T H U Y U L

Sri Wintala Achmad*
http://www.suarakarya-online.com/

Kampung Ngudi Tentrem geger. Yeyen menyiram air panas ke seluruh tubuh suaminya yang masih mendengkur di kamar tidur. Berita tersebar, pelacur terminal itu mendakwa, sebagian uangnya di dalam almari telah dicuri suaminya buat mabuk. Sebagian lainnya diberikan pada Diana. Janda beranak dua di samping rumahnya yang selalu dikeloni sebelum Yeyen pulang dari terminal. Menjual kenikmatan pada setiap lelaki yang menyerupai anjing di musim birahi.

Siang hari. Halaman rumah kontrakan Yeyen dipenuhi banyak orang. Lintang, suami Yeyen yang mengerang kesakitan dilarikan ke rumah sakit dengan ambulance. Yeyen digelandang dua lelaki berseragam polisi bertampang gali. Orang-orang bubaran. Namun peristiwa menggemparkan itu semakin ramai dibicarakan di poskamling, di rapat rt dan pkk. Peristiwa itu tersiar luas sesudah harian dan televisi lokal memberitakannya.

Seminggu kemudian. Berita menggemparkan kembali muncul di desa Ngudi Tentrem. Di bawah temaram lampu, seorang bocah memenggal kepala ibunya yang tengah tertidur pulas. Berbaring bugil di ranjang dalam peluk ayahnya. Kabar tersiar, bocah yang selalu rajin berdoa itu malu besar saat dituduh mencuri uang belanja oleh ibunya. Senasib Yeyen, bocah itu digelandang ke kantor polisi. Mayat ibunya dikuburkan. Tanpa visum seorang dokter.
* * *

Aroma bunga kematian menyeruak di seluruh kampung Ngudi Tentrem. Orang-orang yang meronda di cakruk malam itu menciumnya. Semilir angin yang menerpa tipis tengkuk mereka mengabarkan, esok hari ada orang mati. Wajah mereka menyiratkan ketakutan. Selain Mudra. Lelaki tua itu nampak tenang. “Mengapa kalian gusar?”
“Eyang mencium aroma bunga kematian?”

“Sebelum kalian datang, aku telah menciumnya.” Mudra mengisap tengwe. Menghempaskan asapnya. Lenyap disapu angin. Seanyir bangkai. “Memangnya ada apa?”
“Siapa besok yang akan mati dibunuh keluarganya sendiri?”

“Pertanyaanmu salah, Sobrah? Seharusnya kamu bertanya, siapa besok akan kehilangan uang? Gara-gara uang, Yeyen tega menganiaya suaminya. Seorang bocah membunuh ibunya.”
“Eyang tahu, siapa di antara kita yang akan kehilangan uang?”
“Aku hanya tahu siapa yang mencuri uang.”
“Siapa?”

Mudra menghirup nafas panjang. Menghembuskannya. Berlagak seorang dukun, lelaki tua itu memejamkan mata. Berkomat-kamit melafalkan mantra sakti. Menggugah daya indera ke enam. Mata batinnya menangkap bayangan seorang perempuan. Diana tengah menyusui anak kecil di dalam senthong.
“Mengapa Eyang diam? Siapakah yang mencuri uang itu?”
“Thuyul.”

Sontak para peronda terhenyak. Bulu kuduk mereka berdiri. Wajah mereka melukiskan rasa ketakutan luar biasa. Karena sosok thuyul yang mereka dengar dari mulut ke mulut telah berkeliaran di kampung Ngudi Tentrem. “Siapakah yang berani memelihara thuyul di kampung kita, Eyang?”
“Diana?”

Orang-orang berang. Wajah mereka, langit terbakar matahari. Sobrah yang akan meneguk kopi seketika meletakkan cangkirnya ke lantai beralas tikar pandan. Meninggalkan orang-orang di dalam cakruk yang semakin ramai membicarakan persoalan di kampungnya. Tanpa pamit.
* * *

Menjelang matahari muntah dari rahim bumi, desa Ngudi Tentrem kembali geger. Sobrah membakar rumah Diana. Janda beranak dua itu mati terbakar bersama dua anaknya. Dengan ambulance, mayat Diana dibawa ke rumah sakit. Mendapatkan visum dokter yang sungguh tidak perlu.

Di depan polisi, Sobrah menyerah saat ke dua tangannya diborgol. Sebelum mobil patroli meninggalkan desa, Sobrah berkata lantang kepada semua orang yang berkerumun di tempat kejadian: “Saudara-saudara, kalian tidak akan kehilangan uang lagi. Biang keladinya telah binasa. Aku puas meski harus meringkuk di penjara. Selamanya!”

Orang-orang mengucapkan selamat jalan kepada Sobrah. Mereka menganggapnya sebagai pahlawan yang tertangkap musuh. Istrinya tidak menitikkan airmata. Perempuan itu bangga, meski Sobrah akan divonis mati. Dialah pejuang yang mengorbankan jiwanya demi tanah kelahiran. Perempuan itu berjanji akan selalu mencintai Sobrah. Tidak akan berselingkuh dengan lelaki lain. Hingga ajal menjemput serupa senja bagi matahari.
* * *

Malam sesudah peristiwa paling menggemparkan di desa Ngudi Tentrem itu tidak ada seorangpun berani keluar dari rumah. Ngudi Tentrem diselimuti udara dari negeri hantu. Menyerupai Kurukasetra seusai Baratayuda. Menyerupai kuburan yang menebarkan aroma kematian.

Erangan panjang perempuan memecah beku malam. Dengan nyali tersisa, setiap lelaki keluar dari rumah. Menuju suara yang bersumber dari rumah Sobrah. Semua lelaki yang berkerumun di depan rumah Sobrah menyaksikan perempuan terkulai di tanah. Dialah istri Sobrah. Mati dengan mulut menjulur. Mengeluarkan darah segar.

Orang-orang saling pandang. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang membunuhnya. Pandangan mereka beralih ke arah Mudra yang bersedekap dengan mata terkatup. Seorang berkata lantang, “Jangan hanya diam, Eyang! Siapakah yang membunuh istri Sobrah?”
“Aku!”

Serempak pandangan orang-orang ke arah perempuan telanjang yang sekujur tubuhnya penuh luka bakar. Wajahnya hancur. Mirip wajah hantu yang sering mereka lihat di sinetron horor. Mudra membuka mata. Berucap bijak, “Siapakah kamu?
“Apakah Pak Tua pangling padaku?”
“Diana?”
“Ya.”
“Kenapa kamu membunuh istri Sobrah?”
“Nyawa dibalas dengan nyawa.”
“Dia tidak bersalah.”
“Aku juga tidak bersalah.”
“Kamu memelihara thuyul.”

“Kalian yang memeliharanya. Thuyul mimpi yang menjadi biang keladi huru-hara di desa ini. Karena sesudah sawah-sawah menjadi pabrik dan real esatate, kalian menjadi penganggur yang selalu bermimpi punya uang. Bukankah mimpi yang kalian yakini sebagai kenyataan itu telah menelan korban jiwa? Termasuk aku. Perempuan miskin yang hidupnya tergantung pada doa.”

Tidak sepatah kata meluncur dari mulut Mudra. Demikian para lelaki itu. Tubuh mereka bergetar dahsyat saat perempuan telanjang berwajah hancur itu lenyap disapu angin. Mereka mendongak ke langit. Seolah terlempar ke negeri gaib, mereka menyaksikan thuyul-thuyul berterbangan di lautan cahaya purnama. Serupa sepasukan kelelawar raksasa yang lenyap di atap setiap rumah.

Mudra mematung garnit. Demikian para lelaki itu. Perlahan-lahan telinga mereka menangkap igauan-igauan dari setiap rumah. Istri dan anak-anak mereka yang tertidur berteriak histeris: Aku kaya uang. Aku kaya uang. Aku kaya uang. Mereka merasakan, teriakan-teriakan itu mampu menggoncangkan desa Ngudi Tentrem. Lebih dahsyat dari gempa yang meluluh-lantakkan rumah-rumah tiga tahun silam. Pagi hari. Mereka menyaksikan arakan awan di ambang musim hujan serupa keranda-keranda hitam.***

*) Sanggar Gunung Gamping, 14012008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *