Ubud Writers & Readers Festival

Suka Duka : Welas Asih dan Solidaritas
7 Oktober ? 11 Oktober 2009

Januari 2009

Ubud sedang bergulat dengan musim hujan saat ini. Keseharian kami ditandai oleh hujan senja hari dan kilasan cahaya matahari di pagi hari. Sejak berakhirnya festival lalu, berbagai upacara keagamaan serta prosesi warna-warni telah menghidupkan jeda antara perayaan Natal dan Tahun Baru. Bulan ini, buku-buku koleksi kami disucikan kembali pada Hari Saraswati and komputer-komputer diberkati pada hari Tumpek Landep, perayaan religius untuk menyampaikan rasa terimakasih pada peran mesin dan benda-benda mekanis. Usai ritual-ritual itu, kantor kecil kami pun terasa memperoleh vibrasi spiritual yang segar. Semuanya menjadi tanda-tanda baik bagi festival ke-enam yang telah menjelang di cakrawala.

Sementara itu, panitia festival sedang memusatkan perhatiannya pada pelaksanaan 2009 Ubud Writers & Readers Festival. Dengan kecepatan tikaman 1000 keris, panitia mengundang para penulis, menyusun bujet, mendekati para sponsor and membuat desain. Semua sistem telah hidup dan pada level operasional di bawah langit tropis Bali .

Festival tahun lalu merupakan festival tersukses hingga saat ini. Dari segi jumlah pengunjung, jumlah yang hadir lebih banyak dari yang bisa kami bayangkan. Secara umum, penjualan tiket memecahkan rekor dengan mencatat kenaikan lebih dari 30 persen. Lebih dari 100 penulis hadir dan berpartisipasi pada lebih dari 50 acara.

Museum Neka, venue baru dan venue ketiga festival tahun ini, penuh sesak dengan peserta festival. Sesi In-Conversation dengan Vikram Seth, dipersembahkan oleh HSBC, dihadiri oleh hampir 400 penulis dan peserta, yang dengan seksama menyimak penuturan ringan Seth tentang masa kecilnya di India.

Festival tahun lalu dilaksanakan di 43 venue, yang menjadi tempat berlangsungnya sesi panel diskusi, peluncuran buku, pemanggungan, pembacaan serta santap siang kesusastraan. Semuanya memperoleh perhatian besar dari para peserta dan pengunjung festival.

Fsetival tahun ini pun tampaknya akan menjadi sebuah perhelatan yang sama menariknya dengan festival pada tahun-tahun sebelumnya.

Tema festival tahun ini adalah Suka-Duka: Compassion & Solidarity.

Suka-Duka adalah sebuah kebijakan komunal kuno yang selama berabad-abad telah menjadi salah satu tiang penyangga utama masyarakat dan institusi tradisional Bali .

Prinsip Suka-Duka telah membimbing para anggota institusi tradisional, seperti banjar dan desa pekraman, untuk berlaku sebagai sebuah entitas tunggal dalam menjalani keriangan maupun penderitaan hidup. Penderitaan yang menimpa seorang anggota akan ditanggung bersama oleh semua anggota lainnya, sementara kegembiraan satu orang akan dirasakan pula oleh yang lain.

Tema ini mencerminkan komitmen festival untuk menjadikan pertemuan kesusastraan ini sebuah peristiwa yang mampu memberi inspirasi, sebuah wahana bagi penulis dan pembaca dari berbagai belahan dunia untuk membangun pemahaman bersama serta platform bersama untuk mengingatkan dunia tentang perlunya berpikir dan bertindak sebagai sebuah entitas tunggal dan welas asih , terutama pada periode sejarah saat ini yang penuh diwarnai konflik kekerasan dan kekacauan sosial.

Pada 2009, keteguhan semangat manusia dalam menghadapi penderitaan dan cobaan akan dijelajahi bersama-sama cerita-cerita yang mengubah hidup serta hikayat-hikayat kebijakan dalam. Isu-isu lingkungan dan bangkitnya fundamentalisme akan diperdebatkan kembali beserta globalisasi, sensor dan media, serta kemiskinan global. Seni mendongeng akan dirayakan bersama-sama diskusi tentang menulis kisah perjalanan, makanan, puisi dan lagu.

Ubud Writers & Readers Festival akan melanjutkan tradisi kulinari-nya dengan sejumlah ahli masak akan mendemontrasikan keahliannya di dapur sejumlah hotel terkemuka. Para ahli masak ini akan menyatukan kekuatan dengan para sastrawan bintang kami untuk mempersembahkan santap siang dan malam yang memuaskan rasa serta percakapan bermakna yang selama ini telah menjadi ciri khas festival kami.

Para penulis yang kami undang diantaranya adalah pemenang Nobel Jean-Marie Gustave Le Clezio, J.M. Coetzee dan Wole Soyinka, Kate Grenville, Abdourahman Waberi, Mohammed Hanif, Laura Esquivel and Hari Kunzru.

Stay tuned!
Janet
________________________________________
Program Indonesia

The 2009 Ubud Writers and Readers Festival akan mengundang 10 penulis Indonseia yang sedang naik daun serta lima penulis Indonesia terkemuka untuk berpartisipasi dalam perhelatan kesusatraan ini.

Proses seleksi akan dilakukan oleh dewan kurator beranggotakan penulis terkemuka dan mantan peserta festival. Guna menyuntikkan pendekatan baru dan ide-ide segar ke festival, para anggota dewan kurator 2008 secara sekarela telah mengundurkan diri dan akan mengambil peran penasehat bagi dewan kurator yang baru.

Kami sangat berbangga hati mengumumkan bahwa dewan kurator 2009 terdiri dari Melani Budianta, Mashuri, Lily Yulianti Farid, Azhari dan Tan Lioe Ie.

Panitia festival mengundang para penulis Indonesia untuk berpartisipasi dalam proses seleksi dengan mengirimkan karya-karya serta biografi mereka ke

The 2009 Ubud Writers and Readers Festival’s Indonesia Program di info@ubudwritersfestival.com.

Pengiriman karya ditutup pada 8 Februari (cap pos).
________________________________________
Panitia Festival

2009 membawa perubahan besar pada kantor kami. Asisten kantor serta penata keuangan kami, Wayan Widi baru saja melahirkan seorang bayi perempuan mungil. Widi sempat mengalami kontraksi di kantor, sebuah hal yang menyebabkan kepanikan sekaligus keriangan bagi teman-teman sekerjanya. Saat ini Widi sedang mengambil cuti bersalinnya dan kami menunggu-nunggu kembalinya Widi ke kantor. Sarah Tooth dari Australia telah bergabung dengan panitia festival untuk menggantikan Finley Smith yang tak kenal lelah. Pada Program Indonesia , Wayan Juniartha akan menjadi koordinator program dan Kadek Krishna akan melanjutkan tugasnya menyelesaikan antologi festival. Kadek Purnami, yang telah pernah bekerja pada berbagai level festival dan merupakan mesin penggerak Community Development Program kami yang sukses, akan mengawasi pekerjaan Juniartha dan Krishna .

Roberto Aria Putra, Sponsorship Manager kami yang ulet, akan tetap bergabung bersama panitia tahun ini. Sejumlah staff tambahan akan bergabung seiring dengan berjalannya festival dan kami akan terus menerus menginformasikannnya kepada anda.

Dengan bersemangat kami menyambut Tahun Kerbau, yang akan membawa kemakmuran melalui kerja keras!
________________________________________
www.ubudwritersfestival.com
Banyak dari anda telah memperhatikan bahwa website kami tidak pernah di-update sejak berakhirnya festival tahun lalu. Saat ini kami sedang berusaha keras memperbaiki hal ini dan website baru kami akan segera diluncurkan. Bersiaplah untuk pesta kembang apinya!
________________________________________
Bantulah Festival
Sebagai sebuah organisasi non-profit kami bergantung pada kemurahan hati individu-individu serta perusahaan-perusahaan untuk menjaga keberlangsungan festival. Terdapat banyak cara bagi anda yang ingin membantu kami; baik dengan menjadi relawan, menjadi Friend of the
Festival, atau dengan menjadi sponsor. Mohon hubungi kami untuk memperoleh informasi tentang keistimewaan-keistimewaan yang anda akan peroleh jika membantu festival.
________________________________________
Para Sponsor yang Murah Hati

Staff dan panitia the Ubud Writers & Readers Festival mengucapkan terimakasih mendalam kepada para sponsor 2009 atas dukungannya yang terus menerus. Tanpa anda, festival ini tidak akan ada.

Anda bisa membantu kami dengan memberikan dukungan kepada para sponsor kami.

Daftar sponsor bisa dilihat pada
http://www.ubudwritersfestival.com/index.php?mid=36
________________________________________
pertanyaan umum info@ubudwritersfestival.com
pertanyaan mengenai sponsor berto@ubudwritersfestival.com
Sumber: email PuJa / pustaka_pujangga@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *