“Kelainan Jiwa dan Kekuasaan yang Sakit”

Musa Ismail
http://www.riaupos.com/

(Analisis Novel Megalomania karya Marhalim Zaini)

Megalomania merupakan novel kedua Marhalim Zaini yang memenangi Penghargaan Utama Ganti Award setelah Getah Bunga Rimba. Dari segi estetika bahasa, Megalomania agak tertinggal jauh dari Getah Bunga Rimba. Secara harfiah, megalomania adalah suatu kelainan jiwa yang ditandai oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri (KBBI, 2002:727).

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Wak Madim. Di samping menderita megalomania, Wak Madim pun sebagai penderita insomnia. Dia adalah mantan politikus yang hedonis, menganggap tujuan hidup hanya kesenangan dan kenikmatan, feodalis, individualis, ingin seperti raja. Megalomania mengisahkan tentang kekuasaan tokoh sentral Wak Madim yang memudar setelah puluhan tahun berada seperti di puncak gunung pada zaman orde baru. Keberhasilannya duduk di puncak bukanlah dilakukan dengan kebenaran. Semua identitas dirinya dimanipulasi sedemikian rupa sehingga ia menganggap bahwa keberhasilan tersebut merupakan pemberian Tuhan karena ia ingin mengubah nasibnya. Dengan posisi strategis, Wak Madim mampu mengelola perekonomiannya, mendirikan beberapa perusahaan. Namun, di usianya yang mulai pension, justru ia kembali ke kampung. Sepertinya, ini merupakan penyakit lainnya, yaitu eskapisme. Kepulangannya ke kampung halaman, menimbulkan keheranan warga.

Ketika kecil, Wak Leman (ayahnya) terlalu keras mendidiknya. Sebatan rotan selalu mendarat di tubuh Madim kalau tak mau mengaji. Sampai-sampai bagi Madim, rotan sudah menjadi simbol kekuasaan yang menakutkan dan melahirkan trauma sejak kecil. Inilah awalnya sebab mengapa Madim lari dari kampung setamat SD dan memilih hidup di kota. Hidup di kota memerlukan keberanian. Apalagi buat seorang anak kecil bernama Madim. Ternyata, Madim memiliki keberanian itu. Bermacam keberanian yang dilakukan Madim kecil, terutama yang negatif sehingga menciptakan berbagai kekesalan di hati orang lain, termasuk Wak Leman. Pelarian Madim mengingatkan kita pada kisah Si Malin Kundang yang mendurhaka orang tuanya (ibunya).

Kembalinya Wak Madim ke kampung halaman memang agak mengejutkan warga. Pertama, terkejut karena tekun beribadah. Kedua, terkejut karena ia kembali setelah menjadi tua dan kedua orang tuanya telah tiada. Ketiga, terkejut karena ia meninggalkan segala kesenangan. Setelah beberapa lama di kampung, kegiatan-kegiatan sosial bernyawa lagi. Berbagai sumbangan diberikannya, baik kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial. Usaha Wak Madim menuai buah. Warga mulai hormat kepadanya. Tetapi, warga tak tahu persis mengapa Wak Madim justru pulang ke kampung halamannya. Namun, di kampung, Wak Madim diteror oleh kekasihnya dengan surat-surat yang berisikan tentang obsesi kekuasaan yang berkaitan dengan kepribadiannya. Keberadaan surat-surat itu pula yang membuat Wak Madim cemas dan membakarnya di tengah bilik. Di tengah kobaran api, seseorang memukul tengkuk Wak Madim sehingga ia tak sadarkan diri. Marhalim mengakhiri novel ini dengan sangat menarik, mengundang ribuan tanya, dan menyerahkannya kepada pembaca. Apakah Wak Madim hidup atau mati dalam kobaran api yang telah menghanguskan rumahnya atau tidak, kita diajak bermain dengan pemikiran-pemikiran.

Novel ini berlatar di suatu ceruk kampung. Kampung itu masih dililit kemiskinan, kebodohan, mistis, pola pikir yang masih rendah, dan masih jauh dari hiruk-pikuk kemajuan di kota. Semuanya serba alami. Kembalinya Wak Madim ke kampung ini, mengingatkan kita pada pasca-otonomi daerah. Setelah pemberlakuan sistem pemerintahan otonomi daerah, kekuasaan justru berpindah secara desentralisasi. Raja-raja kecil bermunculan di sana-sini hingga ke pelosok desa. Pemberlakuan otonomi daerah inilah yang mengingatkan kita tentang putra daerah pulang kampung. Semuanya ingin menguasai daerahnya masing-masing. Para megalomania ini berlomba-lomba berjanji membangun kampung mereka melalui partai-partai yang mereka kendarai. Peristiwa inilah yang ingin dilukiskan Marhalim Zaini dalam Megalomania.

Novel ini merupakan suatu kritikan sosial tentang kekuasaan. Melalui novel ini, selain ingin menggambarkan kondisi para penguasa saat ini, Marhalim juga ingin berpesan tentang hal-hal positif dan hal-hal negatif yang bisa ditimbulkan oleh sistem kekuasaan pada suatu pemerintahan pada kurun waktu tertentu. Kolase-kolase waktu itu terus menghimpit dan mengembangkan kekuasaan. Berbagai peristiwa bisa saja terjadi akibat dari kuku-kuku kekuasaan itu. Di dalam novel ini, kita akan tahu beberapa hal. Pertama, deskripsi orang-orang yang dikuasai nafsu biologis. Kedua, deskripsi orang-orang yang dikuasai dan menguasai kemiskinan. Ketiga, deskripsi orang-orang yang dikuasai dan menguasai perekonomian. Keempat, deskripsi orang-orang yang menguasai masyarakat kelas menengah ke bawah hingga tak berkutik. Kelima, deskripsi tentang orang-orang yang menguasai hak milik orang lain dengan sewenang-wenang. Semua deskripsi itu bermuara dari sistem perpolitikan di Negara kita. Sampai di sini, saya teringat perkataan pemikir Inggris, James Putzel dan Mick Moore (2000), bahwa sistem politik demokratis tidak otomatis berpihak kepada yang miskin. Alasannya, dalam sistem demokrasi yang ditandai kompetisi politik, suara kaum miskin sering tidak terwakili oleh aneka saluran politik yang ada. Juga suara kaum miskin, meski jumlah mereka besar, belum tentu menjadi ?penentu? program-program partai politik dalam Thinking Strategically About Politics and Poverty. Dari sini, kita tahu bahwa sistem kekuasaan yang merupakan sisi lain dari politik lebih mengarah kepada golongan tertentu, bukan kepada rakyat.

Kekuasaan begitu luas. Kekuasaan bagaikan hamparan gurun pasir yang bisa melahirkan bencana-bencana bagi kehidupan manusia. Kekuasaan akan melahirkan kelas sosial: tinggi-sedang-rendah. Kekuasaan akan membangun tembok-tembok penghalang yang merajut kesenjangan-kesenjangan dan inharmonisasi. Para penguasa pula, begitu cerdik. Sekebat deskripsi Marhalim tentang kekuasaan dalam Megalomania merupakan gambaran nyata kondisi lokal masyarakat Riau, khususnya di Kabupaten Bengkalis. Setting-setting jenius lokal ini begitu jelas dapat kita tangkap. Di samping sebagai bentuk ketidakpuasan, Marhalim pun hendak mengatakan bahwa sistem pusat kekuasaan para pemimpin kita sudah terlalu banyak mengandung dosa kepada rakyat. Begitu banyak kesenjangan terjadi di daerah ini. Semuanya merupakan akibat dari sistem kekuasaan yang sakit.

Ide-ide yang dituangkan Marhalim dalam Megalomania merupakan benturan-benturan dalam kehidupan nyata. Konflik-konflik yang dilakarkannya merupakan perseteruan psikologis melalui tokoh sentral Wak Madim. Semua konflik yang dijalin dalam novel ini berasal dari kekuasaan. Tampaknya, Marhalim memandang kekuasaan sebagai punca dari segala akibat yang menimpa kegetiran hidup masyarakat luas, baik di lingkungan berkeluarga, bermasyarakat, maupun berbangsa dan bernegara. Kekuasaan dalam novel ini tidak lain adalah benturan-benturan yang mendominasi kehidupan. Sebagai suatu bentuk benturan, kekuasaan terus menjalar bagai tirani yang mampu menghimpun kekuatan luar biasa terhadap pribadi dan golongan/kelompok tertentu. Keberadaan Wak Madim di kampung itu menunjukkan bahwa kekuasaan bisa diprovokasi secara pribadi meskipun melalui jalur kegiatan sosial dan budaya. Secara kelompok/golongan, dalam novel ini dilukiskan melalui tokoh Kepala Desa dan Toke Cina yang menguasai dan memonopoli sistem perekonomian.

Afrizal Malna menjelaskan bahwa sastra dalam konteks teologi estetika merupakan praktis keimanan dan benturan-benturan yang dihadapi penyair dalam realitas kehidupan. Sumarjo menambahkan bahwa sastra adalah proses pergumulan yang terjadi di masyarakat. Ia didesak dan didihadirkan atas dasar emosional atau secara rasional dari masyarakatnya.

Kekuasaan yang digambarkan Marhalim merupakan kekuasaan yang melahirkan kecemasan-kecemasan. Rasa takut, depresif, intimidasi, dan penjajahan ekonomi merupakan segelintir kecemasan yang dapat ditangkap dalam novel ini. Kecemasan ini merupakan akibat dari sistem kekuasaan yang sakit. Sebagai manusia, kita takkan pernah terlepas dari kuku kecemasan seperti ini. Kecemasan di dalam novel ini juga merupakan ketakutan tokoh-tokohnya akan terjadinya kekosongan kekuasaan. Karena pamornya di kota memudar, Wak Madim mulai takut kehilangan kekuasaannya sehingga ia pulang ke kampung halaman untuk membangun kembali kekuasaan itu di sana. Demikian pula konflik psikologis yang dialami Kepala Desa dan toke Cina yang menguasai perekonomian. Kata Heidegger dalam Hardiman, kecemasan sebagai kondisi mencekam di mana manusia berhadapan dengan ketiadaan (nicht). Akibat dari kecemasan akan ketiadaan/kekosongan inilah, melahirkan berbagai tindakan-tindakan yang tak bisa kita bayangkan.

Untuk menghindari dan melahirkan kecemasan itu, bagi Marhalim, orang rela saja menderita untuk mendapatkan kekuasaan sebab duduk di kursi kekuasaan adalah sebuah kenikmatan. Karena sudah diawali dengan penderitaan, maka obsesi berikutnya adalah kesenangan. Kekuasaan memang sering memberikan ruang lebih luas dan besar untuk mengatur segala sesuatunya. Kekuasaanlah yang membuat orang tak ingin turun ke bawah karena ia sudah sangat terikat dengan pandangan bahwa yang di bawah adalah yang lemah. Oleh sebab itu, kerap lahirlah sifat refresif dan malah kadang opresif, dan yang paling kerap tampak adalah sifat koruptif. Seorang Perancis, Foucult, mengatakan bahwa kekuasaan itu sesungguhnya menjalar dan meresap dalam segala bentuk jalinan relasi sosial, tanpa dapat dengan gampang dilokalisasi. Lalu, Milan Kundera mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.

Dari novel ini, saya melihat Marhalim adalah kutu buku. Di samping penulis produktif, dia juga pembaca hebat. Tentu saja aktivitas membacanya ini sangat membantu dalam kreativitas dan produktivitas menulisnya. Dalam novel ini, kita akan menemukan berbagai rujukan sebagai kutipan untuk memperkuat filosofis muatan unsur instrinsiknya. Namun, kesan-kesan sebagai sebuah esai, opini, dan artikel akibat kutipan itu sama sekali tidak mengganggu keutuhan Megalomania sebagai sebuah novel. Justru sebaliknya, penghadiran referensi tersebut memperkaya dan memperkuat keberadaan muatan isi novel ini. Di dalamnya, kita akan menemukan pendapat Raja Ali Haji tentang pemerintahan. Kita juga akan menemukan pemikiran filsuf, budayawan, dan sosiolog Prancis, Foucult. Selain itu, ada pemikiran Richard Herzinger (pengarang buku Republik Ohne Mitte/Republik Tanpa Pusat) tentang otonomi dan kemerdekaan. Kita juga akan menemukan Kahlil Gibran, yaitu pandangannya tentang anak. Ada juga Alan Lightman, pengarang Einstein?s Dreams. Kita akan mengetahui pula pendapat George Orwell tentang struktur dalam masyarakat. Ada juga bait puisi berjudul ?Tikus-tikus? karya Bibi Bacilio. Selain itu, ada pendapat Milan Kundera dan pemikiran Franz Kafka dalam cerpennya Metamorfosis. Semua pemikiran dan referensi itu mengalir bersahaja dalam bentuk isi surat yang ditulis tokoh ??samar?? yang dinyatakan Marhalim sebagai kekasih Wak Madim. Kehadiran referensi telah menjadikan Megalomania agak istimewa. Jika tidak, menurut saya, Megalomania tidak punya kekuataan apa-apa, hanya karya konvensional yang sudah sering kita baca.

Dalam kehidupan nyata, begitu banyak penyakit gila kekuasaan. Dalam rentetan berikutnya, begitu banyak pula penyalahgunaan kekuasaan. Akibat penyalahgunaan kekuasaan ini, semuanya menjadi sakit. Struktur dan sendi kehidupan menjadi lumpuh karena lari dari garis norma. Di samping memaparkan berbagai nilai moral, budaya, sosial, dan ketuhanan, novel Megalomania pun ingin mengajak pembaca ??memberontak?? dan ??membunuh?? sistem kekuasaan yang sakit di negeri ini. Mari bersama-sama, kita bunuh megalomania yang berakar dari dalam diri masing-masing. Dengan demikian, kemanusiaan akan terus hidup.***

*) Guru SMAN 3 Bengkalis. Sangat mencintai kreativitas menulis. Tinggal di Bengkalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *