Jangan Kau Tusuk Hatiku dengan Tajam Pandangmu

Sunaryono Basuki Ks
http://www.lampungpost.com/

Kau letakkan pantatmu di atas kursi berkaki tinggi bertempat duduk bulat berlapis kulit warna cokelat tua di depan meja bar dan dengan serta merta kau pesan: “Lager satu!”

Kau sambar gelas bir itu setelah mengeluarkan satu lembar uang pound dan kau ucapkan thanks, kemudian matamu jelalatan terlempar ke seluruh sudut ruangan. Pasti kamu sedang mencari kursi kosong tempat kau merasa lebih santai dengan segelas besar birmu, atau mungkin juga kau akan membakar rokokmu dan mengepul-kepulkan asapnya memadati ruang sempit Oak Tree Pub yang sempit. Orang bilang di sini dulu ada sebatang pohon Oak tua yang ratusan tahun usianya tetapi sekarang tinggal foto hitam putihnya yang tergantungg di dinding pub.

Sebentar kamu layangkan pandangmu ke foto hitam putih berpigura kaca berukuran besar itu, mungkin kau membayangkan jalan itu: Sebuah pertigaan antara Jalan Headingly dan jalan lain yang sekarang bernama Shireoak Road, tempat Mary Morris Residence terletak, tempatku tinggal sampai bulan Juni depan. Baru kutahu bahwa Marry Morris pembuat kamus dan mungkin dana yang dipakai membangun asrama mahasiswa internasional itu berasal dari royalti bukunya.

Tampaknya kau segera bosan memandang foto yang mungkin saja telah kau pandang seribu kali, kau pandang setiap kamu berkunjung ke pub ini. Lalu, dengan langkah tegas kau melorot dari stool yang kamu duduki, dan menuju kursi kosong di seberang mejaku, padahal tempat duduk papan yang menempel sepanjang dinding dekat jendela kaca masih kosong.

“Hai!” sapanya.

“Hai!” aku menyahut.

Aku bukan pengunjung tetap pub ini, berbeda dengan temanku, mahasiswa Afrika hitam yang setiap malam minum-minum di situ dan setiap malam di dapur dia mengeluh tentang uang beasiswa yang kurang. Dia lalu menjelek-jelekkan Pemerintah Inggris yang memberinya uang belajar. Kadang sebelum berangkat ke pub dia mengetuk pintu kamarku dan meminjam uang satu pound dan tak pernah mengembalikannya. Berbeda dengan James, temanku di Fylde College di Lancaster yang pernah meminjam satu pound sebelum berangkat ke pub, dan pulangnya langsung mengetuk pintu kamarku dan mengembalikan uang itu.

“Lho, bawa saja kalau perlu,” kataku.

“Tidak,” kata dia. “Maaf, tadi aku pinjam siapa tahu aku harus nraktir minum teman dan uangku kurang. Ternyata cukup.”

Aku jadi teringat kata-kata Brian tentang budaya minum bir di pub. Kalau kita pergi bertiga, katanya, masing-masing harus siap mentraktir yang lain secara bergiliran. Kalau sudah selesai minum, maka harus menawarkan mengambilkan minuman kedua, sampai ketiganya sudah sama-sama membayar. Kalau hanya menunggu ditraktir, maka jangan diharap lain kali kita akan disapa teman dan diajak minum bersama. Bukankah pub memang semacam balai banjar di Inggris tempat bersosialisi?

Mengetahui hal itu, ketika aku berkunjung ke rumah Richard Watson di Marske-by-the Sea dan diajak ke pub, dan ditraktir minum oleh Mr. Smith teman Richard, aku menawarkan diri untuk membayar gelas kedua tetapi lelaki itu melarang:

“Tidak. Aku yang bayar. Kamu tamuku!”

Dan kepada teman-temannya di pub kota kecil itu dia perkenalkan diriku sebagai tamu dari Bali. Oh, Bali! Teriak mereka penuh kekaguman, membayangkan negeri eksotis:

“See Bali before you die!” Salah seorang mereka meneriakkan semboyan usang itu.

Dan kau sudah duduk di seberang meja. Mau ngomong apa selain cuaca, atau acara TV atau berita koran?

“Aku suka pub ini. Pengunjungnya kebanyakan mahasiswa. Bukankah di sekitar sini tinggal banyak mahasiswa?”

“Ya, ya, aku juga dari Mary Morris Residence,” kataku.

Kau meringis, kelihatann gigimu yang rapi dan seperti kutakutkan, kau mengeluarkan sebungkus rokok dari sakumu dan tanpa basa-basi menyalakan rokok sebatang. Di Indonesia, aku pasti ditawari rokok, tetapi tidak di sini. Aku ingat dalam perjalanan dengan kereta api dari London ke Lancaster, beberapa lelaki di dalam gerbong ngobrol dengan santai. Seorang anak muda yang duduk di depanku dan di sampingnya seorang lelaki lebih tua, mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai menyalakannya sebatang. Lelaki muda itu tampaknya tertarik dan minta sebatang untuk menemaninya merokok. Tetapi aku terkejut, sebab lelaki itu menyuruh pemuda itu mengambil rokok beserta bungkusnya dengan nada kurang senang. Dan lelaki muda itu minta maaf tetapi yang tua ngotot menyodorkan bungkus rokoknya. Aku merasakan ketegangan, tetapi lantaran aku tak paham budayanya, aku diam saja. Aku teringat Susan Spencer temanku di Lancaster. Dia beserta suaminya Terry pernah bekerja di Kenya sebagai sukarelawan. Di negeri itu dia belajar bahwa makanan adalah milik sosial, jadi saling menawarkan makanan itu wajar. Dan kebiasaan itu dibawanya sampai pulang ke Inggris. Kalau sedang makan, tak lupa dia menawarkan makanannya dengan sungguh-sungguh bukan basa-basi yang basi.

“Kau pasti mahasiswa juga,” katamu.

“Dan kau apa bukan mahasiswa?”

“Ya, aku belajar sosiologi.”

“Bagus untuk mengenal masyarakat. Apa kamu mau menulis skripsi atau desertasi tentang Pub Goers?”

Kau tatap mataku tajam seolah kau memprotes atau menelisik? Aku tak tahu. Aku gelisah kau pandang begitu. Katanya, orang Inggris sejak tahun 1967 menjadi permissive, bebas bicara apa saja, jadi kau mempraktekkan hal itu, memandang langsung ke dalam mata lawan bicaramu. Dan aku jadi berdebar sebab setiap pandangan bagiku mengirim getar rahasia yang menusuk kalbuku.

Kulihat bibirmu yang menggigit rokok seolah menggigit bibirku, kulihat rokok itu kau jilat seolah kau menjilatiku. Aku tak tahan melihat tatapan matamu yang langsung seolah mengejek seolah mengundang. Aku tak paham.

“Kamu dari Asia, ya? China?”

“Dari Bali!”

“Bali! Oh, tak kira bisa bertemu dengan orang Bali! Luar biasa. Coba ceritakan tentang sorga terakhir itu. Apa benar-benar sorga?”

Matamu masih penuh sorot bagai spotlight menerangi kegelapan. Dan membuatku berdebar. Lalu kau menaruh kedua sikumu di meja dan menjulurkan seluruh tubuhmu yang dibungkus sweater polo neck berwarna merah menyala itu mendekati tubuhku. Kucium bau asap rokok yang masih mengepul dari mulutmu bercampur bau bir yang menyengat. Aku selalu berdebar memandang gadis yang mengenakan sweater dengan lingkaran tergulung di leher, entah dari peristiwa mana, mungkin sudah lama lalu dan entah dimana.

“Yah, kamu bisa berselancar di Kuta atau di berbagai pantai lain di pesisir selatan, atau memandang sunset di Tanah Lot atau nonton Barong di Singapadu, atau wayang wong di Tejakula, atau liat dolphin di Lovina…”

Kulihat pandanganmu kosong, pasti kau tak paham tentang apa yang kuceritakan, dan aku tak mampu menjelaskannya dengan lebih perinci padamu. Aku bukan penulis buku panduan wisata yang bisa berkisah dengan menarik tentang hal-hal yang akan dialami oleh wisatawan. Aku bukan penulis The Yellow Bible, julukan buku panduan wisata yang banyak dikantongi wisatawan yang datang ke Bali. Namun, tampaknya kamu benar-benar tertarik.

“Kamu mau melancong ke Bali? Aku bisa kasih kamu alamat hotel-hotel murah di Lovina. Atau kalau kamu lebih suka tinggal di Kuta, kamu bisa menginap di salah satu hotel kecil di Pettycoat Lane.”

“Hah? Di mana itu?”

“Di Kuta, di Bali bagian selatan. Nama-nama jalannya memang norak. Nyontek nama-nama jalan di negerimu.”

“Oke, coba kasih alamatmu nanti aku bersurat.”

Kau masih juga menatapku langsung menembus jantungku sambil tersenyum kecil. Aku merasa sesak bukan karena pandanganmu tetapi mungkin karena asap rokok yang mengepul di mana-mana sampai kaca mataku berembun dan kusapu dengan tisue yang kutarik dari kantong celanaku. Kamu menyodorkan notes dan aku menuliskan nama dan alamatku di situ. Dan tanpa kutanya kamu berkata:

“Namaku Nancy.”

Aku tersenyum, apakah Nancy Reagan, pasti kamu tak tahu kenapa aku tersenyum.

“Oke. Mungkin kita ketemu lagi di sini lain kali,” katamu setelah kamu minum dua gelas tanpa menawariku. Dan kamu dengan langkah pasti meninggalkan aku sendiri dalam pub, masih dengan gelas birku yang setengah terisi. Jatahku hanya satu gelas tak boleh lebih.

Kau tak pernah kujumpai lagi sebab aku memang jarang ke pub dan kamu juga tak mencariku di asrama, dan kau juga tak pernah bersurat ke Bali. Tapi, permintaanku tetap satu: Jangan kau tusuk hatiku dengan tajam pandangmu. Aku takut. Takut jatuh cinta!

Singaraja 23 Agustus 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *