Sastra (Puisi) Profetik di Dalam Arus Globalisasi

Dahta Gautama
http://www.lampungpost.com/

BETAPA modernisasi telah mengusung peradaban ke dalam dunia global, apa yang tak mungkin pada masa silam menjadi ada di peradaban terkini. Televisi, internet, ponsel, dan film, telah mengubah pola pikir masyarakat kita yang semakin tidak peka ini.

Di tengah arus globalisasi yang deras itu, apa yang bisa dilakukan sastra (puisi)? Hanya sebatas susunan kata-kata yang dipuitiskankah? Atau, cuma contoh tersantun yang menandakan bahwa hati nurani masih ada.

Para sastrawan (penyair) yang masih sudi menulis puisi di tengah kegetiran arus peradaban globalisasi, barangkali patut disebut sebagai pejuang penjaga nurani. Betapa tidak, di tengah maraknya sastra sampah (maaf, mungkin sebutan ini terlalu kasar, namun saya lebih suka menyebutnya demikian), masih ada penyair yang rela menyair dengan daya profetik yang lebih sopan meskipun satir dan getir.

Saya setuju dengan pendapat penyair Oyos Saroso, ia memperpanjang istilah yang telah populer terhadap para penulis perempuan terkini dengan sebutan “sastra wangi”. Oyos menyebut beberapa nama perempuan penulis seperti Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Nukila Amal, Fira Basuki, Dewi Lestari, Dinar Rahayu, Rieke Diah Pitaloka, dan beberapa penulis perempuan lainnya sebagai jelmaan Enny Arrow dan Fredy Siswanto.

“Bila mereka menulis sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu,” tulis Oyos Saroso HN dalam esai “Teks Sastra di Ladang Anggur” (Lampung Post, 7 November 2004), “mereka hanyalah penulis picisan yang hanya beda tipis dengan stensilan porno Enny Arrow.” Tapi, apa mau dikata, apabila sastrawan besar seperti Sapardi Djoko Damono saja telah membabtis “penulis-penulis manis” itu dengan komentar yang sangat manis “pengarang perempuan terkini lebih bagus, daripada para pengarang pria.”

Sungguh gampang untuk menjadi pengarang terkenal cuma dengan menulis tentang alat kelamin, dubur, dan senggama pada novel. Toko-toko buku pun diserbu para pencari tahu isi tulisan mereka. Ironis.

Lalu, ada apa dengan Binhad Nurrohmat? Yang saya tahu ia adalah jebolan sebuah pesantren. Itu artinya, nilai-nilai relegius seharusnya lebih tertanam dalam puisi-puisinya. Mengapa ia menulis kelamin dan tai dalam kumpulan puisi Kuda Ranjang? Sedang putus asakah ia karena karirnya di dunia kepenyairan biasa-biasa saja, sehingga ia harus atau terpaksa menempuh jalan pintas dengan menulis puisi yang isinya melulu kelamin, zakar, dan bokong?

Saya tidak terlalu terusik dengan puisi Binhad yang berjudul “Berak”, bahkan ada penyair yang lebih dulu menulis puisi sebelum Binhad lahir, F. Rahardi, dan kerab “berjorok-jorok ria” dalam beberapa sajaknya. Seperti puisinya yang berjudul “Kontol Kambing.” Tapi, setelah dibaca secara benar ternyata “Kontol Kambing” tidak sejorok dan senaif judulnya. F. Rahardi sekadar mengingatkan bahwa alat kelamin hewan tersebut ternyata lezat dijadikan makanan sejenis sate.

Namun, puisi Binhad yang berjudul “Berak” menurut saya adalah proses orang buang hajat di jamban. Ia secara detail melukiskan bentuk zakar, bokong, dan sisa kotoran manusia saat buang air besar. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada nilai sastranya. Namun, di sinilah letak keunikan dari sajak-sajak Binhad dalam kumpulan Kuda Ranjang. Ia telah menulis kata-kata sampah. Bukankah, buang hajat (berak) adalah proses pembuangan sisa-sisa makanan yang notabene sampah di dalam lambung manusia. Sekali lagi, ironis! Mengapa harus sampah yang dibaca orang.

Menyikapi maraknya tulisan-tulisan sampah (jorok) dari para sastrawan muda tersebut dan nampaknya tulisan-tulisan mereka diminati masyarakat pembaca, masih adakah dari generasi sastrawan tua, lebih-lebih sastrawan muda untuk membendungnya?

Ternyata komunitas masyarakat sastra masih patut bersyukur karena masih banyak sastrawan (penyair) yang menulis puisinya dengan nurani yang tak terdedah. Masih ada puisi-puisi profetik yang terbungkus dalam gulungan bahasa-bahasa perih, miris, gelisah namun indah dan sastrawi.

Saya masih membaca karya-karya penyair itu? Yang menurut saya, sungguh sangat manusiawi bila masyarakat kita mau membacanya. Dari Lampung ada Isbedy Stiawan ZS, saya begitu terkesan dengan sajak profetiknya yang terbungkus dalam hal-hal yang justru kelihatan biasa-biasa saja dalam kehidupan keseharian kita. Dalam salah satu judul puisinya “Aroma Laut”: kutulis puisi lagi/ketika aroma laut masih mengental/atau warna langit/ yang ranum masih bergetar/karena itulah tenaga bagi kata-kataku.

Dalam puisi tersebut Isbedy hanya bicara tentang laut. Sesungguhnya ia telah menulis sebuah makna dari rapuhnya daya manusia bila telah berhadapan dengan Yang Maha Pencipta. Melihat laut dan langit, ia seperti mencium aroma Tuhan, yang telah menggerakkan tenaganya untuk berkata-kata dalam doa. Puisi yang ramah, manusiawi, bernas, dan yang lebih penting lagi Isbedy berhasil sebagai penyair (sastrawan) tanpa harus “berjorok-jorok ria.”

Penyair nasional dari Lampung lainnya yang begitu kental profetiknya adalah Budi. P Hatees dan Ahmad Julden Erwin. Puisi Budi P. Hatees yang berjudul “Rahasia Sunyi” seakan mengajarkan kepada kita untuk mengenal Tuhan melalui tangan-tangan ghoib-Nya. Berikut penggalan puisi tersebut: rahasia yang tersimpan/kedua bola matamu/adalah misteri kegaiban matahari melahirkan bayi/semua bersinar lembut/hariku/juga pintu-pintu/yang semakin membuka diri/kini tak ada lagi yang terentang/begitu lebar diantara kita/segalanya telah diucapkan/betapa berulangkali aku mencintaimu/mencintainya/keindahan dan kesedihan/yang ditawarkan dunia.

Budi P. Hatees berhasil memandang hidup dengan dunia yang penuh cinta. Di matanya hidup adalah warisan Illahi, penuh misteri. Diwarnai cinta tapi juga ada perih dan kesedihan. Ternyata dalam kepenyairannya Budi. P. Hatees tidak “ikut-ikutan” mengaksesoris puisi-puisinya dengan kata-kata tabu. Serupa dengan Isbedy Stiawan ZS, ia pun mampu menjaga kesinambungan karyanya dengan puisi-puisi yang sopan.

Selain Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees ada Satmoko Budi Santoso, Abdul Wachid B.S, Wijang Wharek AM, Ari Setya Ardhi, Zhazie Al Azis Ys, Harta Pinem, Nurochman Sudibyo, Gunoto Saparie, Raudal Tanjung Banua, Faaizi L. Kaelan, Fauzi Absal, dan beberapa nama lainnya yang begitu konsisten dengan sajak profetiknya.

Ada beberapa penyair yang lebih duhulu konsisten dengan profetik, mereka berangkat dan menulis puisi profetik dari awal karir kepenyairannya. Untuk menyebut beberapa nama antara lain Abdul Hadi WM, (Alm) Hamid Jabbar, Subagio sastrowardoyo, Toto St Radik, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Mustofa W Hasyim, Piek Ardijanto Soeprijadi dan Kuntowijoyo.

Mari kita simak puisi Zhazie Al Aziz Ys yang berjudul “Satire Lanskap Kemanusiaanku”: dimana lagi mesti kurintihkan/keperihan ini/setelah lelah menyumpahi nasib/yang memuntung/di layar-layar eloktronik/o, betapa bab-bab buku/dan pasal-pasal/telah mengorbankanku jadi manusia plastik/dimana lagi mesti/kumuntahkan khayalan kemanusiaanku/sedang pada kumuh cuaca/dan senyum perempuan malam/tak pernah kutemukan mata angin/o, mataanginku!

Al Azis, namanya memang tak secemerlang Binhad karena telah menulis puisi “Berak”. Namun, kesungguhannya dalam memandang hidup patut kita kagumi. Sajak ini ditulisnya pada 1992, dua belas tahun lalu. Pada masa itu globalisasi yang tak sehebat saat ini telah mampu mempecundangi dirinya. Ia terkurung dan memuntung dalam layar-layar elektronik (televisi), padahal televisi swasta dan acara-acaranya tak sebombastis seperti sekarang ini. Namun, ia tetap menghikmati, bahwa apapun bentuknya, entah itu televisi, radio atau VCD dampaknya bagi tingkah laku manusia begitu hebat. Bab-bab buku dan pasal-pasal telah menjadikannya sebagai manusia plastik. Di sini, Al Azis sesungguhnya mempercayakan ada yang mesti manusia baca, yaitu kitab suci. Manusia, di mata Azis harus kembali ke khitahnya yaitu Tuhan.

Serupa dengan Al Azis, penyair Wijang Wharek AM namanya pun kurang begitu dikenal sebagai penyair. Padahal, pada dekade 1991-an penyair ini bisa dikatakan sebagai penyair yang paling produktif mempublikasikan puisi-puisinya di Harian Semarak Post Bengkulu dan di berbagai media massa di Sumatera. Saya mengenalnya saat bermukim di Bengkulu.

Puisi-puisi Wijang yang datar menurut saya cukup kuat. Terutama nuansa profetiknya. Membaca Wijang saya seperti membaca Abdul Wachid B.S. Meskipun tidak “setenar” F. Rahardi, Iwan Gunadi atau Binhad Nurrohmat, saya mengaguminya sebagai penyair yang gigih. Sama halnya saya mengagumi penyair asal Medan, Harta Pinem.

Saya terkesan pada puisi Wijang Wharek yang berjudul “Mengaji Subuh”: menggigir hari dalam/selimut kabut/suara itu nyaring menggedor/daun pintu/siapa sepagi ini hadir/disitu/sebuah percakapan mendadak terkurung/dalam bahasa gagu/melimbung/aku tersadar gagap mengeja rahasia/alif lam mim-mu.

Mengapa puisi secemerlang itu tidak menghantarkan penulisnya ke menara gading? Ia hanya mampu bertengger di tangkai-tangkai tumbuhan merambat. Ya. Wijang selalu akan menyadari, dimana ia harus berdiri, duduk, tidur dan bertemu mimpi. Ia barangkali sesungguhnya sadar, bahwa puisi ditulis sepenuhnya hanya sebagai media untuk “menyayangi” Tuhan.

Seperti “Sampan Yang Berlayar” Harta Pinem: diam-diam sampanku berlayar/membawa kegelisahan ikan-ikan/melayarkan kesucianku/ke pucuk ombak/gemuruh badai menubruk sampanku/dari abad-ke abad/dilanda kecemasan/hingga hitam air lautku.

Inilah peradaban terkini itu. Penyair yang selalu dibayangi kecemasan. Harta Pinem juga merasakannya. Kegelisahan dilarung ombak peradaban. Kegelisahaan yang meng-abad, mungkin kegelisahan tersebut melebihi usia manusianya.

Lantas, mengapa, apabila yang terjejal hanya gelisah dalam nurani penyair, masih ada sastrawan (penyair) yang meluapkan kegelisahannya pada kalimat-kalimat yang tabu (menulis karya sastra seks)?

Namun, kebutuhan akan sastra propetik-supistik di era globalisasi tak akan terbendung. Di saat hati terdedah dan gundah gulana karena peradaban telah dengan sangat santunnya ditingkahi dengan tayangan-tayangan porno di televisi, baik itu berbentuk iklan atau sinetron. Atau film-film biru di piringan VCD, percayalah manusia akan kembali kepada khitahnya, yaitu bertahajud. Di tengah gegap-gempita duniawi, manusia akan “Tahajud Sunyi”: ketika aku datang pada-Mu/jelaga itu/masih mendekam/dalam jantungku/sedang aku/sejak lama merindukan/cahaya rembulan/untuk menatap/kemolekan wajah-Mu (Budi P. Hatees). ****

*) Penyair dan penulis esai, tinggal di Bandar Lampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *