Berburu Puisi Besar

J. Djoko S. Passandaran*
http://www.kr.co.id/

KRITERIA besar kecil sebuah puisi tidak ditentukan oleh banyak dan sedikitnya larik dan baitnya. Juga bukan lantaran penyair mapan dan penyair belum-mapan yang menulisnya. Sesuatu yang secara harfiah tampaknya sederhana, ternyata tidak sesederhana itu penjelasannya.

Dalam salah satu artikelnya, Sutardji Calzoum Bachri menyebut teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai puisi besar. Teks tersebut menurutnya memenuhi kriteria sebagai puisi-puisi masa kini, sebagaimana teks puisi-puisi gaya prosa Taufiq Ismail, Hamid Jabar, atau Sapardi Djoko Damono.

Disebut puisi besar karena teks Sumpah Pemuda memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kesadaran masyarakat luas untuk melihat visi lain atau baru dari realitas sehari-hari yang dialami. Juga, mempengaruhi aktivitas dan tindakan pembacanya atau pendengarnya. Puisi besar yang mampu memberikan inspirasi dan hikmah bagi banyak orang itu, dalam konteks politis telah membentuk imaged society dalam perjalanan sejarah bangsa kita.

Isi teks tersebut telah mendorong bangsa Indonesia untuk mewujudkan makna tersirat dan tersurat di balik kata-kata yang mendahului zamannya. Kata-kata itu oleh Sutardji disebutnya sebagai kata-kata in absentia, futuristik, atau ?sadar depan?. Penemuan kata-kata in absentia itu terjadi setelah melalui kristalisasi pengalaman para perumusnya, sebagai pribadi-pribadi yang selanjutnya menjadi kolektif. Para perumus teks itu oleh Sutardji disebut sebagai penyair kolektif. Sebutan tersebut cukup signifikan jika kita melongok sejarah sastra lama yang banyak diwarnai oleh karya-karya kolektif atau anonim.

Kata-kata in absentia adalah jenis kata-kata yang tidak ada pada masyarakat banyak ? tapi ada pada sejumlah anggota masyarakat tertentu ? karena ia berada di depan dari sebagian masyarakatnya, seperti kata-kata: putera(dan) puteri Indonesia, bangsa (yang) satu, ber-tanah air (yang) satu, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, Indonesia.

Alangkah beruntungnya seorang penyair jika berhasil menemukan atau mendatangkan kata-kata in absentia dalam puisi-puisinya. Kata-kata itu ditemukan dan hadir secara tepat pada masanya. Oleh karena itu, tidak aneh jika setiap kesempatan dan setiap saat, seorang penyair berburu dan bergumul dengan kata-kata. Ia selalu berusaha sekuat tenaga untuk memburu, menemukan, membentuk, dan menghadirkan kata-kata in absentia dalam puisinya.

Dalam perburuannya tidak jarang penyair sulit untuk menyatakan apakah ia telah menemukan kata-kata itu atau belum. Kenyataan itu terjadi karena penyair baru tahu setelah puisi yang ditulisnya ternyata mampu mempengaruhi pembacanya. Jika tidak terjadi pengaruh itu pada pembaca sebagai pribadi maupun kolektif, sang penyair harus rela dan berlapang dada untuk mengakui puisinya sebagai puisi kecil.

Upaya gigih untuk berburu melahirkan puisi-puisi besar telah dilakukan oleh semua penyair. Tidak terkecuali Iman Budhi Santosa dalam puisi ?Di Depan Bayi Kelahiran Februari?, ?Di Depan Perawan Kelahiran Tujuh Sembilan?, ?Di Depan Topeng Kayu Tua Museum Sanabudaya?, ?Di Depan Gerbang Makam Seniman Imogiri?, ?Di Depan Batu Kelir Wonogiri?, dan ?Di Depan Jam Mati Jalan Malioboro Pagi Hari? (MP, Minggu V April 2001), Mustofa W Hasyim dalam 3 puisinya ?Terlalu Banyak Lagu Dolanan?, ?Megatruh Keempat?, dan ?Aswatama? (MP, Minggu I Mei 2001), serta Gunoto Saparie dalam 7 puisinya ?Hotel Patra Jasa Semarang?, ?Bandungan?, ?Di Restoran?, ?Seusai Gerimis Malam?, ?Catatan Ulang Tahun?, ?Wisma Gadjah Mada Yogya?, ?Kepada Bambang Widiatmoko? (KR, 27 Mei 2001).

Kerja keras ketiga penyair ?jebolan? PSK (Persada Studi Klub) Yogya itu tidak hanya dilakukannya di sebuah tempat. Judul puisi-puisi mereka telah berbicara sendiri ke mana saja dan bagaimana mereka berburu puisi besar. Betapa ruh kita akan bergetar ketika menyimak tiga puisi lirik mereka.

Sekali lagi ia berhenti, lelah berputar/memakan angka-angka tanpa rasa lapar/ Sekali lagi ia mengunci, detik tak berbalik/waktu tak beranjak maju. ?Masihkah perlu??/ ia bertanya pada tugu, ketika burung gereja/ menebarkan kotorannya pada kaca, seperti kecewa/ ingin memaki tapi tak bisa. ?Masihkah harus/ aku menjaga waktu yang terus dilanggar siapa saja??/ Sekali lagi tak ada jawaban. Kota tak mendengar/ telinga penuh suara pasar, kaki lima bicara sendiri/ jalanan tak pernah sunyi. Kali ini, kepadaku/ ia mengangguk santun, seperti mengajak berpantun/ ?Kota mati, jam mati…. kota tua, kota kaki lima/ Kita menyanyi sampai pagi, peduli kiri kanan/ memicingkan mata, jangan sampai di sini meminta-minta? (?Di Depan Jam Mati Jalan Malioboro Pagi Hari,? Iman Budhi Santosa).

Iman telah menyentak kita dengan kata-kata jam mati Jalan Malioboro, memakan angka-angka tanpa rasa lapar, burung gereja menebarkan kotoran(nya) pada kaca, kecewa dan ingin memaki tapi tak bisa, kota mati, jam mati, dan jangan sampai di sini meminta-minta. Suatu ungkapan yang menyarankan ketegaran dan harga diri kepada pembacanya. Tegar. Meskipun kehidupan terus berlangsung muram dan Yogya dan siapa saja boleh menjadi tua, tetapi tidak membuat kita harus jatuh jadi peminta-minta.

Sementara itu, Mustofa mencoba mengangkat kata-kata yang dipungutnya dari referensi budaya anak-anak Jawa menjadi idiom yang universal. Berhasilkah dia? Pembacalah yang akan menentukannya. Setidaknya lepetan, soyang-soyang, jamuran, cublak-cublak suweng, sluku-sluku batok, dan jailangkungan kini tidak lagi dimainkan anak-anak pada saat purnama, tetapi dimainkan oleh orang dewasa dalam kehidupan duniawi di bawah sinar lampu remang-remang desa dan kota. Permainan bocah itu kini menjadi simbol ?hilangnya? kehidupan kolektif yang ramah dan ceria di antara manusia. Mereka telah mengutuk desa demi desa dan kota demi kota, berikut ini.

Terlalu banyak lagu dolanan/ dimainkan orang dewasa//Lepetan/ gagal diurai// Soyang-soyang/ diserang lebah liar// Jamuran/ menghasilkan racun pergaulan// Cublak-cublak Suweng/ mutiaranya hilang di tanah hitam// Sluku-sluku batok/ semua terburu menuju kekosongan// Tak ada lagi/ purnama// Gerhana/ lupa berhentinya// Ada Jailangkung menari/ mengutuk desa demi desa// Mengutuk/ kota demi kota. (?Terlalu Banyak Lagu Dolanan,? Mustofa W Hasyim).

Berbeda dengan Iman dan Mustofa, Gunoto mencoba memburu kata-kata in absentia itu pada daftar menu dan Mu. Dalam selintas perburuannya, ia termangu hanya menemukan diri sendiri dan bukan menemukan sesuatu yang transendental yang diharapkannya. Hal itu dapat terjadi pada diri siapa saja.
pada daftar menu/ terbaca namaku/ (mengapakah bukan namaMu?) (?Di Restoran,? Gunoto Saparie).

Meskipun tidak membuktikan pengaruh apa-apa kepada masyarakat tidak berarti ketiga puisi itu merupakan puisi kecil. Penyairnya telah membuktikan kesungguhannya dalam berburu puisi besar. Kesungguhan dalam puisi itu telah menjadi bukti otentik perburuan yang sungguh besar. Puisi mereka bukan puisi kecil. Setidaknya bagi saya pribadi. Begitulah!.

* Pengamat dan praktisi sastra dan budaya, bermukim di Yogya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *