U L A R B U N T U N G

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M — yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih suka mengalah — hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu, yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.

Tepat di mana pos kamling kini berdiri dulu tumbuh sebatang cangkring, yang gapuk dan sudah doyong miring ke setapak. Di bawah perakarannya ada rongga yang terbentuk dan menampung menampung buangan air sawah dan bermuara ke irrigais — yang saat itu belum diberi sempadan tembok penguat. Katanya, di sana bersarang ular hitam buntung, bersama ratusan lele yang sesekali ke luar geronggang dan berkecipak bagai menantang dipancing. Tapi tak seorang yang berani menangkapnya, karena ada ular hitam buntung sehingga pohon cangkring itu dianggap wingit — selepas Magrib tidak ada orang yang berani mendekatinya. Dan kalau lele itu mijah, menarikan gairah mau kawin, orang-orang kampung hanya berani memancingnya di siang hari, itu pun dengan melampar umpan berkail dari seberang.

Hasilnya, lumayan untuk lauk makan. Terutama ketika musim penghujan sudah memuncak dan pekerjaan di sawah dan ladang tebu tuntas, atau saat kemarau beranjak memuncak saat sawah dipusokan dan daun tebu di ladang baru mengering sebagaian — sebagai pertanda siap dikoyak menejalang panen lima sampai enam minggu lagi.
* * *

SAMPAI sekarang orang-orang kampung selalu datang ke saluran. Menurunkan tangga kayu yang cuma memiliki dua undakan ke saluran, menyandarkan pada miring sempadan berlepa beton kering dengan permukaan paruh pecahan batu kali, lantas si bersangkutan menurunkan celana dan bertengger pada undakan pertama atau kedua — tergantung permukaan air — sambil tangannya memegang pathok yang ditancapkan di sepanjang irigasi. Pathok yang miring — di sepanjang saluran banyak terdapat pathok semacam itu — sedang pathok yang tegak dan biasanya jauh dari bibir irigasi khusus untuk mengikatkan tali penyancang kambing.

Dan karena di saluran itu banyak orang yang lewat, ke sawah, mengecek kambing atau kebelet, maka [biasanya] kaum wanita membawa payung yang kemudian dikembangkan dan dijadikan gelembung pengaling ke arah jalur inspeksi irigasi pengairan selebar 2 meter. Tapi pantat mereka terlihat dari mana-mana, dan orang-orang kampung terkadang nongkrong di jembatan — dulu hanya batang kelapa dan cangkring ranggas — sambil melihati setiap pantat dengan wajah manis si pemiliknya disembunyikan di balik payung — bagai burung onta.

Sekarang terpikir, mitos ular hitam buntung itu mungkin hanya dicetuskan kaum ibu sebagai sindiran pada remaja dan bapak yang suka mengobrol di bawah cangkring ranggas di jembatan batang kelapa. Sebuah makian sayang pada fakta mata keranjang kaum lelaki kampung, dan sekaligus satu kesempatan resmi bagi mereka buat unjuk kekuatan menguji pesona seksual mereka dengan mempertontonkan bentuk bulat utuh dan warna kulit pantat mereka. Memang. Di kampung ibu-ibu berbicara tentang sedia payung sebelum bab — bukan sebelum hujan. Dan sepanjang sore wanita kampung terkadang bagai sengaja bergilir bab. Kecuali yang sudah tua, yang mengalah dengan membiasakan diri setor di pagi buta atau malam hari. Dan banyak orang yang sengaja memberi tahu jadwal bab dari para perawan kampung, agar mereka bisa bergiliran mengawasi dan melihat pantatnya. Kemudian bertukar inpormasi, mengadu fantasi, dan saling mendorong untuk mendekati si pemilik dan berbicara tanpa pengaling.

Dulu, kata para orang tua, orang kampung masih senang mandi di saluran irigasi itu, terutama di musim kemarau ketika air di sana begitu bening dan terasa masih hangat dalam hamparan pesawahan yang dingin berangin. Sekarang tidak ada lagi yang berani mandi di saluran. Maklum, sebelum sampai di kampung kami saluran itu melalui banyak kampung, yang menggerombol jadi kesatuan kota [kecamatan], di mana mereka setia dengan kultur agraris bab di bibir saluran, dan sekaligus sampah rumah tangga dan segala sisa dibuang ke saluran secara terus terang. Lagi pula, rezim otoritarian Orba mengubah kebiasaan agraris alami itu jadi gaya artifisial perkotaan, di mana setiap rumah dipaksa harus mempunyai sumur, kamar mandi dan jamban pribadi, via program Lomba Desa atau planologi kota kecil Adipura — program yang menuntut partisipasi penuh warga. Dengan program pelebaran jalan tanpa kompensasi ganti rugi, dan celakanya pelebaran dan aspalisasi jalan kampung itu diklaim sebagai — selain ancang-ancang kampanye yang berikutnya — manifestasi syukur rezim yang selalu mendominasi DPR/MPR dan didukung rakyat, lewat pemilu semu.

Sampai saat itu: sebagian dari kami masih setia bertengger. Tapi pelebaran dan aspalisasi itulah yang menyebabkan pohon cangkring ditebang — bersamaan dengan jamban umum dibangun dan tiap rumah dipaksa berjamban dengan gerakan arisan septic tank. Tak ada yang berani menebang sesungguhnya, sehingga kamituo terpaksa turun tangan menebangnya. Kini pohon itu hilang, bekasnya ada di tengah jalan — gua lele musnah diuruk, lele-lele ditangkapi dan digoreng atau di-bothok, tapi ular hitam buntung tidak ada –, tapi tiga bulan kemudian kamituo itu sakit parah dan meninggal. “Itulah arti peringatan orang tua,” kata orang-orang kampung — dan Syukrun, yang halaman rumahnya tergusur, sinis menyebutnya sebagai pahlawan pembangunan, dan malah mengusulkan agar nama jalan utama kampung kami itu Salkang — penyesalan hadir belakangan. Tapi kami segera melupakan sinismenya itu, terutama karena kami harus punya pos kamling RT, yang segera saja dibangun di pinggir jembatan, karena kini kami punya pagar beton jembatan untuk duduk berjuntai sampai malam, untuk mengobrol dan tetap mengintip pantat yang membulat separuh bola dan lebih putih dari dari wajah manis dialing payung.

Kini kalau dipikir: Kami akrab sebagai komunitas guyub sekampung karena saling kenal wajah dan pantat masing-masing — seperti aku hapal pantat istriku sejak kanak-kanak, meski baru di sepuluh tahun tahun terakhir ini itu sah diremas.
* * *

ZAMAN Orba selalu ada instruksi resmi untuk melakukan jaga malam, ronda, terutama kalau mau ada pemilu, sidang umum, atau cuma gertakan tentang gerakan subversif-seperatisme yang menyusup ke daerah, sehingga pos kamling selalu terisi dan orang-orang yang tak kabagian giliran jaga terkadang duduk menemani di pagar jembatan — sampai jam 23.00, setelah bertengger. Mengobrol. Main catur. Dan sejak sepuluh tahun terakhir ini tidak ada lagi perintah semam itu, dan kalaupun ada orang tidak segan menghindar menolak halus dengan segala alas an tanpa takut dituduh memberontak pada negara. Kini pos kamling dan jembatan jadi tempat remaja yang tidak pergi menggarap sawah, menjadi buruh tani atau menggarap ladang tebu, dan ke pabrik di J, S, dan B. Mereka berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi sampai pagi, menenggak arak oplosan, dan berteriak-teriak mabuk — bahkan muntah.

Terkadang kami merasa sangat terganggu tapi tak tahu harus berbuat apa lagi –karenanya terpaksa membiarkannya bernyanyi, mabuk, berteriak-teriak dan muntah. Mereka hanya anak yang lepas SMP dan ada satu dua yang lepas SMA, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah mereka lulus dan orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan mereka. Sedangkan kerja, yang cuma dengan mengandalkan tenaga otot tanpa ketrampilan, di kampung dan kota kecamatan C tidak selalu ada — selalu sudah diambil yang lebih tua dan yang sudah menikah. Masa luang panjang menganggur itu tidak bisa ditekuk dan lunas dengan tidur sepanjang siang — mereka terjaga di malam hari, terpaksa kembali berkumpul, menenggak arak oplosan dan bernyanyi menyerukan harapan, amarah, sumpek dan putus asa.

Mereka kehilangan motivasi karena kini tak lagi bisa menandai pantat perawan dibalik payung — karena tiap rumah tangga mapan di kampung punya jamban pribadi — sementara banyak gadis kampung kami menjadi babu atau buruh pabrik di J, K, B, M, atau S. Dan merekapun terus bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Di sepanjang tahun yang akan cuma bermakna sia-sia sepanjang sisa umur dan karena ulah mereka itu tak lagi membangkitkan rasa marah, malahan makin hari semakin mengiris perasaan — karena aku membayangkan anak lelakiku yang kini berusia 8 tahun itu hanya akan bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Seakan-akan mereka hanya dilahirkan untuk bernyanyi — senantiasa berteriak ke tengah kehampaan gurun pasir yang sesak penuh fatamorgana. Ya!***

*)Pengarang E-Mail: benisetia54@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *