Puisi-Puisi Abdul Azis Sukarno

http://sastrakarta.multiply.com/
SEJAK LAMA KITA TELAH CACAT

terlalu sering kita berjalan dan tersesat
terlalu sering kita lukai kaki kita sendiri

mau kemanakah kita sebenarnya?
kenapa harus ada tujuan dan kita harus meyakininya?

hidup dan hiburan sepertinya tak bisa diceraikan
memisahkannya berarti sendiri dan mati

lihatlah, bagaimana kebohongan menjadi kawan
satu-satunya?

dunia adalah sarang jebakan dan perangkap
untuk kita selamanya. harapan mampu berlari kencang
adalah sikap aneh dan menyedihkan
marilah kita menololkan diri habis-habisan. atau
memintarkan diri kita dengan banyak kebodohan
jangan percaya, bahwa kita lebih hebat dari siapapun
Jangan percaya, bahwa masing-masing diri memiliki
kelebihan. itu hanya gejala 1 persen + 99 keberuntungan

ingat, kita telah lahir dalam keadaan cacat
cacat melihat, cacat mendengar, dan cacat merasakan
kebenaran! kita semua adalah produk cacat mental
sehingga, tak perlu heran, bila kita lamban dalam segalanya

dunia adalah pusat aborsi,
bagi kandungan pikiran-pikiran besar kita
pusat rehabilitas yang tidak efektif bagi pecandu-pecandu
seperti kita yang gemar menghisap mimpi
ayo menangis dan tertawa,
untuk merayakan ketidaktahuan kita akan arti
dari sedih dan gembira
ayo bangun dan tidur lagi
toh kenyataan dan bukan kenyataan adalah sama saja!

Pringgolayan, Yk, 2007

BIARLAH!

biarlah, semua tak terjawab
biarlah, telinga-telinga itu menjadi tuli
biarlah, mereka menganggap lidahku kelu

aku sudah cukup sabar
untuk sesuatu yang kadang meragukanku
cukup paham
atas apa yang mesti kuraih dan kulepaskan

biarlah, tangan-tangan itu membutakan mataku
dan membuat jalanku terhalang kegelapan
demi mala petaka yang ada di depanku
akan kudatangi ia sebagaimana ia mendatangiku
akan kuhajar ia sebagaimana ia menghajarku
akan kubiarkan kakiku melangkah ke arah yang salah
dan menyesatkan

aku sudah cukup tabah
mengusung mimpi kemana-mana, seperti mengusung jenazah
yang tak siap dikebumikan. Menjadi panji tengkorak
yang tak pernah kelelahan menyeret peti mati kekasihnya.

dan begitulah, aku dengan mereka
adalah aku dengan lubang-lubang jebakannya
yang kini kutahu amat menyedihkan
aku dengan mereka adalah aku dengan luka-luka
yang menganga!

Tamansiswa, Yk, 2006

AKU RINDU LAUT DAN IKAN-IKAN LAPAR

sudah sekian tahun
sungai tempatku tenggelam mengering tanpa air
sudah sekian waktu itu pula
tubuhku diam di sela-sela bebatuan tak terbawa air

tak ada yang tahu, kenapa aku sampai kemari
tak juga diriku yang menerima nasib jadi begini
dulu aku hanyut, karena sungai menghanyutkanku
dulu aku tertarik arus, karena lebih kuat dari daya berontakku

muara mimpi menjadi muara ilusi
muara tanpa kepastian dan tempat yang cocok untuk bunuh diri
muara mimpi menjadi muara halusinasi
tak bisa ditebak, tak juga diyakini

aku bergerak, karena digerakkan
aku diam, karena didiamkan
seperti jasad beku dalam keranda panjang
yang tak tahu kapan dan di mana akan dimakamkan
sudah sekian tahun,
aku disembunyikan begini rupa tak berdaya dan tidak bisa apa-apa
terselubung dan tak menentu
terjepit payah oleh kepingan-kepingan waktu

laut! laut! laut! di manakah kau?
ikan-ikan lapar! ikan-ikan lapar! Aku rindu kalian semua.

Monjali, Yk, 2006

SEJUJURNYA AKU MENOLAKNYA, TAPI?

sebagai ulat, sejujurnya aku menolak menjadi kepompong
dan sebagai kepompong pun sebenarnya aku menolak
menjadi kupu-kupu
tapi, semua telah terjadi
dengan kedua sayap ini, sesuatu seolah memaksaku
masuk ke dalam tamanmu: taman yang dulu tak pernah
sedikit pun kuimpikan

sekarang, mau tak mau
aku mesti belajar menghirup aroma bunga
mencium semua putiknya
dan berputaran terbang rendah di sekitarnya

setelah itu, tugasku tidak lebih dari menunggu, menunggu,
dan terus menunggu, kapan saatnya waktu
meluruskan tubuh dan semua penolakanku

Pringgolayan, Yk, 2006

SAMPAI LELAH. SAMPAI LELAP

jika aku bersujud, pada siapa aku menyembah?
jika aku bersedih, pada siapa aku meneteskan air mataku?
jika aku gembira, pada siapa sebenarnya aku tertawa?

telah lama cawan jiwaku kosong dan membiarkan
rasa hausku menjadi penderitaan. Telah lama tenggorokan
batinku mengering dan membiarkan rasa dahaga menyiksaku
aku cukup terbiasa. Siang atau malam bagiku sama saja
sebab di antara cahaya dan kegelapan, aku tak di mana pun

seperti kulit kepompong, aku lahir dari ulat
yang meninggalkanku setelah menjadi kupu-kupu
sendirian, menempel pada sebuah pohon yang kelak
memusnahkanku. Aku seolah bukan bagian dari diriku

jangan beri aku cermin, karena aku telah lupa cara melihat diriku
jangan beri aku cinta, karena aku telah lama menghilangkan tempatnya
jangan beri aku keyakinan, karena sakitku akan bertambah parah olehnya

biarkan aku seperti ini, bila memang harus begini
berjalan sewajarnya, bergerak apa adanya
sampai aku lelah, sampai aku lelap
sampai aku menemukan diriku dalam mimpi yang sesungguhnya.

Monjali, Yk, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *