Snack Estetis dan Gizi untuk Mengisi Diri

Yang Tergantung Pada Amanat…

Nyoman Tusthi Eddy
http://www.balipost.co.id/

KETIKA saya menjelaskan makna dan fungsi amanat dalam karya sastra, seorang siswa bertanya, ”Kalau karya sastra tidak punya amanat berarti tidak berguna bagi kehidupan. Jadi apa gunanya dibaca?” Ini sebuah pertanyaan kritis, meskipun menunjukkan si penanya belum memahami fungsi sastra; sehingga ia tergantung pada amanat.

Sastra memiliki dua fungsi yaitu fungsi individual dan fungsi sosial. Fungsi ini tidak menunjukkan mutu sastra itu. Mutu sastra yang diukur dari fungsinya hanyalah pernyataan yang bersifat mengukuhkan fungsinya.

Sutan Takdir Alisyahbana pernah mengatakan karya-karya prosa Putu Wijaya hanyalah kegilaan estetik. Pernyataannya ini menandakan Sutan Takdir Alisyahbana juga tergantung pada amanat. Ia secara konsisten menempatkan sastra sebagai alat pembentuk budaya bangsa. Dengan demikian sastra yang bermutu adalah sastra yang memiliki fungsi sosial dan amanat yang jelas.

Apa pun fungsi sastra, keberadaan sastra tetap berguna bagi kemanusiaan. Ini berarti tidak ada karya sastra tanpa guna. Perubahan nilai-nilai zaman akan mengubah atau menggeser fungsi sastra.

Jauh di masa lalu puisi berfungsi sebagai media ekspresi individual di bidang magis. Kemudian berkembang menjadi media nyanyian keagamaan. Perubahan fungsi ini disertai oleh perubahan prosodinya.

Dewasa ini fungsi puisi sudah sangat kompleks. Masalah pun timbul, karena timbul kelompok-kelompok yang tergantung pada salah satu fungsinya, dan tidak menghargai fungsi yang lain. Kalau di masa lalu puisi magis merupakan bagian integeral dari kehidupan pencipta dan masyarakatnya, kini tidak semua lapisan masyarakat bisa menerima puisi kontemporer, apa lagi puisi kontemporer yang surealis.

Tidak saja puisi, seluruh karya sastra mengalami perkembangan seperti itu. Perkembangan ini melahirkan sastra konvensional dan nonkonvensional. Sastra nonkonvensional yang bercirikan membuang konvensi yang telah ada, sudah telanjur dianggap sastra yang ”mengada-ada”, dan tidak memiliki fungsi jelas. Padahal tidak semua sastra nonkonvensional bersifat demikian.

Pada puncak perkembangannya lahirlah sastra yang beramanat dan sastra yang tidak beramanat. Sastra beramanat memiliki fungsi individual dan sosial yang jelas; sedangkan sastra tak beramanat hanya memiliki fungsi individual. Tetapi perbedaan fungsi ini tidak menjadi ukuran untuk membedakan mutu.

Kedua jenis sastra itu punya wilayah dan nilai masing-masing. Hal ini tergantung pada kebutuhan penikmat, kebutuhan masyarakat, dan lembaga tempat karya sastra itu diciptakan.

Sastra yang tidak beramanat tidak memiliki fungsi sosial. Tapi paling sedikit keberadaannya telah memberikan peluang kepada seseorang (pengarang/sastrawan) untuk mengekspresikan dirinya dan menanggapi lingkungannya. Fungsi lain diserahkan sepenuhnya kepada interpretasi pembaca.

Maka jawaban pertanyaan tadi adalah: Sastra yang tidak beramanat tetap ada gunanya dibaca. Paling sedikit kita memperoleh kesan dan pengalaman dalam memahami cara seorang sastrawan berekspresi dan menanggapi lingkungannya. Membaca karya sastra tidak hanya mengisi diri dengan ”gizi” budaya, tetapi juga perlu menyantap ”snack” estetis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *