Suratan Hati, dari H.B. Jassin sampai Sastra-Indonesia.com

Nurel Javissyarqi*
nureljavissyarqi04@yahoo.com

Maaf, jika tulisan ini seruduk lompat-melompat radak ganjil. Karena saat menuliskannya sedang sakit kepala oleh kelelahan berposting ria. Seperti biasa, sakit ringan itu saya anggap bagian dari gejala keabadian. Dan yakinnya atas kesaksian bertutur kata; bahwa kelak setelah tiada, akan ada para penyimaknya. Atau mungkin sepaham sajaknya Subagio Sastrowardoyo dalam antologi Simphoni (Pustaka Jaya 1971) yang bertitel ALI BABA:

Kata-kata sajak ini:
uang panas
yang kucuri
dari gua penuh emas
tercecer dari tangan seribu jari
yang mendekap ke dada deras berdebar
sambil berlari
sebelum raksasa Penjaga
mendekat dan
menutup segala pintu ?
Uang di tangan
jadi darah melekat!!

Lempar kata ini
sebelum dituntut kembali.

Apakah derap itu
suara jantung berdegup
atau datang Penjaga menutup?

Entah tiba-tiba judul di atas nyelonong saja ke otak, dan memaksa untuk dituliskan. Mungkin sebab saya sedang membaca ruh ulang kumpulan surat-surat H.B. Jassin yang terbuhul dalam Surat-Surat 1943-1983, (Gramedia 1984). Lantas bergerilyalah ingatan saya mengenai PuJa.

Dulu, setelah PuJa menerbitkan buku-buku stensilan (kertas dalam fotokopian, cover sablonan) pada awalnya. Dengan penuh percaya diri saya berkata kepada kritikus sastra ternama Maman S. Mahayana, bahwa kelak akan ada pembahasan serius, dari sejarah Balai Pustaka sampai PUstaka puJAngga, begitu guyonan saya. Dan kayaknya, ini bisa dimulai atas salah satu catatan kaki di dalam buku Bermain dengan Cerpen.

PuJa yang sekali waktu menerbitkan buku-buku bermodalkan semangat, tengah setengah tahun lebih bergiat dalam pendokumentasian sastra di internet, yang melalui Website Sastra-Indonesia.com serta blog-blog pendukungnya.

Yang awalnya diniatkan pada karya-karya teman yang sulit menembus media sebagaimana karya saya. Namun seiring berjalannya waktu, lelangkah tertutup bolehlah dipelajari, pandangan sempit pada pelajaran pertama perlulah diinsafi, demi hasrat menderu maju menembus, atau pun guna menebus kematangan jiwa.

Ide membuat Website Sastra-Indonesia.com tersebut, ialah berkah selepas saya diundang baca puisi dalam rangkaian acara pengukuhan guru besar Abdul Hadi W.M. Semacam mendapati kilatan cahayarasa percaya diri, meski sampai kini jiwa ini selalu dihinggapi perasaan minder, digrogoti keterkucilan bathin sunyi sendiri.

Entah alam di bawah sadar mana menyeret saya pada pelantikan tersebut, setidaknya bisa terekam. Sebelum siang hari kabar undangan itu saya terima, malam harinya seperti pekat, diri ini dalam keadaan terpuruk, putus asa benar-benar hebat, perasaan mentok, seakan di pinggiran jurang maut. Dan saya tahu, kelak akan muncul kesepian yang menyayat-nyayat jiwa semacam itu juga.

Kabar baca puisi di Universitas Paramadina itu, seakan mengingatkan saya pada pergolakan bathin di saat-saat merampungkan Kitab Para Malaikat, yang salahsatu daya dinayanya atas karangan penyair besar Abdul Hadi W.M. yang bertitel Tasawuf Yang Tertintas, Kajian Hermeneutik terhadap karya-karya Hamzah Fansuri (Penerbit Paramadina 2001). Di kala beberapa kali menggumuli buku tersebut, tersentaklah bathin ini; kapan ya bisa bertemu beliau, gumam lirih sakit rindu itu Alhamdulillah terobati.

Sebelum berangkat ke Jakarta, saya kangen betul almarhum Suryanto Sastroatmodjo, tentu beliau bangga jika mengetahui saya secara langsung diundang di kampus Paramadina. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain. Tuhan menjemput ruhnya, sebelum adanya kabar indah tersebut. Tidak berselang jauh kesunyian lara itu, rasa kehilangan saya sedikit tersembuhkan, oleh sifat sederhananya pengayoman kritikus sastra Maman S. Mahayana, seakan menjadi pengganti beliau.

Meski sekali waktu diserang perasaan rindu berat terhadap Pak Sur (Mas Sur, Eyang Sur, Romo Sur), kesunyian itu sangatlah menyakitkan, jika tanpa seorang kawan atau guru tempat menyandarkan permasalahan bathiniah, meski ada saat-saat kokoh seorang diri sepenuh jiwa pasrah berontak. Oh, jangan-jangan saya memiliki kepribadian ganda.

Ketika berada di kampus Paramadina, saya sempat tersanjung, setidaknya dalam acara itu saya yang paling muda pembaca puisinya. Dan bisa bertatap muka secara langsung dengan para jawara penyair Indonesia yang ada di Ibukota, khususnya Sutardji Calzoum Bahri. Ketika dipanggil untuk membacakan puisi, saya merasakan kayak penyair saja, di hadapan penyair-penyair senior.

Yang paling berkesan di benak saya, saat-saat menunggu giliran baca puisi, kabar orang tua saya dalam keadaan tak sadarkan diri karena dioperasi sakit batu empedu. Entah bagaimana Tuhan Maha Ajaib bekerja, ketika saya rampung membacakan puisi, saya mendapati kabar orang tua siuman di Rumah Sakit LA. Seakan orang tua saya bernasib sama dengan karya-karya saya, terserang batu empedu media massa, oh.

Ketika balik ke Lamongan, dalam perjalanan kereta saya berfikir, acara di Universitas Paramadina tidaklah megah, namun gaungnya begitu dahsyat, ini tentu peranan media massa, disamping kebesaran penyair-penyair undangan lainnya. Lantas, nalar saya berputar balik akan keadaan karya-karya saya, yang tidak diambu media.

Dari sinilah saya berpijak membuat situs tersebut, dengan harapan dapat diketahui khalayak. Nama situs itu tidak lebih pantulan rasa kepercayaan diri, selepas dari kampus Paramadina. Namun hal-hal di atas, tidaklah membuat saya nyaman, jika mencantelkan di belakang nama semisal penyair atau sastarawan. Saya masih seorang pengelana, sebagaimana hari-hari kemarin.

Diselang waktu, saya mohon izin mengambil data-datanya kritikus Maman S. Mahayana, pada situsnya http://mahayana-mahadewa.com/, demi mengisi ruang kritik di dalam Website Sastra-Indonesia.com , Alhamdulillah diperbolehkan. Dan dalam kesempatan JILFest 2008 kemarin, saya bisa bertatap muka dengan sastrawan juga teaterawan besar Putu Wijaya, sehingga dapat mohon izin pula, untuk mengambil tulisan-tulisannya di http://putuwijaya.wordpress.com/, dan saya merasa tersanjung oleh diperkenankannya. Tentu saya tak melupakan kawan-kawan yang lain, yang terlebih dulu memperbolehkan isi blognya diangkut pasukan jemari saya (istilah pasukan jemari itu, pernah saya utarakan pada kawan novelis pemberontak Hudan Hidayat).

Adalah rasa hormat dan terimasih saya, kepada Abdul Hadi W.M, Maman S. Mahayana, Putu Wijaya, Ahmadun Yosi Herfanda, Teguh Winarsho AS, Hudan Hidayat, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Amien Wangsitalaja, Mardi Luhung, Marhalim Zaini, Raudal Tanjung Banua, Satmoko Budi Santoso, Fahrudin Nasrulloh, Budhi Setyawan, Sri Wintala Achmad, Sutejo, Ribut Wijoto, S. Jai, Mashuri, S Yoga, Rakhmat Giryadi, Gugun el-Guyanie, A. Qorib Hidayatullah, Liza Wahyuninto, Sungatno, Ahmad Muchlish Amrin, Bernando J. Sujibto, Kirana Kejora, Azizah Hefni,?Dian Hartati, Denny Misharudin, M. Faizi, Timur Budi Raja, Alfian Harfi juga anggota Forum Sastra Lamongan; Imamuddin SA, AS Sumbawi, Haris del Hakim, Joko Sandur, Agus B. Harianto, A Rodhi Murtadho, Javed Paul Syatha, Rodli TL serta kawan-kawan yang lain.

Disamping itu, tak lupa saya mengucapkan terimakasih pada media-media massa, yang data-datanya mendukung kematangkan Website Sastra-Indonesia.com ; Jawa Pos, Tempo, Suara Merdeka, Republika, Kompas, Pikiran Rakyat, Suara Pembaruan, Riau Pos, Surabaya Post, Lampung Post, Kedaulatan Rakyat &ll. Harapannya, kerja serupa ini bisa menjadi dokomentasi di ladang maya.

Saya sadar, Sastra-Indonesia.com serta blog-blog pendukungnya, masih jauh dari sempurna kalau dimaksud sebuah dokumentasi, mohon kiranya dimaklumi karena saya kerja sendiri, namun harapan mendatang, tentunya bisa menampung kesuluruahan karya-karya para sastrawan, khususnya yang berkisaran di jendela dunia (internet), sambil sekali waktu menulis ulang, isi buku-buku yang belum tersentuh dunia cyber.

Kendala yang lain ialah belum kenal betul, atau saya tidak memiliki kontak dengan para sastrawan yang memiliki blog-blog yang menyimpan karya-karyanya, sehingga tak berani mengambil data-datanya, keculai mohon izin terlebih dulu.

Sapaan semacam ini, kayaknya perlu diteruskan semisal catatan budayawan Goenawan Muhammad, pada TempoInteraktif yang muncul sekali seminggu. Meski mungkin tak bisa tepat waktu, hitung-hitung belajar sungguh menepati melodi, meski dengan bahasa yang meruh, bahasa yang menjelma semacam ini.

Mengakhiri tulisan ini, saya jadi teringat cerpennya sastrawan Hamsad Rangkuti yang berjudul Penyakit Sahabat Saya, dalam Kumpulan Cerpen CEMARA. Maka saya sematlah tulisan isi sebentuk Ngelindur. Akhirnya salam budaya, dan semoga sehat wal afiat semuanya, amin.

*) Pengelana asal desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*