Berlinale 2009: Merayakan Keberagaman

Ucu Agustin*
http://www.jawapos.com/

SALJU makin tebal menaburi jalanan di sekitar Marlene-Dietrich-Flatz 1 ketika sedan-sedan hitam mengkilat bermerek Volvo memasuki area yang letaknya tak jauh dari Arkaden, pusat perbelanjaan terbesar di Posdamer Platz, Berlin, Jerman. Teriakan para jurnalis foto dan kameraman televisi bercampur dengan teriakan para fans, menghambur di udara dingin Berlin saat ketua juri internasional Berlinale 2009, Tilda Swinton, turun dari mobil dan langsung menyetel senyum di wajah mungilnya yang cantik.

Malam itu, 14 Februari 2009, adalah puncak perhelatan besar Internationale Filmfestpiele Berlin atau yang lebih dikenal dengan Berlinale. Sebanyak 1.600 tamu undangan memadati Berlinale Palast, gedung teater semegah istana. Gedung itu biasanya dipakai untuk pertunjukan opera, namun tiap tahunnya, selama dua minggu pada bulan Februari, gedung tersebut berubah menjadi bioskop besar dengan satu studio. Di sanalah pembukaan Berlinale, momen red-carpet untuk premiere film, serta penganugerahan Golden Bear, digelar.

Di tengah prihatinnya warga dunia karena krisis ekonomi yang menghantam secara global, Berlinale ke-59 kembali digelar, 5-14 Februari lalu. Dan, dengan jeli, para programmer di Berlinale mendesain rancangan programnya dengan membawa film-film dari seluruh dunia yang memiliki keterkaitan antara tema yang diangkat dengan konteks politik sosial yang terjadi dan tengah berkembang saat ini.

Wieland Speck, direktur program panorama –sebuah sesi bergengsi di mana film independen dan film art yang dituturkan dengan cara personal namun menggugah keingintahuan penonton mendapatkan tempat– menyatakan kebanggaannya karena telah menemukan harta karun berupa film-film dengan tema yang tidak kehilangan relevansinya dengan isu-isu yang mengemuka di dunia.

Krisis ekonomi global dan dampaknya yang brutal terhadap kemanusiaan, memang menjadi salah satu fokus dari tema film-film yang diputar di Berlinale –khususnya program Panorama kali ini. Perang, penyiksaan dan kelaparan sebagai efek ikutan yang turut terbawa sebagai konsekuensi dari adanya krisis global terlihat jelas dalam The Shock Doctrine, film besutan kolaborasi dua sutradara Michael Winterbottom dan Mate Whitecross yang didasarkan buku The Shock Doctrine karya Naomi Klein.

Andrew Eaton, salah seorang produser yang hadir dalam premiere film dokumenter berdurasi 90 menit tersebut menyatakan, sebagai film, The Shock Doctrine sebenarnya masih dalam progres dan belum selesai diedit, tapi panitia telah memilih dan menetapkan jadwal tayang film tersebut karena isunya yang sangat signifikan, yakni tentang doktrin kapitalisme yang mulai membahayakan dan telah banyak menelan korban.

Film lain yang juga mendapat spotlight berkenaan dengan tema besar krisis global adalah Garapa. Sebuah film dokumenter tentang kelaparan di Brazil yang dikisahkan melalui tiga keluarga dan digarap oleh sutradara kelahiran Rio de Janeiro, Jose Padilha yang tahun lalu berhasil membawa pulang penghargaan Golden Bear di Berlinale 2008 melalui film-nya Tropa De Elite.

Indonesia: 5 Film
Claudia Llosa terlihat terharu saat beruang emas itu akhirnya benar-benar terganggam di tangannya. Sutradara perempuan asal Peru itu tampak tak percaya saat presiden dewan juri Tilda Swinton dan Direktur Berlinale Dieter Kosslick menganugerahkan penghargaan tertinggi Golden Bear untuk film arahannya La Teta Asustada (judul internasionalnya: The Milk of Sorrow).

Sementara Adrian Biniez, sutradara asal Uruguay memperlihatkan ekspresi yang sama saat film Gigante yang disutradarainya membuatnya berkali-kali turun naik panggung utama Berlinale Palast malam itu. Dengan bahasa Inggris yang terbatas, ia mengakhiri ucapan terima kasihnya yang singkat dengan hanya mengatakan ”fantastik!” ketika beruang perak itu ia acungkan dengan bangga ke udara. Gigante meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni Silver Bear -The Jury Grand Prix, penghargaan Alfred Bauer Prize untuk film yang dianggap memiliki pencapaian artistic, dan penghargaan sebagai film debut terbaik.

Dalam press release resmi Berlinale, juri menyatakan bahwa film-film yang masuk kompetisi kali ini selain merupakan film yang berfokus pada tema yang mengeksplori lebih jauh topik-topik penting yang terjadi pada saat ini, juri juga memutuskan penghargaan diberikan kepada mereka yang dalam filmnya berusaha membuat keseimbangan antara pernyataan politik dan cara yang poetik.

Dari 383 film yang diputar di Berlinale, 20 di antaranya masuk dalam sesi kompetisi. Sementara sisanya terbagi dalam sesi Panorama (panorama feature & panorama documente), Forum, Generation, Perspective Deutches Kino, Berlinale Short, Berlinale Retrospektive, Berlinale Talent Campus, The Taste of Truth: Culinary Cinema 2009, dan Seismographs of Social Change.

Dan, setelah absen selama 6 tahun, untuk pertama kalinya film-film Indonesia kembali menyemarakkan layar Berlinale dengan angka yang cukup fantastic! Dari 6.000 entry film yang masuk di Berlinale, lima film Indonesia berhasil mengalahkan ribuan film dari ratusan negara di berbagai penjuru dunia. Sebuah pengakuan internasional yang mulai diberikan untuk keberhasilan sinema kita.

Meski belum ada film Indonesia yang masuk dalam sesi kompetisi, inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman kita, film Indonesia bisa masuk dalam sesi bergengsi: Panorama. Bukan hanya satu, melainkan dua film sekaligus. Yakni Pertaruhan (judul internasiolanya: At Stake) –sebuah antologi empat film dokumenter yang digarap lima sutradara muda Lucky Kuswandi, Ucu Agustin, Iwan Setiawan, M. Ichsan, dan Ani Ema Susanti yang diproduseri Nia Dinata masuk dalam Panorama Dokumente; dan Laskar Pelangi karya Riri Riza masuk dalam Panorama Feature.

Adapun di Sesi Forum, Garin Nugroho datang dengan film dokumenter terbarunya Generasi Biru (film tentang Slank) dan Edwin di sesi Berlinale Short dengan film pendeknya Trip to The Wound, serta B.W. Purba Negara dengan film dokumenter pendek Musafir. Film Indonesia terakhir yang diputar di Berlinale, terjadi pada tahun 2003 melalui film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja arahan Garin Nugroho.

Sebagai salah satu festival film internasional tertua di Eropa setelah Festival Film Venesia di Italia dan Festival Film Cannes di Prancis, Berlinale yang didirikan ada 1951 jelas merupakan salah satu barometer tren film dunia. Tema besar keberagaman di tengah krisis global yang diusung tahun ini, jelas akan menjadi acuan utama untuk tren film di masa datang. Selain itu, Berlinale merupakan satu-satunya festival film terbesar di dunia yang khusus memberi satu sesi penghargaan untuk film-film bertema LGBT (Lesbian-Gay-Transeksual-Biseksual) melalui penghargaan Teddy Award tang telah berlansung selama 23 tahun. ***

*) Sineas muda, peserta Berliane 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *