Diksi yang Genit dari Joko Pinurbo

Alex R. Nainggolan
http://www.lampungpost.com/

PRODUKTIVITAS penyair Joko Pinurbo memang tinggi. Setidaknya, sudah lima kumpulan puisinya terbit, yakni Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacar Kecilku (2002), Trouser Doll (2002), Telepon Genggam (2003). Yang teranyar ialah Kekasihku (2004).

Pun ternyata Joko menjaga diksi-diksinya senantiasa penuh gurauan, cibiran terhadap tingkah asmara dan kelakuan manusia. Cibiran yang penuh dengan guyon, kesedihan yang dibalut dalam rangkaian kalimat sederhana, membuat puisi-puisi yang dilahirkan, meminjam Nirwan Dewanto: mengasah otak dan perut. Ingatan saya terkenang dalam kata pengantar yang ditulis Joko untuk kumpulan puisi sebelumnya: “Damba penyair hanya satu, bisa menulis lagi dan lagi.

Memang terjadi loncatan yang berarti dalam sajak-sajak terbarunya. Joko mulai meninggalkan nuansa “celana” lamanya, dengan berusaha mempertanyakan hakikat waktu.

Waktu memang sejenis upaya perenungan yang sejak lama di mana seluruh sudut dimensi dikuakkan. Waktu pula, yang kerap menghukum kita untuk kembali pada kenangan-kenangan, gemar mengingat masa lalu, mimpi-mimpi, serta warna-warni hidup yang pernah terjadi sebelumnya.

Tentang “Penjual Kalender” misalnya, Joko menulis: Pawai tahun baru baru saja dibubarkan sepi./Sisa suara terompet berceceran, sebentar lagi basi./Lelaki tua berulang kali menghitung uang receh di tangan,/barang dagangannya sedikit sekali terbeli./”Makin lama waktu makin tidak laku,” ia berkeluh sendiri./Anaknya tertidur pulas di atas tumpukan kalender/yang sudah mereka jajakan berhari-hari.

Ada kegetiran yang diam-diam tumbuh. Merasuk di antara kelindan kalimat, penjual kalender yang penuh keluh, ternyata tahun baru melintas menjadi basi. Tahun yang baginya tak berganti, dan ia tak laku menjajakan kalendernya.

Bandingkan nuansa waktu yang kembali mencambuk dari Joko dari paragraf terakhir sajak “Cita-Cita”: Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar/membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar/yang ditunggui seorang ibu. Ibu waktu berbisik mesra,/”Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu./

Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

Kesabaran waktu yang dirasakan Joko tampak hidup. Ternyata upayanya untuk membendung waktu ialah kekuatannya melawan masa lalunya sendiri. Harapan-harapan yang panjang dan berkecamuk dalam kepalanya tentang cita-cita yang sederhana: Minum teh duduk menghadap senja.

Sebagai penulis puisi liris, Joko memang harus pandai memutar logika. Dengan demikian, puisinya akan tampak hidup, bergetar, tak jarang menakutkan. Semacam laporan kehidupan yang penuh dengan liku, penuh tantangan, dan mau tidak mau orang mesti menjalankannya. Semacam yang saya temui di puisinya terdahulu dalam “Pelajaran Menulis Puisi”, betapa Joko ingin mengajarkan kepada pembaca puisinya jika ternyata menulis puisi tak terlalu sulit. Yang jelas ialah bagaimana seseorang siap memasuki rimba (hutan) kata-kata, di mana setiap orang harus siap keluar dengan keadaan yang berbagai rupa. Bisa bercerita tentang pengalamannya masuk ke dalam rimba dan bertemu dengan segala jenis binatang. Juga saat naik pohon kemudian tersangkut di batuan cadas serta bertemu bidadari.

Puisi adalah mata, tulis Joko. Sedangkan si penyair merupakan air mata. Penyair harus menemukan kesabarannya dengan menelurkan ide/sajaknya. Ia adalah pengeran sejati yang membuka rahasia kata paling dalam, menelusupinya dari hari ke hari, dan mengeraminya. Meskipun puisi dalam kumpulan ini penuh dengan nuansa asmara yang bagi saya tak hendak diselesaikan oleh Joko. Ia membahasakan kekagumannya terhadap perempuan dengan cara yang lain, sebagaimana yang tersirat dalam kegenitan diksi puisi “Kekasihku”: Pacar kecil duduk manis di jendela,/menemani senja./Senja, katanya, seperti ibu/yang cantik dan capek setelah seharian dikerjain kerja/Ia bersiul ke senja seksi yang tinggal/Tampak kerdipnya: Selamat tidur, kekasihku./Esok pagi kau tentu akan datang dengan rambut baru./Kupetik pipinya yang ranum,/kuminum dukanya yang belum: Kekasihku,/senja dan sendu telah diawetkan dalam kristal matamu./
**

Puisi merupakan medan tanda. Kemahiran seorang penyair dalam mengolah berbagai lambang, aura, diksi, dan bunyi mencerminkan sebuah kerja keras yang panjang. Pun ketika Joko–katakanlah membalutnya dengan penuh nuansa ejekan, cibir, dan gurau–sesungguhnya ia juga sedang menopang kerja kreatifnya yang lain. Puisi adalah dunia lain itu sendiri, sebuah jeda kehidupan yang membangun beragam ruang tafsir. Dengan susunannya yang tak terpaku rumus layaknya ilmu matematika, puisi kerap berkelindan dan memusat pada kekuatan teks.

Joko tampaknya menyederhanakan semua kompleksitas dari puisinya. Ia menuliskan dengan pilihan kata yang sederhana, acap menjaga ruang antarkalimat. Segala baur dan susunannya membuka peristiwa lain terhadap dunia. Mungkin fragmen itu diambilnya hanya separo, tetapi ia membuka jalan muatan makna yang lain. Saya kira Joko telah berhasil menempatkan dirinya dalam mengolah kata-kata menjadi puisi yang kaya. Semacam menghidupkan aura kata yang selama ini diperbudak bahasa sehari-hari.

Beberapa puisi juga ditulis untuk beberapa orang saja, semacam yang tertera dalam “Penyair Panggung” yang diperuntukkan Landung Simatupang: Tubuhnya lebih dari puisi/penuh getar dan getir bunyi//Sekali ia menyentuh panggung,/waktu seakan linglung dihajar tenung.//Di remang ruang tubuhnya menyala/sehingga sunyi terlihat jelas posturnya// (2004)

Pun dalam puisi yang diperuntukkan dua seniman yang masih memunyai hubungan darah: Dua anak jalanan bertemu di bawah jembatan/di malam hujan. Setelah berkenalan, berbagi dingin/dan lapar, mereka tidur berdua dalam satu celana.

Dilanjutkan dengan paragraf yang satu pandai menirukan suara bermacam-macam orang, yang lain pintar memainkan beragam bunyi dan bunyi-bunyian. Sampai pada akhirnya mereka berdua memutuskan mencari tahu siapa ibubunyi dan ibusuara. Penggunaan diksi celana, ibu, kata, memang banyak hadir dalam tingkah puisi Joko. Seakan-akan Joko terkepung dalam euforia yang dibangunnya sendiri. Meskipun setiap tema besar penggarapan puisinya jauh berbeda, Joko tampaknya mahir untuk menyulam, menelusupkan, sehingga membentuk pengertian yang baru.

Dengan demikian, kata-kata dalam puisi terus hadir dan mengalir ke tangan pembaca. Masuk ke pembuluh kepala, bukan sekadar memberi kabar (peristiwa) dalam puisinya. Melainkan menggoda dengan genit perihal apa yang terjadi dalam kehidupan ini, mulai dari celana, kalender, penjual bakso, wartawan, dokter mata, rok mini untuk nenek, dsb. Apakah masih ada kejutan lain dari Joko melalui puisi-puisinya yang terbaru, kita tunggu saja. Yang jelas, Joko tampaknya memerlukan pemberontakan yang lain, untuk memberi jejak lain dalam gaya perpuisian yang ada selama ini di ranah sastra kita.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *