Camilla Gibb: Karya Sastra, Jembatan Dialog Antarperadaban

Elly Burhaini Faizal
http://www.suarapembaruan.com/

Karya sastra tidak hanya dapat menghibur para penikmatnya, tetapi juga dapat berperan dalam menjembatani dialog antarperadaban. Berbekal keyakinan tersebut, Camilla Gibb, seorang novelis Kanada, menuangkan ide-ide briliannya tentang sebuah kehidupan dalam masyarakat multikultural dalam novel berjudul “Sweetness in the Belly”.

Karya terbaru Camilla itu mendapat sambutan hangat dari penikmatnya di Kanada dan AS. Meski Camilla non-Muslim, tokoh utama dalam novel itu adalah seorang perempuan Muslim. Menurut dia, peredaran novel itu di AS pada 2007 bertepatan dengan situasi krisis yang dialami umat Islam di tengah gelombang antiterorisme.

“Saya pikir, ini saat yang penting setelah peristiwa 11 September 2001 untuk bersama-sama memahami apa sesungguhnya Islam itu,” kata Camilla, saat ditemui Pembaruan akhir pekan lalu.

Camilla berada di Jakarta pada 21-25 Maret. Dia berbicara pada Seminar Sastra “Perempuan dan Agama dalam Sastra: Pengalaman Indonesia dan Kanada” bersama Maman S Mahayana (kritikus sastra) dan dua penulis perempuan Indonesia, Abidah el Khalieqy dan Ayu Utami.

Camilla menilai, isu terorisme telah mendegradasi nilai-nilai sesungguhnya dari ajaran Islam. “Saya yakin ada minoritas Islam yang menjadi ekstremis. Tetapi, kita tidak bisa melemparkan tuduhan terorisme kepada keseluruhan umat Islam,” kata Camilla, yang juga seorang antropolog dan pernah beberapa tahun bermukim di Ethiopia dan Kairo.

Berbeda dengan anggapan global tentang terorisme Islam saat ini, Camilla justru berpendapat, mayoritas umat Islam berwatak sangat moderat. Ia ingin menunjukkan kenyataan itu lewat karakter tokoh-tokoh di dalam novelnya.

Islam, dalam novel karya Camilla tersebut, ingin digambarkan dalam perspektif yang lebih luas, yakni agama perdamaian yang penuh nilai-nilai kasih sayang, ketimbang sekedar “agama teror” seperti dikonstruksikan setelah serangan teroris di menara kembar World Trade Center, AS, pada 11 September 2001.

Tidak bisa dimungkiri lagi, masyarakat global harus diarahkan untuk dapat lebih menghargai keberagaman, pluralitas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai multikultural. Masyarakat juga harus dididik untuk menghargai keberadaan satu sama lain, kendati di antara mereka ada perbedaan.

Masyarakat tempat Camilla dibesarkan, yakni Toronto, sangat plural dan multikultural. Tetapi, masyarakat di sana dapat hidup secara damai dan harmonis. Secara keseluruhan, keragaman ras, etnis, dan agama di Kanada bisa terakomodasi dengan kebijakan pemerintah Kanada yang mempromosikan multikulturalisme.

Sebagai seorang penulis novel, Camilla sangat yakin dapat berkontribusi untuk menjembatani dialog dan menepis kesalahpahaman antara Barat dan dunia Islam yang kian memburuk setelah peristiwa 11 September 2001.

Camilla ingin menuturkan kisah tentang kehidupan intim sebuah masyarakat dari sebuah negara yang kompleks dan bermasalah, Ethiopia. Banyak yang tidak banyak diketahui dari negara itu selain dari citra “negara miskin dan melarat”.

“Saya juga ingin menuturkan kisah tentang umat Muslim yang mempraktikkan Islam secara lembut dan penuh kasih sayang, seperti yang saya ketahui ketika tinggal dengan sebuah keluarga Muslim di Ethiopia,” kata Camilla.

Lewat novelnya itu, ia ingin memperkaya pemahaman masyarakat tentang Islam. Ide jihad yang merupakan ajaran Islam, juga digambarkan tidak dalam perspektif “teror terhadap pihak lain yang berbeda”. Jihad, digambarkan Camilla sebagai “perang suci” seorang umat manusia untuk melawan hawa nafsu di dalam dirinya.

Lilly Abdal, karakter utama novel Camilla yang mempesona itu, dikisahkan menjadi yatim piatu dalam usia delapan tahun. Ketika orang tuanya yang berdarah Inggris-Irlandia meninggal, Lilly diasuh seorang sufi, yang mengajarkan Islam kepadanya.

ketika berusia 16 tahun, Lilly dikirim ke Harar, sebuah kota kuno di Ethiopia. Ia berdiam di sebuah tempat pemukiman berlantai kotor bersama seorang janda melarat bernama Nouria yang memiliki empat anak.

Di Harar, Lilly mendapat nafkah dengan cara memberikan bantuan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan mengajar anak-anak setempat membaca Al Quran. Dengan mengabaikan teriakan-teriakan “farenji” (sebutan untuk orang kulit putih, Red), Lilly mulai hidup mengakar, belajar bahasa lokal, dan membenamkan diri dalam kekayaan budaya terkait ritual dan tradisi di Harar.

Di London, tempatnya bermukim menyusul pergolakan di Ethiopia ketika Kaisar Haile Selassie disingkirkan oleh rezim Dergue yang brutal, kehidupan Lilly sebagai perempuan Muslim berkulit putih ternyata tidak kalah rumit. Sebagai seorang staf perawat, ia berteman dengan seorang pengungsi asal Ethiopia, Amina.

Dua perempuan itu pun membangun sebuah komunitas untuk memayungi para pengungsi yang kehilangan sanak-saudara. Di sini, kekuatan hasrat seorang perempuan untuk tetap mempertahankan cinta dan keyakinannya melalui revolusi, pergolakan, dan keterasingan dalam kehidupannya di pembuangan, dirajut dan digambarkan secara apik oleh Camilla.

Penggambaran tentang kekuatan keyakinan dan cinta Lilly itu diharapkan Camilla dapat memberi pemahaman baru masyarakat tentang Islam sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *