Urgensi Sastra ke Jantung Budaya

Mahmud Syaltut Usfa*

Berita

Dunia sastra masih kerap dipandang sebagai dunia khusus yang berurusan dengan imajinasi belaka. Lebih miris lagi, masih adanya pandangan sebagian orang yang mengklaim orang-orang yang berkecimpung di dunia sastra tidak jelas masa depannya.

Stereotip tersebut begitu lekat di persepsi masyarakat. Sampai-sampai orang tua merasa cemas akan masa depan anaknya apabila bergelut di lingkungan sastra. Mau jadi apa? Kemana nanti masa depannya? Bukankah lebih baik belajar komputer yang jelas ke dunia kerja!!

Sastra kerap dikebiri sebagai dunia khayal yang tidak akan mampu memberi sumbangsih apa-apa bagi perkembangan intelektual dan kepribadian anak. Lebih-lebih untuk mencari kekayaan, jangan terlalu berharap!! Memillih hidup dengan berkarya di sastra sama halnya dengan siap menjadi orang miskin!!

Tantangan bagi kita yang aktif berkarya di dunia sastra adalah memberi pemahaman dan penyadaran kepada para orangtua. Sastra bukan sekadar produk imajinasi sampah. Karya seni dalam sastra tidak akan mampu diukur dari sisi materi. Karya sastra adalah sebuah sentuhan imajinasi yang santun kelas tinggi.

Kelembutannya mampu menyentuh ruang hati. Sehingga mampu memberikan sumbangsih moral positif bagi perkembangan kepribadian anak. Tutur bahasa yang santun dan lembut bisa membentuk pola pikir dan kepribadian anak dalam bersikap di pergaulan global.

Di era informasi yang liar seperti sekarang ini, kita, sangat sanksi dengan munculnya berbagai karya seni yang sangat digemari oleh para remaja. Seperti munculnya grup-grup band dengan dendangan lagu-lagunya. Karya-karya mereka sangat cepat melekat pada pola pikir, imajinasi, bahkan kognisinya. Sehingga, syair-syair lagu mereka gampang diterjemahkan dalam kehidupan keseharian. Bahkan, begitu gampang memaknai arti kebebasan hidup hanya berdalil dari syair lagu favoritnya.

Dalam sastra hampir tidak ditemukan karya liar, walau imajinasi dalam karya sastra tidak bisa dibatasi atau dikotak-kotak. Karena sastra bersumber dari budaya serta menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan norma agama. Bukan muluk-muluk bahwa sastra mampu membendung arus budaya global negatif. Salahsatunya hanya dengan sastra suatu daerah akan mampu memiliki dan menguatkan jati diri budayanya kembali.

Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah, masih banyaknya karya sastra di Kepri cuma bisa berkoar di atas kertas. Akses sastra hanya sebatas berbicara di media (maaf, itupun karya penyair yang memiliki akses di media saja). Tapi dalam langkah kongkrit, masih jauh dari harapan. Jangankan menggedor masuk dalam sendi budaya daerah, untuk diterima oleh masyarakat saja masih kerepotan.

Di Batam secara khusus, membutuhkan langkah-langkah kongkrit dan bijak oleh para pelaku sastra. Secara tegas, mau tidak mau penggiat sastra harus berjibaku memasukkan karya sastra sampai merasuk ke jiwa masyarakat.

Cara yang paling sederhana namun agak rumit, adalah memasukkan sastra ke dalam kurikulum sekolah. Mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Coba lihat sekarang ini, anak-anak SD hampir tidak menyentuh pelajaran sastra. Bahkan, ketika diajari pantun dari gurindam 12 saja anak-anak lebih respon dengan pantun-pantun gaul yang biasa mereka dengar di televisi.

Masyarakat masih kerap memandang karya sastra hanyalah khayalan pengarang yang penuh kebohongan sehingga timbul klasifikasi dan diskriminasi. Padahal karya sastra memiliki pesona tersendiri bila kita mau membacanya. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik dan budaya dalam bingkai moral dan estetika. Dalam hal ini, guru-guru sebagai pendidik di sekolah tidak bisa dijadikan kambing hitam, karena faktanya, kurikulum pendidikan menjadi pedoman mengajar anak didik sangat kurang memberi peluang untuk menyemai apresiasi sastra anak.

Tidak salah kiranya jika mencontohkan, sejak SD saya sudah mendapat pelajaran sastra dari guru bahasa Indonesia. Sehingga nama-nama sastrawan nasional dan beberapa karyanya sangat melekat. Ketika itu, saya mengira sastrawan seperti Taufiq Ismail, WS. Rendra, Supadi Djokodamono dll sudah meninggal bersama para pahlawan bangsa, (maklum saya lahir dan sekolah SD di Pulau Bawean, suatu daerah terpencil di Kabupaten Gresik – Jawa Timur). Jadi, akses informasi ketika itu sangat terbatas. Sehingga mengenal sastrawan-sastrawan tersebut hanya dari pelajaran di sekolah.

Tapi, ketika kuliah di Kota Malang, kebetulan aktif di teater,ada simposium sastra nasional di kampus selama empat hari. Saya dan teman-teman mendapat undangan mengisi pementasan tampil di hadapan mereka pada acara pembukaan. Jujur saya terkejut, ternyata nama-nama ketika di SD saya kenal lewat pelajaran sastra dan dikira sudah meninggal hadir di situ!. Wah…luar biasa, ini semacam reuni kognisi yang sudah terkubur. Tentu saja mereka tidak tahu bagaimana perasaan saya saat itu, karena ketika bertemu hanya sebatas ngobrol biasa. Kiranya sekarang sulit anak-anak mengenal sastra sedalam itu, karena memang tidak diperkenalkan.

Itu hanya satu contoh terjadinya transformasi kognisi dan imajinasi akan sastra. Begitu kuatnya karya mereka di pikiran ketika itu masih anak-anak. Transformasi tersebut mampu membetuk suatu sikap, kepribadian, daya kognisi, dan imajinasi dengan tidak menghilangkan eksistensi budaya daerah sedikit pun.

Sungguh menyedihkan, jika kita memperhatikan soal-soal ujian di sekolah-sekolah menengah berkaitan dengan sastra. Masalah-masalah remeh seperti misalnya di mana penyair Chairil Anwar dilahirkan dan apa salah satu judul novel karya Marah Rusli selalu dijadikan soal ujian, betul kan?! Padahal, ketika di SMP saya sudah hafal betul.

Di Kepri (lebih khusus di Batam) belum pernah menemukan bahan ujian yang mengharuskan murid di sekolah-sekolah kita menghafal satu bait puisi karya Chairil Anwar. Atau mengharuskan murid membuat komentar pendek tentang karya sastrawan daerah, misalnya. Bukankah kita memiliki penyair-penyair handal, seperti Rida K. Liamsi, Hasan Aspahani, Ramon Damora dll yang konon karyanya sudah menasional.

Batam dengan budaya melayu, seharusnya sastra bisa masuk ke jantung eksistensi budaya melayu. Karya sastra tidak cukup sekadar diperkenalkan lewat kegiatan formalitas saja. Tapi harus menjadi ?darah? mengalir ke pikiran dan imajinasi anak-anak lewat jantung budaya.

Masuknya sastra dalam kurikulum, tidak mustahil pengenalan akan etika budaya daerah akan merasuk ke jiwa anak-anak. Sayangnya, pada umumnya yang selalu dikambinghitamkan adalah guru yang tidak menguasai sastra, murid-murid tidak apresiatif dan buku-buku penunjang tidak tersedia di sekolah. Padahal, pembelajaran sastra tidak perlu dipermasalahkan jika seorang guru memiliki strategi atau kiat-kiat yang dapat dijadikan sebagai alternatif.

Perlu diingat!! Karya sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia pendidikan dan pengajaran. Sebab itu sangat keliru bila dunia pendidikan selalu menganggap bidang eksakta lebih utama, lebih penting dibandingkan dengan ilmu sosial atau ilmu-ilmu humaniora.

Percayalah!! Dari dulu sampai sekarang karya sastra tidak pernah pudar dan mati. Dalam kenyataan karya sastra dapat dipakai untuk mengembangkan wawasan berpikir akan budaya daerah dan bangsa. Karya sastra dapat memberikan pencerahan pada masyarakat modern.

Bagaimana mungkin, generasi bangsa di Kepri akan memiliki apresiasi yang tinggi terhadap sastra jika sejak kecil tidak memperoleh pendidikan yang baik?

Dalam jeratan kurikulum pendidikan yang cenderung memperbodoh anak didik di sekolah, khususnya yang berkaitan dengan apresiasi sastra, bangsa kita benar-benar menjadi bangsa yang miskin spiritualitas, sehingga mudah melakukan hal-hal nista tanpa rasa bersalah atau malu. ***

*) Penulis dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *