Sumur Abadi Si Binatang Jalang

Cahyo Junaedy
http://www.korantempo.com/

Sosok yang tidak hanya melampaui batas-batas angkatan, tapi juga menembus sekat geografis kepenyairan.

Rumput liar dan pohon belukar setinggi mata kaki berebut tumbuh, memadati pusaran makam itu. Marmer putih yang memagari pusaran mulai berwarna cokelat. Beberapa sisinya koyak. Ada kesan tak terurus.

Bahkan tak ada pohon memayungi. Juga pagar pembatas yang melindungi. Hanya nisan besar hitam masih berdiri kukuh bertulisan “Di sini dimakamkan penyair angkatan 45, Chairil Anwar, pada 28 April 1949” dengan ejaan lama. Tiga hari silam, 56 tahun sudah dia terbaring di sana.

Sedikit yang membedakan makam ini dengan makam lain di TPU Karet Bivak, Jakarta, adalah sebuah menhir setinggi pinggang orang dewasa tertancap di pusaran. Di sana ditorehkan sepenggal larik puisi Chairil Anwar. Juga telah memudar: Tak perlu sedu sedan itu/Aku ini binatang jalang/Dari kumpulan yang terbuang/.

Makam Chairil Anwar memang telah kusam dimakan usia, tapi tidak dengan karyanya. Pengaruh kepenyairannya tetap kuat hingga sekarang. Bahkan hampir semua karyanya selalu menghiasi buku-buku teks bahasa dan sastra Indonesia pada setiap jenjang pendidikan. Semua murid SD hingga mahasiswa perguruan tinggi pasti mengenal nama penyair ini.

Chairil tidak hanya “mewaktu”, melewati batas-batas angkatan atau periodisasi sastra tertentu, tapi juga “meruang”, menembus sekat geografis kepenyairan. Puluhan buku, disertasi, dan ratusan artikel lahir atas nama dirinya.

Maka tak salah jika Pamusuk Eneste menyebut Chairil sebagai “sumur abadi”. Dalam bukunya, Mengenal Chairil Anwar terbitan Obor (1995), Eneste mencoba menelanjangi sang penyair dalam memperjuangkan kesusastraan, politik, dan kebudayaan Indonesia serta proses berkaryanya.

Buku ini dibagi dalam empat bab. Bab pertama mengulas biografi Chairil, yang meliputi latar belakang keluarga, pendidikan, dan proses kepengarangannya dalam masa revolusi fisik hingga akhirnya ajal menjemputnya pada 28 April 1949. Sedangkan pada bab kedua dijelaskan soal proses lahirnya sajak dan puisi Chairil Anwar.

Menulis sajak atau puisi buat seorang Chairil bukan pekerjaan sambilan atau asal-asalan. Dia tidak hanya menunggu ilham, melainkan aktif mencari dengan cara terjun langsung dalam arus kehidupan nyata. Inilah yang membuat karyanya memiliki “daya hidup”.

Adapun bab ketiga membahas puisi-puisi Chairil tentang wanita. Eneste mencoba menyuguhkan deretan puisi-puisi cinta Chairil.

Lewat sejumlah puisinya, ditemukan enam nama wanita: Karinah Moordjono (Kenangan), Dien Tamaela (Cerita buat Dien Tamaela), Gadis Rasyid (Buat Gadis Rasyid), Sri Ajati (Senja di Pelabuhan Kecil), Ida (Merdeka), dan Sumirat (Sajak Putih dan Mirat Muda Chairil Muda).

Pada bab keempat, disajikan sejumlah pendapat para sastrawan Indonesia mengenai kepribadian Chairil, proses kreatif dan partisipasinya dalam memperjuangkan kesusastraan, serta politik dan kebudayaan Indonesia. H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, dan Dami N. Toba ikut menyampaikan komentarnya.

Soal pengaruh kepenyairan “Binatang Jalang” ini terhadap dunia sastra Indonesia diulas dalam buku karya H.B. Jassin berjudul Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45. Buku terbitan PT Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia (1996) ini secara lengkap dan gamblang memetakan posisi Chairil Anwar, khususnya sebagai pelopor angkatan 45.

Buku ini bisa disebut sebagai publikasi terlengkap yang pernah ada tentang karya Chairil Anwar. Adapun isinya berupa ulasan mengenai 26 puisi asli (5 di antaranya dibuat dengan tulisan tangan), 4 puisi saduran, 7 puisi asing yang dipandang mempengaruhi puisi Kepada Kawan, 12 puisi terjemahan disertai naskah asli, 6 prosa, 2 prosa terjemahan, dan daftar hasil karya Chairil yang disusun secara kronologis.

Di bagian Pendahuluan, H.B. Jassin mengakui tidak mau memasuki wilayah moral untuk menentukan apakah Chairil seorang plagiator atau bukan. Soalnya, memang ada sejumlah puisinya yang merupakan terjemahan dan saduran. “Terlepas dari itu, Chairil masih dapat berdiri di depan kita dengan 70 sajaknya sendiri,” tutur H.B. Jassin dalam bukunya itu.

Buku ini juga menjelaskan bagaimana Chairil memandang dunia kepenyairan yang bukan semata dunia kata-kata. Chairil melihatnya sebagai ekspresi kesadaran yang memancarkan kemauan dan tenaga penuh kegembiraan, bukan perkara sambilan.

Atau, dalam suratnya kepada H.B. Jassin yang juga dikutip di kulit belakang buku ini, Chairil mengatakan, “Dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati.”

Sikap sepenuh hati inilah yang membuat karyanya berjiwa dan meruang, meski selama hidupnya Chairil hanya melahirkan 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan–semuanya menjadi 94 tulisan. Kerja keras H.B. Jassin dengan menulis buku ini lewat pemaparan data serta puisi-puisi Chairil secara lengkap, harus diakui, sangat berhasil.

Buku yang agak berbeda tentang seorang Chairil Anwar lahir dari tangan Arief Budiman bertajuk Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan terbitan Pustaka Jaya (1976). Buku ini mengulas sisi lain seorang Chairil sebagai seorang manusia, seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi.

Sosok Chairil yang “penggila” buku juga terekam dalam karya Arief. Lewat kisah sejumlah sahabat Chairil, Arief berusaha menelusurinya. Di antara para sahabat itu adalah Asrul Sani yang mengakui “kerakusan” Chairil terhadap buku.

Chairil, kata Asrul, telah melahap sejumlah buku kelas dunia. Di antaranya karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nietzsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, dan J. Slauerhoff.

Namun, Chairil adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, dan tidak punya pekerjaan tetap. Alhasil, mencuri buku ia lakoni hanya agar dapat membacanya.

Dalam bukunya, Arief menilai, Chairil bisa menjadi contoh baik terkait totalitasnya berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin misalnya, hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai sampingan. Sambil menjadi redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau kegiatan lainnya. Sedangkan Chairil semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.

Gaya bersajak dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakan Chairil dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe). Inilah yang kemudian menjadikan sosok satu ini sebagai pelopor Angkatan 45.

Memang, bukan kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki nuansa individualistis kental. Pergumulan totalnya dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.

Puisi dan prosa Chairil Anwar diangkat dan dibahas secara lengkap dalam buku Chairil Anwar Derai-derai Cemara. Buku terbitan majalah budaya Horison bersama Evawani Alissa, putri kandung penyair, ini lahir untuk memperingati 50 tahun wafatnya sang penyair pada 1999.

Seluruh sajak Chairil Anwar mulai karya asli, saduran, hingga prosa terangkum dalam buku setebal 132 halaman itu. Asrul Sani dalam kata pembukanya merangkum kekaguman dirinya kepada Chairil.

Menurut Asrul, Chairil mempunyai rasa bahasa luar biasa untuk memberi makna pada kosakata baru Indonesia. Chairil dapat melepaskan bahasa dari kekuasaan kaum guru yang menuntut tulisan sesuai dengan tata bahasa. “Buat dia, bahasa adalah alat mengutarakan sesuatu. Jadi, kalau perlu, kita bengkokkan bahasa itu untuk menjelaskan apa yang ingin kita utarakan,” tutur Asrul.

Dalam buku ini juga dijelaskan kehidupan Chairil, yang menganut pola kehidupan bohemian tapi akhirnya sempat juga berkeluarga. Dia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Sayang, rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Pada akhir 1948, mereka bercerai. Putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.

Pada 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil mengembuskan napas terakhir.

Dalam sajaknya yang ditulis di pengujung hidupnya, Yang Terampas dan yang Putus, Chairil secara jelas menulis kesiapannya menghadapi kematian. Seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisi tersebut: di karet, di karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin.

Dan Sang Pujangga pun dimakamkan di Karet, sehari setelah wafat.

One Reply to “Sumur Abadi Si Binatang Jalang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *