Taman Labirin di Kaki Bukit

Rama Dira J
http://www.kompas.com/

AKU mendengar sesuatu. Denting shamisenkah itu? Hmm, begitu cantik. Siapa yang memainkan? Pasti dia juga cantik. Langkah kakiku makin bersemangat menuju ke arah kaki bukit. Denting shamisen di pagi buta itu telah menghipnotisku.

Dulu aku pernah mendengar denting shamisen yang cantik. Tapi bukan di tempat ini. Aku mendengarnya di Kyoto. Gadis cantik di sebelah apartemenku yang memainkannya. Namanya Kiyoko. Ah, Kiyoko. Aku sudah terlanjur menjadikannya bagian dari masa laluku. Kami pernah menjalin hubungan, meski tak berumur lama. Aku memutuskan hubungan kami ketika tiba saatnya aku harus meninggalkan Kyoto, setelah studiku selesai.

Kini, aku kembali mendengar denting yang serupa. Aku berani memastikan, yang memainkan shamisen ini pasti cantik, sebab Kiyoko cantik. Meski Kiyoko pernah mengatakan padaku bahwa tak ada hubungan antara denting shamisen dengan kecantikan pemetiknya, aku sudah terlanjur yakin, jika yang memetik shamisen adalah perempuan cantik maka denting shamisen yang dihasilkan juga cantik.

Mulanya, denting yang kudengar kali ini malu-malu, hanya sayup-sayup saja, seperti petikan-petikan yang berasal dari mimpi. Tapi kini, ia begitu bening, mengalun lembut, membuai-buai, menyusup menembus kabut yang mengapung, bergulung-gulung dalam hembusan angin, menghantam dinding bukit, terpelanting hingga ke lembah.

Huhh?.. hanya tangan putih gemulai dengan jari-jari lentik, yang bisa menghasilkan petikan secantik itu. Aku mempercepat langkah. Kabut di depanku berhamburan perlahan untuk kemudian lenyap seperti ada tangan raksasa yang menyibaknya, memberi restu jalanku kepada si pemetik shamisen.

Pagi belum sempurna sebenarnya. Matahari masih malu-malu di ufuk timur. Aku terus berjalan dengan tas ransel di pundak yang dipenuhi dengan peralatan fotografi. Denting-denting itu semakin jelas, seperti sengaja diperdengarkan khusus untukku supaya segera mendatangi si pemetiknya.

Kesenyapan kaki bukit yang dihiasi kecantikan denting shamisen itu tiba-tiba terganggu oleh deru iringan truk bermuatan penuh manusia yang dengan susah payah berjuang mendaki di jalan yang menanjak. Truk-truk itu kemudian menyalipku. Setelah berbelok pada jalan yang menikung di depan sana, truk-truk itu berhenti. Dari atasnya para gadis pemetik teh yang berasal dari lembah, berloncatan keluar. Mereka semua mengenakan caping bambu yang lebar di kepala dan sepatu karet tinggi di kaki serta keranjang bambu di pundak. Tanpa buang banyak waktu, mereka bergegas menuju ke kebun teh untuk segera memetik pucuk-pucuk dedaunan di sana.

Matahari sudah muncul sempurna. Semakin dekat saja denting shamisen itu. Aku bergegas, tak sabar bertemu dengan pemetiknya, khawatir kalau-kalau ia tiba-tiba berhenti dan aku pun kehilangan jejak. Jalan mendaki yang kulewati kini, lurus membentang. Di depan mataku, persis di kaki bukit, kulihat ada sebuah vila besar bergaya Renaisans, yang seolah-olah mendadak muncul dari balik kabut. Denting shamisen terdengar jelas dari arah vila itu, aku jadi tak ragu mengarah ke sana.

Tiba di depan vila itu, tak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat. Hanya denting shamisen yang membuatku yakin kalau vila itu dihuni. Aku memencet bel di depan pagar besi yang berdiri kokoh dengan ujung-ujung seperti tombak menghujam langit. Denting shamisen berhenti. Dari jalan kecil di samping vila itu muncul seorang perempuan berbusana tidur panjang. Dari jauh, ia sudah tersenyum ramah menyambutku. Di balik pagar, ia langsung menyapa, ?Ada yang bisa saya bantu??

?Ya. Dari tadi, saya mendengar petikan shamisen yang indah di sekitar sini. Saya ingin berkenalan dengan pemainnya. Apa benar berasal dari vila ini?? Ia tak segera menjawabku. Sebentar, ia memandang mataku. Mungkin, setelah yakin kalau aku orang baik-baik, ia akhirnya mengiyakan apa yang kutanyakan.

?Jadi, Anda pemetik shamisen itu?? tanyaku lagi setelah ia membukakan pintu pagar, mempersilahkan aku masuk.
?Ya?? jawabnya pelan dengan desahan.

Sekali lagi, apa yang menjadi keyakinanku bahwa denting shamisen yang cantik hanya bisa dihasilkan oleh pemetik yang cantik, mendapatkan pembenaran kali ini. Perempuan ini cantik, meski tak lagi masuk dalam kategori gadis muda. Perempuan itu mengajakku melintasi jalan kecil di samping vila untuk menuju ke taman belakang.

Taman itu adalah taman yang ditata sedemikian rupa, dimana tanaman-tanaman pangkasnya yang hijau seluruh, dibiarkan tumbuh setinggi tubuh orang dewasa, membentengi jalan kecil yang melingkar-lingkar yang tak kuketahui dimana ujungnya. Di bagian tengah taman itu ada sebuah ranjang spring bed yang besar dengan naungan fiberglass permanen yang terpasang di atasnya. Di atas ranjang itu terbaring sebuah shamisen. Perempuan itu duduk di tepi ranjang sementara aku duduk di hadapannya, pada bangku batu. Untuk memecahkan suasana asing aku kemudian memperkenalkan diri kepadanya. Kukatakan bahwa namaku Nino, fotografer dari sebuah majalah fotografi di Jakarta dan aku datang ke daerah Puncak ini untuk mengambil foto aktifitas pemetikan teh yang ada di kebun teh.

?Jadi, Anda wartawan?? Ia menanyaiku dengan ekspresi penuh kecurigaan sambil menuangkan teh dari teko ke gelas kecil yang kemudian ia sodorkan kepadaku. Sempat kuperhatikan tangannya. Sekali lagi aku benar. Tangan itu adalah tangan putih gemulai dengan jari-jari lentik penghasil petikan yang cantik.

?Bukan, saya hanya fotografer. Saya bukan wartawan.? Mendengar itu, ia tersenyum lantas mulai bercerita kepadaku bahwa ia takut bertemu dengan wartawan. Ketika kutanya mengapa, ia bilang dirinya merupakan bagian dari rahasia seseorang yang mempunyai kedudukan politis yang penting di negeri ini. ?Dia anggota dewan?. Katanya lagi, jika sampai ada wartawan yang mendatanginya dan kemudian mengendus rahasia ini, maka tamatlah karir yang dimiliki kekasihnya itu. Tanpa malu-malu ia memberikan pengakuan yang lebih jauh lagi kepadaku bahwa dia berstatus kekasih simpanan.

?Sudah tiga bulan ia tidak menandatangiku. Ia sibuk melawat ke luar negeri.?

Aku hanya mengangguk tak begitu peduli dengan pengakuan yang disodorkan oleh perempuan itu. Ia kembali duduk di ranjang. Ia ambil shamisennya untuk kemudian ia petik, mengiringi acara minum teh kami. Dalam iringan shamisen ia kembali bercerita, ?Sebenarnya, aku tidak pernah mengira hidupku seperti ini. Tinggal di vila besar, penuh dengan kemewahan, tapi dibiarkan sendirian, bahkan tanpa pembantu? Ia melanjutkan bahwa kekasihnya meminta ia tetap tinggal di dalam vila itu seorang diri agar perselingkuhan sang kekasih tidak diketahui oleh keluarganya dan media. Jadilah ia kini sebagai perempuan yang selalu menunggu.

?Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa harta yang memang menjadi motivasi awalku untuk menjalin hubungan dengan kekasihku itu, tak bisa menghasilkan kebahagiaan sebagaimana yang kukira. Dan, ia tidak pernah menyadari bahwa aku juga membutuhkan perhatian dan kejelasan status.? Ia berhenti memetik shamisen untuk menyeruput tehnya. Ia kembali bercerita sambil memetik shamisen setelah cangkir di tangannya tandas.

?Sampai sekarang ini, ia tidak berhenti membanjiriku dengan uang dan hadiah. Padahal, aku tak begitu butuh semua itu. Aku menginginkan dirinya. Aku ingin dia segera menikahiku. Jika aku mengatakan itu padanya, ia tak pernah menanggapinya dengan serius.? Ia berhenti memetik shamisennya, membaringkannya.

?Shamisen ini ia beli di Kyoto dua tahun yang lalu waktu ia ikut lawatan ke Jepang. Ini adalah jenis shamisen yang langka. Harganya mahal. Hanya ini pemberiannya yang kusuka. Shamisen dari Kyoto..?

Kyoto? Aku jadi teringat dengan Kiyoko. Jangan-jangan itu shamisen milik Kiyoko. Kiyoko menjualnya setelah aku meninggalkannya. Mungkinkah itu? Ah, pikiranku terlalu jauh.

Aku mendekat, mengambil shamisen itu setelah ia menyodorkannya kepadaku. Kuperhatikan, memang ini adalah shamisen jenis yang langka, sudah jarang ada di pasaran. Tiga dawainya terbuat dari benang sutera. Bagian kepalanya tertutup kulit yang berasal dari kulit kucing. ?Ya. Ini memang shamisen yang langka.? Aku kembali memberikan shamisen itu kepadanya dan ia mulai lagi memetiknya. Aku kembali duduk, mengambil cangkir tehku, menghirupnya sedikit demi sedikit sambil terus menikmati denting yang cantik dari shamisen itu.

Ia terus bercerita bahwa dulunya ia sempat kuliah di sekolah seni selama enam semester. Ia mengambil jurusan alat musik tradisional. Selama dua semester itulah ia sempat belajar memetik shamisen. Namun kemudian, ia memutuskan untuk berhenti kuliah setelah berkenalan dengan kekasih yang menawarkan kehidupan yang penuh dengan janji kebahagiaan itu. Meski orang tuanya menentang keputusan itu, ia tidak peduli. Malahan ia melangkah lebih jauh lagi. Ia menerima saja untuk dijadikan sebagai kekasih simpanan lelaki yang sudah beristri itu. Orang tuanya menjadi semakin murka mendengar kabar tersebut hingga kemudian membuat mereka tak lagi menganggapnya sebagai anak.

?Akhir-akhir ini, aku kangen pada mereka semua. Aku kangen ibu, ayah dan adik-adikku.? Dari air matanya yang menitik, aku tahu ia sudah lama merasakan kesepian yang menyakitkan. Aku mencoba menenangkannya. Dengan berlagak agak sok tahu, aku bilang padanya bahwa konsekuensi yang diterima sebagai orang kedua memang selalu tidak enak. Aku kemudian mencoba memberinya usul, kalau memang ia ingin lepas dari kesepian dalam penjara kemewahan itu, ia harus meninggalkan vila dan semua kenangan bersama sang kekasih yang sejak mula sudah ia ketahui telah menjadi milik orang lain itu.

?Aku mencintainya dan katanya dia juga mencintaiku.?
?Oh, kalau begitu, lain soal. Ini masalah perasaan. Aku tidak bisa mengusulkan sesuatu yang bisa menjadi solusi.?

Aku kemudian diam, ia kemudian bercerita lagi bahwa taman labirin ini adalah salah satu bentuk realisasi rasa cinta sang kekasih kepadanya. Kekasihnya membuat taman labirin itu karena memang perempuan ini mengimpikan taman semacam itu semenjak ia kecil. Di taman itulah katanya mereka menghabiskan banyak waktu jika sang kekasih datang.

Ia terus menumpahkan segala macam rasa kesepiannya kepadaku. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Sementara itu, sinar matahari mulai bisa menembus masuk ke dalam taman labirin. Aku kemudian mempertimbangkan untuk pamit pada perempuan itu sebab dalam pikiranku, inilah saat terbaik untuk mengambil foto para gadis pemetik teh. Setelah kukatakan itu, ia tidak mengijikan aku pergi. Ia malah memohon padaku untuk di sana dulu beberapa saat.

?Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu? katanya kemudian, sambil menarik tanganku, mengajakku menuju ke bagian dalam taman labirin itu. Aku pun menurut saja ke mana ia membawaku. Kami terus berlari masuk dan masuk. Membelok ke kiri, ke kanan, menemukan jalan buntu, kembali lagi ke arah semula, mencari jalan lagi, berjalan terus masuk, keluar, masuk, keluar, jalan buntu, kembali lagi, jalan lagi.

Katanya, ia sekedar ingin menunjukkan apa yang selama ini sering ia lakukan bersama sang kekasih. Untuk menenangkan nafasnya yang sudah satu-satu, ia mengajakku duduk pada sebuah bangku batu. Di tengah diam kami yang tiba-tiba, aku menagih janjinya, ?Boleh saya pamit sekarang??. Bukannya mengiyakan, ia malah tertawa dan dengan santainya berkata, ?Aku tak tahu jalan keluar.? Aku panik, dia malah menarikku, memelukku, membawaku bergulung-gulung di atas rumput permadani yang ada dalam taman labirin itu.
***

DENGAN wajah yang dihiasi senyuman penuh kebahagiaan, ia berdiri di balik pagar untuk melepas kepergianku. Kami baru saja menemukan jalan keluar dari taman labirin itu ketika matahari sudah condong ke barat. Aku segera meninggalkannya, meninggalkan vila itu, meninggalkan taman labirin, meninggalkan sebuah peristiwa, menuju ke kebun teh untuk mengambil foto para gadis yang tengah memetik teh dalam lanskap senja.
Semakin menjauh dari vila itu, justru kudengar denting shamisen cantik yang makin mendekatiku. Mendadak, aku kembali teringat Kiyoko di Kyoto.

Jogja 2007 ? Tarakan 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *