Tari Penghormatan bagi Para Ksatria

Aguslia Hidayah
http://www.tempointeraktif.com/

Syahdan, pada sebuah siang yang bergelora, Senin Pahing sebelum bulan puasa itu, Pangeran Samber Nyawa alias Raden Mas Said yang kemudian bergelar Mangkunegara I (pendiri Pura Mangkunegaran), akhirnya memutuskan menyerang balik pihak pasukan Kompeni yang dibantu para sekutu (pribumi), yang beberapa hari sebelumnya berhasil memukulnya mundur hingga bibir hutan Sitakepyak, Rembang, Jawa Tengah.

Peperangan pada 1756 inilah, konon, merupakan paling berat bagi R.M. Said. Selain perbekalan mulai menipis, mental dan fisik para prajurit telah banyak mengendur. Bukankah ini perlawanan ketujuh kalinya sejak pengepungan yang dilakukan tentara Kompeni? Atas pertolongan-Nya, perang di perbatasan hutan itu akhirnya usai. Korban tewas di pihak musuh sebanyak 85 orang, termasuk pimpinan komandan detachment Kompeni, Kapten Van der Pol, yang tewas di ujung tombak sang pangeran. Sedangkan di pihak R.M. Said sebanyak 15 orang tewas.

Sebagaimana tertulis dalam Babad Lelampahan (BL, Durma 73;321): Pengenge Kapitan Derpol wus pejah, sasisane ingkang mati, kumpeni lemajar, Kanjeng Pangeran Dipatya, antuk pitulung Widhi, sabalanira, datan bujung ing jurit (Kapten Van der Pol tewas, sisa tentaranya lari tunggang-langgang, hanya karena pertolongan Allah SWT sajalah Pangeran Adipati dapat memenangi pertempuran, sebaliknya musuh yang lari menyelamatkan diri).

Di gedung teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu dan Minggu malam lalu, digelar kembali Bedhaya Dirada Meta (Gajah Mengamuk), sendratari klasik Mangkunegaran ciptaan Raden Mas Said–yang ketika itu diniatkan untuk menghargai dan mengenang jasa-jasa ke-15 prajurit andalannya yang gugur di medan peperangan. Karya gerak tari ini merupakan satu dari tiga buah karyanya: Anglirmendungi, Sukapratama, dan Dirada Meta. Dalam pertunjukan yang berdurasi satu seperempat jam malam itu, penonton terlebih dulu disuguhi tari Mandra Asmara, karya tari yang diciptakan di masa Mangkunegaran IV pada 1920-an.

Bedhaya Dirada Meta dimulai dengan pembacaan surat Al-Faatihah secara hikmat. Dalam suasana nglangut (sepi, tanpa bunyi, dan hanya sedikit cahaya) serta panggung beraroma kemenyan, adegan pembuka sendratari itu terasa sungguh sakral. Tarian keraton ini tak cuma diiringi dentingan gamelan statis dan tembang Jawa, tapi juga bunyi-bunyian dari sejumlah tambur, pengantar barisan prajurit perang. Karya yang direkonstruksi oleh Daryono–koreografer tari yang juga dosen Institut Seni Indonesia Surakarta–itu muncul dengan balutan emosi. Dalam rekonstruksinya, Daryono dibantu oleh Raden Tumenggung Suwardi, empu tari Mangkunegaran berusia 85 tahun. Disentuh pula lewat lintas seni oleh Goenawan Mohamad sebagai penata artistik. Dengan menghadirkan tata panggung berupa layar lebar dengan slide yang menampilkan lukisan abstrak (komposisi warna merah dan hitam) karya pelukis Hanafi.

Pada Dirada Meta ini, Goenawan mencoba mengembalikan esensi tari, yaitu gerak!. Ibarat dalam tataran candi paling atas: arupadhatu, yang berarti tak berbentuk dan jauh dari menggiurkan. Pesona kerlingan emas dan dodot cantik tak muncul dalam kageman (pakaian) yang dikenakan para kesatria Dirada Meta. Jauh dari rayuan visual, Goenawan ingin para penari menjelma bak roh mereka yang gugur. Selaras dari tulisannya dalam katalog pertunjukan, “Inilah pentas sebuah ruang minimalis.” Hanya gerak, gerak, dan gerak.

Dalam kesinambungan pengadeganan, Daryono sebagai penata tari cukup berhasil membangun imajinasi akan derap langkah para kesatria yang agung. formasi ketujuh kesatria itu bergerak membentuk pola simetris: menutup dan membuka, membuat ruang imajiner atau semacam benteng pertahanan dalam sebuah garis lurus. Tarian klasik Keraton Mangkunegaran yang yang hampir 100 tahun tak ditampilkan ini, sekalipun berjudul Dirada Meta (Gajah Mengamuk), tidak berarti merekonstruksi peperangan yang pernah terjadi antara pasukan Mangkunegaran dan pihak Kompeni yang penuh darah itu.

Tarian ini lebih menampilkan sosok laku ketujuh kesatria dengan keanggunan gerak, dalam menampilkan jurus-jurus dan ketangkasan berperang yang gagah berani sekaligus gemulai. Inilah penghormatan Pangeran Samber Nyawa kepada mereka (anak buahnya) yang gugur di medan laga pada Senin Pahing itu. Ada sebuah ironi di sana. Juga karena kita tahu, ada rasa kehilangan itu.
***

Bedhaya Dirada Meta
Penata tari: Daryono
Penari: Daryono, Hartanto, Dipo, Heru, Agus Prasetyo, Nuryanto, Tri Haryanto Pengarah artistik: Goenawan Mohamad
Penata panggung, cahaya, dan visual: Iskandar Loeddin, Paul Kadarismen, Cecil Mariani
Penanggung jawab: G.P.H. Herwasto Kusumo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *