Puisi-Puisi Fauzi Absal

http://sastrakarta.multiply.com/
SESOBEK ANGIN

sesobek angin mula-mula
mengembara di benua-benua di agama-agama:
sesobek angin!
hanya angin sesobek – “cukup” – katanya
menyayangi namaku. sesobek angin
adalah berita adam terguling

sesobek angin bercengkerama di pelabuhan
berjodoh dengan denyutku
sesobek angin merayakan pelaminan
membongkar kucir lilin menetapkan darah:

sesobek angin membubuhkan berkah kunang-kunang
sambungan nasib moyangku!

sesobek angin memuat kerlap-kerlip ikan
sesobek angin adalah makna
atau taman makna
adalah bahasa arwah.
sesobek angin menemukan mata
menemukan telinga menemukan mulut
memperoleh leher memperoleh kemaluan
memperoleh kegairahan dalam hidupku

sesobek angin adalah berita persembahan
adalah berita mengenai kincir angin di surga

MATA ZAMAN

Mataku ini makin menyala
sebelah jadi bajingan sebelah jadi pelacur
telah semakin sempurna menyamarkan kebenaran
baik dan buruk telah sama-sama percaya diri
pada suatu pesta yang menenung hati nurani

mataku kini adalah sepasang mempelai yang gembira
merayakan keajaiban makna
membuat kota-kota menggeram dan marah
sibuk dan bingung
dengan api unggun yang mencekam
mataku mengembara
merencanakan suatu dunia jadi pasar malam
berdampingan langsung bangunan bordil
tatapannya menembus perahu layar dalam hati kecilmu.
artinya

apakah lilin putihmu yang masih menyala
tahan amukan cuaca?

1995

HALUSINASI DUNIA KELAM

“Di dunia kelam
semua orang ingin tampak jadi pahlawan.” kata mataku yang
kelam
“Itu peradaban yang tidak beradab,” kata mataku yang
putih
“Kebajikan terbit dengan cara ajaib dan mati secara
gaib,” kata mata kakiku
“Ada burung hantu yang suka menakuti kita,” kata kaca
mataku yang kiri
“Hei, ada ular membentuk karangan bunga di cakrawala,”
kata manik mataku
“Wah, ada yang menguntit kita,” kata bulu mataku
“Ada orang makan orang,” kata mata tetanggaku
“Ada yang lihat? Ada orang berjalan dengan kepalanya,”
kata mata penggemar jambu bol
“Hei, jangan Kau tinggalkan daku. Mohon
Jangan Engkau tinggalkan daku,” kata doaku yang rabun dan
sembab

1991

OBSESI ESKALATOR

Semua bangunan patah tak sampai pada puncaknya
Karenanya permohonan-permohonan dengan ruangan
berlantai banyak. Eskalator itu meluncur ke bawah
dengan suara mesin berat yang harus kami sangga

Merambat-rambat di udara yang dindingnya berkapur
garam. Sedikit banyak kami adalah rombongan
cacing yang akhir-akhir ini tersedot
Terdorong jadi rakus
Kami sudah mengenakan helm menyibukkan lalu-lintas
di parit-parit di lembah-lembah dan bukit-bukit
dan di segala penjuru saluran industri

Kami bernafsu besar tinggal landas dari lantai
paling bawah. Apa yang selalu kami ingat
adalah sejarah. Kami adalah tokoh-tokoh sejarah
dengan dinding-dinding garam. Bahkan gunung, bukit
dan langit bergaram terus-menerus meneteskan
garam industri

Kami terus-menerus di sini seolah sembuh
semangat kami. Kami sudah mengenakan helm
Tapi eskaltor itu meluncur ke bawah
dengan peralatan berat yang harus kami sangga

1988

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *