Bahan Bakar Sastra

Eriyandi Budiman
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Tragedi lumpur Lapindo, penyerangan terhadap aliran keagamaan yang berbeda, hingga beragam tragedi yang menimpa bangsa Indonesia lainnya, berbaris seperti jutaan kendaraan bermotor di jalur “leher botol”. Memadat. Beragam kejadian aneh hingga yang remeh-temeh ini, menjadi menu baru bagi pengamatan sosiopsikologis, yang membutuhkan pengamatan ekstra tinggi.

Bagi dunia sastra, yang banyak berkubang dengan persoalan-persoalan tragis, beragam kejadian itu, tentu menjadi bahan bakar, yang dapat memompa semangat berkarya. Dalam artian, untuk turut menjadikan beragam kejadian itu, sebagai pintu masuk imajinasi, sekaligus memompakan semangat kelahiran moralitas baru.

Bahan bakar ini, tentu bukan untuk sekali dilahap kemudian melahirkan karya. Perlu perenungan panjang dan mendalam, agar karya yang dihasilkan benar-benar berkualitas.

Kumpulan cerpen Manusia Kamar, Saksi Mata, hingga novel Negeri Senja karya Seno Gumira Adjidarma, merupakan contoh karya yang berbahan bakar fenomena sosial di Indonesia, yang diolah menjadi karya-karya berkualitas.

Bahan bakar sastra, memang dapat dibuat secara implisit maupun eksplisit, tergantung selera eksplorasi masing-masing sastrawannya. Namun kecenderungan karya yang implisit atau metaforistik, memang lebih dominan. Sejak tahun 60-an, karya-karya seacam ini memang menguat, lalu meledak di tahun 70-an, lalu menguat kembali pada generasi 80-an hingga 2000-an. Hal ini memang sejalan dengan perkenalan dengan bahan bakar sastra yang lebih luas, selain karya-karya sastra global yang menyerbu pelataran ranah perbukuan sastra di tanah air. Naiknya jumlah sastrawan kelas menengah, dalam artian melek baca dan tidak gagap teknologi, juga menguatkan gaya-gaya metaforistik yang makin beragam dalam dunia sastra kita.

Para sastrawan muda kini mempunyai pandangan yang lebih luas, serta pergaulan dalam memahami karya-karya yang lebih ruwet, kompleks, serta multi disiplin. Bisa dikatakan, bahan bakar yang mereka cerna juga kian kompleks dan akseleratif. Tentu karena bahan bakarnya juga kian akseleratif. Jumlah penyakit hingga jenis makanan saja bertambah, apalagi problem-problem sosial dan psikologis. Kelahiran sastra cyber, percakapan SMS, bentuk-bentuk e-mail, kelahiran novel grafis, dan lain sebagainya, merupakan cara ungkap baru dalam mengikuti akselerasi bahan bakar sastra itu. Cara itu, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi budaya, bagaimana karya-karya sastra terkini, dapat masuk ke wilayah pemahaman publik barunya pula. Sederetan publik yang diasumsikan hidup dalam masyarakat postmodern, yang rakus dalam mengonsumsi apa pun yang bernama produk baru.

Sayangnya, karya-karya dengan kecenderungan baru ini, baru terserap di tataran yang tinggi, dan belum menyebar ke berbagai pelosok. Hanya beberapa toko buku besar serta toko buku alternatif, dan sedikit perpustakaan di kampus-kampus, yang memajang karya mereka.

Padahal, karya-karya seperti ini membutuhkan daya dukung distribusi yang kuat. Ini disebabkan banyak karya-karya sastra diterbitkan penerbit-penerbit kecil, yang akses distribusinya lemah. Sedangkan beberapa penerbit besar, terutama yang juga mempunyai jaringan toko buku, hanya berada di kota-kota besar. Sehingga bahan bakar yang telah mendorong kelahiran sastra-sastra baru ini, menumpuk di gudang atau terbanting oleh dorongan buku-buku lain yang kian banyak. Karena umumnya, toko besar mempunyai jangka waktu tertentu untuk memajang sebuah buku. Sedangkan toko-toko kecil lebih banyak memajang karya-karya pop atau daur ulang cerita rakyat.

Tumbuhnya kembali pengadaan buku oleh pemerintah, baik lewat dana BOS, Bapusda (Badan Perpustakaan Daerah), serta DAK (Dana Alokasi Khusus), belum dapat sepenuhnya menyalurkan karya-karya bermutu ini ke perpustakaan. Dana BOS bisa kita maklumi karena hanya membeli buku pelajaran. Namun pada dua pendanaan lain, sebetulnya peluang itu ada. Hanya, masalahnya, para penerbit projekan ini lebih banyak yang masih buta dalam dunia sastra.

Pada tataran ini, karya-karya (khususnya yang berada pada ranah budaya), masih didominasi cerita anak-anak yang dibuat dalam kualitas yang kurang memadai. Baik dari unsur alur, penokohan, dan terutama bahasa. Begitu pula penampilan ilustrasi dan gambar sampul yang sering tampak serampangan. Desain gambar sampul banyak terabaikan. Sehingga, ada kecenderungan bahwa buku-buku sastra yang masuk ke projek pemerintah ini, kurang menarik untuk dibaca. Lalu untuk tingkat sekolah menengah dan atas, karya-karya sastra lebih terabaikan lagi. Karena karya-karya yang masuk lebih banyak untuk tingkat SD.

Maka, tak heran, banyak para pelajar juga guru sastranya, terutama karena akses mereka yang terbatas terhadap dunia perbukuan, juga minat dan daya juangnya yang rendah, tak mengenal karya-karya para sastrawan baru ini. Sehingga mereka tidak merasa melihat bahwa bahan bakar sastra yang ada, yang mereka rasakan, tidak ada dalam karya sastra. Pengadaan buku bahasa dan sastra Sunda yang baru dimulai, untungnya lebih baik dibanding bahasa dan sastra Indonesia .

Ke depan, saya yakin, akan banyak karya-karya sastrawan baru ini yang masuk ke dalam pengadaan buku oleh pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *