“Cinta” Dalam Sebelas Menit

Yanuar Arifin
http://oase.kompas.com/

Bagi seorang wanita, cinta seringkali hanya menimbulkan sebuah penderitaan, luka dan cacat dalam kehidupan. Cinta yang semula begitu agung, sakral, suci dan dimuliakan oleh kebanyakan manusia, terkadang menjadi realitas yang menyedihkan dan ditakuti oleh sebagian orang. Anggapan ini tentunya sangatlah beralasan apabila kita membaca kembali lembar luka kehidupan kaum wanita di muka bumi ini yang tak jarang mendapatkan perlakuan buruk dari kaum laki-laki.

Lantas, bagaimana perempuan memaknai ?cinta dan kebahagiaan?? Apakah cinta yang seringkali berwujud simbol penyatuan fisik;?Seks? diantara dua jenis gender mampu menembus batas makna kesakralannya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita ketemukan jawabannya dalam novel terbaru Paulo Coelho; Eleven Minutes.

Dalam ?Eleven Minutes?, sang fenomenal penulis novel laris ?Alchemist?; Paulo Coelho, kembali menyajikan kisah kehidupan manusia yang penuh dengan inspirasi dan pencerahan. Sebagaimana ?Alchemist?, dalam novel ini, Coelho kembali menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang manusia yang gemar berpetualang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Maria, tokoh utama dalam novel ini adalah seorang perempuan muda Brazil yang sejak remaja begitu yakin tidak akan pernah menemukan cinta sejati dalam kehidupannya. Keyakinan inilah yang menghantarkannya dalam petualangan cinta yang liar. Ia menjadi seorang ?pelacur? demi bertahan hidup agar dapat menemukan sesuatu yang diyakininya tidak akan pernah ketemu itu.

Dikisahkan, seseorang yang ditemui Maria secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss. Namun, janji itu ternyata palsu dan bohong belaka. Kenyataannya, ia harus menjual diri untuk bertahan hidup. Maka, dengan sepenuh kesadaran ia memilih untuk menjalani profesi sebagai pelacur dengan harapan, ia mampu mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati yang selalu diidam-idamkan oleh setiap wanita.

Ternyata, pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati. Meskipun semula ia begitu yakin bahwa ia dapat secara mudah berhenti kapan saja untuk menjalani profesi hina itu, ternyata ia sulit melakukannya. Padahal, ia sangat berharap, kelak dapat hidup secara normal ; menjadi seorang istri dari seorang suami yang sangat mencintainya dan seorang ibu dari anak-anak yang terlahir dari rahimnya.

Sampai akhirnya, ketika seorang pelukis muda, Ralf mulai memasuki hidupnya, keyakinan Maria pun diuji. Dia mesti memilih untuk terus menjalani kehidupan gelap itu, atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan ?cahaya di dalam dirinya?. Mampukah dia beralih dari sekadar penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau dua jiwa – ke suatu tempat di mana persetubuhan merupakan sesuatu yang sakral?

Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita dan membuat kita benar-benar terperangah. Lewat sosok Maria, Paulo Coelho ingin menunjukkan pada kita akan keberadaan cinta sejati dan makna seks yang seringkali dianggap tabu untuk dimengerti.

Menurut Paulo Coelho, kenikmatan seks yang hanya bertahan selama 11 Menit dalam sehari ternyata merupakan esensi dari perjalanan kehidupan manusia yang panjang. Aktifitas kehidupan dalam sehari yang tersusun dari 24 Jam atau 1440 Menit ternyata menemukan makna kehakikian ketika manusia tenggelam dalam aktifitas seks yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 11 Menit. Di sebelas menit inilah, manusia berada pada puncak kesadaran dan naluri kemanusiaannya. Puncak penyatuan dua fisik dan jiwa.

Membaca novel ini, kita akan menemukan wajah lain dari seorang Paulo Coelho. Sebagai seorang novelis yang kaya akan pengalaman dalam dunia fiksi, ia mencoba menelusuri dunia baru terkait dengan dunia seks. Novel ini sungguh mampu merekam dengan baik kehidupan liar para petualang seks; pelacur. Sosok Paulo Coelho yang kita kenal sebagai seorang yang religius ternyata menyelami dengan baik jagad pelacuran.

Akhirnya, tak dapat kita ingkari bahwa novel ini adalah salah satu karya terbaik yang pernah dikarang oleh Paulo Coelho. Dengan menggabungkan banyak karakter dari para wanita penjaja cinta ke dalam satu karakter tokoh bernama Maria. Coelho telah berhasil memperlihatkan pada kita akan kecerdikannya. Setidaknya, novel ini adalah jalan bagi kita untuk lebih bisa memaknai cinta dengan makna kehakikiannya. Membaca novel ini, kita diajak untuk terus berada pada alur pencarian cinta dan kebahagiaan yang sejati.

Judul Buku : Eleven Minutes
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (www.gramedia.com)
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : 357 Halaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *