Wariskan Spirit Perdamaian

Fenny Aprilia*
http://www.jawapos.com/

”Kita lahir dan kelak mati. Semua akan merasai sendiri. Kesendirian kita di dunia ini, mungkin tak berlangsung selamanya. Mungkin kebebasan bisa menghilangkannya…”

Demikian salah satu renungan Rachel Corrie dalam buku ini. Renungan itu tak muncul secara tiba-tiba, tetapi lewat suatu proses nan panjang; seumur hidup Rachel. Seusai membaca buku ini, kita pun akan menggangap bahwa Rachel selalu menghidupkan nalar empati dalam jiwanya.

Rachel berangkat ke Rafah atas prakarsa International Solidarity Movement (ISM). Di wilayah konflik Israel-Palestina yang berbatasan dengan Mesir itu, sang maut menjemputnya.

Sore hari, 16 Maret 2003, iring-iringan tank dan buldoser tentara Israel memenuhi jalanan di Rafah. Mereka bersiap menggusur rumah warga Palestina. Ketika satu buldoser jenis Caterpilar D-9 bergerak menuju sebuah rumah, Rachel menghadangnya seperti seorang polantas menghentikan mobil di jalan. Rachel berteriak ”Stop!” berulang-ulang akhirnya meregang nyawa setelah digilas rantai baja buldoser.

Goenawan Mohammad dalam pengantarnya dalam buku versi Indonesia itu mengatakan bahwa kematian bukan sesuatu yang harus disesali. Setiap kita yang ”ditinggalkan” bisa menyerap pelajaran penting dari sebuah kematian. Rachel tidak meninggal dengan kesia-siaan, sebab catatan harian yang ditulisnya sejak duduk di taman kanak-kanak bisa membuat orang lain tahu tentang cara mengembangkan empati, berpihak pada yang lemah dan menegakkan perdamaian lewat jalan tanpa kekerasan.

Rachel sama seperti individu lain di dunia ini. Ketika membaca catatannya, kita bisa meresapi kecemasan, kesedihan, dan kebahagiaan serta mimpi yang kerap mendatanginya dari waktu ke waktu. Si bungsu dari tiga bersaudara itu menuliskan rona hatinya dalam esai dan puisi yang bisa membuat kita tertawa dan murung. Bahkan, sejumlah catatan Rachel di masa kanak-kanak mampu membuat kita terperangah sebab permenungan yang dilakukannya sungguh luar biasa.

Ketika berumur 12 tahun, saat Perang Teluk sedang berkecamuk, ia telah menggumpalkan sebuah kesimpulan yang memukau dalam esai protes bertitel Kepada Tentara. Dia mengatakan, ”Perdamaian dan kerja sama adalah prioritas cita-citaku.”

Rachel juga larut dalam percintaan dengan seorang lelaki bernama Collin. ”Cinta eksklusif” itu tak membuat Rachel tercerabut dari kenyataan yang melingkupinya sehari-hari. Ia aktif memprotes kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang merugikan alam dan kebijakan diskriminatif yang menghalalkan penyerbuan ke negara lain. Semua protes Rachel ditulis dalam untaian kalimat yang menghentak dan indah. Rachel telah menemukan cita-citanya ketika masih kecil, yakni menjadi penyair.

Ya, Rachel adalah penyair yang menyulih kata-kata dari fakta di sekitar yang membuatnya sedih dan gembira. Ia seolah tak pernah berhenti untuk menajamkan analisanya mengenai interaksi positif antarmanusia melalui kerja-kerja kemanusiaan. Sejak kuliah, ia telah aktif di pusat krisis universitas untuk mendengarkan keluhan hidup teman-temannya dan ia juga menjadi garda terdepan dari organisasi perdamaian yang bermarkas di Olympia. Ia aktif menggalang gerakan tanpa kekerasan sejak jauh-jauh hari sebelum memutuskan berangkat ke Palestina. Sebuah keputusan yang sangat dicemaskan oleh orang tuanya.

Melalui catatannya, Rachel seolah membuktikan bahwa stigma yang melekat pada suatu kelompok masyarakat hanya bisa dihilangkan ketika pembauran terjadi tanpa syarat. Masyarakat dunia yang terkotak-kotak berdasarkan ideologi, agama dan ras gagal mengembangkan empati karena lebih mengedepankan kecurigaan dan ketakutan.

Manusia memiliki kebebasan untuk berhubungan dengan siapa pun di muka bumi. Rachel membuktikan bahwa keterbukaan, pengembangan empati, dan mengedepankan dialog bisa membuat ”proyek perdamaian” di muka bumi bukanlah mustahil.

Rachel menajamkan empati dan prinsip damai tanpa kekerasan tak hanya lewat bergaul dengan sesama manusia, namun juga melalui buku. Benda inilah yang tampaknya menggiring pemikirannya untuk ikut dalam gerakan pasifis (pencinta kedamaian). Selain itu, kegiatan menulis –entah itu berupa puisi atau esai– yang dilakoni sejak kecil merupakan ajang untuk merefleksikan kenyataan hidup yang berseliweran di depan matanya.

Buku ini tak hanya menyoal sebuah kematian. Tetapi lebih dari itu, kita bisa belajar bahwa mendidik anak agar mencintai perdamaian ialah pekerjaan mulia bagi kepentingan dunia. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi damai adalah benih yang akan menjadikan dunia sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni. Orang tua Rachel telah memperkenalkan perbedaan sejak ia masih kecil, yakni ketika rumah mereka dijadikan home stay bagi siswa yang berasal Jepang dan Rusia dalam progam pertukaran pelajar.

Rachel telah membuktikan bahwa komunikasi merupakan hal penting untuk meluaskan gerakan perdamaian. Selama berada di Palestina, ia kerap mengirimkan email untuk dipublikasikan koran lokal di Olympia. Tulisan-tulisan Rachel turut berkontribusi dalam menggugah kesadaran warga Amerika Serikat agar mendesak pemerintahnya untuk menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian di dunia.

Rachel menggunakan kebebasan untuk menebarkan empati, mewujudkan perdamaian dan merekam peristiwa melalui kegiatan menulis –hingga buku ini menjadi warisan darinya untuk warga dunia. Walau akhirnya, ia tak kuasa menghadapi sekelompok manusia yang lebih memilih memanfaatkan kebebasan untuk melakukan aneksasi, membunuh dan merugikan pihak lain. Kematian Rachel kiranya membuktikan bahwa kekerasan tak pernah pantas dijadikan pilihan untuk menyulam perdamaian di muka bumi. (*)


Judul Buku: Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendirian)
Penulis: Rachel Corrie
Penerjemah: Alpha Sally Arifin dkk.
Penerbit: Madia, Jakarta
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal Buku: 560 Halaman

*) Alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *