Di Teluk Puntondo Suatu Senja

Ilenk Rembulan
http://www.kompas.com/

Sekilas menggenggam kumpulan puisi yang dipeluk dalam buku berjudul Aku Hendak Pindah Rumah dari M. Aan Mansyur selanjutnya disingkat MAM ini terasa berat di isi.

Bukan apa-apa, sejak kecil sering membaca puisi pendek yang keindahannya sudah tidak diragukan lagi, walau kadang ditemui sedikit agak panjang namun tidak dengan jumlah bait, tapi jumlah kata dalam satu baris.

Pada kumpulan puisi ini ada sarat banyak puisi-puisi MAM yang banyak baris banyak kata, sehingga merasa kedodoran untuk menangkap roh dari puisi itu sendiri. Terus terang tanpa membaca puisi tanpa bisa menangkap jiwa dari kata-kata yang sudah dirangkai dengan susah panyah oleh penyair maka tidak akan bisa dengan tenang dan nyaman menikmatinya.

Kali ini saya mencoba untuk mulai menyukai puisi MAM dan mendalami maknanya karena tanpa itu rasanya tidak fair bagi jiwa ini hanya membaca puisi-puisi pendek tanpa membandingkan dengan puisi panjang, dengan keterpaksaan yang dalam dan iklas mau tidak mau saya menyelami dan mulai masuk di alam pikiran MAM dalam balutan puisinya yang cukup melelahkan bagi mata ini.

Buku berbalut 182 halaman ini mulai terbuka perlahan dengan iringan Way to Mandalay nya Ritchie Blackmore, seperti kata penyair Hasan Aspahani dalam pengantar di buku tersebut, bahwa keindahan puisi selalu ada dan terus ada, maka mengabaikan yang lain, bermodal keindahan ini saya mulai menikmati puisi MAM.

Menyitir sekapur sirih dari pengarang di halaman akhir, bahwa kumpulan sajak ini terdiri dari 4 bab yang awalan setiap bab dimulai dengan ?Rumah ? dan berisi 99 sajak.

Rumah 1 : Pintu lama, Pintu Kenangan terdiri dari 24 puisi
Suara penyanyi perempuan menyanyikan 3 black crows nya Ritchie Blackmore diiringi kecringan sayup-sayup, menemani semakin dalam menjelajahi 24 puisi MAM dalam rumah 1 ini.
Saya mulai menangkap keindahan pada puisi pendek (Ah! lagi lagi pendek) tetapi banyak baris dengan judul ?Hujan Pagi?. Pada bait ke lima yang ku kutipkan disini :
?????????????.
Aku hirup kopi sebelum berlalu dingin
Kau tahu, kopi itu kuseduh
Sambil tersedu-sedu
Sebab alangkah sendu
Bunyi sendok dan gelas beradu
??????????.
Entahlah, karena ada bunyi di sini dan yang pasti puisi ini pendek sehingga rohnya dengan mudah dapat saya tangkap, maka saya menikmatinya dengan geleng-geleng kepala seirama petikan Joe Satriani dalam The crush of love.
Kemudian saya jatuh cinta lagi dan terperangkap pada puisi yang berjudul Sepasang Pohon Gerbang.

Puisi panjang MAM ini terdiri dari 7 bait masing-masing bait terdiri dari 4 baris, dan yang membuatku terpesona adalah diakhir setiap kalimat ada bunyi ?ng?, Wow, dahsyat, mata ini tak lelah menjelajahi dan berusaha masuk di sajak ini. Saya jadi terbayang pohon beringin di bekas rumah ex Wedana di jl. Getengkali Surabaya yang sekarang menjadi tempat berkesenian dengan nama “Cak Durasim” itu. Entahlah! Apakah pohon beringin saksi sejarah itu masih tegak berdiri sekarang? Karena dulu waktu mbakyu (kakak perempuan) rajin menjadi anggota teater di sana sering berlatih di bawah pohon itu.

Selanjutnya saya tenggelam lagi pada beberapa puisi MAM yang panjang melelahkan mata, karena rohnya tak dapat tertangkap, namun saya terjegal di sajak yang berjudul ?Pada sebuah tengah malam?

Sebenarnya terus terang roh MAM di puisi pendek amat kuat dibandingkan di puisi panjangnya yang seperti cerita mini (cermin). Saya kutip disini :
Udara begitu kelam,
Diam bagai air kolam.

Engkau mengendap-endap ke dalam kenangku,
Pelan letakkan satu ciuman di keningku.

Lalu seluruh waktu silam
Tiba-tiba ingin kembali aku sulam.

Wahai di mana gerangan kini engkau tertambat,
Jika sekarang aku pulang apakah aku terlambat?

Mantap , kuat roh itu membelengguku, petikan Joe masih mengiringi dengan hentakkan Flying in a blue dream,
Terperangkap lagi pada puisi cermin MAM yang berjudul ?Aku dan sepasang mata?, ini karena di setiap akhir baris ada bunyi ?ap?, dengan bentuk bebas di setiap bait dan barisnya, namun keutuhan tetap terjaga. Kukutip sebagian :
????????????????????
Dan kelopaknya yang diam tak mengerjap,
Tak pernah mau menyingkap
Tetanda yang seharusnya terungkap
Kata-kata yang seharusnya terucap
Lalu isyarat apa yang mesti kutangkap?
???????????????
Sebab aku tak lagi genap, tak lagi lengkap
Satu baris akhir yang menyudahi sajak ini, sarat makna dalam. Saya terkadang juga merasa tak genap lagi, apalai lengkap, seiring waktu yang terus berputar.

Selebihnya sajak-sajak lainnya terlalu penat saya tangkap rohnya, walau saya tahu bagi penyair lain akan dibilang indah, tapi harus disadari bahwa tidak semua orang termasuk saya bisa dengan nikmat melahap puisinya yang sebagian seperti cermin itu, tapi setidaknya di rumah pertama ini, saya sudah bisa melahap dengan lega, dan akan saya lanjutkan masuk di rumah-rumah berikutnya, agar saya bisa dengan lahap menikmati sajian dalam buku ini.

Rumah 2: Pintu hati, pintu persembunyian
Clouds race across the sky masih tetap si Joe ganteng, dengan matap mengalun terus menemani, diiringi petir menggelegar di langit bogor pada sabtu siang, dengan hujan rintik, saya susupi lagi roh MAM di puisi-puisinya pada rumah ke 2 ini dengan jumlah sajak ada 32 buah.
Kesandung awal pada sajak ?Mata Ibu?, seperti sajak Dino tempo hari, entahlah, setiap penyair membuat syair yang ditujukan untuk ibu, saya selalu menyukainya seperti apapun bentuk puisi itu. Ibu bagi saya dan mungkin juga banyak penikmat lainnya akan selalu menjadi ladang penciptaan kreasi dalam merangkai kata-kata untuk disajikan menjadi sajak yang utuh. Di bait akhir dari sajak ini saya kutip :
???????????????????.
Tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh
Mulutmu corong seluruh doa paling minta
Agar tuhan tak mengeringkan kali
Sebelum ternak dan anak-anak
Menemukan hujan

Doa ibu untuk siapapun orang dekat yang dicintainya, selalu akan terus meluncur dari batinnya, menyirami, mendorong langkah kita menapaki kehidupan yang semakin jauh ke depan. Berkat doa ibu juga dia sudah berjalan dan menjadi penyair hingga kini.

Kali ini puisi pendek MAM yang berjudul ?di Rahim Tanah? membuat terpana sebentar, saya kutip berikut ini :
Di MANA rumputan menemukan bunga?
Di rahim tanah, di rahim tanah yang gembur

Dimana sumur mendapatkan mata air?
Di mana alir sungai-sungai akan berhilir?
Di rahim tanah, di rahim tanah yang subur

Di mana akan kau tanam air matamu?
Di rahim tanah, di tempat ibu terkubur

Kemudian berlanjut di sajak ?Doa? terdiri 3 bait dalam barisan berjumlah 8 dan singkat kata tapi sarat makna.
Ingatkan agar aku sadar
Usiaku akan pelan-pelan
Berubah jadi bumi

Ingatkan aku seluruh tangan
Yang pernah menanam bebijian
Di ladang-tubuhku

Sebab aku ingin melihat mereka
Merayakan pesta di musim panen

Di perjalanan merasuki roh dia dalam menyajikan puisi , saya tertambat pada sajak yang berjudul ?Meriang?, menyelami sejenak dengan menghela nafas satu bait dari 3 bait yang tersaji ,
SETIAP malam
Pintu tak kututup
Jendela tak kukatup
Kuundang angin yang ingin
Merasuk jadi meriang di tubuhku
Dan merusak suaraku

Pada saat membuat ulasan ini terus terang suara saya juga sedang rusak kena flue, apa mungkin ini jadi roh puisi dengan mudah tertangkap ketika mengukir meriang ini?
I love you dari Saigon kick mendendang renyah menemani saya selanjutnya menikmati sajak lain yang lagi-lagi pendek saja berjudul ?Sungai Susu?.

DI PANGKAL tidurnya mereka dengar bisikan
Halus bagai biji-biji hujan yang berkecambah
Siap tumbuh memanjat udara ke awan-awan
Setelah di guyur panas matahari tidak terbelah

?Nak, mari ikut Ibu berenang ke muara,
Sungai susu sudah mulai mengaliri dada?

Kuntum-kuntum mata mereka dikatupkan
Dan menikmati tubuhnya hanyut perlahan

Sempat berdesir membaca puisi ?Sahabat-sahabat Ibu?, lagu Love hurts by Nazareth menghentak lamunan ini , baru dua rumah saya jelajahi tapi sebenarnya MAM ini siapa baru saya temukan di puisi ini. Sulaman kehidupan pribadinya tersamar jelas di puisi ini, tanpa sadar mata meradang basah.
SEJAK kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
Lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya
???????????????????.

Pada bait 2 : pisau
KADANG-KADANG ia benci ranum buah-buahan
Apel dan tomat yang merah,
Semangka dan mangga berkulit kencang,
Atau mentimun yang segar dan putih

Masa-masa remajanya tak bisa kembali
Seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari

Pada bait 3 : gunting
BUNGA-BUNGA dan rumput di halaman
Suka berubah jadi uban di kepalanya
Ia tak ingin ada hutan menyeramkan
Tumbuh di sana. Sebab bagaimanapun
Ia tak pernah lelah menunggu anaknya
Datang mencium keningnya atau
Mungkin ayah dengan oleh-oleh
Sebuah cerita tentang petualangan

Di sini tercermin perjuangan ibu sang penyair dan kuatnya beliau digambarkan dalam membesarkan anak-anaknya, salah satunya MAM sang penyair itu sendiri. Bahagialah dia masih ditemani oleh Ibu, tidak seperti saya menapak separuh kehidupan tanpa ibu lagi.

Rumah 3: Pintu baru, pintu kegaduhan, terdiri dari 20 sajak
Terus terang saya tertatih-tatih memasuki rumah ke tiga ini. Sarat puisi bak cermin, dan berat ditangkap maknanya. Apa mungkin terlalu panjang sehingga awalnya roh itu sudah ada, keindahanyapun sudah terpampang, tapi kemudian cepat hilang, ketika saya sudahi dengan penuh kelelahan panjang mengakhiri setiap sajak-sajak MAM di rumah ini.

Namun saya tak putus asa berusaha mencari bilik yang tidak membuat lelah dan sesak, sampai pada judul ?Aku hendak pindah rumah? judul yang sama yang dipakai untuk membungkus kumpulan buku kedua ini, baru saya bisa bernafas lega. Puisi panjang ini, dapat dengan mudah ditangkap aromanya, dan saya menikmatinya dengan lahap dan ringan diiringi I?m too deep dari Genesis. Dua baris kalimat akhir dari kutipan puisi tersebut :
??????????????
Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh
Dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh !

Wah, opo yo tenan MAM? Kamu inginkan demikian? Bukankah sekarang banyak orang mendambakan rumah yang tenang dan damai bak di dalam tanah kuburan? Bahkan di sebagian negeri ada sebagian orang menginginkan juga seperti itu ketika sebagian ada kegaduhan dan rusuh?

Rumah 4: Pintu Waktu, Pintu Perjalanan, terdiri dari 23 sajak
Akhirnya perjalanan menjelajahi lorong waktu rumah di dalam kumpulan puisi MAM ini menginjak pada bab akhir. Rumah yang berisi puisi yang paling saya suka, berisi pendek-pendek seperti sebuah coretan perjalanan, namun kaya makna dan pendalaman arti dalam rangkaian kata.

Saya telah sampaikan di awal bahwa, roh itu ada pada sajak-sajak pendek MAM, ini adalah kata saya, pasti akan ditebas oleh mereka pengangum puisi cermin dia. Saya sadari ada beberapa yang dapat dengan mudah bisa dicerna dalam membaca puisi cermin itu, namun saya lebih suka dan melahap sampai tuntas sajak sajak ringkasnya.

Dari beberapa catatan harian di awal-awal halaman rumah 4 ini, saya suka puisi yang ia tulis
-Bone 14/01/1999
SEBERAPA jauh kuda waktu
Mampu membawaku di pelana?
Oi, anak sulung tanpa ayah,
Beradik dua, ibumu sudah tua,
Cepat sekali kau tujuhbelas!
Mengapa anak-anak itu
Tak mau meninggalkan mainannya
Dari pekarangan di dadamu?

Lagi-lagi ? Bone 14/01/2003
AKU hanya menginginkan
Ulang tahunku yang ketujuh

Pesta kecil tak perlu kenangan
Tentang hujan dan perempuan
Yang nafasnya pernah membantu
nafasku memadamkan nyala lilin

Aku hanya menginginkan
Hadiah mainan dan buku kosong
Banyak perihal perih mau aku gambar

Catatan harian pada saat dia ulang tahun, dan saya suka catatan yang di tulis di Bone, karena Bone tanah kelahirannya, juga Bone mengingatkan saya akan seseorang, pada Lelaki masa laluku.

Saya menyenangi hampir semua puisi yang ada di rumah ke 4 ini. Apa memang sengaja MAM memasangnya di akhir? supaya kelelahan panjang melahap di rumah-rumah terdahulu, jadi ringan di bab akhir.

Salah satu yang saya suka ?Baju Penglaris?, tersenyum dibuatnya, sajak cibiran nan getir, ada permainan nakal di akhir puisinya. Saya kutip sebagian :
???????????????.
?Ini memang mahal, Tuan.
Safari bersaku banyak, membuat
fasih berbohong dan berjanji.
Hanya beberapa bulan dijamin
uang kembali. Beli satu ada bonus
rumah dan kendaraan dinas
juga perempuan simpanan
kalau Tuan mau?
??????????????????????.
Lukman nampak tak tertarik
Pada gadis pelayan ia berbisik,

?Ada yang buat lelaki kesepian, Dik??

Gadis pelayan tersenyum

?Maaf Tuan, ini toko pakaian,
bukan toko mainan?

Senyumanku berbarengan dengan Linger by Cranberries yang mengalun ringan.

Di samping berisi catatan harian, ada lagi bentuk sajak dalam rumah terakhir ini yang saya suka, ada 4 judul yang bentuknya hampir sama, masing-masing adalah : Sejarah mata sejarah waktu ; Sejarah mata sejarah jarak ; Sejarah mata sejarah kata ; Sejarah mata sejarah arah
????????
SEBELUM ada mata
waktu adalah batu
???????????????
MATAKU tak mengenal matamu
Jarak adalah matahari, jauh tak terjangkau
???????????????????????.
AKU intip matamu
di siang hari
berserak huruf-huruf
seperti kering dedaunan
akan bersatu jadi tanah
??????????????????.
MATAMU lengkap jadi mataku
Yang manakah arah
Selain yang satu?
-kita adalah arah

Kemudian saya terpukau pada deretan makna yang berbaris di lukisan sajak yang berjudul ?Sesaat setelah kapal bersandar?
??????????????
Inilah petualangan terakhirku, Ibu
setelah semua dermaga yang pernah menerimaku
tidak lebih lidah perempuan-perempuan nakal
Menjilat lalu muntah sambil mengumpat-umpat
Tak tahan pada kerat-kerat
dagingku dan keringat pekat
yang kusuling dari mata air susumu

Saya mengais tanah harapan masa lalunya di buku itu, tentang asal usul dia dari Angin Mamiri yang datang mengalir dari timur ke barat sangat sedikit disajikan di sajak-sajaknya, dan baru saya temukan pada sajak yang berjudul ?Teluk Puntondo, Suatu Senja?.
MENJELANG petang, langit belang-belang
Seperti ingatan seperti kenangan
Ungu-biru-ungu-biru-ungu

Dedaun bakau yang hijau dan payau
Aku dengar seperti kau berceracau
Pergilah kau!
Pergilah kau!
Lupakan aku!

Love of my life by Queen dengan dentingan pianonya yang khas mengalun bercampur samar-samar lagu Angin Mamiri yang didendangkan si cantik Andi Meriem Matalata menambah senja di teluk Puntondo, semakin membentang, memanjang lalu menjelma bayang-bayang.
Di awal dan akhir buku ini ada 2 sajak, namun saya suka sajak yang ada di akhir buku yang berjudul ?Lubang Untukmu?
???????????????.
Aku ingin jadi lubang tanam bagi mayatmu
Agar kau dan aku bisa sempurna menyatu

Ada beberapa puisi MAM bertema tentang perjalanan hari tua dan kematian, disajikan dengan perih namun dalam, mengingatkan saya tentang akhir kehidupan yaitu mati.
Pertemuan sepintas pada awal lauching buku MAM di Graha Cipta II, TIM, tempo hari membuat saya sedikit kecewa, karena MAM terkesan mengasingkan diri dari penikmat puisi, padahal ada banyak tanya di kepala ini yang ingin disampaikan padanya saat itu, namun penyair satu ini menyendiri di sudut keramaian dan memilih diam dan sunyi.

Apakah dia memang penyendiri atau ada hal lain yang menyebabkan dirinya menarik dari keramaian ? padahal sajak-sajaknya itu ramai, jarang dijumpai kesendirian di permainan kata-katamya, walau ada juga sajak yang berbicara batinnya. Tapi jiwa muda dinamiknya itu bergerak bagaikan tiupan angin mamiri.

Ada keinginan memesan untuk dibuatkan sajak pendek tak lebih dari 4 kata dalam sebaris namun terdiri dari 7 bait yang sarat makna dan kuatnya roh , daripada saya dibuatkan sajak cermin , rasanya lelah menangkap maknanya !, dia keburu pergi jauh, metaforanya tak ada sama sekali, kering!.
Saya akui sampai tuntas agak kesulitan memahami puisinya yang bak cermin itu, namun yang ada dentingan bunyi dan yang di tulis pendek dengan cekatan imajinasi dan rohnya dengan mudah bisa saya nikmati.

Salam damai dari Bogor, sore ini hujan deras di sabtu tanggal 12/04/2008, tepat 2 hari setelah hari kelahiranku.

Leave a Reply

Bahasa ยป