Menjadi Tubuh Sendiri

Yopie Setia Umbara*
http://pr.qiandra.net.id/

MEMBACA kembali sajak berjudul “Menjadi Penyair Lagi” karya Acep Zamzam Noor yang bertiti mangsa tahun 1996, saya terpikat untuk lebih dekat dengan sajak tersebut. Sajak ini menjadi judul kumpulan puisi Acep Zamzam Noor Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) dan meraih anugerah Khatulistiwa Literary Award 2007.

Pada sajak ini Acep begitu detail menghidupkan benda-benda yang dalam kehidupan sehari-hari sering tidak pernah kita maknai selain hanya benda fungsional. Meski makna yang lahir dari ruang renung Acep berangkat dari sebuah objek tunggal. Namun kemudian, apa yang terekam dalam ingatan Acep lantas berubah menjadi diksi yang tak sekadar menyemarakkan sajak, tetapi juga menghidupkan sajak tersebut.

Dalam berbagai forum diskusi sastra, Afrizal Malna selalu mengeluhkan sajak-sajak yang berjarak dengan tubuh si penyairnya sendiri. Akan tetapi, dalam sajak “Menjadi Penyair Lagi” kita akan merasakan sajak yang menjadi tubuhnya sendiri. Tubuh yang tak hanya merasai benda-benda, tetapi tubuh yang kemudian mengungkapkan perasaannya tanpa ragu-ragu.

Seperti pada bait pertama, Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu/Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu/Setiap melihat iklan sabun, shampo atau pasta gigi/Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi/Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa/Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan/Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi/Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi/Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata/Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu/Telah menjelmakan kata-kata juga. Acep berhasil menemukan kembali rekaman ingatan akan kenangan terhadap sosok Melva dari berbagai benda. Mulai dari rambut, iklan, hotel, dan parfum yang pernah ditangkap oleh indera-nya hingga mengembalikan pengalaman yang memberikan dorongan untuk diungkapkan kembali dengan penuh penghayatan.

Begitu pula pada bait kedua: Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa/Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecoklatan/Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja/Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi/Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku/Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku/Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu/Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu/Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang/Sebagai ucapan selamat tinggal.

Jika kita baca secara sekilas, mungkin kita hanya akan menangkap fungsi dari diksi benda-benda yang dipilih Acep untuk mengekalkan pengalamannya. Namun, jika dibaca berulang-ulang, kita akan menangkap bahwa kertas, rokok, gelas kopi, sepatu, pakaian dalam, dan ikat pinggang itu sedang mengungkap tubuhnya sendiri dari sebuah peristiwa dalam ruang dan waktu yang koheren serta punya korelasi satu sama lain pada narasi yang sangat deskriptif.

Sementara itu, pada bait ketiga dan keempat Acep menyiratkan bahwa kesendirian adalah peluang untuk menyatakan diri dari berbagai pengalaman visual dan spiritualnya. Berikut kutipan dua bait terakhir sajak tersebut, Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan/Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan/Penyair tidak menangis karena dikhianati/Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam/Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata/Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:/Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya/Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi/Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini/Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya//O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi//1996.

Dari pergumulan dengan pengalamannya pada ruang personal, Acep tergiring untuk memaknai benda-benda kasat mata yang seringkali seolah tidak memberi arti apa pun, kemudian Acep mengonfrontasikannya dengan realitas sosial hari ini di mana terjadi berbagai fenomena. Mulai dari fenomena alam hingga fenomena sosial. Akan tetapi, pelarian Acep ke ruang impersonal itu tetap berangkat dari tubuhnya sendiri. Acep tidak sekadar melihat ruang impersonal sebagai pengalaman visual semata, tetapi Acep mengelaborasikan dengan pengalaman spritualnya yang bermula dari dalam tubuhnya sendiri.

Tentu saja Acep telah keluar dari idiom-idiom klise dengan cara bertutur yang sederhana dalam sajak tersebut. Acep tidak lagi membebani metafora pada frasa-frasa yang dituliskannya. Namun, Acep membiarkan setiap kata-kata yang menjadi teks itu menyampaikan makna tubuhnya sendiri seluas mungkin. Meski tentunya cara ungkap Acep adalah hal yang berbeda dengan kredo Sutardji Calzoum Bachri. Maksud saya, diksi-diksi yang dipilih dalam sajak tersebut tetap utuh dengan tubuhnya yang memiliki arti harfiah tapi ia kemudian berbicara sendiri dan seadanya tentang makna lain di balik fungsi harfiahnya.

Narasi deskriptif pada sajak ini adalah kelebihan utama yang dimiliki sang penyair. Acep yang juga dikenal sebagai pelukis paham betul soal komposisi. Dengan cermat, dalam sajaknya, ia menuturkan di mana setiap benda berada. Dengan demikian, kita juga dapat menikmati sajak tersebut seperti mengamati sebuah lukisan atau bahkan sebuah potret yang mampu membingkai suatu peristiwa dengan nuansa dramatis seperti kejadiannya. Dengan demikian, perasaan pembaca ikut hanyut dalam permainan kata-kata Acep.

Apa yang kemudian membuat saya menga-takan bahwa sajak ini menjadi tubuhnya sendiri adalah pengalaman indrawi si penyair yang tidak hanya sanggup mengembalikan kenangan yang terekam dalam ingatannya. Melainkan, kenangan-kenangan itulah yang memaksa untuk diucapkan kembali oleh tubuh yang memendamnya. Karena dengan rileks benda-benda yang ditangkap secara visual oleh si penyair sanggup mengembalikan ingatannya (penyair) terhadap suatu objek tunggal dan disajikan kembali dengan begitu enteng bagi pembaca.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Dr. Mikihiro Moriyama pada pengantar buku kumpulan sajak Menjadi Penyair Lagi, ia mengungkapkan “? seorang penyair, mendapatkan inspirasi dalam perjalanan, yaitu petualangan badani menemukan petualangan rohani?.” Perjalanan yang dalam hal ini tidak hanya bermakna bepergian dari satu tempat ke tempat lain, pengembaraan atau semacamnya. Akan tetapi perjalanan Acep yang panjang menapak dunia sajak juga telah menjadikan tubuhnya sebagai ruang dialektika spiritual yang kemudian mengirim kesan dan pesan kepada pembaca secara utuh.

Ingatan pada berbagai tempat dan berbagai peristiwa juga pada berbagai nama seperti Melva dalam sajak “Menjadi Penyair Lagi”, dapat kita baca bukan sekadar pertanda perjalanan semata. Akan tetapi, ia bermakna sangat luas dan bagi pembaca ketika ingin mengganti nama itu untuk menariknya ke ruang intrepretasi yang sangat personal bisa saja mengganti dengan nama lain yang lebih menggetarkan pengalaman pribadi masing-masing. Misalkan mengganti dengan nama Rosi, Tya, atau nama-nama lain. Karena nama tersebut tidak lain sebagai penanda peristiwa yang pernah dilalui penyair.

Dalam konteks sajak dan dalam kehidupan nyata Acep, mungkin nama Melva ini memang bukan sekadar petanda. Akan tetapi, membaca teks yang bersih tidak perlu memasuki ruang privasi penyair walau mungkin akan sangat menarik. Dengan kata lain, membaca teks yang murni adalah membaca sajak itu sendiri. Karena petanda itu adalah penanda makna yang lebih luas daripada sekadar nama seseorang. Meski kita tidak dapat memungkiri bahwa nama Melva cukup feminis.

Dengan membiarkan sosok Melva dalam sajak ini tetap misterius tetap menarik dan tidak akan membuat sajak ini kehilangan nilai estetisnya. Sebab, tema besar sajak ini tidak berpusat pada dedikasi Acep terhadap sebuah nama, Melva. Melainkan, Acep sedang berbicara hal yang lebih besar, kesunyian, fenomena sosial, dan persoalan spiritual dari perenungannya terhadap benda-benda yang tertangkap dan terperangkap dalam tubuhnya.

Maka, ketika tubuh si penyair, Acep Zamzam Noor, sudah tidak berjarak lagi dengan tubuh kata-kata yang menjadi teks pada sajak “Menjadi Penyair Lagi”, teks tersebut telah menjadi tubuh yang sanggup keluar dari ruang personal ke ruang impersonal. Dengan demikian, kata-kata tersebut tidak sekadar menjadi pakaian untuk menyampaikan maksud penyair. Akan tetapi, ia juga menjadi tubuh yang memberi ruang untuk dimaknai seluas-luasnya oleh pembaca. ***

*) Penyair, pegiat Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *