Korrie L Rampan: Cinta Sastra Sepanjang Masa…

Amalia Husnul A*
http://www2.kompas.com/

SEJAK usia sembilan tahun ingin menjadi pujangga. Korrie Layun Rampan kecil tak pernah bercita-cita layaknya anak kecil seusianya, yang ingin menjadi presiden, menteri atau gubernur. Kini, dunia sastra menjadi hidupnya sampai mati…

CUKUP sulit untuk dapat menemui sosok Korrie. Bukan karena ketidakramahan dirinya ataupun birokrasi yang berbelit tetapi seabrek kegiatannya yang membuat Korrie sulit untuk sejenak menyita waktunya hanya demi sekadar berbincang dengan pria yang telah puluhan tahun menekuni dunia tulis menulis. Beruntung kemudian, pria yang kini juga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Barat sempat mampir di Balikpapan.

Lagi-lagi saat ia bersentuhan dengan dunia tulis-menulis Korrie, kini sastrawan, jurnalis juga politisi. Lantas apa sebenarnya dunia bapak enam orang anak ini? Tanpa ragu, Korrie mengatakan dunia, cinta dan hidupnya adalah untuk sastra. Seperti cita-citanya dulu.

Cintanya pada dunia sastra telah bersemi sejak ia masih kanak-kanak. Adalah Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Prof Dr Hamka yang menumbuhkan benih cinta dalam jiwa Korrie kecil. Cinta yang membuatnya hanya ingin menjadi pujangga dan bergeming dengan aneka jabatan lain yang menyediakan berbagai kemewahan
dalam hidup.

“Nggak tahu, saya terpesona betul dengan cerita itu. Sampai kemudian saya berpikir, kalau saya menulis, buku saya dibaca orang maka semua orang akan tahu. Sama sekali saya nggak pernah mikir uangnya,” tuturnya pelan dan bersahabat.

Suara yang riuh rendah di sekelilingnya, tak membuat Korrie kehilangan sedikitpun keramahan untuk menjawab berbagai pertanyaan. Meski sesekali, Korrie tetap harus melayani berbagai keperluan lain, namun satu persatu disambutnya tetap dengan keramahannya.

Tanpa uang dan tanpa dukungan satu orangpun, Korrie tetap masih menyimpan hasratnya menjadi pujangga. Cintanya bahkan tak pudar ataupun lekang dimakan waktu. Tanpa restu orangtua, tidak membuat Korrie surut. Namun, bukan berarti Korrie tidak menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya.

Dua fakultas ekonomi dan sastra pun dilakoni demi bakti seorang anak dan memuaskan gairahnya pada cinta masa kecilnya. “Keluarga saya, semuanya pegawai negeri. Nggak ada sama sekali yang mendukung saya di dunia sastra. Kuliah di ekonomi itu untuk menyenangkan hati orangtua,” katanya.

Tanpa menyerah, Korrie menyelesaikan kedua jurusan yang berbeda itu. Ia pun sempat menjadi direktur di sebuah perusahaan di ibu kota, namun bukan di sanalah kepuasannya. Ia tetap menggeluti dunia sastra. Mulai dari cerpen, novel, hingga puisi.

Karya pertamanya, Matahari Pingsan di Ubun-ubun dirilis tahun 1974. Namun, yang membuatnya teguh menulis adalah Upacara. Karya Korrie ini mengantarkannya meraih novel pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976.

“Dari sinilah saya mulai bersungguh-sungguh menulis. Bukan berarti sebelumnya saya tidak pernah serius. Tapi, saya kan malu kalau setelah itu, tulisan saya ditertawakan orang,” tuturnya. Karya demi karyanya mengantarkan Korrie menjadi salah satu sastrawan Indonesia.

“Semua orang tahunya saya ya di dunia sastra. Teman-teman saya malah mentertawakan saya jadi anggota dewan,” katanya.

Melalui karya-karyanya, Korrie pun membuktikan dirinya dapat hidup layak dari dunia sastra. Ia juga dikenal karena sastra. Sampai kapan Korrie ingin mengabdikan hidupnya pada sastra? “Sampai kapanpun, saya pengin menulis. Sampai mati…,” katanya.

2008, Siap Rilis Empat Buku
Menulis bagi Korrie Layun Rampan bukan melulu novel, cerpen ataupun puisi. Tetapi, dunia jurnalistik juga diakrabi Korrie. Kariernya sebagai wartawan dimulai tahun 1978. Korrie juga menjadi editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta.

Pada 2001, Korrie mendirikan surat kabar di kampung halamannya, Sentawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Meski untuk sementara koran ini vakum lantaran kesibukan Korrie. “Sastra dan jurnalistik itu tidak
pernah ada pensiun. Nanti pasti saya hidupkan lagi,” katanya.

Selain itu, Korrie juga tercatat sebagai salah satu pengajar di Universitas Sendawar. Di tengah segala kesibukannya, Korrie masih menyempatkan menulis. “Setiap hari saya pasti menulis. Tidak setiap hari satu. Malah mungkin satu hari belum tentu jadi satu
tulisan. Bisa hanya satu kalimat. Pokoknya, dalam satu hari saya harus menulis,” katanya.

Setiap hari, ia berangkat tidur baru sekitar pukul dua atau tiga dini hari. Namun, tepat pukul lima pagi, Korrie bangun dan melakoni seluruh aktivitasnya. Tekadnya untuk terus tetap dapat menulis menuntut kerja keras. Namun, ia menikmatinya. “Sastra itu
menyenangkan. Bukan kerja berat,” katanya.

Tahun depan, Korrie telah menyiapkan empat buku yang siap dirilis, Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia, Kutai Barat dalam Sastra Indonesia, Balikpapan Kota Tercinta dan Balikpapan dalam Sastra Indonesia. Ia memang senang mengumpulkan penulis-penulis di Kaltim.

“Kalau nggak begitu, orang kan nggak tahu dunia seni kota. Dan juga supaya para penulis ini punya keberanian. Jangan cuma berani
protes saja,” katanya.

Jalan-jalan di Politik
Korrie tidak pernah bermimpi akhirnya memasuki ranah politik dalam hidupnya. Namun, perjalanan waktu membawa Korrie Layun Rampan menjadi salah satu wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kutai Barat.

Mau tak mau, Korrie pun ‘bercinta’ dengan politik praktis. Jika Hamka membuatnya terpesona hingga ingin menjadi pujangga. Maka, adalah sosok Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadikan Korrie melirik pada dunia politik.

“Saya pernah mewawancarai SBY (panggilan akrab presiden RI sekarang, red). Saya melihat, orangnya cerdas. Jadi, saya tertarik ikut serta dan membangun partai ini dari awal,” katanya. Itulah awal keterlibatan Korrie pada politik praktis.

Namun, ini bukan dunia yang menyenangkan baginya. “Saya hanya jalan-jalan saja kok di politik. Meski saya mengajar ilmu politik tetapi politik praktis itu ternyata sangat berat. Beda dengan sastra. Itu sangat menyenangkan,” katanya.

Akibat perselingkuhannya dengan dunia politik, Korrie pun terpaksa menelantarkan dunia sastra. “Sedih juga. Banyak tulisan saya yang terlantar. Padahal rasanya pekerjaan di politik tidak membantu saya berpikir kreatif. Meski saya juga harus menyempurnakan berbagai Perda yang juga berkaitan dengan tulis menulis, tapi kesannya berbeda,” katanya.

Tak heran, jika di sela-sela kegiatan politiknya, Korrie masih juga menulis. “Anggota dewan kan 60% harus ke lapangan. Jadi, di sela-sela itu, saya menulis. Kalau misalnya kunjungan ke luar daerah, saya pilih di kamar saja dan menulis. Saya mau jalan kemana? Kan saya sudah sering jalan. Saya sudah pernah kemana-mana. Menclak sana menclok sini. Jadi, ya mending saya menulis saja,” katanya.

Lantas, sampai kapan Korrie masih akan terus berkecimpung di politik? “Saya nggak tahu. Kita lihat saja situasi dan kondisinya nanti,” jawabnya.(*)

BIOFILE
Nama lengkap: Korrie Layun Rampan
Tempat, tanggal lahir: Samarinda, 17 Agustus 1953
Orangtua: Paulus Rampan dan Martha Renihay
Jabatan: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kutai
Barat

Organisasi:
-Penasihat Budaya Jaringan Seniman Independen Indonesia (JSII)
– Persada Studi Klub

Karya karyanya antara lain :
– Matahari Pingsan di Ubun ubun (1976)
– Upacara (1978, novel pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta)
– Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985, meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1985)
– Pembicaraan Puisi Indonesia (6 jilid)
– Manusia Langit (1997)
– Api Awan Asap (1999)
– Perawan (2000)
– Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000)
– Leksikon Susastra Indonesia (2000).

*) Laporan Wartawan Tribun Kaltim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *