Rindu Yang Tak Terjamah

Yushifull Ilmy
http://media-lamongan.blogspot.com/

Brakk?! Dengan kesal kubanting tasku ke lantai. Entah mengapa hari ini nasib buruk selalu menimpaku. Nazril Ilham yang biasa di panggil Aril, siswa kelas 3B yang terkenal sombong itu, membuatku kesetanan. Tadi di kantin ketika aku membawa segelas es teh hendak menuju tempat duduk dia menabrakku hingga gelasnya jatuh. Itu saja tidak cukup. Ketika aku pulang sekolah dia bersama motor gedenya melaju dengan kencang melewati kubangan air di tepi jalan yang tepat di sampingku dan?praatt??muncrat air itu ke bajuku.

“Dasar orang sombong, nggak punya sopan santun,” gerutuku. Yang membuatku makin marah ketika dia terus melaju tanpa merasa bersalah sama sekali.
Hari ini team basket dari kelas 3A dan 3C bertanding. Teman-teman yang bukan pemain menjadi penonton para idolanya bersaing. Aku yang tak begitu tertarik dengan olah raga memilih tetap di dalam kelas. Aku membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan. Tiba-tiba terdengar suara yang mengganggu konsentrasiku, “Aku cari kemana-mana ternyata kamu di sini.”

Aku hanya menoleh sebentar dan kembali sibuk membaca melihat yang dating adalah Aril yang sombong itu.
“Ehmm,” dia berdehem hendak menyita perhatianku. “Aku hanya minta maaf atas kejadian kemarin.”

Dia menata pantatnya untuk duduk di sampingku.
“Memangnya kamu masih punya rasa bersalah?” tanyaku sewot. Namun dia hanya diam dan tetap duduk di sampingku.
“Kok diam, kenapa?” tanyaku ketus.
“Kemarin aku nggak sengaja! Aku buru-buru ke rumah sakit, karena ayah sangat membutuhkan kehadiranku.”

“Kenapa dengan ayahmu ?” tanyaku penasaran.
“Ayah sakit keras. Sudah empat hari dia di rawat di rumah sakit,” dia mulai memelas.
“Tapi kamu nggak harus ngebut, kan? Apa tidak ada orang lain yang menunggunya?”
“cuma aku satu-satunya orang yang ayah harapkan. Om dan Tante sibuk mengurus perusahaan Ayah di Jakarta,” jelasnya.

“Ibumu?” tanyaku makin terlibat dalam persoalan keluarganya.
“Ibu,” Aril menanggalkan kalimatnya. “Ibu sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”
Mata Aril menerawang. Berdebur gelombang pasang seakan menghantam jiwaku, kini aku yang merasa lebih bersalah pada Aril. Aku memang bodoh, mengapa harus kutanyakan hal itu.

“Ma, maaf?” kataku terbata.
“Memang, seharusnya kamu tahu,” balasnya sambil tersenyum.
“Kok begitu?” kataku tak mengerti.
“Karena, kalau aku nggak menjelaskan semua pasti kamu nggak akan pernah mau memaafkanku.”

Senyum di bibir Aril makin mengembang. Ternyata selama ini semua orang membuat kesalahan besar. Apa yang mereka katakan tentang Aril itu tidak benar. Aril sebenarnya bukan siswa yang sombong. Dia anak yang baik, jujur, dan bertanggung jawab. Mereka hanya melihat fisik Aril yang bergaya mewah, namun mereka belum tahu rahasia di balik hati Aril.

“Eh, namamu Karin, kan?” tanyanya.
“Kamu kok tahu?”
“Siapa yang nggak tahu kamu, siswi 1A yang super juitek,” ledeknya.
“Kalau kamu Aril siswa kelas 3B yang sombong itu kan?” balasku tak mau kalah.

Tawa kami meledak, membaur dalam keakraban, melerai curiga yang ada. Sejak saat itu kami semakin akrab. Setiap kali pulang sekolah Aril sering mengajakku ke RS untuk menjenguk ayahnya.Ia juga sering menumpahkan curahan hatinya padaku, tentang ayah, om dan tante yang begitu menyayanginya.Tak dapat kupungkiri bahwa rasa itu ada dan kini nenjadi sebuah kisah yang indah dan berharga untuk kami.
* * *

Malam itu Aril menjemputku di rumah.Dia mengajakku ke Rumah Sakit untuk memastikan keadaan ayahnya. Keadaan ayah Aril sendiri sudah membaik. Dokter mengatakan kalau lusa sudah boleh pulang. Kebahagiaan kini terpancar di raut wajah Aril dan aku dapat merasakan hal itu. Karena, beberapa hari ini senyum tak pernah lepas dari bibir Aril.

Malam merambat dan Aril mengantarkan aku pulang. Namun, sebelumnya ia mengajakku ke tepi pantai di mana seluruh keindahan alam seakan tertumpah di sana. Kami berdua duduk di atas batu besar sambil merangkai harapan indah untuk esok.

“Rin, bintang itu indah ya?” kata Aril memulai pembicaraan. Sedang aku hanya menganggukkan kepala sambil memandang indahnya bintang.
“Kamu suka?” tanya Aril kembali.

“Suka, tapi aku lebih suka kalau bintang itu bersinar beramaan dengan bulan,” jawabku memandang langit yang tak menampakkan rembulan.
“Eh, Ril. Mana bulannya kok nggak ada?”
Aku mendongakkan kepala mencari di mana letak bulan itu.

Aril pun tersenyum dan berbisik lirih, “Sekarang bulan itu telah aku raih. Bulan itu tengah bersandar di pundakku dan mengajakku menatap hitamnya langit dan menjejaki sepi.”
Mata Aril menatapku lembut. Kami terdiam saling memandang, menyibak tirai keheningan malam, dan seakan bintang pun turut bertutur tentang kedalaman hatiku.
* * *

Hari ini ayah Aril pulang, seakan membawa kehidupan baru bagi Aril. Kebahagiaan yang dulu pernah hilang kini telah dirangkulnya kembali dan senyum yang sempat pudar itu selalu menghias di setiap langkah dan hari-harinya. Aku pun turut merasakan hal itu. Karena, kabahagiaan itu juga ia curahkan untukku hingga membuatku tak ingin kehilangan cinta itu.

Kriiinggg!
Dengan malas kuangkat gagang telepon.
“Assalamu’alaikum,” sapa Aril ramah.
“Wa’alaikum salam. Ada apa, Ril?” Aku langsung bartanya.
“Rin, besok aku mau ke Jakarta.”
“Ke Jakarta!? Lama nggak di sana?”
“Nggak lama kok! Mungkin cuma satu bulan,” jawab Aril memastikan.
“Satu bulan!?” Aku tersentak.
“Karin, satu bulan itu cuma sebentar. Aku pasti kembali, kok. Ayah cuma mengajakku melihat perkembangan bisnisnya di sana.”
“Janji ya cuma satu bulan,” aku memastikan kembali.
“Ya, aku janji. Selamat malam dan semoga mimpi indah,” Aril pun mengakhiri telponnya.

Dalam keheningan malam ini tiba-tiba aku merasakan kesendirian yang menyakitkan. Sepi dan kesendirian dalam rengkuhan angan-angan rindu yang menjamah jiwa dan kini telah menjadi titik-titik harapan.

Mentari hari ini redup seredup hatiku. Hari enggan berganti dan menit pun enggan berlalu.Aku termenung sendiri di dalam kelas saat istirahat sekolah. Meskipun baru satu hari Aril di Jakarta, namun seakan semuanya hampa.

Embun pagi mulai meninggalkan pucuk rerunputan, mentari pun tersenyum, dan aku seakan tersihir oleh indahnya pagi. Aku melangkahkan kaki dengan pasti menuju sekolah terindahku, karena satu bulan telah berlalu. Aku tak sabar untuk bertemu denggan Aril, sang bintang malamku.

Langkahku terhenti ketika sebuah suara dalam mobil memanggilku.
“Karin, Tunggu!”
Aku menoleh menuju asal suara itu.
“Ada apa, Van?” tanyaku tak mengerti.
“Rin, ayo ikut aku sekarang,” ajak Ivan tak jelas ke mana.
“Emangnya ada apa, Van?” desakku kemudian.
“Sudah cepat masuk ke dalam. Aril sudah menunggu kamu,” Ivan menegaskan.
“Aril?! Aril sudah pulang? Kok yang menjemputku bukan dia? Memangnya ada apa, Van?” tanyaku bertubi-tubi, namun Ivan hanya diam tak menghiraukan semua pertanyaanku.

Bagaikan seorang pembalap Ivan melajukan mobilnya.Tiba-tiba Ivan menyodorkan sebuah koran terbitan hari itu. Aku bisa membacanya dengan jelas sebuah judul “Garuda Air Mengalami Kecelakaan”. Meski telah kubaca berkali-kali aku tak bosan untuk mengulanginya lagi, karena aku belum paham apa sebenarnya maksud Ivan.

Tiba-tiba jantungku bergemuruh. Sebenarnya apa yaang terjadi? Ada apa dengan Aril? Mataku terpejam mencoba untuk menahan rasa pilunya jiwaku dan?chiiittt! Mobil Ivan berhenti di depan halaman rumah.
“Rumah siapa ini dan di mana Aril?”

Seribu pertanyaan menjadi onak di hatiku. Kemudian Ivan membukakan pintu mobil dan mulai bicara. “Rin, Aril menunggumu di dalam!”
Tanpa pikir panjang aku langsung barlari menelusuri halaman yang cukup luas itu dan mencari di mana bintangku berada. Deru tangis menghiasi ruangan itu. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar jelas di depan pintu. Dan kaki ini belum berani untuk melangkah. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam?

Aku tersentak ketika melihat sosok terbujur kaku terbalut kafan itu adalah Aril. Bintang yang sinarnya tak pernah redup dalam hatiku yang pesonanya mampu melerai segala bimbangku. Ingin aku menjerit sekuat tenaga, menyebut namanya, mendekap erat tubuhnya. Namun, seketika aku jatuh tertunduk, tanpa daya, tanpa rasa, diiringi deraian air mata. Aku mencoba bangkit bersama tubuh yang beku dan menahan rasa pilunya jawaku untuk kembali menatap hitamnya mentari. Karena, aku terlalu rapuh untuk menerima kenyataan ini.
* * *

Malam ini bintang bersinar penuh dengan pesonanya, memberi dawai dalam hatiku, dan menjadi teman dalam gundaku. Di atas sana kulihat ada bingkaian senyum yang tersemai di antara bintang-bintang.

Malam, engkau adalah saksi atas sebuah perpisahan dan kedukaan. Aku berharap suatu saat nanti malam akan mampu memulihkan dukaku dan mampu merangkai mimpi indah itu untukku. Dan malam ini biarlah tangisanku yang mengantar kesedihanku.

Lamongan, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *