Kegelisahan (Indonesia) di Los Angeles

http://entertainmen.suaramerdeka.com/
Judul: LA Underlover
Penulis: Budi Darma, Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan, Nugroho Suksmanto, dan Chavchay Syaifullah
Penerbit: Katakita
Tebal: 247 halaman
Peresensi: Saifur Rohman*

AKHIRNYA harus diungkapkan dengan gaya ajakan, sebelum segalanya berlarut-larut ketika setiap karya sastra harus dikaitkan dengan antropologi sebuah kota, marilah membaca kumpulan cerpen ini dengan cara menempatkan pada lima konsepsi dasar. Pertama, konsepsi ilmu sastra.

Kedua, dalam wawasan interdisipliner, sastra dan pendekatan antropologis sebuah kota hanyalah fenomena lanjutan dari semangat pluralisme dalam konteks cultural studies mazab Birmingham yang dikembangkan oleh Raymond William. Ketiga, dalam tafsir kebudayaan, ini tidak lebih dari sebuah pembentukan agen-agen kebudayaan. Mereka beranjak dari kota yang menjadi ikon dari sebuah kesadaran budaya. Dengan begitu, interaksi kebudayaan tidak hanya didasarkan pada proses negosiasi masing-masing pelaku budaya, sebagaimana pandangan Antonio Gramsci, tetapi juga dikerangkeng di dalam proses kontestasi, dominasi, dan subordinasi.

Keempat, dalam aras metafisis, ini merupakan pembongkaran idealisme transenden gaya Hegelian menuju materialisme gaya Nietzschean. Dunia pemikiran sedang bergerak untuk menemukan cara ucap yang baru melalui fenomena-fenomena empiris dan bukan pada nalar murni yang bersifat transendental. Kelima, dalam wawasan aksiologis, semangat zaman (zeitgeist) dibentuk oleh laporan-laporan perjalanan tentang sebuah tempat-tempat yang jauh. Membaca orientasi kultural sastra Indonesia bisa dilakukan dengan cara melihat latar kota yang diangkat di dalam cerita.

Kegelisahan baik dalam arti sebenarnya maupun kiasan, dalam kumpulan cerpen ini memang diungkapkan dalam 17 cerpen oleh lima cerpenis. Cerpen-cerpen itu memang bercerita tentang atau berlatarbelakang pada Los Angeles, sebuah kota di sebelah utara kota San Diego, wilayah Amerika Serikat. Sebagai sebuah fakta, maka persepsi sastrawan terhadap kota itu sebagaimana direpresentasikan dalam cerita mengalami proses inkubasi tafsir yang berbeda-beda. Budi Darma menyatakan Los Angeles sebagai kota riuh yang dipenuhi kesenangan sehingga para tamu haruslah ?diinapkan di hotel-hotel Los Angeles? (2008: 17) supaya senang. Los Angeles dalam cerpen ?Sahabat Saya John? adalah impian-impian bagi seorang pengelana kelasi kendati hanya sekadar numpang menulis surat. Muncul akhir yang dramatis ketika sang tokoh menulis surat kepada Markasan; ?Surat panjang itu ditutup dengan nama kota dan tanggal, Los Angeles, Selasa, 12 November 2957? (halaman 52).

Kesenangan itu kiranya tidak terlalu salah di mata Triyanto Triwikromo. Los Angeles di matanya bukan sekadar jalan lewat ?mobil Paris Hilton atau jejak kaki Pamela Anderson?, tetapi juga menyimpan kawasan-kawasan kumuh yang terjangkit aneka bentuk kejahatan (halaman 68). Los Angeles adalah rama-rama mimpi tentang keduniawian yang membebaskan diri dari mitos-mitos tentang ?Jaka Tarub? dan ?Ratu Kidul? (halaman 100). Itulah tempat ketika segala bentuk kebusukan dan kenikmatan berkelindan lintang-pukang.

Dalam banyak hal, Eka Kurniawan bersepakat dengan Triwikromo. Hanya saja, kebusukan Los Angeles baginya dibalut dengan romantisme kencan antara Mei dan Efendi di Pecinan dalam ?Gerimis yang Sederhana? dan Supriyanto yang mencari kesejatian cinta sampai di kota itu dalam ?Pesan Moral?. Tokoh Siti dalam cerpen ?Penafsir Kebahagiaan? adalah representasi pergulatan seks komersial di Los Angeles yang menawarkan kebahagiaan sesaat kendati ?kenyataannya, tak ada yang benar-benar bahagia? (halaman 141). Siti yang cantik dan seksi harus berakhir dengan hamil dan dibuang oleh Jimmi dan Markum karena sudah tidak dibutuhkan oleh Los Angeles.

Imaji seksualitas itu rupanya tidak bisa dihilangkan dari cerita Nugroho Suksmanto. Baginya, Los Angeles adalah kota yang jauh yang membuat segala model perselingkuhan terjadi. Pengalaman-pengalamannya yang dituangkan dalam empat cerpennya bisa dibaca secara terpisah, tetapi bisa juga dilihat sebagai serial tokoh aku yang memiliki pasangan Nancy dan mengalami pergulatan untuk setia atau hanyut dengan godaan Los Angeles yang diwakili oleh Secunda.

Ini sangat berbeda ketika Chavchay Syaifullah dengan gemetar dan traumatik melihat Los Angeles sebagai kota yang dipenuhi dengan Arabfobia. Los Angeles adalah Amerika yang tidak menerima orang Islam, teroris, dan Arab. Nama Didi Husein dalam cerpen ?Jillian Mati Telanjang, Didi Jalan Telanjang? disamakan dengan Saddam Husein. Asal Kota Banten disamakan dengan Imam Samudera. Dan agama Islam disamakan dengan teroris. Karena itu Los Angeles itu telah dipenuhi dengan ‘langit pucat (yang) sudah pasti membuat orang-orang yang lewat mempercepat langkah? (halaman 237). Kepucatan langit adalah simbol dari kepanikan yang meng?angkangi warga kota.

Realisme model Budi Darma (?Distrik Rodham?, ?Sahabat Saya John?, dan ?Gimbol?), Chavchay Syaifullah (?Jillian Mati Telanjang, Didi jalan Telanjang? dan ?Senandung Langit Pucat?, Eka Kurniawan (?La Cage aux Folles?, ?Penafsir Kebahagiaan?, ?Gerimis yang Sederhana?, dan ?Pesan Moral?, dan Nugroho Suksmanto (?Semusim Kesedihan?, ?Kebohongan Putih?, ?Ilusi Musim Gugur?, dan ?Neraka Musim Semi?, maupun surealisme gaya Triyanto Triwikromo (?Belenggu Salju?, ?Lembah Kematian Ibu?, ?Cahaya Sunyi? dan ?Sihir Suresh? diakui telah memproduksi realitas Los Angeles sebagai kota yang penuh ironi.

Di atas semua itu, sayang, kemampuan bertutur para sastrawan tidak merata. Kenyataannya memang tidak gampang menyeleksi cerpen dengan satu tema dan setara dalam kualitas, tetapi tugas itu sudah telanjur dipilih. Yang tidak bisa dimaklumi, tidak ada pertanggungjawaban kategoris tentang pemilahan masing-masing karya. Sebagai agen kebudayaan Los Angeles, mestinya ada penjelasan tentang alasan-alasan, asal-usul teks, serta kerangka teoretis yang melahirkan antologi itu. Kalimat itu tidak menuntut lebih jauh agar ikhtiar itu didudukkan dalam kerangka sejarah kritik sastra mutakhir sehingga tampak ?berguna?. Sekalipun argumentasi yang akan diajukan bahwa ?antologi itu sendiri adalah sebuah pertanggungjawaban?, saya kira kesengajaan ini bukanlah sebuah kelebihan.

*) Kandidat Doktor Ilmu Filsafat UGM, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *