SILUET SENJA

Savidapius
http://media-jawatimur.blogspot.com/

Suatu senja di pantai utara menemaniku menghabiskan sisa hari ini. Aku berdiri di bibir pantai. Merasakan belaian air laut serta hembusan angin yang menerpa wajahku. Dan tercium aroma laut yang memberikan nuansa berbeda pada pikiranku.

?Dev!? suara yang tidak asing bagiku tiba-tiba memanggilku.
?Widi!? Kok kamu ada di sini??
Widi tersenyum. ?Seharusnya aku yang nanya sama kamu. Kamu kok bisa ada di sini sore-sore kayak gini??

?Emm?.emangnya gak boleh ya?? aku balik bertanya. Namun Widi diam sejenak. Lalu berjalan mendekatiku. Berdiri di sampingku. Menatap lurus ke utara.
?Boleh-boleh aja kok.?
Hening, kami terdiam untuk beberapa saat lamanya. Suara ombak di utara sana berdebur indah mengalun syahdu.
?Kok diam Wid?? tanyaku kemudian.

?Kamu tahu, mengapa pantai ini terasa begitu indah?? tanya Widi sambil tetap memandang ombak yang menggulung sempurna.
?Emm?.karena ?.karena pada dasarnya sudah diciptakan begitu indah.? jawabku polos. Ku lihat Widi tersenyum. Kemudian memandang ke arahku sambil tetap menyuguhkan senyum itu. Senyum yang selalu kurindukan.

?Jawabnya, karena kita membuka hati untuk menikmatinya. Coba kalau kita cuek saja pada pantai ini, pasti kita tidak merasakan keindahannya.?
Aku mengangguk. Membenarkan ucapannya. Suasana kembali hening. Udara pun menjadi dingin.
?Sudah hampir Maghrib, apa kamu tidak segera pulang?? tanya Widi padaku.
Aku baru sadar kalau senja telah berlalu. Dan digantikan oleh sang malam. Aku pun mengangguk. Widi menoleh ke arahku lagi.

?Kamu pulang sendirian?? kembali Widi bertanya. Dan aku mengangguk lagi.
?Tidak takut?? tanya Widi kembali. Dan aku menggeleng.
?Kok diam saja?? tanyanya terus memburu.
?Dingin!?
Lalu Widi melepas jaketnya dan memberikannya padaku. ?Pakailah ini, biar agak hangat.?

?Kamu tidak kedinginan?? tanyaku balik.
?Aku sudah biasa seperti ini. Kamu lekas pulang ya.?
?Terima kasih ya. Aku pulang duluan? ujar perpisahanku.
?Hati-hati!? himbau Widi dengan penuh perhatian.
Aku mengangguk. Perlahan kulangkahkan kakiku meninggalkan pantai ini. Masih terbayang di benakku dengan senyumnya yang khas.
***

Awan kelabu masih menggantung sejak pagi tadi. Deru kendaraan yang lalu lalang di jalan utama terdengar jelas di gendang telingaku. Suara klakson mobil bersahut-sahutan menambah hiruk pikuk di ujung hari. Senja tak seindah dulu. Mendung selalu menghalangi indah pesonanya. Tapi bagiku, senja-senja yang kulewati selama 4 tahun terakhir tak begitu indah. Suatu senja tanpa senyum yang selalu kurindukan. Tanpa kehadirannya di setiap penghujung hatiku. Terasa hampa untuk menyambut hari esok.

Ya, sejak suatu senja di pantai utara itu, kuhabiskan senja-senja di lain hari bersama Widi. Seorang teman lelakiku di sekolah kala itu. Dia satu-satunya orang yang mampu menawan cintaku. Menghadirkan nuansa baru dalam hidupku. Kita memang sudah saling kenal, tapi tak pernah terjadi percakapan di antara kita. Aku semakin berkecil hati untuk dapat menawan hatinya. Dia begitu acuh. Pada siapa pun, tak terkecuali denganku. Aku mencoba mengubur dalam-dalam harapanku untuk dapat menambat hatinya. Dan pada suatu senja di pantai utara itu, dia mampu menggali kembali perasaan itu. Memberikan harapan padaku untuk dapat menambat hatinya kembali.

Aku tersadar dari lamunanku tentang Widi, dari kisah indahku bersamanya. Hujan akhirnya turun membasahi seluruh kota. Kututup jendela kamarku. Tempat yang biasa ku pakai untuk mengenangnya. Dan senja pun berganti malam yang dingin, dengan alunan rinai hujan. Suara adzan menggema memecah perjumpaan malam. Bergegas aku mengambil air wudlu. Dan bersimpuh di hadapan-Nya.
***

Siang ini tak sekelabu kemarin. Sang mentari tersenyum cerah menghapus kelabunya hati. Lirih angin mengalun klasik. Perlahan kulangkahkan kakiku menuju kampus.

Aku memang seorang mahasiswi dari kalangan yang cukup berada. Ayahku seorang petani yang mempunyai sawah yang cukup luas. Ditambah dengan tambak yang luasnya separuh dari luas sawahku. Sedangkan ibuku seorang guru dari sebuah SMP Negeri. Meski ibuku seorang guru, beliau tidak malu bersuamikan ayah yang hanya seorang petani. Serta aku mempunyai seorang kakak perempuan yang telah sukses menjadi seorang dokter. Dan dia sudah berkeluarga.

Meski begitu, aku tidak menggantungkan hidupku pada mereka. Aku memilih mencari sendiri biaya hidupku. Setiap pagi aku bekerja menjadi TU di sebuah SMP swasta. Memang belum cukup untuk membiayai kuliahku. Tapi kebutuhan sehari-hariku mampu tercukupi. Karena pada dasarnya untuk biaya kuliah, ayah dan ibu tidak mengizinkanku membiayainya sendiri. Tiba-tiba Hp-ku bergetar. Ada sebuah sms dari ayah :
?Dev, besok pulanglah. Ada hal penting yang ingin ayah sampaikan?.

Ku helah nafas dalam-dalam. Aku sudah bisa nebak apa yang akan ayah bicarakan. Pasti soal lamaran seseorang. Karena sudah berkali-kali ayah mencarikan calon untukku. Dan sudah berkali-kali pula aku menampiknya. Aku masih belum ingin membina rumah tangga. Aku masih belum ingin membagi hatiku dengan orang lain. Aku masih ingin menikmati kerinduanku. Menikmati kebersamaan senja dengan bayang-bayangnya. Ya, bayang-bayang Widi yang selalu hadir memenuhi rongga pikiranku.
***

Udara yang dingin menyambut kedatanganku di rumah ayah dan ibu. Pohon-pohon yang masih kaya akan dedaunan, memberi kesejukan yang dalam. Aku bersyukur tempat kelahiranku masih hijau. Masih mampu menggali kenangan masa laluku. Aku duduk di beranda samping, menghadap ke barat. Menyongsong senja yang akan hadir. Menemani pembicaraan antara ayah, ibu, dan aku.

?Devi anakku, sekiranya mungkin kamu sudah tau apa maksud Ayah menyuruhmu pulang.? Ayah memulai percakapan sambil meneguk secangkir kopi. Aku diam tak bergeming. Menatap lurus ke arah bunga kamboja yang mulai layu.
?Apakah Ayah ingin aku menikah?? tanyaku sambil tersenyum kepada Ayah.
?Nah, kamu sudah tau maksud Ayah. Lusa, Pakde Karman meminangmu untuk putranya, Nugroho. Ayah tidak melarangmu memilih calon. Tapi pikirkanlah sekali lagi pinangan kali ini!? Ayah menatapku. Dan menegaskan ucapannya tadi.
Aku tertunduk, merangkai kata-kata yang pas untuk mengutarakan jawabanku. Agar mereka tidak salah paham lagi.

?Ayah, Ibu, bukannya Devi tidak sayang sama kalian. Bukannya Devi tidak ingin membahagiakan Ayah dan Ibu. Tapi, Devi masih belum ingin membina rumah tangga. Devi masih belum ingin membagi hati Devi dengan orang lain.?

?Jadi jawaban atas pinangan ini kamu tolak kembali?? tanya Ayah dengan agak menyesal. Aku mengangguk tegas atas keputusanku ini. Aku yakin ayah dan ibu bisa mengerti akan pilihanku. Dan memahami perasaanku.

Senja tersenyum padaku. Menyakinkan atas keputusan yang telah kupilih. Angin pun tak mau kalah memberiku dengan sujuta keyakinan. Akhirnya kupilih masuk ke dalam rumah. Membiarkan ayah dan ibu menikmati senja. Tak kuasa aku melihat senja yang seindah ini. Senja yang mengingatkanku kepada Widi. Orang yang pernah menggoreskan garis indah di atas lembar hatiku. Yang masih terbingkai indah di dadaku.
***

Malam ini begitu kelabu. Angin berhembus kencang menawarkan dingin yang menghentak tulang. Berkebalikan 180 derajat dari senja tadi. Aku menggigil merasakan dingin yang menusuk seluruh persendian. Seandainya ada kehangatan yang memelukku. Dan seandainya kehangatan itu darinya. Mungkinkah kehangatan itu akan menjalari tubuhku. Dan membuat dingin menggigilku hilang. Apakah engkau mengerti? Kedinginanku itu sebuah kahampaan rindu yang aku rasakan. Dan kehangatan itu adalah sebuah cinta darinya. Dari orang yang mampu menambat hatiku. Dan mampu meluluhkan dinginnya tubuhku.

Kuteringat suatu senja di pantai utara itu, saat dingin bersamanya. Tiba-tiba kuteringat sesuatu pula. Segera kubuka almari. Mengorek di antara lipatan-lipatan baju. Kutemukan sebuah jaket yang masih kental dari ingatanku. Jaket yang diberikan oleh Widi pada suatu senja di pantai utara. Terasa air hangat mengalir dari sudut mataku. Menyesakkan dada. Membongkar kenangan peristiwa. Ketika bayangan Widi kembali hadir, saat ia telah pergi dari kehidupan ini. Saat ia meninggalkan torehan-torehan indah pada lembar hatiku untuk selamanya. Saat ia meninggalkan cinta yang telah mengeram di raga ini. Cinta yang belum sempat ia ucapkan padaku. Aku semakin tersedu. ?Kapan ia datang kembali menyapaku? Mengutarakan seperti apa yang kurasakan waktu itu. Menjemput dan menemani perjalanan hidup yang semakin merayu.? ujarku dalam hati yang penuh rindu.

?Astaghfirullah hal adzim! Apa yang barusan kukatakan Ya Allah. Ampuni aku Ya Rabb?. Biarlah tetap kujaga perasaan ini hingga aku bersua kembali dengan Widi. Ketika aku menghadap-Mu di pesona akhir hayat nanti.?

semoga tuhan memberikan kekuatan
lewat kembang keridloan dalam nafas kehidupan
padaku yang merawat pohon cinta zaman
hingga menjenguk muara keabadian
semoga aku mampu mengendalikan torehan
torehan cinta
hingga hampa menjadi bisah
yang membahayakan jiwa
semoga pohon cinta ini tidak ternodai
oleh kebencian nasfu insani?

Lamongan, 2008.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply