Gus tf Sakai, Sastrawan Generasi Baru Pasca-AA Navis

Sri Rahayu Ningsih
http://www.sinarharapan.co.id/

PADANG ? Luar biasa. Mungkin itu satu-satunya kata yang pantas ditujukan pada pekerja seni yang satu ini. Setelah 39 kali menerima berbagai hadiah dan penghargaan untuk karya-karya sastranya. Kali ke-40, sastrawan muda ini dipastikan akan menerima South East Asean (SEA) Write Award (Penghargaan Sastra Asia Tenggara). Penghargaan paling bergengsi bagi sastrawan di Asia Tenggara.

Karya sastranya yang mengantarkan Gus untuk meraih SEA Write Award tersebut adalah kumpulan cerpen berjudul Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, yang diterbitkan oleh Penerbit Grasindo, pada Tahun 1999 lalu.

Bulan Oktober mendatang, Gus tf diundang Putra Mahkota Kerajaan Thailand, Pangeran Maha Vajiralongkorn, untuk menerima penghargaan tersebut di negara itu. Belum habis kegembiraan atas anugerah ini, Gus dikejutkan lagi oleh pemberian ?Anugerah Seni? dari Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP) dan Dewan Kesenian Sumatra Barat. Penghargaan ini diberikan Sabtu (4/9) pekan lalu, di Gedung Abdullah Kamil, Padang.

Dalam acara tersebut, hadir sebagian besar insan seni dan pihak-pihak yang perduli seni di Sumatra Barat (Sumbar) selama ini. Mewakili KPSP dan DKSB, Anugerah Seni tersebut, diserahkan oleh Daniwar Djalil, Asisten III Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar kepada Gus tf Sakai.

Menurut Yurnaldi, Koordinator KPSP, Gus tf pantas menerima Anugerah Seni tersebut, karena telah mengharumkan nama Sumbar dan Indonesia di tingkat internasional.

Gus tf sendiri mengatakan tidak pernah bisa mempercayai kenyataan bahwa ia telah menerima dua penghargaan tersebut. ?Saya merasa terkejut sekali, karena selama ini saya merasa menulis bukan untuk membuat orang bangga, tapi karena saya hidup untuk menulis dan membaca,? katanya.

Itulah sebabnya, dalam 25 tahun kepenulisannya, ia hanya melahirkan 11 buku. ?Menulis tidak pakai terget-targetan dan tidak bertujuan sebagai mesin uang,? tambahnya.

Dunia kepenulisan, menurut Gus tf, adalah dunia yang aneh, dunia yang menciptakan sesuatu yang baru, yang terkadang tidak lazim bagi semua orang. Selama ini, tulisan selalu diartikan berbeda oleh banyak pembacanya.

?Tapi itu tidak penting, Karena penulis sesungguhnya hanya berurusan dengan karya sastranya, bukan dengan pihak lain,? tuturnya.

Gus tf Sakai, adalah sastrawan Minang ketiga yang berhasil meraih SEA Write Award, setelah yang pertama AA Navis (Alm) pada tahun 1992 dan kedua Wisran Hadi pada tahun 2000. Ini membuktikan, setelah era Marah Roesli, Abdul Moeis, Idroes, AA Navis, serta ratusan nama lainnya, Ranah Minang tidak pernah kering dari sastrawan jempolan.

Empat penghargaan lain yang sebelumnya diterima oleh Gus tf Sakai, adalah Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, (2001), lalu Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002). Ketiga, Penghargaan Penulisan Karya sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, (2002). Terakhir, Sih Award dari Jurnal Puisi untuk Puisi Susi, 2000 M, (2002).

Oleh komunitas sastrawan di Sumbar, Gus tf dinilai sebagai pengarang yang penuh kejutan. Dalam novel Tambo (Sebuah Pertemuan), yang kini diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Michael Bodden, Gus memilih untuk tidak bersikap ahistoris.

?Gus juga berhasil melintasi wilayah gender dengan kumpulan cerpen Perempuan Buta dan Kemilau Cahaya. Karena antologi ini didominasi oleh kisah dan problem wanita, yang sesungguhnya tidak begitu dipahami oleh laki-laki,? ujar Ivan Adilla, Ketua DKSB yang juga Kritikus Sastra dari Universitas Andalas Padang.

Dua Nama
Gus tf Sakai bukan satu-satunya nama dari pengarang muda jenius ini. Pernahkah Anda membaca dua nama yang hampir sama: Gus tf dan Gus tf Sakai? Keduanya adalah nama laki-laki yang dilahirkan pada 13 Agustus 1965 lalu, dengan nama asli Gustrafizal ini.

Nama pertama, Gus tf, ia gunakan sebagai label pada karya sastranya yang berbentuk puisi. Sedangkan Gus tf Sakai, ia gunakan untuk karya sastranya yang berjenis prosa. Sejak tahun 1979, ketika ia masih duduk di bangku kelas enam SD. Dengan beberapa nama samaran, karya-karyanya mulai bermunculan di media massa lokal Sumbar, dan perlahan bergerak ke media nasional.

Dalam 25 tahun masa kepengarangannya, Gus tf sudah menghasilkan dua buku kumpulan cerpen, yaitu Sangkar Daging (1997) dan Daging Akar (dalam proses cetak), serta tiga kumpulan cerpen, yaitu Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999) dan Laba-laba (2003).

Lainnya, enam novel, Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, 1990), Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, 1991), Ben (novel remaja, 1992), Tambo Sebuah Pertemuan (2000), Tiga Cinta, Ibu (2002) dan Ular Keempat (dalam proses cetak).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *