Gus tf Sakai: “Apa yang Saya Tulis Mungkin Saja Omong Kosong”

Wawancara / Gus tf Sakai
http://www.ruangbaca.com/

Tersesat dalam labirin sastra kontemporer Indonesia yang terkotak-kotak, menolehlah sejenak pada Gus tf Sakai. Nun di Payakumbuh, Sumatra Barat sana, penulis prosa dan puisi ini berteguh pada sikapnya; hidup dalam sastra yang melintasi batas apa pun. Agama, ras, suku, bahkan antara yang nyata dan tidak.

Karya-karyanya terasa absurd bagi kebanyakan orang. Susah pula didefinisikan aliran dan kecenderungannya. Hampir tidak ada pula telaah yang dalam terhadap karya-karyanya. Padahal, waktu telah merentang hampir 20 tahun sejak pertama kali ia meluncurkan buku pertamanya, novel remaja yang banyak jadi perbincangan,Segi Empat Patah Sisi.

Gus seperti hilang ditelan hiruk-pikuk orang yang berpolemik mendefinisikan karya dan alirannya.

Sebagian besar agaknya karena sukar menyimpulkan karya laki-laki kelahiran Payakumbuh 43 tahun silam itu dalam gambaran yang lugas. Sebagaimana yang diungkapkan kurator sastra Nirwan Arsuka dalam satu peluncuran buku Gus, Perantau belum lama ini. Baiklah kita tidak memandang Gus dalam kerangka yang sempit karena sebagaimana karyanya, ia sosok yang melintas menembus batas-batas ruang dan dimensi waktu, begitu katanya.

Sebagian lagi karena Gus sendiri adalah sosok yang enggan tampil ke muka. Ia lebih suka orang membincangkan karyanya sampai menjadi polemik sekalipun, ketimbang berpayah-payah menyorot pendapat pribadinya. Tidak heran jika orang amat jarang mendapatkan kalimat-kalimatnya yang berharga barang sekutip dua kutip, kecuali pada seminar-seminar sastra dan pelatihan yang ia hadiri.

Dalam sastra yang melintas itu pula Gus setia pada jalannya. Meski mengakui sastra tidak mungkin memadai sebagai pilihan untuk menghidupi keluarga, ayah tiga anak itu tetap menulis.

Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak seiring dengan kegemaran berolah raga (di antaranya sepakbola dan bela diri. Dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian, tetapi publikasi pertamanya adalah berupa prosa (cerita pendek) yang memenangkan Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak itu, dengan beberapa nama samaran, puisi-puisi dan cerpen-cerpennya mulai muncul di majalah Hai (Jakarta) dan ruang kebudayaan harian Singgalang (Padang). Nama Gus tf untuk puisi dan Gus tf Sakai untuk prosa ia gunakan konsisten setelah pindah ke Padang pada 1985, saat ia memutuskan hidup dari menulis.

Pada 1996, pemilik nama asli Gustrafizal ini kembali ke kampungnya, Payakumbuh. Walau menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia bisa melintas fisik dan non fisik ke mana-mana. Dari kampungnya itulah ia kini terus menulis puisi, cerpen, novel, dan esai yang kemudian diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar seperti Balai Pustaka, Gramedia, Grasindo, dan Penerbit Buku

Kompas dan media-media massa terbitan Jakarta. Ia juga memilih-milih puisi untuk Puisi, sebuah jurnal triwulanan yang memuat segala hal yang berkaitan dengan puisi; jurnal ke tempat mana ia diajak bergabung oleh Sapardi Djoko Damono sejak 2002.

Bulan silam, dalam keengganannya menjadi sorotan, kumpulan cerpen terbarunya Perantau (2007) muncul sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk kategori prosa. Penghargaan itu menghujaninya hadiah sekaligus pengakuan atas pilihan hidupnya di jalan sastra.

Gus tidak datang untuk menerima hadiah senilai Rp 100 juta itu ke Jakarta. Dalam kata sambutan kirimannya yang dibacakan pada malam penghargaan itu, Gus antara lain menyebut kemenangannya sebagai “ada kemungkinan salah mentabulasi nilai juri”.

Sebulan setelah penghargaan itu, di ketenangan suasana kampungnya, Sarjana Peternakan Universitas Andalas, Padang ini menerima Febri Yanti dari Tempo. Dalam obrolan yang hangat dan seru, tampak dua sisi yang saling berlawanan dalam dirinya. Sikapnya yang menekankan keinginan untuk jauh dari sorotan dan jawaban-jawaban bernas serta tajam yang membuat sosoknya layak berkilau.

Berikut kutipan percakapan itu:

Mengapa Anda tidak datang pada malam penghargaan itu?

Saya tidak yakin bakal menang. Selain itu, saya memang tidak ingin datang.

Anda juga mengkritik hasil penilaian juri…

Begini, saya tidak bermaksud menyebut karya-karya yang masuk dalam daftar sebagai suatu yang buruk. Kalau jurinya diperbaiki mungkin bagus. Tahun ini saya yang beruntung.

Ada yang bilang, Anda susah sekali diwawancarai

Begini, saya lebih suka orang bicara tentang karya saya daripada habis-habisan mengupas pendapat saya pribadi. Itu akan lebih luas manfaatnya.

Orang menyebut karya Anda sebagai sastra yang melintas. Anda sendiri melihatnya bagaimana?

Saya ingin karya itu dibaca banyak orang, tidak dibatasi oleh yang dulunya disebut SARA, hukum, agama, ideologi, dan kelompok yang membatasi seseorang dan akhirnya juga hanya memilih bacaan-bacaan yang sesuai dengan kelompoknya itu. Alangkah menyenangkan bila kita bisa menghasilkan karya yang bisa dibaca semua orang, tidak hanya oleh kelompok tertentu. Yang diinginkan oleh suatu karya sastra, atau karya seni pasti ingin diapresiasi banyak orang.

Penulis yang ingin membuatnya terkotak-kotak, atau memang begitulah pembaca kita?

Saya pikir kedua-duanya. Memang ada penulis yang sengaja menghindarkan diri dari cap A, sehingga dia nyatakan dirinya B. tetapi saya pikir itu memiskinkan sastra. Ada namanya novel selangkangan, ada label sastra Islam, kiri, kanan… Mestinya masyarakat tumbuh dengan banyak sumber.

Kalau sastra yang berlabel atau berembel-embel sejarah atau politik?

Belakangan ini ada kondisi yang membuat sastra tidak lagi dilihat sebagai karya sastra. Dalam meluncurkan karya sastra, diundang sejarahwan, atau dalam bidang lainnya diundanglah selebriti. Itu kan aneh. Itu otomatis sastra akan menjadi nomor dua, termiskinkan. Kalau yang diundang sejarahwan, pasti orang akan melihat dari sudut sejarahnya. Untuk apa kita membaca karya sastra? Itu terjadi juga kalau hendak membicarakan Indonesia. Pembicaranya menganut aliran kajian budaya, yang penting bagi dia karya seperti Widji Tukul dibandingkan Asep Zamzam Noor, misalnya. kalau ingin melawan sistem, kenapa tidak langsung berpolitik praktis saja?

Soal tema sastra, bagaimana Anda melihatnya?

Ada tema, tapi nanti begitu dia diterbitkan jadi buku, ada institusi lain yang bekerja, yang namanya industri. Misalnya tren sastra wangi atau sastra kelamin kemarin itu. Begitu dia diterbitkan, sistem industri bekerja. Semua bikin sastra kelamin. Bisa laku. Misalnya kalau dia datang ke sebuah penerbit, mereka akan bilang, eh, yang laku itu yang ini loh. Jadi mereka mungkin tidak meminta si pengarangnya menulis, tetapi karena pengarang ingin karyanya terbit, dia bikin sesuai dengan yang diinginkan penerbit. Pada saya tidak ada pesanan seperti itu.

Soal buku Anda Perantau, bagaimana Anda membandingkannya dengan kumpul cerpen pertama Anda, Istana Ketirisan?

Jauh, tarafnya bagaimana pun perkembangan itu selalu ada, dan pasti kita selalu mengevaluasi. Biasanya karya terakhir yang belakangan ditulis dengan kesadaran lebih tinggi, kelihatan berbeda dan lebih bagus yang kita tulis belakangan.

Anda mengungkapkan definisi perantau dalam perspektif yang lain. Sebenarnya bagaimana nilai-nilai Minangkabau itu berkembang dalam karya-karya Anda?

Saya pikir, dalam dunia yang paradoks, maka persoalan selalu dilihat dari sisi yang timbal balik. Minang memang kebudayaannya egaliter sekaligus demokratis. Tapi saya tidak berpijak dari satu kebudayaan. Sebetulnya begini, apa pun tema sastra, tidak pernah ada yang baru. Kita bisa melihatnya baru lagi kalau bungkus yang kita kenakan itu baru. Konsekuensinya juga kita tidak bisa membatasi hanya di satu sudut pandang saja. Misalnya tentang Minangkabau, mungkin nanti pembaca di luar Minangkabau jadi bingung, atau mereka harus punya referensi yang cukup tentang Minagkabau baru baca karya saya. Kan kasihan. Jadi saya menulis sebagai orang luar melihat Minangkabau.

Dalam suatu kesempatan, Anda pernah bilang tidak punya proses kreatif dalam menulis. Apa maksudnya?

Ya, dengan menyesal saya katakan, saya tidak punya proses kreatif. Ajaib? Bagi saya tidak. Bila pengertian proses adalah runtunan perubahan atau perkembangan yang berkelanjutan, bagaimanapun saya memeriksa; menjenguk ke dalam diri setiap kali mencipta, hal itu tak pernah bisa saya temukan, tak pernah bisa saya terangkan. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, ajaib, mencengangkan. Satu letupan, dan tiba-tiba ia menjelma. Ada. Bagaimana saya mesti menjelaskan itu? Akhirnya, bisa saja apa yang saya omongkan itu dilihat sebagai hal yang tidak penting oleh orang lain. Bisa saja apa yang saya tulis itu omong kosong belaka.

Biasanya satu kali, penulis ketemu hambatan dalam menulis. Bagaimana dengan Anda?

Pertama, bila saya terlalu terpaku pada bentuk penyajian yang telah ada. Kita tahu, secara umum, ada dua bentuk atau cara yang digunakan pengarang untuk menyajikan ceritanya. Pertama adalah bentuk penyajian yang sangat terikat kepada plot, sedangkan yang kedua adalah bentuk penyajian yang bertitik tolak pada, atau mengandalkan, karakter. Bila sebelum mengarang saya terlebih dulu berpikir dan menimbang bentuk penyajian mana yang akan saya gunakan, maka biasanya karangan saya akan macet; hambatannya terasa besar. Lainnya bila saya terlalu percaya tokoh dalam karangan saya hadir karena saya ciptakan. Jika saya percaya “nyawa” si tokoh ada pada saya, dia jadi tidak berkembang. Yang lainnya, ketika saya terus berpikir bahwa karya saya harus membawa pesan moral. Biasanya karangan saya tidak bakal selesai.

Anda dapat ide dari mana saja?

Dari mana saja bisa. Melihat sepatu butut di kantor Gubernur pun bisa jadi karya juga. Dulu, sebelum menikah, sering jalan-jalan cari inspirasi. Sesuai kantong saja. Saya nebeng truk dari pangkalan penghasil pasir, diekspor lewat Medan.

Anda memilih tinggal di kampung. lebih enak dari pada tinggal di kota besar ya?

Kalau tinggal di kampung, kan beda dengan di kota. Kalau di kota kita nggak peduli dengan tetangga, keluarga juga kita tidak banyak ya. Kalau di kampung ada suatu sistem sosial yang sifatnya bukan uang. Orang kalau nggak muncul di lapau jadi sesuatu yang aneh. Ternyata kita memang harus menyediakan waktu untuk bersosialisasi sama keluarga, apalagi kita di sini hidup berkaum-kaum.

Punya ritual harian?

Pukul empat, atau setengah lima, kayak pegawai negeri,lah. Pukul 4 sampai anak-anak sarapan, kemudian begitu anak sekolah pagi-pagi sampai pukul 11 atau 12, saya baca-baca. Pulang mereka sekolah saya main sama anak-anak. Waktu lainnya untuk bersosialisasi.

Saat senggang, apa saja yang Anda lakukan?

Bersepeda. Itu mulai saya lakukan sejak pulang ke Payakumbuh 12 tahun lalu. Asyik rasanya setelah selama 10 tahun lebih di Padang bisa kembali tinggal di Payakumbuh. Dengan bersepeda ini beda dengan naik motor. Lebih banyak yang bisa saya lihat, juga untuk olah raga. Rutenya biasanya dari rumah, keliling kota, kadang-kadang saya ke lembah Harau, bisa 2 atau 3 jam. Agar lebih sehat. Kata orang, saya sehat.

Dalam sehari saya bisa 2 jam bersepeda. Biasanya beli koran Jakarta yang sampai di sini siang, saya baca judulnya saja, lalu keliling lagi naik sepeda, sampai di rumah, sore habis mandi baru baca koran.

Kapan waktu menulisnya?

Saya menulis bisa pagi, bisa siang. Malam tidak lagi menulis, karena malam-malam bantu anak bikin PR. Saya lihat kalau mereka kesulitan setelah itu mereka benci dengan pelajaran itu. Jadi supaya tidak benci, saya membantu mereka paham dalam pelajaran itu supaya menyenangkan. Mungkin guru di sekolah nggak menyenangkan mengajarnya. Alhamdulillah mereka juara-juara. Juara umum. Saya bantu hanya bila mereka sudah muak mengerjakan PR. Tapi kalau masih mau mengerjakan saya biarkan saja. Sekarang beban pelajaran anak-anak itu luar biasa. Kasihan lihat anak-anak, sampai bungkuk-bungkuk membawa tas, mengerikan. Saya tulis kisah anak-anak ini dalam kumpulan cerpen Perantau itu. Judulnya Kami Lepas Anak Kami.

Ini satu lagi, soal nama. Mana yang benar, Gus tf atau Gus tf Sakai?

Dua-duanya. Saya pakai Gus tf Sakai untuk prosa dan Gus tf untuk puisi. Supaya ada pemisahan profesional. Supaya saya bisa berkonsentrasi pada dua jalan ini dengan serius.

Karya dan Penghargaan
Kumpulan Puisi:
1. Sangkar Daging, 1997
2. Daging Akar, 2005

Kumpulan Cerpen:
1. Istana Ketirisan, 1996
2. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 1999
3. Laba-laba, 2003
4. Perantau, 2007

Novel:
1. Segi Empat Patah Sisi (novel remaja), 1990
2. Segitiga Lepas Kaki (novel remaja), 1991
3. Ben (novel remaja), 1992
4. Tambo (Sebuah Pertemuan), 2000
5. Tiga Cinta, Ibu, 2002
6. Ular Keempat, 2005

Penghargaan
1. Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 2001.
2. Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas, 2002.
3. Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 2002.
4. Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi Susi, 2002
5. SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 2004.
6. Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat, 2004.
7. Khatulistiwa Literary Award untuk kumpulan cerpen Perantau, 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *