pada hari-hari tertentu, tak pandang Kamis atau Minggu, ia bisa tak terduga, mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu tampak seperti hendak berbalik ke hulu, membuat siapa pun dicengkram lungkrah ketakutan tanpa bisa menerka kapan semua ini akan berakhir ?angin reda ombak reda, gelombang melipat punggung terjalnya, buih kembali ke sebotol bir….

Namun, meski harapan itu tak terucap dalam doa, hari-hari yang lebih sering tetap saja menyenangkan di mana orang-orang duduk melingkar di kedai terbuka menghadap dermaga, terbahak, dan beberapa tampak menunjuk-nunjuk langit biru laut biru dan karang-karangnya yang biru, seakan penuh rencana; dan persis saat itu perempuan-perempuan teluk lewat dengan rok terkembang selebar payung di udara, di atas kepala mereka; kaki jenjang mereka melangkah ringan ke tepian teluk membawa mangkuk-mangkuk berisi minyak ikan sembilang, kadang mereka menyanyi riang, bola mata mereka setengah pejam seperti bola-bola apung petani mutiara yang menari-nari separo tenggelam di bagian teluk yang tak terlalu dalam; bersamaan dengan itu, satu-dua laki-laki di kedai akan meningkahi seperti gusar untuk akhirnya berteriak, ?Hoii, marilah mampir!? Maka gantian perempuan-perempuan itu terkikik, mempercepat langkah mau singgah, tapi begitu sudah dekat, mereka membelok ke lorong sempit di mana ujungnya menuju ke air, dan bagai camar mandi di pasir, mereka lalu akan kembali melangkah ringan dan bahagia di antara ikan-ikan segar, licin ubur-ubur yang dibuang kembali ke laut, meninggalkan para lelaki setengah berahi terceguk, ngelangut.

Di air surut segerombolan anak-anak tampak menyisir tepi teluk, dengan pantat setengah terbuka dan punggung bungkuk memungut tripang dan ganggang, segenggam dua genggam cukuplah mereka bawa pulang dengan jejak kaki memanjang di pasir hingga hilang di jalan setapak di balik karang-karang hitam lengas, di mana rumah-rumah kecil kelabu orang dirikan dengan dapur yang selalu hangat sebab tripang dan ganggang yang disunting anak-anak mereka cukup menyalakan api di tungku buat dihidangkan sebagai sayur dan camilan, sehingga terasa belaka betapa teluk itu memberi segala yang diingini kepada para penghuni atau siapa pun yang singgah, meski kadang memang ada sekali berapa waktu masa di mana teluk itu seperti seorang dungu, menerima siapa pun yang tiba meski tidak mengenal mereka, tapi begitulah teluk itu ada, terbuka menerima dengan rida, memberikan apa pun yang ada padanya, menadahkan bening airnya untuk berkaca dan layaklah tempat bercermin melihat urat-urat hidup di wajah-wajah yang masih bisa sumringah ketika teraba urat malunya, maka bergumamlah mereka, ?Inilah Teluk Hayat, teluk di mana kami merasa hidup, menyandarkan nasib dan tidak ada alasan meninggalkannya sampai kiamat tiba….?

Ya, Teluk Hayat adalah rahim bumi dengan ceruknya melindungi siapa saja yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan, apakah bajak laut terkutuk atau pelaut suci yang baik hati, semua diterimanya dengan tiada gugatan. Begitulah sampai suatu hari datang tukang ukur dan tukang keker (seperti tukang tenung) menjengkal segala yang ada di Teluk Hayat dan semua orang menerima tanpa curiga, bahkan cuaca di Teluk Hayat tampak sangat bersahabat, sebuah kedungu?an yang entah. Kapal-kapal kayu terus saja datang dan pergi, melilitkan temberang mengo?kohkan andang-andang, mengibarkan panji-panji, bendera dan samanera, berkibar bagai sayap elang putih elang hitam camar putih camar hitam, mengepak tiada henti, begitulah orang di teluk itu mungkin mengenang, sebagaimana mereka mengenang pokok nipah, pohon bakau, popok hantu-blau, batang nibung di darat agak ketinggian dan pohon-pohon tanimbang dengan sulur-sulurnya yang lebat bagai sungut kucing liar, kelewat damai. Pada hari itulah, sebelas tahun silam, di bangun sorga pertambangan. Di sana. Di Teluk Hayat.

2.
TUGASKU hanya melaporkan. Tak ada yang disembunyikan. Ada 43 titik pertambangan. Konon, 2.158 juta ton persediaan. Butuh waktu berpuluh atau beratus tahun untuk menghabiskan itu tambang. Surat-surat telah lama dibuat. Rencana lama dirancang. Reposisi berlanjut. Lobi-lobi tak butuh waktu panjang. Pemerintah lokal butuh dana segar. Pemerintah pusat apalagi. Orang-orang parlemen. Preman dan pembesar, apa bedanya? Maka, kilang didirikan. Para pekerja dikirim. Dana dibagi-bagikan. Seperti siluman. Jadi bancakan. Tak apa. Ada banyak investasi di sini. Semua akan kembali dalam waktu singkat. Dalam kalkulasi politik jangka panjang, sebenarnya tak ada setoran. Hanya sedikit pajak. Bagi yang berhak. Sedikit untuk militer. Lebih sedikit lagi untuk orang sekitar. Dalam waktu singkat, semua berdiri. Nun di Teluk Hayat.

Sebagai juru survei, yang mengukur dan mengeker, aku dan rombonganku hanyalah mencatat apa yang seharusnya dicatat. Titik-titik potensial. Pusat pasti tambang tembaga. Tentu saja aku, sebagaimana orang-orang Teluk Hayat yang kelewat bahagia sehingga tampak jadi dungu, tak punya kekuatan apa-apa untuk mengubah keputusan memakmurkan negara. Hanya bagaimanapun, sebagai juru survei yang baik, aku dan timku merekomendasikan beberapa titik potensial di pinggiran Sungai Kuwalu, yang bermuara langsung ke Teluk Hayat, harus rela tak ditambang, minimal berapa tahun ke depan: sampai ditemukan teknik yang lebih canggih menyaring tailing atau sisa material.

Jika dipaksakan, kataku waktu itu, akan membahayakan langsung warga yang kini hidup terjepit di tepian teluk, terkucil oleh tembok-tembok kota baru pertambangan, seperti benteng raksasa kolonial. Tentu, kami tahu juga, bahwa lambat-laun bencana itu pasti akan tiba, di mana limbah tembaga ke mana lagi mengalir kalau bukan ke laut, melewati anak-anak sungai kecil di selingkar bibir Teluk Hayat. Tapi, dengan tidak meng?alirkannya langsung ke induk Sungai Kuwalu, mungkin kiamat bisa ditunda: diharapkan warga berpindah alamiah, pelan-pelan, ke luar dari lingkaran Teluk Hayat, yang beberapa tahun lalu masih disebut sebagai tempat keramat yang tidak akan diting?galkan sampai kiamat tiba. Tapi, kiamat itu ternyata tiba, dan akan lebih cepat lagi jika tujuh titik pertambangan persis di tepi Sungai Kuwalu digarap. Dan ini harus dicegah.

Mula-mula para pembesar PT Tambera Raya tak bisa terima. Tapi hasrat korupsi ternyata bisa juga melindungi niat ?suci? kami ?meski hanya sementara. Rumusnya mudah: mereka, para pembesar tambang itu, merasa titik-titik potensial di tepi Sungai Kuwalu adalah tabungan pribadi mereka! Diam-diam bisa mereka tambang sendiri, nanti, lalu dijual sendiri lewat jalan belakang, sehingga persoalannya bukan menunggu alat yang canggih, melainkan menunggu waktu yang tepat menelikung dalam lipatan tembok kota yang tebal: kapan si kecil perlu Mercedez terbaru hadiah Valentine Days, kapan si sulung studi ke Penisylvenia supaya ?dalam konteks mutakhir? secerdas seberuntung Obama, dan istri tersayang menganggukkan kepala penuh wibawa dipi?nang partai politik besar dengan nomor urut khusus bagi mesin uang.

3.
?KENAPA mesti Teluk Hayat??
?Entah.?
?Kenapa mesti tambang??
?Tak cukup ikan-ikan, perahu, mutiara dan kerang lokan??
?Aku tak tahu.?
?Sayang, itu teluk yang tenang, asyik buat pakansi. Murah-meriah.?
?Karel, aku jadi beerahi…?
?Ingat seprainya yang bergambar anak lumba-lumba??
?Bukan, ingat pantainya dengan selusin anak lumba-lumba.?
?Ke mana mereka sekarang??
?Jangan mau pusing, Karel!?
?Kenapa marah-marah, Bapa?? Kitorang tidak berhutang, kitorang menawar…?
?Sudah tak zamannya, Ibu. Kitorang berdagang tak mudah dapatkan ikan, teluk keruh, nelayan mengeluh, eh, Ibu juga mesti mengerti.?
?Iya, Bapa?, kitorang mengerti. Tambah seekor ya…?
?Ini, ini…?
?Kenapa perahunya dibalikkan, Bapak??
?Bapak tak bisa ke laut, Nak.?
?Kenapa, Bapak??
?Nanti kau akan tahu, Nak.?
?Keluargaku sakit dan gatal-gatal, apa yang sebenarnya terjadi??
?Datanglah ke Puskesmas besok…?

Itu hanyalah beberapa suara yang sempat terekam di lingkungan Teluk Hayat dan sekitarnya. Ibarat gemersik radio, suara itu kubiarkan, tak kumatikan…

4.
JADI begitulah, ke atas arah barat daya tepian Teluk Hayat, tumbuh sebuah kota tambang yang menjunjung harapan besar kemakmuran ?segelintir orang. Di pal 137 kau akan lihat sebuah plat nama sederhana bertulisan nama kota: TAMBERAHAYAT. Warga lokal, dengan asumsi lebih sederhana menyebut lebih singkat: Tembayat. (Niscayalah para pendatang dari Jawa akan teringat nama sebuah tempat dengan sunannya yang keramat.) Dan masuklah ke gerbang kota (meski ini sukar: Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!), maka akan kau lihat pemandangan yang sungguh tak sederhana. Pemandangan yang mencengang?kan dari infrastruktur dan tata kota, yang bahkan kota-kota di Jawa pun tak bisa menandinginya. Jalanannya lebar dan bersih. Trotoarnya tak kalah lebar, penuh taman, tak ada pedagang kaki lima; sepi saja, tak banyak orang lalu-lalang. Lampu merah di perempatan dilengkapi kamera otomatis entah untuk apa, dan meski sepi, terlebih siang hari, setiap kendaraan akan berhenti patuh bila lampu merah menyala. Tak ada lengking klakson. Orang-orang bertopi baja duduk agung di kendaraan mereka berselempangkan sabuk pengaman, meski tak ada tukang tilang tentu saja.

Mungkin kau bertanya, bagaimana mereka membangun kota ini bagai semalam? Bahkan jika benar fakta sejatinya: sebelas tahun produksi berjalan? Inilah dongeng modern yang tidak segagap dongeng masa silam ?kudengar kisah itu waktu di Yogya: membangun candi semalam tapi gagap oleh fajar dan kukuk ayam. Tidak. Tamberahayat dibangun tanpa takut bahkan jika planet mars jatuh di tempat itu, para perencana kota tanpa kikuk akan berkata, ?Mari kita survei, mana tahu ada tembaganya juga!?

O, kawan, mungkin hanya aku yang kikuk. Aku, si tukang survei (orang-orang Teluk Hayat suka memanggilku ?Si Om Tukang Keker?), tetap merasa gugup sampai kini bahkan hanya dengan membayangkan jalanan kotanya yang tak pernah lagi kutempuh. Maklumlah, kuputuskan tak lagi turun lapangan. Untuk pengembangan kawasan tambang, yang dulu sempat kurintis, kami tak lagi dilibatkan. Mana mungkin perusahaan korporat itu masih mau memakai keahlianku. Aku baru sadar, dulu aku dipakai bukan soal keahlian, tapi karena aku orang lokal. Teluk Hayat masuk ke dalam distrik tempat asalku, hanya saja desaku lebih ke pedalaman, di hulu Sungai Kuwalu. Selesai studi Geologi di sebuah universitas di Jawa, berkat bea siswa dari pastoran, aku bersama istri dan adik iparku membentuk perusahaan partikelir yang meladeni urusan survei, pemetaan dan konsultasi kecil-kecilan. David Kurnick, kepala perencana Tamberahayat, tak mau meluputkan kami untuk ikut terlibat, meski sekadar pelengkap.

Kadang kupikir, kota itu aneh: banyak orang, tapi terasa sepi, hidup dikungkung tembok benteng, hari-hari habis di lorong tambang, dan malam hari, para ekspatariat yang kulitnya seperti kepiting bakar Teluk Hayat dan hidungnya sepanjang moncong todak, berbaur dengan para pendatang berbagai puak, yang seriang dan sedungu orang-orang di kedai-kedai terbuka Teluk Hayat dulu, meneguk minuman terbaik dari botol-botol bermerk luar negeri yang tak akan kau temui di swalayan Pulau Jawa sekalipun, kecuali beberapa botol bekas yang dilemparkan ke Sungai Kuwalu, hanyut terbawa arus ke bawah, dan terdampar di tepian Teluk Hayat yang merana, jika beruntung, anak-anak yang sudah tak punya kegiatan lagi memungut tripang dan ganggang akan ganti berebut memungut botol dan segala benda-benda bekas yang lolos dari pagar kota.

Dalam masa pensiunku sekarang, dengan sedikit sesal betapa perusahaan kecilku ikut membuka jalan bagi kemaruknya Teluk Hayat, sayup-sayup Tamberahayat merasuki tidur siangku: kota yang punya rumah sakit sendiri, toko-toko sendiri, pelabuhan sendiri, kapal sendiri, bank sendiri, mungkin presiden sendiri. Sebuah helipad tengadah ke langit?, menunggu capung besi memuntahkan orang-orang penting yang memualkan itu, dengan dasi berkibaran ditiup angin baling-baling. Tak seorang pribumi pun boleh mendekat. Kau harus punya kartu sendiri dengan pin yang mesti hapal di luar kepala untuk berbagai keperluan. Dan untuk memasuki gerbang kota, kau harus berlaku sebagai orang yang diperlukan. Jika tidak, selusin anjing penjaga akan menghardikmu: ?Pergi rubbish!?

Aku saja yang dulu dikontrak oleh mereka, tidak boleh lagi mendekat. Termasuk ketika aku memaksakan diri menghadap para penjaga untuk menyampaikan keadaan warga yang mulai gatal-gatal, tak dapat ikan tangkapan dan hidup berantakan. Aku menduga, para pembesar telah membuka pundi-pundi uangnya dengan menambang beberapa titik ?terlarang? di pinggir Sungai Kuwalu. Aku tahu rahasia itu. Maka aku sampaikan kepada para penjaga bahwa aku diminta datang oleh Mc Ortiz dan Mr Kinu ?dua orang penting? untuk menyurvei wilayah baru lebih ke atas, ke arah hutan lindung, dan sebagai juru survei aku tak bisa membuang waktu di gardu yang berisik oleh radio panggil. Untunglah, seseorang mengenalku, dan lalu sambil bersungut aku mereka antar ke blok Cemara ?deretan rumah-rumah para petinggi. Mc Ortiz ternyata pindah ke Brazilia ?huh, ce?robohnya para penjaga dungu itu!? sehingga aku hanya bisa menemui Mr Kinu. Satu setengah jam menunggu. Bel melengking. Waktu adalah uang-emas.

?Apa yang kau inginkan Peter??
?Tidak banyak, Mister. O, bahkan hampir-hampir tidak ada.?
?Ada perang suku yang perlu kauamankan? Berapa anggaran??
?Tidak Mr Kinu. Tapi ada sedikit: mohon jangan menambang beberapa titik di tepi sungai, sebab tailing langsung hanyut ke teluk dan warga terancam.?
?Itu tidak benar, Peter. Kami datangkan alat pintar dari Arizon. Lagi pula, sumber air kami yang utama juga berasal dari sungai, tapi kami tak gatal-gatal. Jangan khawatir.?
?Saya dan warga khawatir. Tiga bayi meninggal di Puskesmas. Delapan KK menge?lupas kulitnya, dan seorang buta.?
?Sudah kukatakan, kami bahkan tak gatal, Peter…?
?Sumber air kota ini dialirkan dari sungai bagian atas, Mister. Sementara titik yang ditambang berada arah ke bawah. Tentu saja orang di sini selamat, dan yang di bagian muara menderita. Kecuali kalau Sungai Kuwalu berbalik arah….?
?Cukup, Peter! Saya tak punya waktu.?

5.
DAN aku pun tak punya waktu berpanjang-panjang, sebagaimana alam mungkin juga sudah tak punya waktu. Sudah kukatakan, bukan? Ini sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak bertenaga seekor kuda poni; tetapi pada suatu hari, ia berubah perangainya: mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu akhirnya benar-benar berbalik ke hulu mengirim kembali tailing dan racun tambang sampai bagian sungai yang terjauh, sampai ke sumber air kota Tamberahayat, dan ketika badai reda dan sungai kembali mencari muaranya, racun maut itu telah tersedot ke rumah-rumah warga kota tercinta.

Tak ada yang tahu, kecuali satu kata: wabah…

/Rumahlebah Yogyakarta, Juni 2006-November 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *