Puisi-Puisi M. Aan Mansyur

http://www.korantempo.com/
APAKAH PUISI INI MEMBENCI (PUISI) HUJAN?

Jika pernah kita menangis karena puisi hujan yang ditulis para peratap-ditepikan-kesepian, maka sudah saatnya kini kita menertawakan kenangan itu, yang lucu dan menggemaskan.
Hujan itu daerah kekuasaan bocah dan remaja yang sudah beranjak dewasa mestilah merela masa kanak mereka beku di album atau pigura.
Ada dua kecuali: yang mati muda dan pedophilia.
Kita semua tahu, puisi-puisi hujan mereka takut dan tak mampu menyelamatkan diri saat hanyut, dihanyutkan ruah banjir air hujan atau air mata.
Tentu kita tidak ingin jadi lemah seperti mereka.
Biarkanlah hujan berjejatuhan itu mengendap ke dalam puisi-museum para penyair-peratap.
Sebab bahkan sekiranya bertahun-tahun Tuhan mengguyur tubuh kita ini dengan hujan hutan, panasnya kata-kata di koran yang melukai kita tidak akan mampu sembuh sebagaimana semula.

Makassar, 2008.

BEBERAPA KATA YANG TAK BISA TIDUR

Jika saja tak ada beberapa kata
yang tak bisa tidur, puisi ini dan kau bisa mudah bertemu di alam senyap-mata-lelap.
Tapi di dalam tiap puisi selalu ada beberapa kata yang tak bisa tidur.
Maka satu-satunya cara kau dan puisi ini harus saling mencari di tengah keriuhan kata dengan mata terbuka.

Makassar, 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *