Sastra dan Tanda

Alex R Nainggolan
Riau Pos, 24 Agu 2014

Perlukah sastra sebuah tanda? Perlukah sastra sebuah identitas, semacam layaknya kartu tanda penduduk, yang dilengkapi dengan jenis kelamin atau agama? Saya rasa tidak. Seperti yang pernah diungkap H.B. Jassin—berpuluh tahun lampau—bahwa sastra itu universal. Sastra itu melingkupi kemanusiaan itu sendiri, menyeluruh, tanpa perlu diberikan benteng ataupun palang yang melingkupinya. Ia bisa bertindak bodoh, kemayu, wangi, amoral, religius, dsb. Sastra dengan kekayaan kata-kata yang diberkahinya melingkupi kehidupan itu sendiri. Continue reading “Sastra dan Tanda”

Puisi, Penyair, dan Pelbagai Hambatannya

Alex R. Nainggolan
Republika 6 Juli 2014

Puisi terkadang gagal menemukan bentuknya di hadapan publik pembaca. Terutama dengan keseriusan para penyair untuk merajut makna yang di anggap aneh, bertolak belakang, atau mungkin tak dipahami oleh pembacanya. Maka, kita hanya dihadapkan pada sebuah asal-mula, yakni proses terbentuknya puisi itu sendiri.

Sebagai sebuah nalar yang melingkar, puisi menjadi niscaya mengambil bagian sebuah pu blik untuk intim, sekaligus menyeluruh, dengan tidak ingkar pada lingkungan sekitar. Continue reading “Puisi, Penyair, dan Pelbagai Hambatannya”

Ketika Puisi Melawan Korupsi

Alex R Nainggolan *
Analisa,1 Des 2013

SAAT kerumunan berita ikhwal korupsi merebak di negeri ini; saat korupsi menjelma sebuah tradisi di sebuah lembaga negara; saat korupsi terjebak di setiap pribadi – yang mulanya kita percaya jika dia seorang yang jujur; sesungguhnya apa yang terjadi pada mimik bangsa ini? Terkejut dengan penuh denyar yang panjang atau berpura-pura mengamini atas tindakan itu. Seperti sebuah tamparan, korupsi seperti sebuah wabah – yang menjalar, terkadang pula dilakukan secara massal (berjamaah). Continue reading “Ketika Puisi Melawan Korupsi”

Getar Sajak-Sajak Anwar

Alex R. Nainggolan
http://www.lampungpost.com/

Sajak-sajak Chairil Anwar, penyair besar itu masih terasa getarnya. Sampai sekarang, 63 tahun setelah kepergiannya. Penyair yang meninggal tanggal 28 April 1949 itu meninggalkan bait kata-kata yang “mengabadi”, acap menggaung—jauh dalam rentang jarak umur yang dimilikinya, 27 tahun. Continue reading “Getar Sajak-Sajak Anwar”