Lampion Merah

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Merly dapat mengingat bau dupa dan asap lilin merah di atas tempat pemujaan para lelulur yang penuh dengan buah-buah jeruk bewarna kuning emas petanda rejenki melimpah. Foto nenek leluhur yang tak pernah dikenalnya dipasang di situ dan dia masih ingat kakeknya bersembahyang di depannya dengan memegang dupa mengepulkan asap dan kedua tangannya yang tertangkup dan digerak-gerakkan keatas ke bawah. Merly harus mengikuti petunjuk kakeknya menghormat leluhur. Kakeknya yang mungkin berusia tujuh puluh lima tahun memeliharanya sejak dia duduk di bangku SMA. Merly heran bagaimana lelaki tua itu masih kuat membanting adonan terigu di atas marmer untuk membuat mie basah. Orang-orang di pasar bilang mie buatan kakeknya lembut, gurih, enak, dan lama kelamaan kakeknya itu tak pernah menjual mie ke pasar tetapi orang-orang datang ke rumah mereka, memborong mie yang masih hangat itu. Mereka menjualnya kembali di restoran dan gerobak mie yang mereka punyai.

Orang tua Mei Lan punya sepuluh gerobak mie yang dijalankan orang lain berkeliling kota dingin itu, dan selalu dapat pulang lebih awal karena dagangannya habis. Orang tua Mei juga membuat pangsit basah dan pangsit kering sendiri walaupun membeli mie basah dari kakek Merly. Lebih ringan pekerjaannya, karena dia tidak hanya berusaha dengan sepuluh gerobak mie pangsitnya. Dia juga membuat kue-kue yang ditaruh di berbagai toko kue.

Itu kenangan manis tentang kakeknya. Kedua orang tuanya sendiri tinggal di Makasar dan Merly tak mau mengikuti mereka. Dia lebih akrab dengan kakeknya yang hidup sendirian, setelah neneknya meninggal sepuluh sebelumnya.. Kakeknya mendidiknya dengan keras. Merly diberi kesempatan menempuh kuliah di IKIP. Mula-mula kakeknya mencibir:

“Mau jadi guru? Kamu harus jadi pengusaha mie raksasa. Kenapa tidak masuk Fakultas Ekonomi?”

“Engkong tahu Jurusan Bahasa Inggris di IKIP ini merupakan Jutrusan Bahasa Inggris terbaik di seluruh Indonesia, bahkan pernah punya mahasiswa dari Iran. Sebagai lembaga tertua, dosen-dosennya dulu lulusan Standard Training Course di Yogya, lalu mendapat gelar MA dari AS dan kemudian mendapat gelar doktor. Mereka kemudian menjadi profesor. Yah, banyak di antara mereka sekarang sudah pensiun, tetapi Engkong tahu, kebanyakan dosen Bahasa Inggris di seluruh Indonesia berasal dari sini.”
“Tetapi kamu kan akan jadi guru?”
“Tidak selalu, Kong. Mer bisa kerja di perusahaan swasta, bisa kerja di bank asing.”

“Jadi, nanti kalau sudah lulus mau melamar kemana?”Merly tersenyum. Melamar? Atau mungkin Hadi malahan akan melamarnya lebih dulu. Tetapi tentu saja Merly tak berani bilang pada kakeknya bahwa Hadi mencintainya. Hadi yang dua tahun lebih tua, yang menjadi kakak kelasnya di SMA Alun-alun Bunder yang dikelilingi pohon-pohon trembesi tua yang teduh. Guru-gurunya bilang bahwa pohon-pohon itu sudah sebesar itu ketika mereka menjadi siswa di SMA pertama di kota itu. Mereka bukan angkatan awal tetapi sudah merupakan siswa angkatan kesekian puluh, di SMA yang punya lambang buatan Yos Rahardjo angkatan enam puluhan dan semboyan Mitreka Satata yang dibuat oleh Bapak Subardan guru Bahasa Kawi waktu itu.
“Kalau Mer sudah lulus, akan melamar ke City Bank, atau paling tidak ke BCA.”
Kakeknya tersenyum bangga.
“Kamu harus rajin belajar. Bekerja keras. Jangan pacaran dulu.”

Nampaknya kakeknya merasakan, gadis remaja seperti Merly bisa saja terjebak dalam percintaan remaja gila-gilaan. Tetapi dengan Hadi dia tak main gila. Merly sudah dipekenalkan pada kedua orang tua Hadi yang bekerja sebagai guru. Tetapi Hadi tidak diperbolehkan datang ke rumahnya, kecuali bersama-sama beberapa teman lelaki dan perempuan. Alasan studi bersama, mengerjakan tugas yang membanjir.

Kakeknya juga membelikannya sebuah komputer dengan printernya agar dia tak perlu ke rental komputer kalau harus mengerjakan tugas-tugasnya, apalagi dia harus bekerja sampai malam. Sekali Merly pulang terlambat dan kakeknya sudah menunggu di pintu dengan wajah marah. Merly menjelaskan bahwa mereka berlatih drama dalam rangka tugas tetapi lelaki itu tak peduli dan menampar mukanya.

Merly tidak mendendam pada kakeknya. Dia tahu lelaki itu sangat menyayanginya dan takut kalau-kalau terajdi hal yang buruk pada dirinya. Sebetulnya dia tidak pulang sendirian. Hadi mengantarnya tetapi tak sampai ke pintu rumah, walau sekilas mereka beradu cium.

Hadi lulus terlebih dulu dan diterima bekerja di sebuah bank asing di Surabaya. Sementara mereka berpis ah hanya bisa bertukar surat yang dialamatkan di rumah Nurul. Dan Merly pun juga lulus dengan nilai bagus.
“Kemana kamu mau melamar?”
“Kak Sylvie bilang ada lowongan di tempatnya bekerja yang mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris.”
“Perusahaan apa?”
“Pabrik benang di Surabaya.”
“Maksudnya? Cuma jual benang?”

“Kong, ini perusahaan besar yang memasok benang ke berbagai pabrik tekstil sampai di Bandung, Pekalongan. Benang itu ditenun menjadi bahan jeans, ada yang khusus membuat lap pel, dan yang di Pekalongan pabrik kain batik, taplak meja batik dan macam-macam lainnya. Bukan hanya satu jenis benang Kong.Benang tetoron, benang segala macam”
“Oh! Jadi kerjamu apa?”
“Membantu Kak Sylvie. Dia manager marketing, dan juga lulusan bahasa Inggris.”

Nampak kakeknya puas tetapi wajahnya berona kecewa. Surabaya, berarti cucu kesayangannya itu harus berpisah dengannya, dan sekarang untuk apa dia membanting adonan di atas marmer membuat mie?

Orang tua Hadi sering bertanya kapan mereka menikah, walau, kata mereka, sebetulnya orang-orang tua melarang lelaki Jawa menikah dengan perempuan Tionghoa. Katanya, tulang mereka lebih muda dan perkawinan mereka akan hancur. Buktinya, dulu seorang raja menikah dengan puteri Campa dan akhirnya kekuasaannya jatuh.

Tetapi Hadi dan Merly walau di kelas terpisah dalam tahun terpisah, masih ingat akan apa yang diajarkan Pak Hugiono. Leluhur kita berasal dari Tiongkok Selatan. Jadi, bukankah kita bersaudara? Yang sudah lebih dahulu merantau ke tanah Jawa, berbaur dan beranak pinak, dengan Merly yang kedua orang tuanya masih Tionghoa asli. Asli? Betulkah?

Merly ingat pesan kakeknya. Dia boleh kawin dengan Seng Hwa, dengan Toat Bun, dengan Fon Sen, Tek Hauw, tetapi tidak dengan orang Jawa.
“Masih banyak keluarga Tionghoa kita, jangan darah kita dicampur adukkan.”

Merly memprotes. Nama-nama yang kakeknya sebut tidak semarga, berarti orang lain juga. Ceng Seng Hwa, Tan Toat Bun, Hie Fon Sen, Can Tek Hauw, Tan Lioe Ie. Aneh, mereka itu semua sudah tua dan sudah berkeluarga, tetapi kenapa kakeknya menyebut nama-nama mereka? Sekadar sebagai contoh?

Yakin bahwa kakeknya tak dapat menyetujui perkawinan mereka, Merly dengan setengah menangis mengatakan:
“Hamililah aku, Mas, biar kita fait a compli kakek.. Pasti perkawinan kita tak akan dicegahnya.”
Dengan tenang Hadi berbisik:
“Mer, tidak adakah jalan lain?”
“Itu satu-satunya jalan. Buktinya Mei Lan juga diijinkan orang tuanya kawin dengan Wahyu saat dia hamil.”
Hadi tersenyum dan berbisik lagi:
“Agama tak mengijinkan kita berbuat begitu.”
“Kalau gitu, kita lepaskan agama!”
“Jangan gila, Mer.”
“Aku memang gila, Mas. Gila cinta.”
“Oke-oke, Besok kita pulang ke Malang dan bilang kamu sudah hamil dan kita mau menikah.”
“Tetapi, aku kan tidak?”
“Bilang saja kamu hamil tiga bulan dan tak mungkin digugurkan. Berbahaya.”
Dengan hati berdebar mereka pulang dalam mobil milik Hadi. Lelaki tua itu terkejut menerima tamu yang belum dikenal. Hadi sengaja membawa oleh-oleh kesukaan kakek.. Dan setelah bicara kesana-kemari, dengan menangis Merly berlutut mencium kaki kakeknya.
“Maafkan Mer, Kong. Mer mohon Kong merestui perkawinan kami.”
“Kenapa? Kenapa cepat begini? Kenapa tak kasih tahu?”
“Maaf, Mer hamil!”

Lelaki itu dengan sigap menampar pipi Merly, juga menampar pipi Hadi kanan-kiri. Lelaki itu diam saja.
“Kurang ajar!” umpatnya.

Lalu, tak diduga, lelaki tua itu menarik tangan Merly sampai berdiri dan memeluknya. Lalu, kakek juga memeluk Hadi.

Sekarang, Merly tidak menyediakan altar buat memuja kakeknya, tetapi Hadi mengizinkannnya membuat sesaji berupa secangkir kopi, sepiring jeruk berkulit kuning emas, dan juga sepiring apel. Dia juga menyalakan lilin besar berwarna merah, dan juga menggantung dua buah lampion merah di kanan kirinya. Tetapi dia tidak membakar dupa. Nanti kalau hari raya Cing Bing mereka akan mengadakan ziarah kubur ke makam kakeknya.***

* Singaraja 16 Januari 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *