Cinta Sang Sinta

Syifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Selain bahasa, musik, dan tampilan visual, unsur kontemporer wayang orang Kidung Sinta diwakili pilihan tema yang universal.

“Itu hanya masalah waktu,” begitu Rahwana merayu Sinta dalam salah satu adegan Wayang Wong Metro Kidung Sinta di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Selasa (3/3). Bahkan Rahwana pun bertutur lembut dan penuh kasih dalam lakon ini. Rahwana, dengan memperhalus tuturnya, berusaha meyakinkan Sinta bahwa dirinya bisa berubah seiring waktu demi menyenangkan hati perempuan yang ia bawa lari dengan paksa tersebut. Meskipun bagi Sinta perkataan Rahwana adalah kepura-puraan belaka, paling tidak penonton teryakinkan bahwa Rahwana memang jatuh cinta pada Sinta.

Dalam pertunjukan yang dipersembahkan Paguyuban Soko Adinegoro dan Ikatan Alumni ASKI/STSI/ISI Surakarta ini, cinta memang jadi pusat penceritaan. Kesan ini terlihat dari nuansa musik gamelan dan juga sesekali alunan biola mini orkestra yang seolah memperkuat “jeritan” pilu hati Rama dan Sinta yang terpisahkan.

Bahkan sampai ada adegan khusus di mana Laksmana berusaha menghibur Rama setelah peristiwa penculikan Sinta. Rama yang galau malah menjawab dengan sinis dan sedikit marah pada adiknya, “Tahu apa kau tentang cinta?”

Walaupun cinta sulit dimengerti, sutradara Nanang Hape tahu benar bahwa universalisme cinta dalam lakon Ramayana takkan sulit diterima berbagai kalangan. Apalagi sasaran dari pagelaran Wayang Wong Metro Kidung Sinta adalah semua kalangan yang ingin mengenal wayang.

“Cerita Ramayana lebih dekat dan manusiawi. Kisah tentang cinta dan kehormatan seperti ini tipikal, terjadi kapan pun di belahan dunia mana pun. Sangat universal. Jadi kita di sini bermain untuk menyentuh perasaan,” kata Nanang yang lebih dikenal sebagai dalang seusai pagelaran.

Cinta sebagai salah satu unsur universal di dunia ini sengaja dipilih sebagai salah satu cara untuk menarik penonton masa kini terhadap kesenian tradisional wayang wong (orang dalam bahasa Jawa). Apalagi ditambah dengan pilihan penggunaan bahasa Indonesia sebagai dialognya, diharapkan sebagai jembatan bagi kaum muda. Namun bahasa bukanlah satu-satunya unsur yang membuat “jarak” antara seni tradisi dan generasi modern. Dalam wayang khususnya, kendala durasi yang terlalu lama juga jadi masalah. Belum lagi unsur layar, latar, serta tampilan visual yang kerap dinilai ketinggalan zaman.

Menyikapi kegelisahan orang-orang yang ingin mengenal wayang inilah, maka dibuatlah Kidung Sinta. Maksudnya sama sekali bukan untuk mengurangi rasa hormat terhadap wayang orang tradisional dan juga bukan untuk berdesakan meraih penonton. Tapi ditujukan untuk membuat penonton setidaknya mengerti apa yang sedang ditontonnya. Tak heran jika diimbuhkan embel-embel Metro pada tajuk Wayang Wong.

“Seindah-indahnya puisi Jawa kalau yang mendengar nggak mudeng, bagaimana bisa dinikmati?” kata Nanang. Tentu akan berbeda jika sajian ini ditujukan bagi segmen yang kenal baik dengan wayang. Meski diakui juga oleh Nanang bahwa ada semacam greget yang hilang karena mengindonesiakan bahasa perwayangan. Tak heran Kidung Sinta terbilang wayang orang minim kata. Porsi tarian lebih mendominasi. Dengan alur yang linear, penonton tetap tidak ketinggalan jalan cerita.

Karena tarian mendominasi, tentu lebih besar pula peranan koreografer dalam “mengawinkan” warna tradisi dan modern dalam Kidung Sinta. Namun, menurut Sri Wardoyo, koreografer yang juga membawakan peran Wibisana, penyesuaian yang ia lakukan dalam tari-tarian Kidung Sinta lebih pada penghayatan musik. Dari segi tariannya sendiri, Wardoyo tetap menyajikan tarian tradisional Jawa seperti tari Bedhaya.

Di lain sisi, durasi tari yang terlalu panjang yang ditampilkan malam itu sepertinya tidak pro pada penonton yang “gagap” kesenian tradisi. Karena makna filosofis tarian tradisi seperti ini tentu tak bisa dipahami sembarang orang. Apalagi yang baru mengenal wayang orang.

Untungnya, Wardoyo piawai menaikkan kembali mood penonton dalam duel maut satu lawan satu antara Rama dan Rahwana. Di sana, masih dengan nuansa romantisme rasa benci dan cinta, digambarkan betapa seorang Rama bisa begitu jantan dan gagah menghadapi Rahwana.

Tak seperti adegan perkelahian adegan wayang umumnya dengan sound yang bising dan efek lighting yang berlebihan, kedua tokoh ini malah diberi waktu panjang dalam sinar temaram dan mencekam untuk saling berhadapan tanpa atribut wayang yang jadi identitas masing-masing tokoh.

Perawakan Rahwana yang tinggi besar dan rambut terurai, tentu mudah dikenali walaupun dalam kondisi diam yang berwibawa. Berbeda halnya dengan Rama yang bertelanjang dada dengan hanya terbalut kain lebar. Sesaat, penonton dibuat bertanya-tanya dengan siapakah Rahwana bertarung sampai kemudian disadarkan bahwa ada kekuatan pada Rama yang berontak keluar dari penampilan lembutnya.

Puluhan kera yang dimainkan penari cilik dalam beberapa adegan juga menjadi efek hiburan dalam pagelaran ini. Kemunculan anak-anak yang baru belajar tari ini berhasil meramaikan suasana berkat akrobat dan improvisasi gerak-geriknya.

Perkawinan unsur tradisi dan kontemporer Kidung Sinta memang tidak terlalu rumit dan terbilang agak kasar. Musik gamelan tetap dimainkan seperti tradisinya dalam wayang orang, tapi sesekali digantikan dengan iringan orkestra mini. Dari segi visual, latar panggung memanfaatkan teknologi proyektor yang menggantikan geber. Namun secara keseluruhan, Wayang Wong Metro ini terbukti telah mencapai tujuannya karena sangat bisa diterima setiap golongan hingga akhir pertunjukan. Bahkan oleh yang baru pertama kali menyaksikan wayang.

Nanang, yang sempat mengaku kesulitan mentransfer ide kepada para pemain berhubung ini adalah kali pertama baginya menjadi “dalang” orang, sukses membuat penonton mudeng dan terhibur. Penyutradaraan Nanang berhasil menciptakan harmoni di atas panggung yang bisa diterima penonton.

One Reply to “Cinta Sang Sinta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *